CALIMA
( Pintarnya Orang Bodoh dan Bodohnya Orang Pintar )
Membaca tulisan di naipospos online ini cukup asik juga karena ada topik seru yang pantas mendapat perhatian dari para pengunjung. Tulisan ini tidak berkaitan dengan pertentangan seru pada banyak halaman.
CALIMA merupakan singkatan dari kata Caution Life Animals pada sebuah film dengan judul CALIMA yang pada intinya menceritakan tentang usaha dari seekor kera untuk mengangkat harkat dan martabat keturunan kera agar lebih tinggi daripada manusia meski harus dilakukan dengan cara membengkokkan sejarahnya.
Tertulis dalam buku suci bahwa kita ini generasi penerus dari Adam dan Hawa yang dibentuk secara langsung oleh Yang Maha Kuasa, regenerasi keturunan berjalan seiring dengan waktu dan serta merta perihal tentang Tuhan Yang Maha Kuasa juga ikut serta terbawa oleh para generasi penerus lalu pada akhirnya muncul berbagai versi sehingga kini terdapat bermacam-macam aliran agama dan kepercayaan.
Seseorang yang (merasa lebih) pintar akan cenderung menunjukkan eksistensinya dengan cara berusaha mempertahankan dominasinya dan menutup ruang bagi orang, seseorang yang (menyadari dirinya) bodoh akan cenderung mencari penyeimbang sehingga bodohnya tidak terlihat, dalam membaca tulisan ini harap dipahami makna kata merasa dan kata cenderung.
Pintarnya orang bodoh
- Cenderung menciptakan kesan bahwa dia orang yang diperlukan
- Berusaha menciptakan keseimbangan sehingga terlihat lebih pintar
- Menciptakan kesan “sitau eneng” atau serba tau
Bodohnya orang pintar
Oorang pintar itu lebih cenderung konsentrasi pada suatu bidang maka dibidang lain dia menjadi sasaran empuk bagi orang lain
Pintarnya orang bodoh dan Bodohnya orang pintar nyusul ya tulisannya……… (dah ngantuk)
Info dari admin
Penyusunan Silsilah Naipospos Versi 1.0
Kami mengundang partisipasi Bapak/Ibu dalam menyediakan data silsilah dari generasi awal hingga generasi kita sekarang ini. Kirimkan data silsilah anda melalui email ke admin@naipospos.net

Ricardo Parulian Sibagariang,
Menambahkan tanggapan dari ampara saya Leopold P. Sibagariang,
Salam sejahtera Saudaraku,
Pace e bene!
Thanks banget bagi permerhati yang tulus dan yang bersuha membentangkan identitas dan khazanah keturunan Naipospos di tengah kemajuan global maupun di tengah bangsa yang terus berusaha bangkit dari keterpurukan. Kata orang: “Di tengah suasana yang belum bebas dari bau korup yang menyengat”. Pada tataran itu Saudara telah menyingkap beberapa fakta dan sejarah Naipospos yang mungkin telah dicoba dikorup sejak beberapa lama.
Certia CALIMA yang disampaikan dalam forum ini adalah sangat tidak tepat dan irrelevan di tengah keturunan Naipospos. Kalau memang itu mengandung makna analogi, itu adalah salah satu bukti tindakan korup terhadap terhadap (salah satu) keturunan Naipospos. Sebab, seoloh-olah ada keturunan Naipospos yang sudah ditakdirkan ditakdirkan bermartabat rendah dan tak layak. Memangnya, ada keturunan Naipospos ber-analogi dengan kera?
Sudah sepantasnya kita dalam forum ini, menyingkap hal-hal yang masuk akal, fakta dan sesuai keluhuran keturuan Raja Naipospos dan sesuai martabat manusia berbudi, berbudaya dan beriman. Untuk itu semua kita keturunan Naipospos adalah sama. Keturunan Naipospos adalah sama dalam keluhuran manusiawinya dan bahkan terpanggil dalam kesempurnaan yang sama karena warta ilahi yang kita terima.
Salam, Viva Naipospos, homo not homini lupus sed homo est salve!
Pematangsiantar, 08-05-2009
TAMBAHAN TANGGAPAN SAYA
Horas.
Sepertinya asyik juga membaca artikel CALIMA yang merupakan tulisan Saudara Oposan ini, meskipun masih bersambung.
Tetapi jika saya berbicara mengenai orang bodoh dan pintar, maka saya akan katakan, kalau bodoh tetap bodoh dan kalau pintar tetap pintar.
Ijuk di parapara, hotang di parlabean
Nabisuk nampuna hata, naoto tu panggadisan
Nabisuk do nampuna hata. Ia naoto i, sai dodongon do i. Ndang diboto i manang mandok aha namarlapatan. Ai so marisi. Jala molo tung pe adong pe na nidok ni naoto i, songon nahurang marlapatan do jala hurang masuk tu roha. Nang pe piningkaran na nidokna i.
Alai ia nabisuk i, mansai marlapatan jala masuk do tu roha nang tu pingkiran hatana i. Tarsongon Raja Salomo nabisuk i.
Orang bodoh tidak akan dapat menguasai orang pintar.
Orang bodoh tidak akan dapat menjadi pintar apabila tidak mau belajar dari orang pintar, sehingga menganggap apa yang diketahuinya adalah yang paling benar, akhirnya pun tetap bodoh. Jadi, kita baiknya tidak pamalomalohon.
Orang pintar ya tetap pintar. Masak orang pintar itu bodoh. Kalau orang pintar itu bodoh berarti selama ini dia itu pamalomalohon (sok pintar) alias memang aslinya tidak pintar.
Makanya, rajin belajar. Belajar itu seumur hidup.
Bukan begitu, Saudara Oposan?
Sedangkan seseorang yang dianggap bodoh oleh orang lain padahal ternyata dia memiliki wawasan yang luas, kata-katanya bijaksana. Pasti dia yang dianggap bodoh itu sebenarnya adalah orang pintar. Berarti orang yang mengaggap dia itu bodoh adalah orang yang congkak, tinggi hati, anggap remeh, dan selalu menutup seblah mata terhadap orang lain, serta yang tak kalah pentingnya dia jauh lebih bodoh dibanding orang yang dianggapnya orang bodoh ternyata pintar tersebut.
Semoga pernyataan saya ini dapat memperluas wawasan berpikir kita.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
May 14th, 2009 at 6:04 pm