SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA

Profil Penulis

Mari bergabung dalam dunia facebook dan jadilah teman saya dengan mengklik nama saya yang merupakan pranala berikut.

Ricardo Parulian Sibagariang


Martuasame merupakan julukan Raja Naipospos yang memperanakkan 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.

Martuasame sebagai julukan Naipospos

Raja Naipospos mempunyai julukan MARTUASAME. Gelar Martuasame ini didapat Raja Naipospos karena dia mengambil isteri yang kakak-beradik boru Pasaribu.

Umbahen namambuat boru namarpariban (saama) Raja Naipospos jala alani namasa di tingki marsame Raja Naipospos marbunibuni mambuat tuanboruna napaduahon, gabe digoari ma ibana Martuasame. Jadi Martuasame, goargoar ni Raja Naipospos do i. Ndada goar ni anakna, songon pandok ni nadeba. (bahasa Batak)

Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.

Hal itu dapat kita lihat bahwa terdapat hubungan kata marsame dengan kata martuasame. Sehingga Martuasame bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos dan bukan juga nama asli Toga Sipoholon. Karena Sipoholon hanyalah nama daerah yang berasal dari kata sipohulon.

Fakta penguat bahwa Martuasame adalah julukan Raja Naipospos

Menurut Haran Sibagariang (gelar:Ompu Basar Solonggaron) sebagi mantan Kepala Negeri Huta Raja menyatakan bahwa hingga saat ini tidak ada kepastian yang menyatakan dimana letak pasti makam dari Raja Naipospos. Di dalam tulisannya ada terdapat 2 (dua) pendapat yang menyatakan letak makam dari Raja Naipospos, yaitu di Dolok Imun dan di Sipoholon.

di Dolok Imun

Bagi sebagian orang menyatakan bahwa makam dari Raja Naipospos terdapat di Dolok Imun. Namun Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang menyatakan tidak ada yang dapat dijadikan sebagai pertanda makam dari Raja Naipospos terdapat di Dolok Imun selain daripada kisah pesta yang membawa persoalan antar keturunan Raja Naipospos.

Mungkin tak banyak orang yang mengetahui pesta apakah sebenarnya yang membawa persoalan antar keturunan Raja Naipospos khususnya masalah bagi marga Sibagariang sendiri. Pesta tersebut tak lain adalah mansantihon (baca:massattihon) Raja Naipospos menjadi sesembahan atau pun sombaon.

Pada zaman dahulu seseorang yang dianggap penting atau pun memiliki kesaktian harus dipestakan (dihorjahon) sebanyak tujuh kali agar dapat menjadi sesembahan. Pesta ke-7 tersebut hanya diadakan oleh pihak keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) tanpa menunggu kehadiran pihak keturunan Raja Naipospos dari isteri II (Marbun) dari Humbang. Meskipun seluruh keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) turut serta dalam pesta tersebut tetapi masalah lebih besar dilami marga Sibagariang karena hanya oleh perintah Sibagariang lah maka pesta ke-7 diadakan sebelum hari yang telah ditentukan.

Hal ini pun dapat menjadi sebagai bukti nyata hak sulung yang dimiliki Sibagariang. Seandainya Sibagariang bukanlah putera I (sulung) Raja Naipospos maka perintahnya tidak akan didengarkan oleh saudara-saudaranya. Karena dalam adat Batak bahwa apabila orangtua dalam keluarga sudah tiada lagi maka pengganti orangtua dalam keluarga tersebut adalah putera sulung. Namun dalam hal ini, kedudukan tidaklah boleh menjadi alasan untuk bersikap semaunya. Naingkon satahi saoloan do namarhahamaranggi.

Ende hananangkok sian si Daud. Ida ma, dengganna i dohot sonangnai, molo tung pungu sahundulan angka na marhahamaranggi!Psalmen 133:1

Segala sikap buruk dari nenek moyang adalah suatu hal yang perlu dijauhkan. Napinungka ni ompunta sijolojolo tubu ndada siihuthonhon alai sipaturenta do.

Ompunta di jolo, martungkot siala gundi,
Pinungka ni ompunta sijolojolo tubu, sipatureonta na di pudi

Dolok Imun sebagi tempat mengadakan pesta ke-7, mangkorjahon Raja Naipospos menjadi sombaon menjadi alasan bagi orang yang menyatakan bahwa makam dari Raja Naipospos terdapat di Dolok Imun.

Pada kata sambutan Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H, dalam tertib acara Jubileum 75 Taon Partangiangan Pomparan Raja Naipospos menyatakan bahwa terdapat batu hobon yang menjadi pertanda makam dari Raja Naipospos terdapat di Dolok Imun. Tetapi di dalam buku Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak oleh D. J. Gultom Raja Marpodang bahwa batu hobon adalah sebagai tempat penyimpanan barang pusaka. Seperti halnya batu hobon peninggalan keturunan Raja Batak yang terdapat di Sianjurmulamula yang belum diketahui barang pusaka apakah isinya. Dalam hal ini, batu hobon yang dilihat oleh Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H, beum tentu makam Raja Naipospos.

Dalam hal ini perlu dilakukan penelitian di Dolok Imun untuk mengungkap hal ini.

di Sipoholon

Bagi sebagian orang yang menyebutkan bahwa makam dari Raja Naipospos terdapat di Sipoholon. Menurut Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang (alm) tak banyak hal yang dapat dijadikan sebagai bukti kecuali sombaon same yang terdapat di Sipoholon. Siapa sangka dan siapa yang tahu kejadian yang terjadi beratus tahun lalu. Menurut Ricardo Parulian Sibagariang sebagai penulis artikel ini adalah bahwa mungkin saja pesta ke-7 diadakan di Dolok Imun namun Raja Naipospos dimakamkan di Sipoholon. Inilah yang menjadi bukti sekaligus fakta penguat bahwa Martuasame adalah julukan Raja Naipospos sendiri. Karena setelah Raja Naipospos (Martuasame) disantihon menjadi sombaon maka Raja Naipospos menjadi sombaon same. Karena dimana pun kita cari, tak ada tempat yang bernama sombaon Naipospos melainkan yang adalah adalah sombaon same.

Namun perlu diingat sebagai umat beragama yang berkeyakinan terhdap Tuhan sebagai sumber segala berkat dan karunia, tidaklah baik bagi kita untuk menjadikan orangtua menjadi sombaon. Karena itu sama saja dengan menduakan Tuhan.

Ndang jadi marangkup Ahu adong Debatam.II Musa 20:3

Sombaon same menjadi bukti nyata bahwa Raja Naipospos (Martuasame) yang menjadi sesembahan (sombaon) adalah makam Raja Naipospos sendiri.

Pendapat lain

Telah menjadi suatu kebiasan bagi umat manusia untuk berbeda pendapat, tetapi perbedaan pendapat tentang silsilah dalam suatu marga sungguh jarang ditemukan. Sehingga muncul suatu keprihatinan tertentu yang bersifat individu dengan adanya perbedaan pendapat mengenai siapakah Martuasame ini di kalangan keturunan Raja Naipospos sendiri.

Berikut ini 2 (dua) pendapat yang memang tak dapat dibuktikan kebenarannya namun sangat berkembang dan sering kali menjadi bahan pertentangan diantara keturunan Raja Naipospos:

Martuasame sebagai putera Raja Naipospos

Beberapa orang dengan tanpa alasan yang jelas menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang salah satunya disebut Martuasame. Martuasame kemudian dikatakan memperanakkan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.

Suatu pendapat yang salah.

Martuasame sebagai nama untuk Toga Sipoholon

Bagi orang yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang salah satunya adalah Martuasame, menyebutkan Martuasame sebagai nama asli Toga Sipoholon.

Suatu pendapat yang tanpa alasan yang kuat dan jelas serta tentu saja pendapat yang salah.

Kesimpulan

  • Martuasame adalah julukan Raja Naipospos.
  • Martuasame bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos.
  • Martuasame bukanlah nama asli Toga Sipoholon dan Sipoholon hanya berupa nama daerah saja.
  • Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu:
  1. Donda Hopol, yang merupakan cikal-bakal marga Sibagariang.
  2. Donda Ujung, yang merupakan cikal-bakal marga Hutauruk
  3. Ujung Tinumpak, yang merupakan cikal-bakal marga Simanungkalit
  4. Jamita Mangaraja, yang merupakan cikal-bakal marga Situmeang
  5. Marbun, yang merupakan cikal-bakal marga Marbun Lumban Batu, Marbun Banjar Nahor, Marbun Lumban Gaol.

Catatan kaki (referensi dan sumber)

Mansai harop do nian roha asa unang tapauba naung tarsurat di panorangion sisaotik on. Alai tapadimpudimpu jala tatambai ma natarsurat on molo tung adong nataboto taringot turiturian pinompar ni Raja Naipospos. Alai tong ma taingot unang tapauba naung tarsurat di panorangion sisaotik napinatupa on. Jala unang lupa hamu manurat goarmuna songon sipanambai dohot mual panorangionmuna di toru on. Porlu taboto molo adong turiturian taringot pangalaho naso patut sitiruon sian ompunta, unang pola tapabotohon tu situan natorop. Sae ma holan hita naumbotosa. bahasa Batak

  • Ricardo Parulian Sibagariang sebagai penulis artikel Martuasame
  • Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang (Alm), mantan Kepala Negeri utaraja sebagai sumber tertulis dalam buku sederhana susunannya sendiri tentang Raja Naipospos dan Keturunannya.
  • Laris Kaladius Sibagariang, seorang yang dituakan dan kepala adat di utaraja Sipoholon sebagai sumber lisan.
  • W. M. Hutagalung, sebagai sumber pembanding dalam bukunya yang ejudul Tarombo dohot Turiturian Bangso Batak
  • D. J. Gultom Raja Marpodang, sebagai sumber pembanding dalam bukunya yang berjudul Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak tentang marga keturunan Raja Batak

Anda dapat mengirimkan komentar Anda pada naipospos.sibagariang@gmail.com dan pada rajanaipospos@yahoo.co.id jika komentar Anda tidak ingin dipublikasikan.

>>>>> Ricardo Parulian Sibagariang (Naipospos Sibagariang)
Diposting oleh Ricardo Parulian Sibagariang : rajanaipospos@yahoo.co.id
Referensi / Tulisan yang sama terdapat di wikipedia
Tulisan dirintis oleh Ricardo Parulian Sibagariang



Info dari admin
Penyusunan Silsilah Naipospos Versi 1.0

Kami mengundang partisipasi Bapak/Ibu dalam menyediakan data silsilah dari generasi awal hingga generasi kita sekarang ini. Kirimkan data silsilah anda melalui email ke admin@naipospos.net
 

27 Komentar mengenai “SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA”

  1. 1



     Robby Banjarnahor,

    tu angka natua-tua; naposo dope ahu. Alai sae manjaha timbul ma rasa penasaran di ahu. jadi naeng manungkun ma ahu…
    jadi molo toga sipoholon sian istri pertama..toga marbun sian istri paduahon…boasa gabe \" Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang\" na hubereng salelengon mengganggap toga marbun lebih tua? gabe bingung ahu.
    Mohon diajari Opung,,,Bapatua,,,Bapauda,,,Namboru!

  2. 2



     Robby Banjarnahor,

    Hal ini saya dasarkan atas panuturannya.

    >>>>> RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)
    Salam,

    Horas dan salam damai sejahtera saya ucapkan kepada Ampara sekeluarga Robby Banjarnahor. Salam kenal dan salam hangat persaudaraan dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang. Terima kasih atas kesediaan Ampara Robby Banjarnahor berkunjung di NAIPOSPOS ONLINE khususnya pada artikel tulisan saya SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA.

    Seperti yang telah saya tulis pada artikel saya yang berjudul KISAH RAJA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA bahwa Raja Naipospos mempunyaI 5 (lima) orang putera, yaitu:

    1. SIBAGARIANG
    2. HUTAURUK
    3. SIMANUNGKALIT
    4. SITUMEANG
    5. MARBUN

    Jadi, Raja Naipospos tidak mempunyai 2 orang putera (Toga Sipoholon dan Toga Marbun atau pun Toga Marbun dan Toga Sipoholon).

    Ampara, memang tak bisa dipungkiri bahwa ada marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang yang berpendapat bahwa marga Marbun lah yang lebih tua diantara keturunan Raja Naipospos. Tetapi itu adalah karena faktor ketidaktahuan dan buta akan tarombo Naipospos yang benar. Bahkan saya sendiri pernah beranggapan bahwa marga Marbun yang lebih tua dan beranggapan bahwa putera Raja Naipospos itu sebanyak 2 orang (Toga Sipoholon dan Toga Marbun atau pun Toga Marbun dan Toga Sipoholon). Padahal ternyata anggapan saya itu salah.

    Perlu saya tambahkan bahwa di antara marga Marbun pun tak ada kata sepakat mengenai marga yang lebih tua atau pun sulung dalam keturunan Raja Naipospos.

    Untuk penjelasan saya yang lebih lengkap silahkan Ampara membaca dengan saksama artikel-artikel yang telah saya tulis berikut pada http://www.naipospos.net/

    · KISAH RAJA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA

    · Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos

    · Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap Ama Natalia
    Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos

    · SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA

    Besar harapan saya Ampara memberi komentar pada empat artikel tersebut.

    Kiranya penjelasan saya yang sedikit ini dapat menjawab rasa ingin tahu dari Ampara saya Robby Banjarnahor. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati Ampara.

    Terima kasih.

    Horas.

    Salam hangat persaudaraan dari saya,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)

  3. 3



     Holong Friendus LG,

    Menurut saya pribadi, perbedaan pendapat perlu kita pilah menjadi 2 bagian fakta.

    Fakta Kelahiran
    - Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang adalah anak dari Istri Pertama
    - Marbun sebagai anak dari Istri Kedua tetapi terlebih dahulu lahir

    Logika berpikir:
    - Saya panggil dengan sebutan apa kepada orang yang lahir satu menit lebih dahulu dari saya.
    - Jika saya sebagai istri kedua lalu sebutan apa saya pergunakan kepada istri pertama
    - Jika saya berusia 5 tahun dan merupakan anak dari istri pertama lalu dengan sebutan apa saya menyapa anak dari istri kedua yang telah berusia 32 tahun dan telah mempunyai anak berusia 6 tahun.
    - Jika saya anak dari istri ke-2 maka dengan sebutan apa saya memanggil anak dari istri-1 (additional)

    Fakta Marga
    Raja Naipospos mempunyai 2 orang istri dan 5 orang anak namun bukan berarti pada saat itu secara otomatis terbentuk menjadi 5 marga.

    Logika berpikir:
    Peningkatan jumlah populasi membuat penegasan garis keturunan menjadi semakin perlu lalu terbentuklah marga, keturunan Marbun dengan pertambahan populasi yang lebih cepat telah menghasilkan pemisahan garis keturunan dalam sub 3 marga.

    Karena faktor persebaran populasi serta kebutuhan akan penerimaan dan pengakuan di kampung orang lain sehingga Lumbanbatu yang merupakan sub dari Marbun juga telah membuat penegasan garis keturunan dengan semakin seringnya kita dengar Marga Meha dan Saraan (keturunan dari Tuan Gajasoleman)

    Kontra
    1. Fakta kelahiran cukup mudah dipahami dan diterima logika namun enggan untuk diakui.
    2. Fakta marga lebih cenderung mengandung faktor kepentingan

    Semoga bermanfaat untuk membangun wawasan dan pola pikir kita semua pomparan naipospos. Thx

    >>>>> RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)

    Salam damai sejahtera,

    Terimakasih atas tanggapan Ampara Holong Friendus Lumban Gaol selaku Administrator Naipospos Online.

    Ampara, yang pertama lahir dalam keturunan Raja Naipospos adalah Donda Hopol (SIBAGARIANG) dan bukan Marbun. Setelah Donda Hopol (SIBAGARIANG) lahir dari isteri I (pertama) boru Pasaribu, kemudian Marbun lahir dari isteri II (kedua) boru Pasaribu. Lalu Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang pun lahir secara berurutan dari isteri I (pertama) boru Pasaribu.

    Karena melalui isteri I (pertama) boru Pasaribu, Tuhan mengaruniakan putera sulung yaitu Donda Hopol (SIBAGARIANG) kepada Raja Naipospos maka Marbun menjadi yang bungsu.

    Jadi, Raja Naipospos mempunyai 5 (lima) orang putera, yaitu:
    1. SIBAGARIANG
    2. HUTAURUK
    3. SIMANUNGKALIT
    4. SITUMEANG
    5. MARBUN

    Fakta pendukung bahwa Sibagariang adalah yang pertama lahir dari lima bersaudara putera Raja Naipospos telah saya uraikan dengan jelas pada artikel-artikel yang telah saya tulis, khususnya pada artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos. Mari kita membacanya secara saksama, teliti, dan dengan hati tenang.

    Kepada Ampara Holong Friendus Lumban Gaol, silahkan Ampara memberikan penjelasan yang dapat mendukung pernyataan Ampara bahwa Marbun adalah yang lebih dahulu lahir.

    Karena berbicara mengenai tarombo tidak cukup hanya dengan berargumen melainkan harus disertai dengan fakta-fakta di lapangan dan dapat diterima akal sehat.

    Dengan kerendahan hati saya mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kata-kata saya kurang berkenan di hati Ampara Holong Friendus Lumban Gaol.

    Salam hangat persaudaraan dari saya,

    Ricardo Parulian Sibagariang

  4. 4



     Fernando Hutauruk,

    Horas appra holong :)

    Penjelasan mengenai faktor kelahiran bisa benar dan bisa salah, jika kita melihat dari sisi \"Siapa ayah\" nya mungkin itu akan benar. Tapi jika kita melihat dari sisi \"Siapa ibunya\" maka akan jadi salah.
    Seperti kita sama sama ketahui dalam kebiasaan yg disepakati oleh ras batak, diantara yg marpariban, siapa yg lebih dulu menikah, itulah yg sulung dalam arti anak2nya dianggap lebih \"siangkangan\"
    Walau dalam keseharian mereka sendiri tetap menggunakan hierarki kakak adik sesuai urutan kelahiran (jika terlahir dari bapak dan ibu yg sama) belom lagi jika marpariban dari orang tua ( bapak) yg kakak beradik. Contohnya Ito kandung kita terhadap ito kita dari Amanguda.
    Justru saya melihat masalah yg ada sekarang terjadi kerancuan antara siapakah yg harus manggil abang kepada siapa terjadi akibat ketidak tegasan (kecuali ada alasan yg lebih baik dari Naipospos sendiri selaku yg punya keturunan,seperti yg saya utarakan sebelumnya)Naipospos sendiri selaku pribadi yg bisa saja sebagai akibat dari kesepakatan ke dua istrinya, dimana yg muda ( istri ke 2) tidak mau (tega) anaknya dipanggil abang sama anak2 dari kakaknya ( istri 1)
    Belom lagi jika hal ini dikaitkan dengan tulangnya (Abang/Adik laki laki dari istri 1 maupun istri ke 2 yg notabene adalah sama)
    jika saja mereka tidak menikah dengan orang yg sama, maka anak2 dari B tetap memanggil inangtua terhadap si A ( kita ibaratkan saja dulu istri pertama namanya si A, dan istri ke 2 ini namanya si B)Nah, pertanyaannya, memanggil apakah kita terhadap anak inangtua kita walau dia jauh lebih muda ??
    Akan sangat berlainan jika si A dan si B bukan kakak beradik (sekandung)
    Disitulah mungkin letak kelemahan Naipospos sendiri sebagai yg empunya keturunan sehingga tidak menggariskan secara \"saklak\" siapa yg harus memanggil abang kepada siapa :)
    mudah2an ini menjadi bahan acuan untuk pemahaman kita.

    Horas !!!

    >>>>>RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)

    Salam damai sejahtera,

    Komentar ini saya jawab dalam 1 (satu) bagian utama.

    Bagian ke-1 (pertama)

    Disitulah mungkin letak kelemahan Naipospos sendiri sebagai yg empunya keturunan sehingga tidak menggariskan secara \”saklak\” siapa yg harus memanggil abang kepada siapa mudah2an ini menjadi bahan acuan untuk pemahaman kita.

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Tidak ada kelemahan Raja Naipospos dalam hal tersebut. Seperti yang telah saya katakan sebelumnya bahwa mulai dari lahirnya 5 (lima) orang putera Raja Naipospos hingga persoalan benar tidaknya keberadaan Toga Sipoholon sebagai putera Naipospos yang dialami oleh Haran Sibagariang (gelar:Ompu Basar Solonggaron) sebagai mantan Kepala Negeri Huta Raja, seperti yang telah saya jelaskan pada artikel Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos adalah bahwa Sibagariang tetap diakui sebagai marga yang sulung dan Marbun sebagai marga yang bungsu dalam keturunan Raja Naipospos. Kemudian sipenyesat itu mulai menyebarkan dusta diantara keturunan Raja Naipospos bahwa Marbun adalah putera sulung yang sebenarnya adalah tidak.

    Jadi, tarombo Naipospos pada awalnya dan yang benar adalah bahwa Raja Naipospos mempunyai lima orang putera (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang-Marbun).

    Terimakasih.

  5. 5



     Holong Friendus LG,

    bah tu-tu….., silap au na saotik i, bohama tu-tu misalna 2 istri niba, istri kedua ikkon manjou kakak do tu istri pertama, ba gellengna be pe tong ma songoni ate…., gabe mambahen repot do hape di pudian ni ari molo binahen istri niba marimbang

  6. 6



     Fernando Hutauruk,

    mauliate pra holong :)

    Sabotulna hita do mambaen hita repot.. dalam segala aspek kehidupan.. contohnya appara bilang repot molo istri marimbang.. molo au mandok dang repot.. asal ma unang sampe masibotoan istri pertama dohot istri pa 2 hon hahaha (gere-gere ma i pra)
    Jadi kembali ma tu ulasan ta on, hita do mambaen hita repot..Sipaat do alani ego hita gabe marlea, marutang, tutali nina dihitaan :)
    Alana adong sebagian dihita akka namardongan tubu terlalu formil (ala ni ego ingin dihargai berlebihan) tupa gabe sihataon.
    Dang disude kesempatan gabe baen on sebagai \"MARK\"
    Contohna ma, diparsaoran siganup ari naujui, jot jot do nidok abang tu marga situmeang ala kakak kelas ni iba, on dang boi atong gabe patokan di tarombo. Jala diarisan nami Toga Naipospos boru dohot berena se-cimanggis depok, jot jot do nidok abang tu akka Marbun, alai halaki tong do kakak nina tu pardijabu, alai appra nina tu iba, songon i sebalikna… jadi on dang porlu gabe \"harga\" mati boanon tu tarombo.Masipaleonan ma hita, sisada roha jala rim di tahi..marsipaolo-oloan.
    I do umbaen na didok dongan tubu (nunga holang) molo apala solhot, didok ma haha manang anggi.
    Datung dohonokku anggiku ise pe sian Marbun, manang dohonokku dahahang du ise pe sian Marbun.
    Alai dongan tubu do goarna. I do molo di tarombo, alai molo diparsaoran siganup-ari ba dang sala dohonon abang molo nunga tumua nasida, jala nasida pe didok do abang tu iba molo apala tumua iba.
    Aek godang do aek laut, dos ni roha do sibaen na saut. (Di na olo mangattusi) alai tong Aek Godang do Aek Pangaup, Dos ni roha i do olo mambaen maup (di na hurang pangattusion)
    Aut sura ma pamuli boru au tu Dolok Sanggul, tontu luluanku ma dongan tubukku asa adong parhuddul hu disi,tontu sian Marbun nama ra dapot au dongan tubukku dongan parhuddul di Doloksanggul.Jadi gabe aha ma posisi ni Marbun i diulaon i ? songon i do tong sebalikna molo Marbun sian DOloksanggul pamulihon boru tu Sipoholon. Boha ma molo sahat tuson tabaen gabe manontuhon ise siakkangan ise sianggian ?? nga lam tu bakkol na be kan pra ??
    Jadi selayakna memang molo ta olophon ma akka naung nadenggan pinukka ni parjolo.. alana dang dung do pe tubu partuktuhan na boi ta kategorihon sebagai na extreme di pomparan ni Raja Naipospos marala sian na so adong kejelasan ise mandok abang tu ise.
    Holan diakka naso olo patoruhon dirina do on gabe partuktuhan.

    mauliate

    >>>>> RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)

    Salam damai sejahtera,

    Komentar ini saya jawab dalam 2 (dua) bagian utama.

    Bagian ke-1 (pertama)

    Contohna ma, diparsaoran siganup ari naujui, jot jot do nidok abang tu marga situmeang ala kakak kelas ni iba, on dang boi atong gabe patokan di tarombo. Jala diarisan nami Toga Naipospos boru dohot berena se-cimanggis depok, jot jot do nidok abang tu akka Marbun, alai halaki tong do kakak nina tu pardijabu, alai appra nina tu iba, songon i sebalikna… jadi on dang porlu gabe \”harga\” mati boanon tu tarombo.Masipaleonan ma hita, sisada roha jala rim di tahi..marsipaolo-oloan. I do umbaen na didok dongan tubu (nunga holang) molo apala solhot, didok ma haha manang anggi. Datung dohonokku anggiku ise pe sian Marbun, manang dohonokku dahahang du ise pe sian Marbun. Alai dongan tubu do goarna. I do molo di tarombo, alai molo diparsaoran siganup-ari ba dang sala dohonon abang molo nunga tumua nasida, jala nasida pe didok do abang tu iba molo apala tumua iba.

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Sebenarnya apakah tarombo dipakai di dalam dinas termasuk dunia pendidikan, itu tergantung pribadi masing-masing, melihat situasi dan kondisi, dan juga tidak dapat dipaksakan bahwa tarombo harus masuk dalam sapaan secara dinas baik itu diperkantoran mau pun di sekolah. Tetapi di luar dinas atau dengan kata lain dalam kehidupan sehari-hari parhahamaranggion itu harus jelas dalam namardongantubu. Hal ini menyangkut siapa yang lebih tua dan lebih muda dalam arti tidak berpatokan dari segi umur. Namun antara siapa yang harus memanggil abang atau adik.

    Lanjut ke pernyataan Ampara Fernando Hutauruk selanjutnya. Ampara Fernando Hutauruk menyatakan ada istilah nunga holang dalam namardongantubu. Siapa yang menyatakan marga-marga keturunan Raja Naipospos sudah jauh (holang). Atau siapa yang mengatakan keturunan Raja Naipospos menjunjung kemuliaan masing-masing marganya? Itu semua adalah taktik sijahat dalam memecah belah kita keturunan Raja Naipospos. Kenali sijahat dan jangan ikuti dia. Kalau hanya mementingkan masing-masing marga, untuk apa kita disatukan sebagai keturunan Raja Naipospos. Bukankah itu utuk mempererat tali persaudaraan. Kita keturunan Raja Naipospos adalah menjunjung kemuliaan Naipospos dan terlebih kemuliaan nama TUHAN.

    Lanjut mengenai parhahamaranggion. Ampara, dalam tarombo khususnya dalam pesta adat haruslah jelas mengenai parhahamaranggion. Semua yang semarga dengan kita memang adalah dongan tubu. Putera amang tua saya sendiri pun adalah dongan tubu saya. Bahkan saudara laki-laki kandung kita pun adalah dongan tubu kita. Kemudian dongan tubu ini pun semakin diperjelas dan harus diperjelas mengenai siapa haha dan siapa anggi. Mari kita ambil fakta di lapangan. Katakan saja tulang saya marga Simanungkalit bertemu dengan Ampara Fernando Hutauruk. Maka tulang saya bermarga Simanungkalit tersebut harus memanggil abang kepada Ampara Fernando Hutauruk, meskipun Ampara masih lebih muda daripada tulang saya marga Simanungkalit tersebut. Bagaimana pun haposoon atau degan kata lain putera Amang Tua saya jauh lebih muda atau bahkan masih bayi sedangkan jika saya sudah beruban dan lanjut usia, maka saya harus memanggil abang kepada putera amang tua saya tersebut.

    Sekarang mari kita lihat penerapannya dalam pesta adat. Saya ambil pemisalan dalam pesta adat marga Sibagariang di Huta Raja, Sipoholon. Penyebutannya akan dengan; anggidolinami Hutauruk, anggidolinami Simanungkalit, anggidolinami Situmeang, dongantubunami Marbun. Khusus dalam pesta keluarga kami, tidak ada penyebutan anggidolinami Simanungkalit. Karena Simanungkalit adalah hulahula kami. Yang melahirkan ayahanda saya adalah boru Simanungkalit atau dengan kata lain Simanungkalit adalah bona tulang saya. Mengenai penyebutan dongan tubu Marbun dan bukan anggi doli Marbun dikarenakan persoalan tarombo Naipospos. Tetapi perlu kita ketahui bersama bahwa sebelumnya marga Marbun disebut sebagi anggi doli. Mengenai partuturan marga-marga keturunan Raja Naipospos adalah sebagai berikut.

    Ampara, untuk partuturan anatar marga keturunan Raja Naipospos ditentukan oleh 2 (dua) hal, yaitu:
    1. YANG LEBIH TUA
    2. PARPADANAN

    YANG LEBIH TUA

    Seperti yang kita ketahui bersama bahwa Sibagariang adalah putera Raja Naipospos yang pertama lahir dan berasal dari isteri I (pertama) boru Pasaribu. Setelah Sibagariang lahir, maka Marbun lahir dari isteri II (kedua) boru Pasaribu. Oleh karena isteri I (pertama) boru Pasaribu sebagai pemberi putera sulung bagi Raja Naipospos, maka Marbun menjadi putera ke-5 (bungsu).

    Hubungan kekerabatan atau partuturannya sudah tentu bahwa Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang menjadi haha doli Marbun. Atau dengan kata lain Marbun memanggil Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, dengan sebutan ompung atau amang tua atau angkang (abang). Sebaliknya Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang memanggil Marbun dengan sebutan ompung atau amang uda atau anggi. Tetapi dalam hal ini lepas dari padan yang dibentuk antar masing-masing pasangan marga yang akan saya jelaskan di bawah.

    PARPADANAN

    Pihak keturunan isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) kecuali Sibagariang telah membentuk padan naso jadi masiolian dan padan parhahamaranggion dengan pihak keturunan isteri II (Marbun).

    Padan naso jadi masiolian yaitu padan (janji) untuk tidak saling kawin (masibuatan). Hal ini menjadi padan yang umum antara keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) dengan keturunan Raja Naipospos dari isteri II (Marbun) untuk tidak saling kawin.

    Padan parhahamaranggion yaitu padan (janji) yang menyatakan bahwa siapa tuan rumah maka seketika itu dia menjadi angkang dan yang bertamu seketika itu menjadi anggi. Padan ini berlaku antar pasangan marga yang membentuk padan parhahamaranggion. Hutauruk dengan Marbun Lumban Batu, Simanungkalit dengan Marbun Banjar Nahor, dan Situmeang dengan Marbun Lumban Gaol.

    Dalam padan parhahamaranggion ini, Sibagariang tidak turut serta. Inilah yang menjadi bukti hak sulung yang nyata dimiliki oleh Sibagariang baik dari segi urutan waktu lahir maupun dari parinaon (ibu yang melahirkan).

    Jadi apabila Hutauruk bertamu ke rumah marga Marbun Lumban Batu, maka seketika itu Hutauruk menjadi anggi dan Marbun Lumban Batu menjadi angkang. Tetapi sapaan Marbun Lumban Batu terhadap Sibagariang, Simanungkalit, dan Situmeang tetap adalah angkang (abang).

    Tetapi, sekarang muncul pertanyaan. Apabila Hutauruk dan Marbun Lumban Batu bertemu di jalan, apakah sapaan mereka. Karena tak ada yang bertamu dan tuan rumah dalam hal ini. Menurut saya, Hutauruk adalah haha doli dari Marbun Lumban Batu. Marbun Lumban Batu tentu menyapa Hutauruk sebagai angkang (abang).

    Bagian ke-2 (kedua)

    Aut sura ma pamuli boru au tu Dolok Sanggul, tontu luluanku ma dongan tubukku asa adong parhuddul hu disi,tontu sian Marbun nama ra dapot au dongan tubukku dongan parhuddul di Doloksanggul.Jadi gabe aha ma posisi ni Marbun i diulaon i ? songon i do tong sebalikna molo Marbun sian DOloksanggul pamulihon boru tu Sipoholon. Boha ma molo sahat tuson tabaen gabe manontuhon ise siakkangan ise sianggian ?? nga lam tu bakkol na be kan pra ?? Jadi selayakna memang molo ta olophon ma akka naung nadenggan pinukka ni parjolo.. alana dang dung do pe tubu partuktuhan na boi ta kategorihon sebagai na extreme di pomparan ni Raja Naipospos marala sian na so adong kejelasan ise mandok abang tu ise. Holan diakka naso olo patoruhon dirina do on gabe partuktuhan.

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Saya ulangi lagi mengenai partuturan bahwa jelas pada awalnya diantara keturunan Raja Naipospos adalah seragam. Mulai dari lahirnya 5 (lima) orang putera Raja Naipospos hingga persoalan benar tidaknya keberadaan Toga Sipoholon sebagai putera Naipospos yang dialami oleh Haran Sibagariang (gelar:Ompu Basar Solonggaron) sebagai mantan Kepala Negeri Huta Raja, seperti yang telah saya jelaskan pada artikel Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos adalah bahwa Sibagariang tetap diakui sebagai marga yang sulung dan Marbun sebagai marga yang bungsu dalam keturunan Raja Naipospos. Kemudian sipenyesat itu mulai menyebarkan dusta diantara keturunan Raja Naipospos bahwa Marbun adalah putera sulung yang sebenarnya adalah tidak. Jadi, tarombo Naipospos pada awalnya dan yang benar adalah bahwa Raja Naipospos mempunyai lima orang putera (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang-Marbun). Daerah bukan penentu parhahamaranggion. Mengenai partuturan telah saya jelaskan di atas.

    Terimakasih.

  7. 7



     Fernando Hutauruk,

    Horas jala mauliate di Abang niba Ricardo Sibagariang, mauliate godang diho abang, sumurung ma nian pasu pasu diabang dohot keluarga ala dilehon abang roha ni abang dohot tikki ni abang mangurus website on, tontu dohot tujuan tu hadengganon jala sada ni roha.
    Dang mangorui sangap niabang dohot holong tu abang, hupaihut ihut sude akka artikel ni abang, mansai godang hahurangan baik secara isi, format dan konteks penyampaian. Suang songon i do tong hinadengganna, tong do mansai godang.
    Alai apala saotik abang, mengenai hak sulung na sai dipatikhon abang dohot berbagai argumen, menurut au abang terlalu memaksakan, hubaranihon dirikku mandok on abang dang na menyangkal au dikemungkinan Sibagariang siangkangan sian sude. Alai konteks penyampaian ni abang do na hu koreksi disi. Molo holan berdasar sian na \"memerintah\" kan pesta do dohononmu abang, Siakkangan na dihuta do uluan. Jot jot do on dialami akka natua tua na saormatua dihuta (tarlumobi molo nunga jumolo sinondukna marujung) Jala hualami do on diujung ngolu ni amatta nasumuanhon au, marujung ma daamang on alai anakna siakkngan dang dope sahat tu huta, au ma parjolo sahat, jadi sude ma marguruhon tu au, jala au do huddul disimajujungni daamang. Alai dang dohonokku on gabe sada alasan mandok au tubu ni daamang on siakkangan, palias ma i abang.
    Jala molo songon hinambor ni Raja Naipospos ( Ninna) na adong di Sipoholon (Sombaon same) besar do kemungkinan on memang songon inganan paradianan ni Martuasame. Jala di pamasuk tu hinamborna di huta pinukkana. Dison adong fakta na mendukung bahwa Martuasame adalah nama asli Toga Sipoholon ( putra Raja Naipospos)
    Boasa ikon gabe tu Sipoholon siboan raja Naipospos dinapatuahon ?? soalani daona sian Dolok Imun songon huta pinukkana ??
    Alai fakta on mendukung bahwa Martuasame adalah putra Raja Naipospos yg menjadi cikal bakal Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit.
    Pertanyaan mengenai kenapa tidak ada Marga SIpoholon seperti adanay Marga Marbun (sebelom jadi Lumban batu, Banjar nahor dan Lumban gaol) ??
    Kembali ma muse tu hagabeon, alana takkas do taboto dao do lobi gabe Marbun, jadi kebutuhan akan pembentukan marga sebagai penegas garis keturunan lebih dulu dibutuhkan oleh Marbun ketimbang Martuasame (Sipoholon)
    Selanjutnya mengenai Pesta Massattihon Naipospos gabe songon sada sesembahan di pomparanna, manang boha pe dihinamborna do baenon pesta i, dang tupa bahenonku pesta massattihon oppunghu di luat na asing. Ikkond i huta didia hinambor ni oppung i do patupa on pesta massattihon.
    Jadi semakin beralasan bahwasanya Raja Naipospos memperanakkan 2 orang putra yaitu Martuasame dan Marbun.
    Paihut ihut abang ma jo muse akka na husurat i diberbagai artikel ni abang, nunga lam takkas disi sian akka na paihut ihut fakta sian penjelasan ni abang do au, alai hubaen pendekatan terbalik. Dang na patuduhon parbinotoanhu au tu abang manang tu ise pe namanjaha.Sahali nai dang mangkurangi sangap dohot holong tu abang.

    mauliate

    >>>>> RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)

    Salam damai sejahtera,

    Terimakasih atas tanggapan dan saran dari Ampara Fernando Hutauruk. Mohon maaf atas berbagai kekurangan saya selama ini. Memang harus demikianlah kita harus saling menasihati yang bertujuan untuk membangun.

    I TESALONIKA 5:11
    Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan.

    Kiranya TUHAN pun selalu menyertai Ampara Fernando Hutauruk sekeluarga.

    Komentar ini saya jawab dalam 4 (empat) bagian utama.

    Bagian ke-1

    Molo holan berdasar sian na \”memerintah\” kan pesta do dohononmu abang, Siakkangan na dihuta do uluan. Jot jot do on dialami akka natua tua na saormatua dihuta (tarlumobi molo nunga jumolo sinondukna marujung) Jala hualami do on diujung ngolu ni amatta nasumuanhon au, marujung ma daamang on alai anakna siakkngan dang dope sahat tu huta, au ma parjolo sahat, jadi sude ma marguruhon tu au, jala au do huddul disimajujungni daamang. Alai dang dohonokku on gabe sada alasan mandok au tubu ni daamang on siakkangan, palias ma i abang.

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Amat baik perkataan Ampara tersebut.Tetapi perlu kita pilah-pilah. Karena apa yang dialami Ampara lain dengan yang terjadi di Dolok Imun. Yang dialami Ampara Fernando Hutauruk itu hanya berupa duduk sementara di halangulu. Sementara yang membawa persoalan itu mengenai waktu yaitu pelaksanaan yang tidak sesuai dengan yang ditentukan sehingga Marbun tidak turut serta. Seandainya Sibagariang bukan putera sulung, jangankan Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, raja huta dan dongan sahuta pun tidak akan menyetujui dan menghadiri pesta itu tanpa kehadiran Marbun. Tanpa kehadiran Marbun pun, pesta dapat berlangsung. Karena anak sihahaan ada di pesta itu.

    Memang meskipun saya marga Sibagariang, saya tak pernah menyetujui hal tersebut dan saya mengaku nenek moyang saya telah berdosa dalam hal tersebut. Tetapi itulah salah satu bukti nyata hak sulung yang dimiliki Sibagariang. Sibagariang lahir pertama sekali diantara lima bersaudara dan dari isteri I (pertama) boru Pasaribu. Berbicara dari segi fakta (kenyataan) tanpa ada unsur meninggikan diri sedikit pun bahwa inilah bukti nyata hak sulung yang tak bias disangkal oleh siapa pun yang dimiliki Sibagariang baik dari segi urutan waktu lahir maupun dari ibunda yang melahirkan (parinaon).

    Selain itu masih ada bukti nyata hak sulung yang dimiliki Sibagariang yaitu mengapa Sibagariang tak turut dalam padan berpasang-pasangan tersebut. Hal tersebut telah saya uraikan dengan jelas pada artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos.

    TUHAN tak akan membiarkan kesesatan terjadi. Yang benar akan menang pada akhirnya.

    Bagian ke-2 (kedua)

    Jala molo songon hinambor ni Raja Naipospos ( Ninna) na adong di Sipoholon (Sombaon same) besar do kemungkinan on memang songon inganan paradianan ni Martuasame. Jala di pamasuk tu hinamborna di huta pinukkana. Dison adong fakta na mendukung bahwa Martuasame adalah nama asli Toga Sipoholon ( putra Raja Naipospos) Boasa ikon gabe tu Sipoholon siboan raja Naipospos dinapatuahon ?? soalani daona sian Dolok Imun songon huta pinukkana ??

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Memang betul Ampara bahwa Dolok Imun tidak terlalu jauh. Bila Ampara Fernando Hutauruk merenungkan dengan tenang dan teliti tulisan saya pada artikel SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA, saya tidak memberi pernyataan pasti tempat kuburan Raja Naipospos sebenarnya. Kisah itu saya dapat dari Haran Sibagariang (gelar:Ompu Basar Solonggaron) sebagai mantan Kepala Negeri Huta Raja.

    Dalam artikel tersebut ada dua pendapat, yaitu: Dolok Imun dan Sipoholon.

    Alasan di Dolok Imun adalah karena pesta (horja) ke-7 (ketujuh) untuk mansantihon Raja Naipospos di Dolok Imun.

    Alasan di Sipoholon karena adanya sombaon same sebagai pertanda. Satu pun dari dua pendapat di atas tak saya salahkan sedikit pun.

    Setelah saya uji dan renungkan maka saya tarik kesimpulan bahwa pesta ke-7 (ketujuh) diadakan di Dolok Imun dan kuburan Raja Naipospos telah ada sebelumnya di Sipoholon. Dengan menggunakan landasan tersebut, siapa tahu dan siapa sangka apakah ada pesan Raja Naipospos sebelumnya.

    Melalui pemahaman saya bahwa sepertinya Ampara Fernando Hutauruk tidak membantah bahwa pesta yang membawa persoalan itu adalah pesta atau horja ke-7 (ketujuh) mansantihon Raja Naipospos. Karena kita tak perlu munafik bahwa hanya sedikit saja keturunan Raja Naipospos yang tahu pesta apakah yang membawa persolan tersebut. Yang penting pesta, itu saja yang diketahui.

    Jadi saya berkata adakah sombaon Naipospos kita temui? Jelas-jelas tidak ada.

    Jadi apakah sebutan Raja Naipospos setelah disantihon? Sombaon same yang diambil dari kata Martuasame sebagai julukan Raja Naipospos. Bukti nyata yang tak dapat disangkal oleh siapa pun bahwa benarlah Raja Naipospos mepunyai 5 (lima) orang putera, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalt, Situmeang, dan Marbun.

    Bagian ke-3 (ketiga)

    Alai fakta on mendukung bahwa Martuasame adalah putra Raja Naipospos yg menjadi cikal bakal Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit. Pertanyaan mengenai kenapa tidak ada Marga SIpoholon seperti adanay Marga Marbun (sebelom jadi Lumban batu, Banjar nahor dan Lumban gaol) ?? Kembali ma muse tu hagabeon, alana takkas do taboto dao do lobi gabe Marbun, jadi kebutuhan akan pembentukan marga sebagai penegas garis keturunan lebih dulu dibutuhkan oleh Marbun ketimbang Martuasame (Sipoholon)

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Ampara, pernyataan tersebut sekali-kali tidak dapat menjadi alasan. Titik persoalannya sekarang adalah mengapa Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang tidak memakai marga Sipoholon melainkan Naipospos.Apakah orang akan melangkahi bapaknya sendiri. Karena Ampara Fernando Hutauruk tadi mengatakan bahwa Sipoholon lebih dihormati daripada Naipospos. Kalau begitu, mana tindak hormat itu melalui marga. Malah yang ada adalah marga Naipospos dan bukan marga Sipoholon.

    Tak perlu ada karangan dan firasat sana-sini. Sipoholon tidak akan pernah dijadikan marga oleh keturunan Raja Naipospos.

    Bagian ke-4 (keempat)

    Selanjutnya mengenai Pesta Massattihon Naipospos gabe songon sada sesembahan di pomparanna, manang boha pe dihinamborna do baenon pesta i, dang tupa bahenonku pesta massattihon oppunghu di luat na asing. Ikkond i huta didia hinambor ni oppung i do patupa on pesta massattihon.

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Ampara, sebagai orang Kristen tidak dibenarkan membuat sesembahan. Ampara, seperti yang telah saya singgung sebelumnya bahwa setelah saya uji dan renungkan maka saya tarik kesimpulan bahwa pesta ke-7 (ketujuh) diadakan di Dolok Imun dan kuburan Raja Naipospos telah ada sebelumnya di Sipoholon. Perkataan Ampara tersebut tidak dapat menjadi ptokan karena lagipula belum pernah saya jumpai orang yang membuat sesembahan. Dengan menggunakan landasan tersebut, siapa tahu dan siapa sangka apakah ada pesan Raja Naipospos sebelumnya.

    Terimakasih.

  8. 8



     Naipospos Sibagariang,

    @ Fernando Hutauruk

    Salam damai sejahtera dari Tuhan sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan.

    Hormat dan pujian bagi-Nya, yang telah memberi kasih, berkat, dan perlindungan bagi kita keturunan Raja Naipospos.

    Horas dan salam kenal kepada Ampara sekeluarga Fernando Hutauruk dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang.

    Terima kasih saya ucapkan kepada Ampara atas tanggapan yang diberikan Ampara pada artikel tulisan saya.

    Mohon maaf yang sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Ampara saya Fernando Hutauruk dan bagi kita semua yang membaca jawaban saya pada komentar-komentar Ampara Fernando Hutauruk jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati. Bukan maksud hati untuk menyinggung atau pun memojokkan melainkan meluruskan hal-hal yang telah keliru.

    Saya dalam hal ini tidak mengajari karena kita sama-sama belajar dari orang tua kita.

    MATEUS 18:15

    Alai molo mardosa donganmi, topot jala ajari ibana, holan hamu padua. Molo ditangihon ho, dapot ho do ibana gabe donganmu muse.

    Jujur, saya sangat salut dengan Ampara Fernando Hutauruk. Karena analisa dan rasa ingin tahu Ampara sangat tinggi. Namun dalam kerendahan hati, saya mengajak kita bersama keturunan Raja Naipospos untuk membuka hati menerima pernyataan kita masing-masing. Setelah itu mari kita membandingkan dan mnguji dengan apa yang kita ketahui. Karena tak selamanya apa yang kita ketahui adalah 100 % (seratus persen) benar. Akhirnya pun kita memegang apa yang benar.

    Seluruh pertanyaan Ampara Fernando Hutauruk telah saya jawab langsung pada komentar Ampara tersebut. Baik pada artikel TANGGAPAN SEKITAR POLEMIK MARGA KETURUNAN TOGA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA (tulisan Ama Natalia Lumban Gaol), Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos (tulisan saya sendiri Ricardo Parulian Sibagariang), dan SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA (tulisan saya sendiri Ricardo Parulian Sibagariang).

    Kiranya penjelasan saya yang sedikit ini dapat menjawab pertanyaan dan pernyataan dari Ampara saya Fernando Hutauruk. Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati Ampara.

    Terima kasih.

    Salam hangat persaudaraan dari saya,

    Ricardo Parulian Sibagariang

  9. 9



     hh,

    @Ampara Ricardo
    Dalam penjelasan ampara ke ampara kita Holong Friendus LG:

    Ampara, yang pertama lahir dalam keturunan Raja Naipospos adalah Donda Hopol (SIBAGARIANG) dan bukan Marbun. Setelah Donda Hopol (SIBAGARIANG) lahir dari isteri I (pertama) boru Pasaribu, kemudian Marbun lahir dari isteri II (kedua) boru Pasaribu. Lalu Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang pun lahir secara berurutan dari isteri I (pertama) boru Pasaribu.

    Dalam penjelasan ampara Ricardo yang lain:

    Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut.

    Nah, karena isteri pertama belum memberikan keturunan kepada Raja Naipospos, beliau menikah lagi dengan paribannya itu, dan lahirlah “Marbun”. Setelah Marbun lahir, barulah kemudian isteri pertamanya itu mengandung, dan lahirlah Sipoholon (sampai sekarang saya belum bisa terima penjelasan ampara bawha Sibagariang dan adek2nya adalah anak kandung Raja Naipospos)

    Permintaan ampara untuk ampara kita Holong agar memberikan bukti lain bahwa Marbun adalah yang pertama lahir, saya berikan dua ya: 1. dari beberapa buku tarombo yang pernah saya baca, nama Marbun ada di sebelah kiri, dan nama Sipoholon disebelah kanan. Hal ini berarti yang disebelah kiri itulah yang sulung. 2. Di zaman dulu dulu, anak yang pergi merantau adalah anak yang sulung, dan ternyata si Marbun yang pergi merantau ke Humbang dan Sipoholon tinggal di Sipoholon.

    Sekian.

  10. 10



     hh,

    @ampara Holong F, LG

    “bah tu-tu….., silap au na saotik i, bohama tu-tu misalna 2 istri niba, istri kedua ikkon manjou kakak do tu istri pertama, ba gellengna be pe tong ma songoni ate…., gabe mambahen repot do hape di pudian ni ari molo binahen istri niba marimbang”

    Molo pandapothu songon ondo ampara:

    Ala boni i sian ama i do, tontu na gabe siangkangan tergantung tu boni na parjolo di samehon do, indada targantung tu panamean i.

    Hira sarupa do i dohot na kembar, saat terjadi pembuahan sel telur, sada do cikal bakal dakdanak i. Tingki membelah diri cikal bakal i, rampak adong do duansa (molo silinduat), ndang adong na manontuhon i ise siangkangan jala ise sianggian tingki di bortian dope. Alai, ise na parjolo haruar sian siubeon ni inana, ba ima siangkangan. Suang songon i ma tong boni i, ia i na parjolo disamehon, ima siangkangan.

    Horas.

  11. 11



     Naipospos Sibagariang,

    @hh

    Salam damai sejahtera dari Tuhan sebagai sumber pengetahuan dan kebijaksanaan.

    Horas dan salam kenal kepada hh sekeluarga dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang.

    Terima kasih saya ucapkan kepada hh atas tanggapan yang diberikan hh pada artikel tulisan saya ini.

    Mohon maaf yang sebesar-besarnya bukan bermaksud tidak sopan. Namun karena marga Anda kurang jelas maka saya bingung menggunakan sapaan apa, selain menyebut Anda dengan Saudara hh

    Saudara hh, mengenai penjelasan Saudara mengenai bukti Marbun lebih dahulu lahir, saya sudah menjelaskan benar tidaknya dalam artikel tulisan saya yang berjudul Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos. Jadi saya rasa, untuk menjawab pernyataan Saudara tersebut, silahkan Saudara membaca artikel tersebut dengan saksama, teliti, dan hati tenang.

    Yang penting bahwa dalam seluruh artikel tulisan saya, saya tidak pernah mengatakan Marbun lebih dahulu lahir melainkan Sibagariang. Saya sudah menjelaskan fakta-fakta pendukungnya pada artikel-artikel tulisan saya.

    Mengenai benar tidaknya keberadaan Toga Sipoholon sebagai putera Raja Naipospos, saya sudah menjelaskan pada artikel tulisan saya yang berjudul Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos. silahkan Saudara membaca artikel tersebut dengan saksama, teliti, dan hati tenang pula.

    Apakah Saudara hh menerima atau tidak itu kembali terhadap individu masing-masing.

    Saya sadar bahwa tak seorang pun dapat memaksakan kehendaknya.

    TUHAN telah mengaruniakan akal budi, hati nurani, dan kebebasan terhadap seseorang untuk membedakan mana yang baik dan buruk dalam hidupnya.

    Rasul Paulus berkata dalam I Tesalonika 5:21

    Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

    Maaf beribu kali maaf, jika Saudara hh merasa perkataan saya yang benar silahkan Saudara melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

    Maaf beribu kali maaf, jika Saudara hh merasa apa yang diketahui Saudara hh selama ini yang benar silahkan Saudara melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

    Dunia penuh dengan penyesat dan kesesatan. Rasul Paulus menekankan hal tersebut agar kita tidak turut sesat.

    Demikian halnya pendapat tarombo Naipospos. Mari kita uji yang kita tahu selama ini dan yang kita dengar dari orang lain. Jangan ada sikap egoisme yang mementingkan bahwa apa yang diketahuinya sudah pasti yang paling benar.

    Penjelasan-penjelasan mengenai tarombo Naipospos yang terdapat pada NAIPOSPOS ONLINE ini sudah dapat dikatakan cukup. Sekarang kembali tergantung pada masing-masing individu.

    Saran saya hanya satu, mari kita untuk tidak mewariskan persolan tarombo Naipospos ini kepada generasi muda.

    Terimakasih.

    Salam hangat persaudaraan dari saya,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  12. 12



     Holong Friendus LG,

    @ hh
    @ Naipospos Sibagariang

    Terimakasih telah berkunjung dan juga telah memberikan kontribusi besar pada media komunikasi kita ini.

    Pada profesi lama saya, saya pernah melakukan ujicoba pada sekitar 40 orang mahasiswa di ruang kelas untuk menyampaikan kalimat yang terdiri dari 5 suku-kata secara berantai mulai dari baris paling belakang hingga ke baris paling depan, hasilnya lumayan mengejutkan, dari kalimat Tahu Tempe Goreng Enak Rasanya menjadi Tempe Yang Digoreng

    Bukti merupakan fakta autentik atau setidaknya berupa kronologi yang masuk logika berfikir sedangkan Kesaksian merupakan suatu pernyataan dari sudut pandang pemberi kesaksian, tentu saja kadang-kadang didalamnya terdapat kepentingan pemberi kesaksian.

    Penjelasan-penjelasan saudara Naipospos Sibagariang yang mengunakan ayat-ayat buku suci karena beragama kristen dan tentu saja punya faktor kepentingan sehingga menggunakan ayat-ayat buku suci, lalu bagaimana ya kira-kira sudut pandang saudara kita yang beragama muslim saat membaca kutipan ayat-ayat buku suci yang dikait-kaitkan dengan silsilah naipospos…..!!!

  13. 13



     hh,

    @Ricardo
    Saya sudah baca semua artikelnya, tetapi belum bisa menerimanya. Maaf, samasekali tidak ada sikap egoisme pada diri saya yang mementingkan/menekankan bahwa apa yang saya ketahui sudah pasti yang paling benar. Kelak bila ada bukti yang lebih menyakinkan, mungkin akan saya terima.

    Mauliate

  14. 14



     Naipospos Sibagariang,

    @ Holong Friendus Lumban Gaol

    Salam damai sejahtera,

    Terimakasih atas pernyataan Ampara Holong Friendus Lumban Gaol selaku Administrator Naipospos Online.

    Bukti dan kesaksian berdampingan erat. Saya telah bersaksi dengan menerangkan bukti-bukti yang saya dapat, dengar, dan lihat. Bukti tersebut telah saya jelaskan pada artikel-artikel tulisan saya. Sekarang terserah bagi orang yang membacanya.

    Saya rasa tak perlu dipersoalkan mengenai penggunaan ayat-ayat suci dari Alkitab pada artikel-artikel tulisan saya. Terserah Ampara mau katakan kepentingan atau apalah karena saya menggunakan ayat-ayat Kitab Suci agama Kristen.

    Saya agama Kristen tentu saya menggunakan ayat kitab suci agama saya. Tujuan saya hanya satu dengan menggunakan ayat-ayat Kitab Suci adalah semoga dapat mengetuk hati dan pikiran kita dan terutama menghancurkan kedegilan hati kita.

    Lagi pula, TUHAN tidak melarang perkataan-Nya kita gunakan asal demi tujuan yang baik dan demi memuliakan nama-Nya.

    Mengenai sudut pandang saudara kita agama Islam yang mengaitkan ayat-ayat Kitab Suci agama Islam, mari kita tunggu bersama.

    Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.

    Horas.

    Salam hangat persaudaraan,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  15. 15



     Naipospos Sibagariang,

    @hh

    Terimakasih saya ucapkan atas kesediaan Saudara hh yang telah meluangkan waktunya membaca artikel-artikel tulisan saya pada NAIPOSPOS ONLINE ini.

    Menerima atau tidak itu adalah hak Saudara. Saya menghormati keputusan Saudara hh dalam hal ini.

    Jika Saudara hh ingin memperoleh bukti lain, silahkan Sudara hh meluangkan waktu untuk berkunjung ke kampung halaman keturunan Raja Naipospos khususnya di Desa Hutaraja, Kecamatan Sipoholon. Disana Saudara dapat bertanya kepada para orang tua kita yang tahu betul mengenai tarombo Naipospos pada awalnya dan yang benar.

    Karena satu-satunya tarombo Naipospos yang terjamin kebenarannya adalah dari kampung halaman (bona pasogit). Dimana bona pasogit pertama atau yang awal dari Raja Naipospos dan keturunannya? Yang jelas adalah Dolok Imun Huta Raja, Kecamatan Sipoholon.

    Tulisan saya pada artikel-artikel di NAIPOSPOS ONLINE ini adalah yang saya dapat dari orang tua kita di Huta Raja Sipoholon. Jadi, tarombo yang saya jelaskan bukan tarombo dari perantauan melainkan dari bona pasogit.

    Referensi bagi kita bersama adalah artikel tulisan Ampara saya Maridup Hutauruk yang berjudul Apa Benar Naipospos Menurunkan Tujuh Marga. Pada artikel tersebut sangat jelas pengakuan seorang yang dituakan di Sipoholon yang bernama Torang Hutauruk bahwa Raja Naipospos memperanakkan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.

    Perlu kita ketahui bersama bukan hanya marga Sibagariang yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai lima orang putera.

    Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.

    Horas.

    Salam hangat persaudaraan,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  16. 16



     hh,

    @Ricardo ParulianSibagariang

    Horas katua,
    Unang paseriushu katua, ngernger bahen saotik. Molo apala ginora katua i \"ampara\", ua tung alusi jo dohot \’ampara\’ muse, asa songon na nyambung otik, unang sai lalap digora katua i iba
    saudara hh.

    Molo mangihuthon tarombo napinatorang ni katua i, berarti sansundut hape parjolo Sibagariang, Hutauruk, S\’kalit, dohot Situmeang sian: Lumbanbatu, Banjarnahor dohot Lumbangaol ate? Alana, pahompu ni Raja Naipospos nama LB, BN, dhot LG.

    Horas

  17. 17



     Naipospos Sibagariang,

    @hh

    Horas, Ampara!

    Molo nadongantubuniba i do hape hamu, sai najouhononku do hamu Ampara. Holan alana nahurang tangkas do dipatuboahon hamu margamuna. Jadi ndang haru tangkas binoto boha parpeak ni tuturniba tu hamu. Mansai denggan manian paboanmuna manang namarga aha do hamu, Ampara.

    I do tutu, Ampara. Molo mangihuthon tarombo ni ompunta Raja Naipospos nahusurat di NAIPOSPOS ONLINE on, lima do ianggo anak ni Raja Naipospos. Jadi, pahompu ni Raja Naipospos ma Lumban Batu, Banjar Nahor, dohot Lumban Gaol.

    Alai porlu dohononku, ia tarombo nahusurat di NAIPOSPOS ONLINE on i ma tarombo nahudapot sian angka ompunta namaringanan di huta parjolo pinungka ni ompunta Raja Naipospos i ma Huta Raja, Sipoholon. Jadi, ndang roharohangku sambing manurathon tarombo di NAIPOSPOS ONLINE on ate, Ampara hh.

    Botima.

    Horas.

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  18. 18



     hh,

    @Ricardo P. Sibagariang

    Horasma tutu ampara, ahu marga Marbun do.
    Mauliaetma ampara, nunga digohi ampara be pangidoan hi. Sai hira na lolos nyaleg huhilala, jala langsung legislator pusat. Hehehe.

    Aupe ampara ndang apala sai ngotot ahu ingkon tarombo na huboto saleleng on do na tingkos bahwa na dua do anak ni ompunta Raja Naipospos ima Marbun dohot Sipoholon manang Sipoholon dohot Marbun. Sagari di Bibelpe, adongdo data sejarah na marasing, tontu di sejarahta pe mungkin do tong masa parasingan si songon i.

    Mauliate.

    >>>>> RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)

    Nauli jala nadenggan pandok ni Ampara i. Molo songon i do haputusan ni Ampara, nauli jala nadenggan.

    Alai taringot natarsurat di Bibel, songon on do Ampara. Andorang so manjaha Bibel hita, tapangido ma gogo nasian Tuhanta i. Asa anggiat taantusi nanidok ni Tuhanta jala margogo hita magulahon di hangoluan siganup ari. Jala ndang pola tasangsihon habonaran ni saluhut natarsurat di Bibel i. Ai toho do i luhutna. Jala marharoroan sian Tuhanta do sude hata natarsurat i. Nang naummetmet pe.

    Mauliate.

    Tai horas sian ahu,

    Ricardo Parulian Sibagariang

  19. 19



     Fernando Hutauruk,

    Horas dihita sude, pomparanni Ompu i Naipospos manang didia pe maringanan :)
    Horas di abang ni ba Ricardo Sibagariang.
    Sailam marganjang ganjang akka pembahasan mengenai tarombo ni Toga Naipospos on ate, au holan paingothon do.. sotung gabe terseret hita ganup tu kepentingan ni “oknum”. Alana sesuai dohot tulisan tulisan dohot sanggahan ni Abang niba Ricardo na dikutip sian Alkitab, ima songon na patujolohon manang mangondolhon na sering terjadi “paliluhon” di namasa dihaportibion songon na sinurathon ni apostel paulus tu jemaatna. Jadi namasa paliluhon on masa do ro tu sadarion, dang adong songon gabe sitiopon manang sipeopon “paliluhon” on sidung andorang si dibuka naipospos online,
    tu sude akka dongan na mangaleon rohana dohot tikkina di naipospos online, asa marroha songon darapati, marbisuk songon ulok. Dibagasan haserepon ni roha ma hita mangido pangajarion sian amanta namartua Debata asa dapot hangoluan dohot ondeng songon na diparbagaNa tu ganup naposoNa.

    Horas

    >>>>> RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)

    Nauli jala nadenggan Ampara. Toho do i mansai torop do pangalilu jala jotjot do haliluon di portibion. Jala lam bahat do i mandapothon ari parpudi i. On do tangiangta tu Tuhanta, asa anggiat ma tutu tangkas taboto nadia do nabonar jala nadia do sipangalilu. Tuhanta mandok marhite sian parbuena do tandaonta angka i. Ndang i, Ampara Fernando Hutauruk?

    Mansai gomos ma tapangidohon tu Tuhanta asa sada hita pomparan ni ompunta Raja Naipospos nang taringot tarombo pe, Amen

  20. 20



     binsar,

    dame ma dihamu durung2ma dihami… butima sian hami popparan oppu sitahiraja dolok sanggul

    >>>>>RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)

    Horas, Ampara. :)

  21. 21



     binsar marbun,

    dulu ada punguan naipospos dibatam, trus punguan naipospos ini berubah menjadi punguan martuasame.
    menurut punguan dua do anakni naipospos, ima toga sipoholon dohot toga marbun. unang jadi menambah cerita hamu… najolo najahatan inna marga si bagariang tu marbun… mungkin keturunan ni sibagariang na jahat i do abangta si ricardo sibagariang on…

  22. 22



     Ricardo Parulian Sibagariang,

    @Binsar Marbun

    Horas, Ampara.

    Ampara, seperti yang kita ketahui bersama bahwa ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa nama asli Toga Sipoholon adalah Martuasame.

    Melalui penjelasan yang Ampara Binsar Marbun sebutkan di atas, berarti sudah ada mulai langkah nyata kembali ke tarombo Naipospos yang awal dan benar, yang mana salah satunya adalah bahwa Martuasame adalah julukan Raja Naipospos sendiri.

    Saya tak perlu panjang lebar. Karena saya telah menjelaskan kebenaran mengenai benar-tidaknya keberadaan Sipoholon sebagai salah satu putera Raja Naipospos melau artikel tulisan saya Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos.

    Sekarang terserah Ampara.

    Penting saya tambahkan, seperti yang Ampara sebutkan bahwa Punguan Naipospos yang berubah nama menjadi Punguan Martuasame di Batam berpendapat bahwa Raja Naipospos mempunyai dua putera yaitu Toga Sipoholon dan Toga Marbun.

    Saya dengan tegas menyangkal pendapat tersebut.

    Perlu kita camkan dalam hati kita bahwa tarombo hanya boleh ditentukan dan disepakati oleh kampung halaman atau bona pasogit dan bukan yang lain.

    Tarombo yang saya nyatakan adalah tarombo Naipospos pada awalnya dan yang benar berasal dari bona pasogit dan bukan dari Batam.

    Referensi bagi kita bersama adalah artikel tulisan Ampara kita Maridup Hutauruk yang berjudul Apa Benar Naipospos Menurunkan Tujuh Marga. Pada artikel tersebut sangat jelas pengakuan seorang yang dituakan di Sipoholon yang bernama Torang Hutauruk bahwa Raja Naipospos memperanakkan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.

    Perlu kita ketahui bersama bukan hanya marga Sibagariang yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai lima orang putera.

    Seandainya Sipoholon benar adanya sebagai putera Raja Naipospos, maka Sipoholon akan dijadikan marga seperti halnya Marbun.

    Hingga saat ini dan sampai kapan pun Sipoholon tidak akan pernah dijadikan marga oleh keturunan Raja Naipospos. Karena Raja Naipospos mempunyai lima orang putera dan bukan dua. Mengenai Sipoholon adalah benar adanya dan dapat dipertanggungjawabkan berasal dari kata sipohulon. Jika Ampara Binsar Marbun tidak percaya, silahkan Ampara datang ke Sipoholon dan bertanya kepada orang tua kita yang tahu benar tentang tarombo Naipospos dan wilayah Sipoholon.

    Marilah kita untuk tidak saling menghakimi dan saya pun berkata:

    TUHAN yang meninggikan dan merendahkan. Pujilah Dia.

    TUHAN yang memberi dan TUHAN pula yang mengambil. Terpujilah TUHAN.

    TUHAN memberkati, Amin

    Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.

    Terimakasih.

    Salam hangat persaudaraan,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  23. 23



     sugeng situmeang,

    horas,
    menurut na hu boto dohot napinatorang ni natua- tua i ( joakim situmeang, tinggal di hutaraja sipoholon ) dang holan dua anak ni naipospos alai 5 ima sibagariang, hutauruk, simanungkalit, situmeang dohot marbun, alai nang pe sogoni na mangalului natikkos do hita, jadi menurut au, dengganma di patorang akka dongan na mandokkon 2 anak ni naipospos, boru aha do nialap ni sipoholo, jala didia nasida marhuta, jala didia mualna alana najolo molo adong sada raja na mamukka huta ikon adong mualna, jala na parpudi sahali didia hinamborna.
    au dang na magajari alai menurut artikel na hujaha sogoni do,
    asa jelas hita marsitandaan:
    au margoar: sugeng situmeang
    tubu di : Hutaraja Sipoholon
    Tubu ni : Joakim Situmeang/ Enike Br. Sibagariang
    merjabu di: Hutaraja Sipoholon

  24. 24



     Ricardo Parulian Sibagariang,

    @Sugeng Situmeang

    Horas.

    Aturanna nian mardongantubu do hita alai gabe mar-Lae ma hita ba. Tudia bahenonta namborungku boru Sibagariang i.

    Ndang i, Lae Sugeng Situmeang?

    Mauliate ma tutu di hamu Lae lumobi di Tuhanta di na pinatorangmuna i, Lae.

    Asa lam tangkas diboto nasida ia anak ni ompunta Raja Naipospos i 5 (lima) do, ima:

    1.SIBAGARIANG
    2.HUTAURUK
    3.SIMANUNGKALIT
    4.SITUMEANG
    5.MARBUN

    Nunga be tutu lam tarida di hita pomparan ni ompunta Raja Naipospos, lumobi di hita naung manjaha angka naung husurat di NAIPOSPOS ONLINE on, ima:

    Indada holan ahu sandiri manang holan marga Sibagariang sambing na mandok: 5 (lima) do ianggo anak ni ompunta Raja Naipospos.

    Lae Sugeng Situmeang, songon naung ni dokmuna na molo di loas Tuhan na naeng patupaon do Partangiangan Situmeang di Sipoholon.

    Mansai harop situtu do rohangku anggiat manian dipatuboahon Lae di NAIPOSPOS ONLINE on, boha pangkataion na hombar tu tarombonta Naipospos di Partangiangan Situmeang i.

    Sai dipatiur Tuhanta ma tutu ulaon i, gabe pujipujian jala hasangapon di goar ni Tuhan Debatanta.

    Sai lam diparbisuhi jala dipalambok Tuhanta ma roha nang pingkiranta pomparan ni ompunta Raja Naipospos. Ai holan Ibana sambing na tuk jala na boi tapangasahon na laho papatarhon tarombo Naipospos naung di mulana i jala nabonar i.

    Amen

  25. 25



     Leopold P. Sibagariang,

    TAROMBO NAIPOSPOS
    “EXPRESSI” JATI DIRI BATAK TOBA

    PENGANTAR

    Saya sampaikan terimakasih kepada Saudara-Saudara pomparan Raja Naipospos yang telah memberi pendapat tentang Tarombo Naipospos. Sumbangsih pemikiran itu adalah sebagai tanda kecintaan kepada persaudaraan, satu keturunan Raja Naipospos.

    Ijinkan saya mengutif pendapat salah seorang keturunan Raja Naipospos dalam Tanggapan Pendapat Polemik Tarombo Naipospos sebagai berikut ini: “Molo songon di au pribadi, ala nunga jaman internet on, molo tung pajuppa au tu dongan tubukku sian Toga sipoholon, molo uttua sian ahu, hujou ma ABANG, alai molo POSO dope, ANGGIA nikku do. Dang marterima bah i tusi,…..” kata Hendry Lbn. Gaol.

    Itu adalah suatu pandangan tentang tarombo Naipospos. Mungkin, sebagian lain dari keturunan Raja Naipospos memiliki padangan demikian. Tetapi perlu dipertanyakan: Apakah tarombo Naipospos adalah sesuatu yang bisa diubah-ubah sesuai kepentingan, pandangan pribadi, situasi daerah dan perkembangan zaman? Atau, apakah tarombo Naipospos pada hakekatnya adalah satu yang bisa dirunut pada jati diri yang orizinal dari khazanah dan kebiasaan orang Batak Toba?

    TAROMBO NAIPOSPOS

    Tarombo Batak Toba menyangkut garis vertical yakni garis kelahiran heirarkis dan horizontal yakni garis keturunan mendatar dari satu “pompaparan” (keturunan). Dalam tarombo Batak Toba kedua hal itu tidak dapat dipisahkan tetapi merupakan satu kesatuan.

    Tarombo Naipospos menjadi hangat dibicarakan karena memiliki perbedaan, secara garis besar dapat dibagi dalam tiga versi, sebagai berikut:

    Versi Pertama:
    Raja Naipospos (Martuasame) memiliki lima (5) orang anak dari dua istri yakni Donda Hopol (Sibagariang), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), Jamita Mangaraja (Situmeang) dan Marbun.

    Versi Kedua:
    Raja Naipospos memiliki dua orang anak yakni “Toga” Sipoholon dan Toga Marbun.

    Versi Ketiga:
    Raja Naipospos memiliki dua orang anak yakni Marbun dan “Toga” Sipoholon.

    TAROMBO, MENGAPA BERUBAH?

    Keturunan Raja Naipospos memakai marga berdasarkan tarombo Naipospos yakni Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang dan Marbun (Lumban Batu, Banjarnahor, dan Lumban Gaol). Ada juga yang langsung memakai marga Naipospos. Biasanya marga Naipospos dipakai oleh Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang.

    Yang menjadi aneh adalah tak pernah keturunan Naipospos memakai marga Sipoholon. Dalam seluruh catatan marga-marga Batak Toba tak pernah ditemukan orang bermarga Sipoholon. Hipotesis bahwa tarombo Naipospos diubah makin jelas karena tidak mungkin ketiga versi tarombo di atas sama-sama benar.

    Ada ungkapan Batak Toba mengatakan: “Litok aek di jae, tingkiron tu julu”. Setelah diteliti dengan seksama ada beberapa alasan mengapa terjadi perubahan dalam suatu tarombo Batak Toba. Alasan parubahan itu menyangkut migrasi keturunan marga yang bersangkutan, padan, dan kepentingan atau dominasi suatu marga.

    Tarombo adalah bagian penting dari jati diri orang Batak Toba. Jati diri orang Batak Toba bisa berubah sesuai migrasi mereka. Menurut Dr. Togar Nainggolan, OFM Cap. terjadi perubahan jati diri orang Batak Toba di daerah migrasi mereka. Beberapa contoh bagaimana identitas sebagai orang Batak Toba berubah sesuai variasi di daerah migrasinya diuraikan di bawah ini.

    Orang Batak Toba di Jakarta, pada satu sisi memiliki jati diri sebagai orang Batak Toba (kontinuitas) tetapi di sisi lain mengalami perubahan jati diri (dis-kontinutas) sebagai orang Batak Toba. Orang Batak Toba di Jakarta memiliki identitas baru karena dipengaruhi oleh konteks yang baru yakni masyarakat modern, multi kultural. Dalam kondisi tsb. tak terelekkan faktor kreativitas yakni mengkombinasikan unsur-unsur Batak Toba dengan unsur-unsur badaya lain. Perubahan identitas baru ini terutama dialami generasi kedua di Jakarta. Dalam pengertian tersebut, banyak orang Batak Toba di Jakarta mempertahankan makna horizontal tarombo yakni sebagai jalinan persaudaraan di antara satu keturunan tetapi sekaligus banyak orang Batak Toba di Jakarta menghilangkan makna vertical tarombo (hierarki garis kelahirahiran) padahal itu juga bagian yang tak terpisahkan dari tarombo. Tidak terlalu penting siapa yang sulung atau siapa yang bungsu, pokoknya satu keturunan adalah bersaudara.

    Beda lagi dengan orang Batak Toba di Bandung. Tidak seperti di Jakarta dengan multi kultural tetapi di Bandung ada kultur dominan. Sunda adalah kultur dominan. Relasi sosial dan pendidikan dasar berdasarkan budaya dan bahasa Sunda. Nilai-nilai kultur dominan diinfiltirasi masuk dalam budaya-budaya minor yang berimigrasi ke Bandung. Karena itu banyak aspek budaya Batak Toba yang menyesuaikan diri dalam budaya setempat. Mereka menjadi orang Batak Toba “Sunda”.

    Variasi yang lebih jauh adalah migrasi pertama orang Batak Toba ke daerah Melayu di pantai Timur Sumatera. Migrasi orang Batak Toba pada waktu itu adalah kecil, orang per orang, masuk ke daerah Melayu di “Sumatera Timur”. Untuk menyesuaikan diri, mereka meninggalkan identitas sebagai orang Batak dan menganggap diri sebagai orang Melayu. Orang-orang Batak itu mengidentifikasi diri sebagai orang Melayu dan tidak melihat marga sebagai sesuatu yang penting sehingga banyak dari mereka meninggalkan marga. Tetapi bagi orang Melayu sendiri, mereka belum dianggap sungguh Melayu sebab mereka berasal dari orang Batak Toba. Mereka disebut sebagai orang Batak Pardembanan.

    Tarombo bisa diubah. Sebab, bisa saja ada orang Batak Toba yang sadar dirinya sebagai orang Batak Toba baik di Jakarta, di Bandung maupun di Pardembanan tetapi pemahaman mereka tentang tarombo sudah berubah alias tidak sama lagi dengan pemahaman tarombo di bona ni pasogit. Migrasi membuat keturunan suatu marga tersebar dan menjauh sehingga akses kepada tarombo yang asli di bona pasogit menjadi makin berkurang.

    Tarombo juga bisa diubah karena janji (padan). Janji membuat adik berubah posposi menjadi abang sedangkan abang meletakkan dirinya menjadi adik. “ … adong do hea ala tarpaoto, manang ala tarpaksa gabe bali sihahan i tu angina ala marpadan…” demikian diungkapkan oleh Raja Patik Tampubolon, “Pustaha Tumbaga Holing: Adat Batak – Patik Uhum” Buku I dan II” (Jakarta: Dian Utama dan Kerabat, cetakan ke-2 2002), hlm. 114. Dalam konteks tersebut, janji (padan) mengubah tarombo dari yang se-ada-nya-”being” (de facto) menjadi yang diwajibkan (de iure).

    Padan (janji) sering menggeneralisasi: dari satu (kelompok) marga berjanji menjadi milik seluruh rumpun dalam suatu keturunan. Misalnya, keturunan Raja Naipospos yang berpadan dengan Sihotang adalah Marbun. Tetapi dalam perjalanan waktu, bukan hanya Marbun lagi menganggap Sihotang sebagai saudara (dongan tubu) “sapadan” tetapi juga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Mungkin juga demikian sebaliknya, padan dengan Marbun tersebut dianggap menjadi milik seluruh Raja Oloan, sebab pernah penulis berbicara dengan marga Naibaho dari Samosir, dan marga Naibaho itu mengatakan bahwa Naipospos dengan Raja Oloan adalah saudara sepadan. Padan dapat membuat tarombo menjadi berubah karena generalisasi.

    Pengubahan tarombo bisa juga disengaja oleh satu pihak, tanpa disepakati oleh pihak lain yang memiliki tarombo yang sama. Faktor-faktor pengubahan itu didorong oleh kekuasaan dan harga diri sebab yang bersangkutan memiliki banyak akses dalam kekuatan sosial baik karena banyaknya keturunan maupun karena kedekatan kepada penguasa dan penguasaan “ilmu” yang relevan termasuk kepandaian berbicara. Kepandaian berbicara berperan untuk memberi alasan-alasan yang nampaknya menjadi logis tetapi tidak sesuai kenyataan (facta). “. . . ala malo marhata-hata, dohot ala hagogoon dohot habolonon, gabe didok siahahaan ibana . . . “” Raja Patik, hlm.115.

    Jadi dalam tataran orang Batak Toba, tarombo bisa berubah dan diubah sesuai faktor-faktor dan motivasi untuk mengubahnya sebagaimana diuraikan di atas. Perubahan tarombo Naipospos tidak sulit kita pahami dalam konteks tersebut. Uraian tersbut di atas membantu kita untuk memahami aneka ragam versi tarombo dalam Naipospos sekaligus mengujinya sehingga mencapai tarombo yang paling sesuai dengan jati diri Batak Toba.

    JATI DIRI BATAK TOBA

    Yang menjadi pokok pertanyaan adalah manakah tarombo Naipospos yang paling sesuai dengan khazanah suku Batak Toba? Jawaban atas pertanyaan tersebut di atas adalah versi pertama.

    Raja Naipospos memiliki anak lima (5) orang yakni Donda Hopol (Sibagariang), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), Jamita Mangaraja (Situmeang) dan Marbun.

    Beberapa alasan mengapa tarombo tersebut yang paling sesuai dengan kebiasaan Batak Toba diuraikan sebagai berikut:

    1. Tarombo: Intisari Adat Batak

    Tarombo bukan sesuatu asesori bagi suku Batak Toba. Seyogyanya tarombo bukan juga bisa di-design sesuai kepentingan seseorang dan kelompok. Tarombo menyangkut identitas, jati diri Batak Toba (habatahon). “Rimpun Adat Batak ima adat tarombo . . . “(Raja Patik, hlm. 118). Tarombo tak terpisahkan dari adat Batak Toba tetapi merupakan bagian inti adat Batak Toba. Tarombo menyangkut segala segi kehidupan orang Batak Toba, menunjuk identitas dan keberadaan orang Batak Toba (Dr. Togar Nainggolan, Batak Toba Di Jakarta: Kontinuitas dan Perubahan Identitas; Medan: Bina Media, 2006, hal. 69). Fondasi sistem sosial suku Batak Toba adalah tarombo (Johan Haselgren).

    Dalam peristiwa adat yang terekam dari keturunan Raja Naipospos pada zaman awal adalah “ulaon adat” yang diprakarsai Sibagariang, dimana undangan yang disampaikan ke marga Marbun salah waktunya, sehingga marga Marbun hadir setelah selesai pesta adat. Yang menjadi pokok masalah dalam “ulaon adat” yang sangat penting tersebut adalah penyepelean saudara, tidak diikutkan dalam ulaon adat tersebut. Perbuatan yang salah dalam peristiwa itu diceritakan oleh Sibagariang kepada keturunannya supaya tidak terulang hal demikian di kemudian hari tetapi menghargai dan merangkul semua adik-adiknya dalam ulaon adat.

    Dalam peristiwa adat yang penting itu, tidak pernah diceritakan tentang perselisahan memperebutkan anak sulung antara marga Sibagariang dengan marga Marbun. Marga Sibagariang tidak pernah berobah warisan tarombo yakni sesuai versi pertama tersebut di atas. Kalau ada perselisihan tentang posisi anak sulung, maka tidak mungkin tidak disampaikan (diwariskan) pada keturunan Sibagariang khususnya dan Raja Naipospos pada umumnya sebab ulaon adat tersebut sangat membekas dalam kisah keturunan Raja Naipospos.

    Jadi tarombo Naipospos tidak pernah dipermasalahkan pada keturunan Raja Naipospos pada masa awal sampai dengan waktu yang demikian lama sesuai versi pertama tersebut di atas.

    2. Nama Dalam Perspektif Batak Toba

    “No name is island”, diungkapkan dalam bahasa Inggris. “Mati gajah meninggalkan gading, mati harimau meninggalkan belang dan manusia meninggal meninggalkan nama” itulah ungkapan Indonesia. Itu menunjukkan bahwa nama adalah penting dan menggambarkan diri seseorang yang terikat dengan kebersamaan (sosialitas).
    Suku Batak Karo memberi nama dengan versi spesifik. Mereka bisa memberi nama kepada anak-anaknya sesuai kondisi atau keadaan saat anak lahir. Hal-hal lahiriah (benda-benda) yang ada di sekitar mereka pun ikut menjadi pertimbangan untuk memberi nama kepada anak. Untuk itu ada nama orang Karo: Tomat, Siang, Mangga, Malam, dan lain-lain. Semua itu mengandung makna yang luhur untuk menghargai dan mencintai manusia baru lahir sebagaimana dekatnya dengan benda dan keadaan tsb. dengan hidup manusia. Benda dan keadaan itu menjadi bagian dari hidup dan anak yang bernama itu pun menjadi bagian dari kehidupan keluarga.
    “Ise goarmu?” Siapa namu? Pertanyaan itu muncul dalam Bahasa Batak Toba. Itu menandakan supaya nama orang yang ditanya itu, diketahui. Nama tidak pernah akan hilang . “Goar ndang jadi mago”. Dalam keadaan perang, sipengunjung tak boleh diganggu demi nama orang yang dikunjungi, nama orang lain itu melindungi (J. Warneck, Kamus Batak Toba – Indonesia, terj. Leo Josten, OFMCap. 1997). Batak Toba memberi nama kepada anak dengan penuh cita-cita dan harapan, mengandung arti yang diperjuangkan sekaligus menyingkap realitas. Nama mengandung makna hormat (salute) bagi orang Batak Toba karena itu anak-anak tidak boleh menamai orangtua secara sembarang.

    Ompunta si Raja Napospos adalah manusia Batak Toba yang menjunjung nilai dan harapan orang Batak Toba dalam memberi nama kepada anak-anaknya. “Ompunta i, ompu nabisuk doi, sabungan ni roha. Namarsangap namartua doi, namanjungjung adat, patik dohot uhum ni habatahon”. Karena itu, si Raja Naipospos tidak mungkin lepas dari kebiasaan Batak Toba dalam memberi nama kepada anak-anaknya tetapi memberinya sesuai dengan habitus (common sense) Batak Toba sendiri.

    Nama anak-anak Raja Naipospos adalah Donda Hopol, Donda Ujung, Ujung Tinumpak, Jamita Mangaraja dan Marbun. Sdr. Ricardo Parulian Sibagariang telah menguraikan makna dan arti nama anak-anak Raja Naipospos tersebut, karena itu dalam tulisan ini saya hanya mengintesifkan uraiain tentang makna dan arti Donda Hopol untuk menunjukkan bahwa Donda Hopol mengandung pengertian anak sulung.

    Menurut J. Warnek (ibid), “Donda” mengandung arti dan makna lembut namun penuh wibawa. “Tali donda” berarti perekat. “Hopol” mengandung arti membungkus, merangkul dan melindungi. “Marhopolhopol” berarti berkumpul, berhimpun dan menyatu. Sedangkan arti dari “raja nipanhopoli” adalah raja, kepala pesta horja. Raja itu adalah kepala dari raja-raja suatu keturunan dalam beberapa perkampungan (“huta”) sekitar.

    Jadi dalam pengertian tersebit di atas, nama Donda Hopol berarti orang yang penuh wibawa yang diharapkan merangkul, melindungi, dan menyatukan orang-orang lain di sekitarnya. Donda Hopol mengandung arti anak sulung sebab dalam kebiasaan Batak Toba, anak sulung diharapkan melindungi, mempersatukan dan memimpin adik-adiknya. “Alana molo tung monding pe natorasna, hollan sihahaan do namatean ama alai molo angginai ndang namatean ama i, ala adong hahana songon ama tu angginai”.

    3. Huta

    Walau ada dua pendapat tentang tempat makam si Raja Naipospos, satu mengatakan di Sipoholon dan satu lagi mengatakannya di Dolok Imun tetapi semua mengakui bahwa “huta” permanen Raja Naipospos adalah Dolok Imun. Dolok Imun adalah tanah marga Naipospos, bona ni pinasa dan sekaligus bona ni pasogit. Huta itu mengandung makna religius sekaligus makna sosial (Bdk. Vergouwen).

    Sebagai makna religius, Dolok Imun adalah tempat ritus untuk menghormati nenek moyang Raja Naipospos bagi keturunannya sejak lama sebelum agama masuk ke tanah Batak. Sebab orang Batak Toba meyakini bahwa tanah marga dan nenek moyang adalah satu (Cunningham). Roh nenek moyang si Raja Naipospos ada di tanah, di huta Dolok Imun. Roh nenek moyang adalah berkat dan sumber hidup bagi orang Batak Toba. Untuk itu dilaksanakan ritus-ritus memohon berkat dan doa di tanah nenek moyang. Dalam versi modern, di Dolok Imun keturunan Raja Naipospos melaksanakan partangiangan dan jubelium supaya Allah Yang Kuasa menyuburkan berkat pada keturunan Raja Naipospos.

    Sebagai makna sosial, huta Dolok Imun adalah pusat interaksi dan penyebaran keturunan (pomparan) Naipospos. Adalah kebiasaan Batak Toba membuka huta pertama disamping sentrum (pusat) tanah nenek moyang adalah sihahaan, marga penguasa atau marga partano, kemudian mengikut pertambahan huta-huta lain, berserak, sesuai dengan pertambahan keturunan (marga) lain (Cunningham).

    Dalam konteks pengertian Cunningham menjadi logis bahwa Huta Raja yakni huta Donda Hopol (Sibagariang) adalah, huta pertama, huta anak sulung, huta partano, huta penguasa pada zamannya sebab paling dekat dengan sentrum tanah nenek moyang Raja Naipospos dan sesuai kebiasaan penyebaran suku-suku Batak Toba. Donda Hopol yang tinggal di Huta Raja memiliki tanah yang luas, harta dan penguasa di sekitarnya adalah merupakan implikasi dari posisi sihahaan yang dimilikinya.

    Mungkin ada yang mengatakan bahwa Marbun berada di Bakkara sehingga tidak mungkin membuka huta di sekitar Dolok Imun. Tetapi pada kenyataaanya bahwa Marbun pun ada di Dolok Imun sebagaimana Donda Hopol, Donda Ujung, Ujung Tinumpak dan Jamita Mangaraja. Sulit dibuktikan bahwa lebih dahulu marga Marbun di Bakkara, baru kemudian datang ke Dolok Imun. Jadi kalau Marbun anak sulung, mengapa tidak Marbun yang membuka huta pertama di sekitar Dolok Imun sesuai kebiasaan Batak tetapi justru Donda Hopol (Sibagariang)?

    Lebih jauh, kalau seandainya Marbun adalah anak sulung dari istri kedua yang semula sembunyi-sembunyi maka cermin huta Marbun sebagai anak sulung tidak mungkin tidak tampil. Sebab dalam kebiasaan Batak Toba, beristri dua atau lebih adalah sesuatu yang biasa pada zaman itu sebagaimana dikatakan: “. . . boru ni tulang jadi parjabu bona, imbang parjabu suhat, nahinabia parjabu sitaupar piring, nahinampi parjabu soding, . . . jala sonang be di angka hakna be”. Posisi “imbang” adalah sah dalam kebiasaan Batak Toba pada masa lalu karena itu apabila jika Marbun adalah anak sulung Raja Naipospos maka huta Marbun akan menjukkan ciri-ciri huta Batak sebagai anak sulung. Tetapi ciri-ciri huta anak sulung justru ada pada huta Donda Hopol, bukan pada Marbun sesuai kebiasaan orang Batak Toba membangun “parhutaan” pada zaman dahulu.

    4. Raja

    “Sian garna tarida daina”. Nama kampung (huta) pertama keturunan Raja Naipospos adalah Huta Raja. Bukti lain harajaon yang dipegang Donda Hopol (Sibagariang) adalah pesta horja yang dilaksanakan yang menjadi pemicu permasalahan Sibagariang dengan Marbun. Dalam tradisi Batak Toba, horja dilaksanakan oleh raja horja dengan mengundang raja-raja serumpun (seketurunan) di kampung-kampung sekitar. Rupanya waktu yang disampaikan oleh Sibagariang kepada marga Marbun tidak sesuai dengan waktu yang sebenarnya sehingga marga Marbun hadir setelah pesta selesai.

    Dalam tradisi Batak Toba tentang “harajaon” dekat dengan pemahaman anak sulung. Hal itu bukan berarti bahwa selain anak sulung tidak boleh menjadi raja tetapi adik harus lebih dulu membuktikan kesaktiannya (kemampuannya) supaya boleh menduduki posisi harajaon. Prioritas anak sulung ditonjolkan dalam kebiasaan orang Batak Toba sebagaimana diceritakan dalam pewarisan “sahala” raja dalam diri Patuan Besar, Ompu Pulo Batu yang memangku harajaon Sisingamangaraja XII yang diceritakan sebagai berikut:

    Situan Nabolon, gelar Pullupuk, anak yang lebih dulu lahir dari Ompu Sohahuason, Raja Singa Mangaraja XI, menyampaikan “tona” (pesan) orangtuanya kepada raja-raja Parbaringin di Bius Patane, bona pasogit, tano Baligaraja bahwa Pallupuk adalah pewaris Harajaon Sahala Singa Mangaraja. Menurut “tona”, Raja Singa Mangaraja XI bahwa yang mewarisi harajaon adalah Pallupuk sebagai abang, tetapi tondi harajaon yang sangat menonjol dan luar biasa ada dalam diri adiknya Partuan Besar, gelar Ompu Pulo Batu. Pengalihan harajaon itu bukan berlangsung begitu saja, tetapi harus dibuktikan dengan “kesaktian” yang luar biasa. Di depan raja-raja Parbaringin dan orang banyak, Oppu Pulo Batu membuktikannya bahwa ketangkasan dan “sahala harajaon” ada pada dirinya. Walaupun Beliau sebagai adik, Ompu Pulo Batu mampu mendatangkan hujan yang sungguh lebat sedangkan Situan Nabolon, Pallupuk, sama sekali tidak memberi tanda apa pun di depan raja-raja Parbaringin dan orang ramai. Untuk pemangkuan “harajaon” itu pada adiknya dikatakan, “ . . . anggi di partubu, haha di harajaon”.

    Tidak ada data yang terekam bahwa Sibagariang memegang harajaon sebagai raja horja karena suatu kelebihan (kemampuan) yang luar biasa tetapi itu diwariskan berdasarkan kebiasaan orang Batak Toba yang cenderung mewariskan posisi “harajaon” kepada anak “sihahaan”. Kebiasaan itu adalah bahwa anak sulung menjadi raja horja mempersatukan dan memimpin raja-raja huta yang seketurunan di kampung-kampung sekitarnya.

    KESIMPULAN

    I. Perubahan dalam tarombo Naipospos adalah:

    1. Pengaruh budaya lain (multicutural atau dominant cultural) bisa mengakibatkan akses kepada tarombo yang asli (vertical dan horizontal) makin minimal atau bahkan sama sekali hilang.

    2. “Padan” (janji) dapat mengeneralisasi: dari “padan” yang spesifik menjadi “padan” yang umum, dari beberapa marga di daerah Sipoholon (Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang) berpadan dengan Toga Marbun menjadi muncul “Toga” Sipoholon dan Toga Marbun atau Toga Marbun dan “Toga” Sipoholon. Pemakaian “Toga” Sipoholon erat kaitannya dengan “padan” tersebut.

    3. Mengatakan bahwa Marbun adalah anak sulung Raja Naipospos adalah akibat dominasi.

    II. Berdasarkan penggalian makna dan analisa atas kebiasaan adat, penamaan (goar), perkampungan (parhutaan), dan jabatan raja “horja” dalam suku Batak Toba dapat ditarik kesimpulan bahwa Donda Hopol (Sibagariang) adalah anak sulung Raja Naipospos.

    III. Perbincangan tentang tarombo Naipospos bukan perbincangan dogma atau feri-feri (menjada perasaan “suka atau ngak suka”) adat Batak Toba karena itu apabila ada analisa yang berbeda dari uraian tersebut di atas, yang sungguh berangkat dari khazanah Batak Toba, penulis sangat berterimakasih menerimanya sebagai bahan pembanding untuk menyempurnakan pemahaman tarombo Naipospos.

    Pematangsiantar, 10 Juli 2009
    Leopold P. Sibagariang
    Amani Mario Stefan

  26. 26



     Ricardo Parulian Sibagariang,

    @Leopold P. Sibagariang

    Horas, Ampara.

    Komentar Ampara di atas telah saya jadikan menjadi sebuah artikel atau pun postingan atas nama Leopold P. Sibagariang di NAIPOSPOS ONLINE.

    Boleh kan, Ampara?

    Hal ini guna penjelasan Ampara tersebut dapat dengan jelas dibaca oleh pengunjung NAIPOSPOS ONLINE dan leluasa memberi tanggapan atau pun komentar pembaca.

    Terimakasih.

    Salam hangat persaudaraan,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  27. 27



     Leopold P. Sibagariang,

    SOMBAON SAME SEBAGAI
    “EXPRESSI” SEMBAH PADA NAIPOSPOS

    PENGANTAR

    Tempat yang dinamakan Sombaon Same terdapat di Sipoholon. Sombaon Same adalah singkatan dari Sombaon Martuasame. Martuasame adalah pribadi yang disembah, dipuja dan dihormati pada tempat tersebut. Di sana adalah tempat pemujuaan bagi Martuasame.

    Dalam berbagai dialog, pendapat dan literatur, Sombaon Same atau Martuasame dipahami sebagai pribadi yang berbeda. Ada yang mengatakan bahwa nama tersebut adalah gelar Raja Naipospos. Yang lain mengatakan bahwa itu adalah nama dari Toga Sipoholon. Tidak juga ketinggalan, walaupun kecil, ada yang mengatakan bahwa gelar itu adalah panggilan untuk Sibagariang.

    Tidak semua keturunan Raja Naipospos memandang sama tentang siapa Sombaon Same. Martua Same menjadi perbincangan diantara keturunan Naipospos. Argumentasi dan cerita dibuat untuk mendukung pendapat masing-masing. Karena itu, sangat relevan ditanyakan:

    Siapakah sebenarnya Sombaon Same? Dan mengapa disembah?

    MENGAPA DIPAHAMI BERBEDA?

    Sombaon Same dipahami berbeda seperti dikatakan di atas didorong oleh arti dan makna sombaon yang hilang. Ada dua hal yang meruntuhkan makna dan arti sombaon yakni kedatangan Kekristenan dan kepentingan penjajah Belanda.

    Kekristenan

    Kekristenan datang ke tanah Batak berhadapan dengan agama Batak, termasuk kekuatan-kekuatan supra natural (roh-roh) yang mengitarinya. Karena itu, kita perlu sedikit menguraikan, apa itu agama Batak, roh-roh yang mereka hidupi pada masa lalu dan bagaimana Kekristenan mengahadapinya.

    Menurut Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga, OFM Cap. bahwa agama Batak mengenal Allah yang transenden dan imanen yang mereka sebut dengan nama Mulajadi Nabolon. Warneck menguraikan bahwa Allah tinggi asli Batak adalah Ompu Tuhan Mulajadi. Raja Patik Tampubolon mengatakan bahwa Allah orang Batak adalah Ompu Mulajadi Nabolon.

    Dalam agama Batak, Ompu Mulajadi Nabolon dipahami sebagai yang maha luhur dengan penuh kemesraan, belas kasih, akrab dan yang prihatin (solider) dengan ciptaan dan dunia, demikian diungkapkan oleh Dr. Anicetus. Untuk itu dibuat puja dan sembah kepada Mulajadi Nabolon. Puncak pemujaan tertinggi orang Batak kepada Mulajadi Nabolon adalah kurban raya horbo bius pada saat pesta mangase taon.

    Itu adalah yang ideal sebagai sembah dan puja orang Batak kepada Mulajadi Nabolon. Namun, pada kenyataannya orang-orang Batak sangat tertarik juga pada sembah-puja kepada roh-roh. Menurut Warneck, lama sesudah penciptaan, tatkala manusia bertambah jahat, orang-orang Batak berdoa bukan saja kepada Mulajadi Nabolon dan Tri Dewata (Batara Guru, Soripada dan Mangala Bulan), melainkan lebih kepada roh-roh dan arwah orang-orang meninggal. Vergouwen lebih jauh lagi mengatakan bahwa pikiran orang Batak yang animistis lebih peka terhadap kegiatan roh atau begu.

    Kekukutan-kekuatan destruktif disembah. Naga Padoha yang berada di banua toru, yang gencar mengintai untuk mematikan manusia yang berada di banua tonga, diberi gelar Raja Padoha. Itu berarti bahwa yang memberi dan membawa kekuatan destruktif itu diberi gelar raja, status terhormat, dan karenanya pantas “disembah”.

    Dalam lingkup sembah-sujud kepada roh, ada sombaon. Sombaon merupakan tingkat tertinggi dari arwah nenek moyang, jauh mengatasi ciptaan. Peringkat tertinggi dalam dunia roh adalah sombaon, mendekati kedudukan dewata. Dia menjadi sombaon, harus dan pantas disembah. Dan pada kenyataannya, orang-orang Batak lebih asyik memuja sombaon daripada Sang Khalik, Mulajadi Nabolon, demikian Warneck mengatakan.

    Berhadapan dengan animisme dan paganisme Batak, Kekristenan datang ke tanah Batak. Karena itu, Gereja, misi Zending pada waktu itu, memandang agama Batak dan gerakanya sebagai kuasa jahilliyah dan kafir (Sitor Situmorang, Toba Nasae, hal. 330).

    Kekristenan membawa pemusnahan praktek-praktek sembah sujud kepada roh nenek moyang yakni sombaon. Penghacuran makna dan arti sombaon tersebut sudah ada sejak awal Kekristenan masuk ke tanah Batak.

    Ketikan Nommensen, misionaris Rheinische Mission, Jerman, pertama kali menetap di bius Silindung, Tarutung, Beliau langsung berhadapan dengan Sombaon Siatas Barita. Siatas Barita adalah Sombaon dari Bius Silindung.

    Pada waktu Nommensen datang, timbul kegaduhan di Silindung. Kegaduhan itu adalah benturan antara yang diwartakan oleh Nommensen yakni Allah yang penuh belas kasih dalam diri Yesus Kristus dengan Sombaon Siatas Barita. Kekuasaan dan kedahsyatan kekuatan Sombaon Siatas Barita di Silindung ditantang oleh pewartaan Nommensen. Pewartaan Nommesen itu adalah penghinaan yang menggoncangkan dan meruntuhkan martabat Sombaon. Karena itu, Nommensen dijatuhi hukuman mati, harus dikurbankan kepada Sombaon.

    Tangan Nommensen diikat. Nommensen digiring menyusuri menuju tempat Sombaon. Ritual upacara dibentangkan dan dilalui dengan seksama di tempat “magis” Siatas Barita (tempat Salib Kasih yang sekarang). Satu demi satu ritual pengurbanan dilaksanakan. Nommensen diarak menuju puncak kulminasi pengorbanan. Ritus pengorbanan “manuk nabontar”, ayam putih, sedang dilakukan. Tiba-tiba angin topan puting-beliung berhembus. Dentuman kilat sambar-menyambar. Hujan lebat mengguyur. Orang-orang lari tunggang langgang. Mereka berhamburan kucar-kacir. Pengurbanan ke Sombaon tidak jadi dilaksanakan tetapi yang tersisa adalah rasa malu dan bingung.

    Nommensen kembali dan pulang sendiri ke tempatnya. Allah Nommensen menang atas Sombaon. Sombaon hancur dan kalah. Sombaon tak pantas lagi untuk diingat dalam memori apalagi untuk disembah. Harga diri para pemeluk runtuh dan mereka merasa linglung karena fondasi kepercayaan mereka hancur berantakan.

    Kekristenan membuat praktek-praktek sombaon menjadi lenyap, hanya tinggal sebagai nama yang tak punya makna-arti dan latar belakang bagi banyak orang.

    Kepentingan Penjajah

    Perkembangan pemukiman yang heterogen (melampaui huta dan horja marga) yang lebih teroganisir yang dinamakan bius terjadi antara tahun 1000-1300 di tanah Batak (Sitor, hal. 31). Pada tahun 1800 diperkirakan ada sekitar 150 bius. Pada setiap bius ada identitas politik yang sangat kental yang direpresentasikan oleh Sombaon. Menurut Sitor Situmorang, sombaon adalah indentitas politik masyarakat kolektif-heterogen Batak. Pelean (sesembah) kepada Sombaon menjadi salah satu ritual dari pesta-pesta di setiap bius.

    Karena sombaon merupakan ekpresi identitas politik dan bius merupakan benteng politik masyarakat Batak maka penjajah Belanda melarang pesta dan pagelaran bius di seluruh tanah Batak (Sitor, hal. 312). Akibat pelarangan yang keras oleh Belanda maka pada + 1900 seluruh bius tidak ada lagi dan sombaon tak punya arti dan makna lagi.

    Lebih jauh, pelenyapan sombaon dipengaruhi oleh kepetingan administrasi pemerintahan penjajahan Belanda. Pada awal abad 20 seluruh tanah Batak sudah dibagi menjadi sekitar 150 Kepala Negeri. Kepala Negeri adalah unit terkecil, terendah, dalam administrasi pemerintahan penjajah. Kepala Negeri dibentuk dari satu bius atau penggabungan beberapa bius atau pembagian satu bius menjadi dua Kepala Negeri sesuai efektivitas untuk pemerintahan Belanda.

    Kepala-Kepala Negeri adalah alat administrasi penjajah yang dipaksakan. Sebab pada saat itu timbul penuh perkara antara berbagai pihak. Perkara itu menyangkut batas teritori (wilayah) Kepala Negeri, pemangku Kepala Negeri, pertentangan kelompok dan lain-lain, yang sangat berkaitan dengan silsilah marga-marga.

    Untuk mendukung keperluan praktis penjajahan di bidang administrasi dan peradilan dibuat suatu studi awal tentang silsilah marga-marga Batak. Studi awal itu dikerjakan oleh W.M. Hutagalung pada tahun 1926, yang pada waktu itu Hutagalung sendang menjadi pegawai pemerintahan penjajah di Pangururan. Dari orang Batak, hasil pendidikan penjajah tersebut, muncul karya PUSTAHA TARIONGOT TU TAROMBO BANGSO BATAK.

    Walau pun banyak memberi gambaran umum tentang marga-marga, namun studi awal itu sangat menonjol untuk keperluan penjajahan. Karya W.M. Hutagalung tersebut menyimpan kekurangan bagi tarombo marga-marga tertentu. Menyangkut tarombo Naipospos, kesalahan studi itu menjadi sangat nyata yakni secara simplifistis disamakan teritori-wilayah Sipohon (bandingkan dengan teritori Silindung tetangga dekatnya) dengan Sombaon Same. J. Warnek mensejajarkan/membandingkan Silindung dan Sipoholon sebagai daerah, bukan sebagai nama orang tertentu. Penamaan daerah Sipoholon menjadi nama orang Martuasame adalah sesuatu yang rancu. Kerancuan itu adalah kesalahan fatal yang dibuat Hutagalung, hingga akhirnya banyak diikut banyak orang di kemudian hari.

    Tetapi untuk keperluan administrasi dan pengadilan penjajah, penyamaan teritori Sipoholon dengan nama Martuasame adalah efektif. Penyamaan itu telah menguatkan identitas marga-marga di daerah Sipoholon yang mendukung pelaksanaan yang efektif bagi administrasi dan hukum.

    Jadi Pemerintahan penjajah sangat berperan untuk menghilangkan makna dan arti sombaon melalui pelarangan ritus kepada sombaon dan penataan adminstrasi-pengadilan penjajah. Melalui pelarangan tersebut, arti dan makna sombaon menjadi hilang sedangkan melalui penataan administrasi mengakibatkan pengertian Sombaon Same menjadi rancu. Penyamaan teritori Sipoholon menjadi nama Martuasame membuat tafsir yang beda bagi orang-orang yang berkepentingan. Itulah yang diwariskan oleh penjajah.

    SOMBAON SAME ADALAH “SEMBAH-SUJUD” PADA NAIPOSPOS

    Sombaon Same adalah sembah sujud tertinggi kepada roh Naipospos. Ada alasan fundamental mengapa Sombaon Same adalah puja terhadap roh Naipospos. Alasan itu adalah adanya hierarki ritus dalam kehidupan orang-orang Batak pada masa lalu.

    Hierarki ritus berarti jenjang upacara yang biasa dilaksanakan oleh orang-orang Batak untuk menghormati atau menyembah roh-roh. Setiap upacara penyebahan roh mencerminkan adanya hierarki. Hierarki itu dilalui untuk menunjukkan bahwa ada jenjang roh yang dipuja dan disembah. Upacara dibuat melalui jenjang untuk menunjukkan bahwa ada tingkatan roh yang disembah.

    Pemujaan kepada roh orangtua dilalui melalui upacara pemujaan kepada sumangot dan sombaon. Ritus puja kepada sumangot dilaksanakan oleh keturunannya sedangkan ritus puja kepada sombaon dilaksanakan masyarakat heterogen-plural.

    1. Ritus Begu

    Tingkat ritus yang terendah kepada roh adalah upacara atau pelean kepada begu.

    Begu adalah roh orang yang sudah meninggal dan roh-roh alam raya. Orang meninggal langsung menjadi roh yang disebut begu. Roh orang meninggal masih melayang-layang dan juga membutuhkan perhatian orang-orang yang masih hidup melalui sesembah (pelean).

    Begu orang meninggal bisa hinggap ke seekor binatang, misalnya kucing atau elang. Bila di tengah malam, seokor kucing mengeong-eong di dapur maka dikatakan begu orang yang baru meninggal sedang kelaparan. Bila seekor elang berbunyi di siang hari maka dikatakan bahwa begu orang yang baru meninggal sedang terlunta-lunta, kesepian dan ingin mencari teman. Itu menandakan bahwa begu orang meninggal juga memutuhkan kontak dengan orang-orang yang masih hidup. Untuk itu dibuat pelean (sesembah) berupa makanan, minuman, pakaian, dll. kepada orang-orang yang sudah meninggal.

    Roh-roh yang disebut begu itu beraneka ragam. Ada roh-roh itu kerjanya adalah semata-mata menyusahkan orang. Begu adalah juga sibolis, suru-suruan pangago. Hidup manusia berada dalam ancaman bahaya oleh Raja Padoha dari banua toru. Kaki tangan Raja Padoha di banua tonga adalah ribuan roh jahat yang mengancam manusia dengan segala muslihat (Warneck). Ada begu di laut, di gunung, di hutan, di pohon, dan lain-lain. Ada nama begu: pangulu balang, begu nurnur, begu antuk, begu rojan, begu toba, begu jau, begu ngenge nabirong dan lain-lain.

    Karena itu ada ritus begu untuk mengontrol begu sehingga begu bisa disuruh-suruh. Begu bisa dikontrol atau dipelihara oleh sipiaro begu – parbegubegu. Begu dipelihara untuk menjaga dan memberi kekuatan-kekuasaan dan untuk disuruh menghancurkan dan mematikan musuh. Upacara parbegubegu merupakan pemberian sesembah berupa anjing hitam (asu nabirong), juhut panggang, sira pege, dan lain-lain. Ritus kepada begu ini dibuat dan dilaksanakan dalam suasana yang seram.

    2. Ritus Sumangot

    Ritus atau upacara kepada Sumangot dilaksanakan oleh keturunan untuk pemujaan roh orangtuanya yang dianggap menduduki tingkat sumangot. Roh orangtua yang meninggal tersebut telah mencapai posisi sebagai sumangot. Hakekat ugamo Batak adalah “ugamo Malim Baringin Batak, Sipele Sumangot” .

    Roh orangtua yang telah menjadi sumangot telah memiliki status yang tinggi dan bahkan mendekati kedudukan dewata. “Karena sumangot mengandung sporsi ciri Allah, mysterium tremendum et fascinosum maka keturunannya terikat semacam kaul puja” (Dr. Anicetus, hal. 92).

    Roh orangtua yang mencapai tingkat sumangot adalah arwah orangtua yang mininggal karena sudah tua. Pada saat orangtua itu meninggal, dia sudah bercucu. Dan ketika orangtua itu sudah meninggal, keturunanya terbukti mengalami kemakmuran, hagabeon, hamoraon dan hasangapon.

    Keturunan orangtua yang mengalami kemakmuran, hagabeon, hamoraon dan hasangapon membuat suatu upacara atau ritus untuk meningkatkan secara resmi roh orangtuanya dari status begu menjadi status yang lebih tinggi yakni sumangot. Upacara itu adalah pengangkatan status sekaligus mohon berkat yang lebih melimpah lagi. “Manumpak ma Debata, manuai sumangot ninatuatua!”

    Satu keturunan (marga-marga yang sama) melakukan upacara yang disebut horja. Horja adalah pesta orang seketurunan. Horja tertuju kepada sumangot orangtua seketurunan. Horja yang dirayakan kelompok seketurunan adalah pernyataan status genealogis demi kemakmuran keturunan yang bersangkutan. Dalam upacara seketurunan tersebut roh orangtua dipanggil sumangot.

    Ritus kepada sumangot biasanya dibuat pada pesta horja. Raja pesta horja (biasanya dilakoni oleh yang paling sulung/siangkangan) mengundang raja-raja huta (dongan tubu satu keturunan) untuk menghadiri pesta horja tersebut. Pada saat pesta tersebut dilaksanakan doa dan persembahan (pelean) kepada sumangot orangtua untuk memohon berkat dari sumangot kepada semua keturunannya.

    Keturunan Naipospos membuat upacara kepada roh Naipospos sebagai sumangot adalah upacara yang diprakarsai Sibagariang. Sibagariang pada saat itu, mengalami kemakmuran, hagabeon, hamoraon dan hasangapon, mengundang saudara-saudaranya untuk melaksanakan ritus kepada sumangot orangtua mereka, Naipospos. Tak ada upacara lain yang direkam oleh semua keturunan Naipospos, selain ritus yang diprakarsai Sibagariang tersebut. Dalam ritus itu diselenggarakan mohon berkat dari sumangot Naipospos. Ritus itu dibuat untuk menyampaikan pelean dan sesembah kepada sumangot Naipospos sehingga diharapkan berkat melimpah bagi keturunannya. Ritus itu adalah upacara kepada sumangot Naipospos, bukan ritus ke sumangot lain.

    3. Ritus Sombaon

    Secara gamblang, J. Warneck mensejajarkan dan membandingkan bius Silindung dengan Sipoholon sebagai teritori, daerah, region. Sipoholon adalah daerah, bentangan tanah yang luas yang dihuni marga-marga Naipospos yang kemudian diikuti oleh marga-marga lain karena jalinan kekeluargaan (perkawinan). Walaupun marga-marga Naipospos sebagai keturunan patrineal di Sipoholon namun heterogenitas yang plural marga-marga ada di sana.

    Bagi masyarakat heterogen tersebut, Raja Naipospos menjadi pribadi universal sebagai fundamen masyarakat. Penghargaan universalitas masyarkat Sipoholon kepada Naipospos direpresentasikan dengan Sombaon Same.

    Sombaon Same adalah roh Raja Naipospos yang sudah meninggal. Dia berasal dari manusia. Sombaon adalah arwah orangtua atau nenek moyang. “Laos songon i do angka Namarnatuatua, Sombaon, Karamat, namarasal sian jolma do angka sombaon i. Ompu do sisombaon, Ompu Dolok do Sombaon…!”

    Hakekat sombaon berarti yang disembah. Sombaon adalah posisi atau kedudukan tertinggi dari roh orang yang meninggal. Sombaon telah melewati kedudukan sebagai begu dan sumangot. Sombaon sudah diangkat setara dengan dewata. Dia sudah menjadi sombaon yakni yang disembah. Sombaon memiliki kekuatan yang sangat besar. Daya gaib, sahala yang luar biasa, ada dalam sombaon.

    Sombaon Same, roh Naipospos, adalah orangtua atau ompung pendiri masyarakat plural di Sipoholon. Walaupun posisinya sebagai pendiri masyarakat tersebut tetapi dia tidak lagi dipandang sebagai leluhur marga-marga Naipospos belaka namun dia telah menjadi panteon, kolektivitas masyarakat Sipoholon secara keseluruhan, yang dipuja atas nama masyarakat.

    Roh Naipospos telah mewakili daya-daya alamiah, roh leluhur, pendiri dan pionir masyarakat di Sipoholon yang disebut sebagai Sombaon Same. Permohonan dan sembah dilantunkan melalui doa dan persembahan (kebau). Seluruh masyarakat Sipoholon secara kolektif memuja roh Naipospos dalam apa yang disebut sebagai Sombaon Same. Upacara kepada Sombaon Same berlangsung di tempat yang keramat, yang ada dalam suatu perbukitan, yang di sebut sebagai tempat Sombaon Same.

    Sombaon Same sebagai roh Naipospos adalah pendiri masyarakat Sipoholon karena itu Sombaon Same dianggap sebagai identitas politik masyarakat, keseluruhan masyarakat Sipoholon.

    PENUTUP

    Bangso Batak bukanlah masyarakat chaos, yang tanpa struktur dan kebiasaan yang sudah berlaku umum (habitus). Sejatinya bangso Batak memiliki kebiasaan yang sudah tertata baik menyangkut sosialitas maupun menyangkut religi.

    Pada bidang sosialitas dikatakan bahwa ada proses secara gradual menuju masyarakat yang heterogen-plural. Hal tersebut diungkapkan melalui ungkapan:
    Huta mula ni Horja
    Horja mula ni Bius
    Huta dan horja sebagai paguyuban-paguyuban satu keturunan “menciptakan/membuat” masyarakat heterogen-plural dalam apa yang disebut sebagai bius. Tak ada bius tanpa horja, tak ada horja tanpa huta-huta satu keturunan.

    Religi Bangso Batak yang menyangkut roh-roh adalah untaian yang berjenjang sebagaimana sosialitas. Tak ada ritus kepada sombaon tanpa melalui ritus kepada sumangot. Tak ada ritus kepada sumangot tanpa melalui ritual kepada begu.

    Untaian rangkaian ritus itu bisa kita runut dalam sejarah kehidupan pomparan Naipospos. Semua rangkaian ritus dari pomparan Naipospos mengacu kepada Roh Naipospos. Sombaon Same adalah puncak tertinggi dari suatu masyarakat untuk menyampaikan sembah-sujud dan puja kepada roh Naipospos.

    Pematangsiantar, 09 Pebruari 2010

    Leopold P. Sibagariang
    Amani Mario Stefan


Form Penulisan Komentar

Powered by WordPress | Designed by Ganar dinero | Sponsored by Zealot Advertising Pekanbaru