TANGGAPAN SEKITAR POLEMIK MARGA KETURUNAN TOGA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA

Setelah membaca beberapa tulisan yang ada pada website Naipospos.net penulis ingin memberi sedikit tanggapan. Namun sebelumnya lebih dahulu memperkenalkan nama Ama Natalia Lumban Gaol saat ini berdomisili di Malang.

Tanggapan ini dimaksudkan untuk memberi warna atau untuk melengkapi pendapat dari beberapa penulis sebelumnya yang didominasi referensi atau sumber ceritera yang dituturkan oleh orangtua yang tinggal di sekitar Silindung & Sipoholon. Sedangkan penulis bersal dari daerah Humbang tempat parserahan keturunan Sitoga Marbun sehingga sumber yang diperoleh juga didominasi dari ceritera yang dituturkan oleh orangtua yang bermukim dikawasan Humbang.

Dengan demikian diharapkan yaitu: Pertama, ada penyeimbang atas beberapa tulisan sebelumnya.

Dalam tanggapan ini kemungkinan terdapat perbedaan atau deviasi dibanding dengan tulisan sebelumnya hal ini disebabkan sumber referfensi atau ceritera yang berlainan serta jarak waktu kejadian sampai saat ini sudah begitu lama sehingga kemungkinan ada cerita yang terlewatkan dari waktu ke waktu. Komunikasi antara Humbang dengan sipoholon pada jaman dulu ikut menjadi salah satu penyebab terjadinya perbedaan karena tidak ada yang meluruskannya dalam waktu yang sangat lama. untuk memperbaiki mengalami hambatan karena jarak yang berjauhan. Harapan kedua daptemukn benang merah mengenai polemik marga keturunan Raja Naipospos sehingga tidak membingungkan kita keturunan Raja naipospos dan generasi yang akan datang.

Jika ada dalam tulisan yang yang tidak sesuai dengan pendapat pembaca mohon dimaafkan, karena penulis brrermaksud disini bahwa tulisan inilah yang paling benar. Tetapi mari kita dari keturunan Raja Naipospos sama-sama memberi pendapat dan setiap pendapat kita hargai, Mudah-mudahhan dengan adanya website Naipospos.net ini bisa dijadikan sebagai sarana pemersatu bagi kita keturunan Raja Naipospos bukan jadi sarana pertentangan dan saling menyalahkan salah satu pihak.

Dasar yang digunakan oleh penulis dalam memberi tanggapan adalah: pertama, ceritera dari orangtua (terutama yang berdomisili di daerah Humbang) karena saat ini kita sulit untuk mendapat referensi yang otentik. Penulis sependapat dengan yang menyebutkan bahwa orangtua kita dapat menceriterakan dengan rinci sebuah ceritera walapun kejadiaan itu sudah beberapa generasi, namun karena ceritera itu disampaikan secara lisan sehingga kemungkinan terjadi kehilangan alur ceritera sulit dihindarkan. Maka dengan demikian kita jangan saling menyalahkan jika terdapat perbedaan karena cerita yang sampai saat ini (generasi sekarang) sumbernya dari orangtua kita masing-masing. Hendaknya suatu perbedaan kita sikapi sebagai pelengkap cerita yang kita dapat sebelumnya. Kedua, penulis juga memakai logika dengan melihat fakta yang ada saat ini.

Dibawah ini penulis menganggapi beberapa tulisan atau pendapat dari beberapa penulis yang ada pada website naipospos.net yaitu:

Tanggapan Pertama:

Atas tulisan Saudara Maridup dalam tulisan yang berjudul “Dolok Imun”.

1. Menyebutkan: “isteri kedua dari Raja Naipospos adalah boru Sihotang dari Muara”.

Menurut penulis kurang tepat, karena keturunan Toga Marbun ada ikatan “padan” dengan Marga Sihotang. Jika nenek moyang marga Marbun adalah boru Sihotang, apakah seseorang marpadan dengan hula-hulanya sendiri?

2. Selanjutnya menyebut:: “bahwa secara biologis bahwa lebih dahulu lahir seorang putra dari boru Sihotang (isteri kedua) kemudian lahir seorang putra dari boru Pasaribu (isteri pertama) namun ada pemahaman konsep dalihan natolu sebagai solusi bahwa Marga Pasaribu hula-hula siahaan dan Marga Sihotang menjadi hula-hula Sihotang”.

Penulis sependapat hula-hula siahaan adalah hula-hula dari isteri pertama, tetapi tidak dapat menerima pendapat yang menyatakan bahwa keturunan dari isteri pertama otomatis menjadi siahaan, karena adat (= aturan) yang berlaku di daerah Humbang maupun di daerah Silindung adalah anak yang lebih dahulu lahir berhak disebut “siahaan” dan bukan urutan hula-hula menentukan partuturan partubu . Namun demikian tidak begitu penting lagi saat ini, karena sebagian dari keturunan Raja Naipospos sudah masiolian dan beberapa marga dari keturunan telah terikat oleh “padan” yaitu : Marga Lumban Batu dengan Marga Hutauruk, Marga Banjarnahor dengan Marga Simanungkalit dan Marga Lumban Gaol dengan Marga Situmeang.

3. Yang berikutnya yang ingin ditanggapi adalah yang menyebutkan …Oleh karena kegiatannya maka Naipospos pergi kearah Muara dan disana Naipospos memperisteri boru Sihotang dan mendapatkan keturunan (namanya belum diketahui). Pada saat kembali ke Dolok Imun ternyata diapun sudah mendapatkan keturunan dan diberi nama Martuasame. Naipospos dengan gentlemen mengakui bahwa diapun sudah mendapat keturunan dari boru Sihotang di Muara, maka boru Pasaribu isterinya menyebut Naipospos dengan “marbuni” atau mengambil isteri tanpa sepengetahuan isteri ypertamanya. Selanjutnya disebutlah keturunan Naipospos dari boru Sihotang bernama Marbun.

Dalam hal ini timbul beberapa pertanyaan, yaitu: 1) Jika Naipospos pergi ke Muara untuk suatu kegiatan (tujuan jelas) berarti jika tidak kembali dalam waktu tertentu, akan timbul pertanyaan dan akan ada upaya pencarian atau mencari tahu kenapa tidak pulang. 2) Kemudian disusul dengan pertanyaan dalam berapa lama Naipospos meninggalkan Dolok Imun, kemudian kembali mendapatkan isterinya pertamanya sudah mendapatkan keturunan. Jika dalam waktu tahunan (kemungkinan) karena dalam lagenda tersebut tidak dijelaskan sejak berangkat dari Dolok Imun. Jika kita buat analisa secara normal usia bayi dalam kandungan adalah 9 bulan. Apakah Naipospos tidak sadar pada saat meninggalkan isterinya sudah berbadan dua? Atau masih kosong? Tetapi tiba-tiba kembali sudah punya keturunan, jika demikian yang dilahirkan isterinya pertamanya boru Pasaribu keturunan siapa?? Hal ini sangat penting untuk menjelaskan siapa putra dari Naipospos yang lahir lebih dulu. 3) Pertanyaan berikutnya, dalam pemberian nama “Marbun” berasal dari “marbuni” (bahasa Indonesia=sembunyi, tidak jelas, curang, takut karena berbuat salah) yang diberikan oleh isteri pertama boru Pasaribu kepada anak yang dilahirkan isteri kedua (boru Sihotang), apakah nama pemberian tersebut (marbuni) langsung diterima oleh Naipospos dan isteri keduanya?? Apakah lajim dalam masyarakat Batak nama anak dari isteri kedua diberikan oleh isteri pertama?

Dari ceritera yang didapat penulis bahwa Naipospos mencari isteri kedua adalah sepengetahuan dan diberangkatkan karena isteri pertama sudah lama menikah tetapi tidak mendapatkan keturunan Setelah menikah dengan isteri kedua (belum punya anak) Naipospos sering mengunjungi isteri pertamanya. Suatu saat Naipospos mendapat keturunan dari Isteri kedua dan beberapa bulan menyusul dari isteri pertama, jadi tidak ada yang ‘marbuni”. Nama Marbun adalah nama (sama dengan misalnya: Marolop, Martua dsb) bukan berasal dari kata “marbuni”.

Tanggapan Kedua;

Atas tulisan Saudara Maridup dalam tulisan yang berjudul “Apa Benar Naipospos Menurunkan 7 Marga?

Disebutkan “bahwa terjadi pertikaian antara Sibagariang dengan pomparan Marbun yang mengarah kepada pembunuhan sehingga dari kelompok Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang mengungsikan kelompok Marbun kearah Humbang ke kampung Marga Sibombing dan sebagai cikalbakal timbulnya perjanjian atau “padan” di antara mereka”.

Disini ada perbedaan versi ceritera yang didapat oleh penulis tentang cikal bakal “parpadanan” menurut ceritera orang tua dari Humbang adalah sebagai berikut: pada suatu saat terjadi pertikaian antara keturunan Raja Naipospos yang tinggal di bonapasogit (Sipoholon dan Silindung) yaitu keturunan dari isteri pertama (Sibariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang) dengan keturunan Si Opat Pisoran (Marga Hutabarat, Marga Panggabean, Marga Hutagalung, Marga Lumban Tobing). Hal ini terdengar oleh keturunan Marbun di Humbang (perantauan), sehingga keturunan Marbun dalam waktu yang singkat mengadakan pertemuan dan memutuskan bahwa kaum laki-laki dewasa berangkat ke daerah Silingdung/Sipoholon untuk membantu saudaranya. Konon pertikaian itu berlangsung lama. Dari Kelompok Marbun tinggal di rumah saudaranya dari kelompok Sipoholon (keturunan isteri pertama), Karena persiapan bekal (teruma pakaian, saat itu ulos) tidak banyak dibawa kelompok Marbun dari Humbang sehingga mereka ingin meminjam ulos (pakaian saat itu) kepada tuan rumah, namun timbul permasalahan karena kelompok (keturunan) Marbun dianggap “siahaan” (dipanggil angkang) dari kelompok (keturunan) Sipoholon. Dalam adat Batak bahwa isteri dari anggi (dipanggil anggi boru) dalam tatanan hubungan kekeluargaan sehari-hari adalah “marsubang”. Karena marsubang (tidak bebas bicara tanpa ada orang lain mendampingi) demikian juga tentang pakaian yang telah dikenakan (dipakai) oleh anggi boru tidak selayaknya dipakai atau dipinjam oleh hahadolinya, sehingga kelompok Marbun segan untuk meminjam pakaian tuanrumah.

Hal itu diketahui oleh kelompok Sipoholon, maka untuk mengatasi permasalahan tersebut diadakan suatu pertemuan antara kelompok Marbun dan Sipoholon dan menghasilkan suatu kesepakatan atau “padan” yaitu: Keturunan Lumban Batu marpadan dengan Keturunan Hutauruk, keturunan Banjarnahor dengan Keturunan Simanungkalit dan Keturu nan Lumban Gaol dengan Keturunan Situmeang”. Sedangkakan keturunan dan Sibagariang tidak diikutkan karena sebelumnya ada perselisihan dengan keturunan 6 marga tersebut. Dalam padan tersebut ditetapkan bahwa: 1) keturunan yang saling marpadan tidak boleh kawin. 2) Barang siapa dari keturunan yang saling mengikat padan datang ke rumah keturunan parpadannya ditetapkan bahwa tuan rumah dianggap siahaan dan sebaliknya. Misalnya keturunan Lumban Gaol berkunjung ke rumah keturunan Situmeang maka saat itu menjadi siahaan adalah keturunan Situmeang.

Tanggapan Ketiga:

Atas tulisan Saudara Naipospos Sibagariang dalam tulisan yang berjudul “Kisah Raja Naipospos dan Keturunannya”

1. Menyebutkan bahwa: “putera Naipospos (gelar Martuasame) mempunyai 5 (lima) orang putera, yaitu: Donda Hopol (cikal bakal marga Sibagarian), Donda Ujung (cikal bakal marga Hutauruk), Ujung Tinumpak (cikal bakal Simanungkalit), Jamita Mangaraja (cikal bakal marga Situmeang) dan Marbun (cikal balak marga Lumban batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol”.

Menurut silsilah yang didapat oleh penulis dari orangtua dan dari beberapa buku referensi menyebutkan bahwa Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera dari dua orang isteri. Dari isteri pertama yaitu Martuasame (Sipoholon) dan Marbun dari isteri kedua. Hal ini sesuai (sependapat) dengan tulisan dari Saudara Maridup dalam “Dolok Imun”.

Apabila putera raja naipopos ada 5 (lima) timbul pertanyaan: apakah 6 pihak marga yang marpadan tidak sederajat (tingkat generasi yang sama)? Karena jika Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit) dan Jamita Mangaraja (Situmeang) putera langsung dari Raja Naipospos sedangkan Lumban Batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol merupakan pahompu dari Raja Naipospos. Jika demikian “parpadanan” antara keturunan Lumban batu dengan keturunan Donda ujung (Hutauruk), antara keturunan Banjarnahor dengan keturunan Ujung Tinumpak (Simanungkalit), dan antara keturunan Lumban Gaol dengan keturunan Jamita Mangaraja (Situmeang), adalah parpadanan 2 (dua) generasi yang berbeda (antara anak dengan bapak) bukan sesama saudara yang selevel generasinya.

2. Menyebutkan bahwa: ”toga adalah kumpulan dari marga-marga”.

Memang bagi sebagian marga hal itu terjadi tetapi ada juga “toga” yang menjadi “marga”, hal tersebut dapat kita baca dalam tulisan yang sama menyebutkan Raja Sumba menurunkan Toga Simamora dan Toga Sihombing, dimana saat ini masih banyak yang menggunakan Simamora dan Sihombing dibelakang namanya sebagai identitas marganya. Fakta saat ini juga sebagian keturunan dari Raja Naipospos menggunakan “Naipospos” sebagai marga walaupun sudah merupakan kumpulan marga yang disebut “Toga Naipospos”

Demikian juga Toga Marbun pada awalnya pada umumnya keturunannya memakai Marbun sebagai marganya (identitasnya) namun setelah masing-masing meresmikan atau memuliakan nama nenek moyangnya menjadi marga yaitu Lumban Batu, Banjaarnahor dan Lumban Gaol. Saat ini hanya sebagian dan keturunan Toga Marbun yang memakainya kebanyakan dari keturunan Lumban Batu, Karena marga Marbun sudah menjadi 3 marga maka Marbun berobah menjadi “Toga Marbun”.

Untuk Toga Sipoholon sebagian pendapat menyatakan bahwa tidak ada, karena Sipoholon adalah nama suatu daerah, namun hal ini adalah sesuatu hal yang biasa terjadi. Fakta yang ada saat ini banyak nama marga berasal dari suatu nama daerah, dapat kita lihat banyak marga-marga yang sama dengan nama daerah, misalnya “huta” seperti Hutauruk, Hutabarat, Hutajulu, Hutahaean, Hutagalung dan lain-lain atau “lumban” misalnya: Lumba Gaol, Lumban Batu, Lumban Raja dan lain-lain atau “banjar” misalnya: Banjarnahor. Marbun juga saat ini merupakan nama suatu daerah atau kawasan di Humbang tepatnya kecamatan Pollung. Kebiasaan orang tua kita dahulu untuk memanggil seseorang menyebut nama kampung asalnya, misalnya: namanya si “x” yang berasal dari huta dolok, maka si “x’ tersebut dipanggilnya “huta dolok”. Hal ini terjadi karena namanya tidak tahu atau tidak hafal atau karena pennyebutan nama langsung saat itu dianggap kurang menghormati. Fakta seperti ini juga masih sering terjadi saat ini, misalnya jika seseorang menyebut nama kecil (goar sidanak) dari orangtuanya maka hal ini bagi sebagian orang sudah dianggap merupakan pelecehan atau tidak menghormati orangtuanya dan bisa menimbulkan amarah bagi putranya yang mendengar.

Kembali kepada Toga Sipoholon yang bagi sebagian tidak mengakuinya perlu pengakajian lebih lanjut karena berdampak akan adanya revisi silsilah terutama bagi keturunan Raja Naipospos dari isteri pertama (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang), dimana ada satu generasi yang hilang berdasarkan silsilah yang telah digunakan selama ini. Silsilah yang dimaksud penulis disini adalah silsilah yang terdapat di beberapa tulisan yang sudah beredar atau yang diketahui oleh masyarakat.

Menurut cerita yang didapat penulis adalah sebagai berikut, Marbun sebagai putera sulung pergi merantau ke daerah Humbang (huta ni tulangna) dan Sipoholon sebagai anak bungsu tinggal dengan orangtuanya. Hal ini juga sering kita lihat pada saat ini bahwa anak bungsu tidak direlakan orangtua pergi merantau. Kemudian Marbun diperantauan menikah dan mempunya 3 orang putera yang menjadi cikal bakal marga Lumban Batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol. Sedangkan Sipoholon tinggal di kampung halaman menikah dan mempunyai 4 orang putera yaitu yang menjadi cikal bakal marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Seteralah beberapa generasi keturunan Marbun meresmikan nama nenekmoyangnya menjadi marga yaitu “Marbun”. Namun tidak demikian halnya dengan keturunan dari Sipoholon, karena lebih senang menggunakan Naipospos menjadi marganya. Waktu terus berlanjut keturunan Marbun bertambah banyak jumlahnya sehingga meresmikan marga masing-masing yang diambil dari nama nenek moyang mereka masing-masing yaitu Lumban Batu, Banjarnahor dan Lumban Gaol. Demikian juga dari kelompok keturunan Sipoholon juga meresmikan marga dari masing yaitu Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang. Fakta saat ini juga sebagian keturunan dari Raja Naipospos menggunakan “Naipospos” sebagai marga walaupun sudah merupakan kumpulan marga yang disebut “Toga Naipospos”. Contoh yang paling nyata kita lihat yaitu Saudara Sibagariang Naipospos (penulis topik Kisah keturunan Naipospos) masih menggunakan Naipospos sebagai marganya tetapi penulis juga tidak tahu apakah Sibaragiang sebagai nama atau marganya.

Demikian tanggapan yang dapat penulis sampaikan, jika ada perkataan yang kurang berkenan mohon dimaafkan. Seperti dalam pembukaan bahwa tulisan ini tidak mempertentangkan tulisan yang ada tetapi semoga menjadi perekat bagi kita keturunan Raja Toga Naipospos.

Salam dari penulis,

Ama Natalia Lumban Gaol



Info dari admin
Penyusunan Silsilah Naipospos Versi 1.0

Kami mengundang partisipasi Bapak/Ibu dalam menyediakan data silsilah dari generasi awal hingga generasi kita sekarang ini. Kirimkan data silsilah anda melalui email ke admin@naipospos.net
 

17 Komentar mengenai “TANGGAPAN SEKITAR POLEMIK MARGA KETURUNAN TOGA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA”

  1. 1



     Marjan Tua Simanungkalit,

    Mauliate ma di dongan tubu nami Amani Natalia Lumbangaol, naung mangalehon panorangion alai hurang jelas dipatorang lakkam Boru aha do namanubuhon si Raja Marbun jala boru aha do istri ni TOGA SIPOHOLON Horas Jala Mauliate
    Marjan Tua Simanungkalit

  2. 2



     Hojot Marluga,

    Horas
    Porlu dope ra hita, angka natua-tuan makatai on, asa unang berlarut-larut tujoloan on.

  3. 3



     Fernando Hutauruk,

    Horas !!!

    Mauliate ma di among Ama Natalia Lumban Gaol, songon i di Amanguda Marjan Tua Simanugkalit, suang songon i ma di appara niba Hojot Marluga ( Appra nikku ma ai dang takkas marga ni appara)
    Jadi inti ni pembahasan on majoritasna ima mengenai ise siakkangan jala ise si anggian :)
    Mansai manat do on bahason (manat mardongan tubu)
    Alai andorang so dapot hapittoranna, tabaen ma sada songon pendekatan umum dohot alasan na logis ( nunga di piga2 kesempatan hupatujolo on, termasuk ma dirapot pembentukan calon pengurus baru punguan toga naipospos boru dohot berena se Cimanggis Depok, kebetulan nunga 3 taon au mangulu i)
    Jadi songon di au sandiri, dang hea tubu turohakku tau on gabe partuktuhan, manang gabe mangoru i holong ditonga tonga ni hita akka namardongan tubu ise pe siakkangan, jala ise sianggian.
    Dohot alasan, tung au pe siakkangan , so na gabe au mambaen ulos tu dongan tubukku, manang au pe sianggian, gabe au manjalo ulos sian dongan tubukku.Jala molo tulang ni sianggian, hot do gabe tulang disiakkangan, manang boru ni sianggian hot do tong gabe boru ni siakkangan.
    Sarupa do hita parhopol di ugasan ni dongan tubunta, sisada anak sisada boru.
    Manang molo diulaon adat pe nunga banje banje ise partubu. Martappuk bulung ninna marbona sakkalan, toho do i, alai boi do i gabe sala di permasalahan na tabahas on molo hurang pangattusion di hita.
    Pangidoan ma on sian serep ni roha ni pomparan ni Raja i tu hita saluhut, tapasae ma i dibagasan rohanta saluhut, dia ma na dumenggan, dang sala mandok abang manang anggi…dang moru sidabu-dabuan manang gabe tamba ni pangomoan alani i.
    Alai molo torus do on taboanhon diparngoluonta na marorganisasi manang marsaor dohot akka dongan tubunta,tupa ma dihita ari \\"nauli\\" adong sada bukti na otentik mengenai ise siakkangan, jala ise sianggian, nunga adong \\"haradeon\\" di hita manang di dongan tubunta na asing mandok abang tu na sai somal manjou abang tu ibana ??
    Molo dang adong jaminan \\"haradeon\\" i, tau do on gabe bossir ni hasisega, malah gabe lam sursar.
    Molo hulapati dibagasan pangantusionhu sandiri, sae ma on gabe songon rahasia ni Raja i dihita.Ai dang haru \\"patar\\" dibaen ise siakkangan jala ise sianggian dihita. Molo olo hita mar\\"sura-sura\\" atik na adong do alasan na dumenggan boasa gabe songon i ??
    Molo apala rikkot do di Toga sipoholon \\"Siakkangan\\" na i, rela do toga sipoholon mangaleon tano songon bagian ni Toga Marbun ??? jala bukkas sian Sipoholon ???
    Molo tung pe adong sada ni roha lao mangalehon, tano na dia ma lehonon ???
    Jadi jauh lebih besar sandungannya dari pada manfaatnya jika masalah ini diurai asa dapot hapittoran :)

    Horas !

  4. 4



     Naipospos Sibagariang,

    @ Fernando Hutauruk

    Salam damai sejahtera,

    Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada Ampara saya Ama Natalia Lumban Gaol atas kelancangan saya terlebih dahulu menjawab pertanyaan pada artikel Ampara Ama Natalia Lumban Gaol.

    Tak ada sedikut pun maksud saya untuk mendahului atau pun bukan untuk melangkahi. Tetapi oleh karena komentar ampara kita Fernando Hutauruk pada artikel TANGGAPAN SEKITAR POLEMIK MARGA KETURUNAN TOGA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA berhubungan erat terhadap artikel-artikel yang telah saya susun, maka saya berusaha menjawabnya.

    Manat mardongantubu. Sekali lagi saya ucapkan dengan segenap kerendahan hati mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Ampara Ama Natalia Lumban Gaol.

    Komentar Fernando Hutauruk di atas saya jawab dalam 3 (tiga) bagian utama.

    Bagian ke-1 (pertama)

    Alai andorang so dapot hapittoranna, tabaen ma sada songon pendekatan umum dohot alasan na logis ( nunga di piga2 kesempatan hupatujolo on, termasuk ma dirapot pembentukan calon pengurus baru punguan toga naipospos boru dohot berena se Cimanggis Depok, kebetulan nunga 3 taon au mangulu i)
    Jadi songon di au sandiri, dang hea tubu turohakku tau on gabe partuktuhan, manang gabe mangoru i holong ditonga tonga ni hita akka namardongan tubu ise pe siakkangan, jala ise sianggian.
    Dohot alasan, tung au pe siakkangan , so na gabe au mambaen ulos tu dongan tubukku, manang au pe sianggian, gabe au manjalo ulos sian dongan tubukku.Jala molo tulang ni sianggian, hot do gabe tulang disiakkangan, manang boru ni sianggian hot do tong gabe boru ni siakkangan.
    Sarupa do hita parhopol di ugasan ni dongan tubunta, sisada anak sisada boru.
    Manang molo diulaon adat pe nunga banje banje ise partubu. Martappuk bulung ninna marbona sakkalan, toho do i, alai boi do i gabe sala di permasalahan na tabahas on molo hurang pangattusion di hita.
    Pangidoan ma on sian serep ni roha ni pomparan ni Raja i tu hita saluhut, tapasae ma i dibagasan rohanta saluhut, dia ma na dumenggan, dang sala mandok abang manang anggi…dang moru sidabu-dabuan manang gabe tamba ni pangomoan alani i.
    Alai molo torus do on taboanhon diparngoluonta na marorganisasi manang marsaor dohot akka dongan tubunta,tupa ma dihita ari \\"nauli\\" adong sada bukti na otentik mengenai ise siakkangan, jala ise sianggian, nunga adong \\"haradeon\\" di hita manang di dongan tubunta na asing mandok abang tu na sai somal manjou abang tu ibana ??
    Molo dang adong jaminan \\"haradeon\\" i, tau do on gabe bossir ni hasisega, malah gabe lam sursar.

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang
    Maaf, Ampara Fernando Hutauruk mengatakan Alai andorang so dapot hapittoranna, dengan memperhatikan perkataan Ampara tersebut berarti Ampara mempunyai pengharapan bahwa kelak akan ada suatu kesepakatan bersama mengenai tarombo Naipospos dan itulah memang doa kita kepada Tuhan.

    Sekarang, setelah kalimat Ampara tersebut, Ampara Fernando Hutauruk seolah-olah lepas tangan, acuh tak acuh, bersikap tak mau campur tangan dalam usaha penyelesaian persoalan tarombo Naipospos khususnya dalam parsiangkanganon.

    Padahal Ampara mengaku bahwa Ampara Fernando Hutauruk mengepalai (mangului) punguan toga naipospos boru dohot berena se Cimanggis Depok ”’ (penulisan sesuai dengan yang terdapat pada komentar) ”’.

    Maaf jika saya terlalu kasar mengatakan hal ini. Tetapi ini semua demi kebaikan kita.

    Apakah itu peran dari yang mangului punguan marga?

    Bukankah untuk memperjelas yang kurang atau bahkan tidak jelas? Ini malah semakin tidak memperjelas parsiangkanganon itu.

    Kelak jika Tuhan izinkan, saya akan menulis kisah nyata bahwa ada sintua bermarga Marbun yang dengan tegas dan lantang berkhotbah pada perayaan Natal keturunan Raja Naipospos di salah satu daerah. Beliau dengan tegas mengatakan bahwa Sibagariang adalah marga yang sulung diantara keturunan Raja Naipospos dan Lumban Gaol sebagai marga yang bungsu diantara keturunan Raja Naipospos. Beliau mengurutkan mulai dari marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Lumban Batu, Banjar Nahor, dan Lumban Gaol.

    Sayangnya tak ada pengakuan mau pun pengungkapan secara terang-terangan pada perayaan Natal tersebut mengenai berapa dan siapa putera Raja Naipospos sebenarnya.

    Ampara, tarombo itu bukan main-main.

    Tarombo marga apa pun dan dimana pun yang termasuk suku bangsa Batak tampak jelas mengenai parhahamaranggion. Sehingga saya sangat heran dan sedih dengan tarombo Naipospos. Sedangkan yang kembar saja kita ketahui sipa yang lebih sulung. Ini, hanya karena pamalomalohon dan marsiadu jogal mengakibatkan persoalan tarombo hingga saat ini bagi kita keturunan Raja Naipospos.

    Biarlah persoalan tarombo Naipospos ini hanya pada generasi sekarang. Jangan wariskan pada generasi muda.

    Bagian ke-2 (kedua)

    Molo hulapati dibagasan pangantusionhu sandiri, sae ma on gabe songon rahasia ni Raja i dihita.Ai dang haru \\"patar\\" dibaen ise siakkangan jala ise sianggian dihita. Molo olo hita mar\\"sura-sura\\" atik na adong do alasan na dumenggan boasa gabe songon i ??

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Tarombo Naipospos mengenai siapa yang sulung bukan rahasia, bukan rahasia, dan bukan rahasia Raja Naipospos.

    Mulai dari lahirnya 5 (lima) orang putera Raja Naipospos hingga persoalan benar tidaknya keberadaan Toga Sipoholon sebagai putera Naipospos yang dialami oleh Haran Sibagariang (gelar:Ompu Basar Solonggaron) sebagai mantan Kepala Negeri Huta Raja, seperti yang telah saya jelaskan pada artikel Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos adalah bahwa Sibagariang tetap diakui sebagai marga yang sulung dan Marbun sebagai marga yang bungsu dalam keturunan Raja Naipospos. Kemudian sipenyesat itu mulai menyebarkan dusta diantara keturunan Raja Naipospos bahwa Marbun adalah putera sulung yang sebenarnya adalah tidak.

    Jadi, tarombo Naipospos pada awalnya dan yang benar adalah bahwa Raja Naipospos mempunyai lima orang putera (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang-Marbun).

    Bagian ke-3 (ketiga)

    Molo apala rikkot do di Toga sipoholon \\"Siakkangan\\" na i, rela do toga sipoholon mangaleon tano songon bagian ni Toga Marbun ??? jala bukkas sian Sipoholon ???
    Molo tung pe adong sada ni roha lao mangalehon, tano na dia ma lehonon ???
    Jadi jauh lebih besar sandungannya dari pada manfaatnya jika masalah ini diurai asa dapot hapittoran

    Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang

    Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang adalah yang lebih sulung daripada Marbun. Hal ini bukan berarti marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang menyerahkan seluruhnya atau pun sebagian tanah warisan Naipospos secara resmi kepada marga Marbun.

    Oh, sekali-kali tidak.

    Tanah Naipospos itu semua sudah dibagi 4 (empat).

    Mengapa Marbun tidak mendapat tanah warisan Naipospos? Karena Marbun telah meninggalkan bona pasogit dan pergi ke Humbang.

    Jadi, pada zaman dahulu ada kebijaksanaan bersama antara 5 (lima) orang putera Raja Naipospos.

    Terimakasih.

    Salam hangat persaudaraan dari saya,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  5. 5



     Fernando Hutauruk,

    Horas Abang Ricardo,
    mauliate di tikki dohot perhatian ni abang.. jala mauliate di komentar ni abang.
    Adong sidohononku tu abang, ima mengenai “addorang so dapot hapittoranna” bukan berarti saya ingin tarombo Naipospos di utak atik, yg saya maksudkan adalah hapittoran antara penulis dohot na mangaleon komentar do, sotung silap abang disi.
    Napaduahon, Tugashu sebagai pangului di punguan holong Toga Naipospos boru dohot berna adalah melaksanakan tugas2 sesuai anggaran dasar dohot anggaran rumah tangga, selebihnya adalah membuat kebijakan yg dianggap perlu demi kerukunan “punguan” tidak membawa kepentingan “pribadi” yg mungkin saja membawa dampak yg kurang baik terhadap punguan, termasuk niat mengutak atik Tarombo,seperti pernyataan saya sebelomnya bahwa lebih besar dampak negativenya dari pada keuntungannya apabila hal ini diutak atik,
    Mengenai saya katakan “rahasia” Naipospos sebagai yg “empunya” keturunan,coba abang bayangkan jika abang punya istri 2 kakak beradik dan mengalami kejadian persis seperti yg naipospos alami.
    Abang akan menentukan siapa siakkangan dan siapa sianggian menurut abang sebagai “Ayah”
    namun bagaimana dengan tunggane2 abang ??? Apakah mereka akan menentukan siapa siakkangan dan siapa sianggian sesuai urutan pernikahan adik perempuannya ?? hal ini lah yg saya anggap “bisa saja” mempengaruhi keputusan Naipospos.
    Jadi saya sarankan abang Ricardo untuk bijaksana juga.
    Siapa saja boleh bersaksi apapun mengenai tarombo Naipospos, karena memang sulit menemukan bukti otentik mengenai kebenarannya.
    Mengenai kebijakan pembagian tanah naipospos sehingga hanya dibagi 4 ? apakah ini sesuatu yg bisa dipertanggung jawabkan dengan bukti2 tertentu atau hanya sekedar “katanya2″ ???
    Karena hal hal seperti ini sangat tidak masuk akal, kecuali mungkin tanahnya dibagi kan juga terhadap Marbun, namun Marbun meminta sesuatu kepada Sipoholon sebagai “bekal” dihumbang, dan sebagai gantinya adalah tanah bagian mereka ???
    Kiranya ini bisa jadi bahan pertimbangan selanjutnya.
    horas

  6. 6



     Naipospos Sibagariang,

    @Fernando Hutauruk

    Salam,

    Terimakasih saya ucapkan kepada Ampara saya Fernando Hutauruk atas penjelasannya.

    Saya sadar bahwa tak seorang pun dapat memaksakan kehendaknya.

    TUHAN telah mengaruniakan akal budi, hati nurani, dan kebebasan terhadap seseorang untuk membedakan mana yang baik dan buruk dalam hidupnya.

    Saya pun menghormati atas keputusan Ampara tersebut.

    Besar harapan saya, meskipun ada sedikit perbedaan pendapat di antara kita berdua, bukan menjadikan kita renggang. Bukan begitu, Ampara? Malah kiranya kita berdua semakin kompak.

    Rasul Paulus berkata dalam I Tesalonika 5:21

    Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.

    Maaf beribu kali maaf, jika Ampara merasa perkataan saya yang benar silahkan Ampara melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

    Maaf beribu kali maaf, jika Ampara merasa apa yang diketahui Ampara Fernando Hutauruk selama ini yang benar silahkan Ampara melaksanakannya dalam hidup sehari-hari.

    Dunia penuh dengan penyesat dan kesesatan. Rasul Paulus menekankan hal tersebut agar kita tidak turut sesat.

    Demikian halnya pendapat tarombo Naipospos. Mari kita uji yang kita tahu selama ini dan yang kita dengar dari orang lain. Jangan ada sikap egoisme yang mementingkan bahwa apa yang diketahuinya sudah pasti yang paling benar.

    Penjelasan-penjelasan mengenai tarombo Naipospos yang terdapat pada NAIPOSPOS ONLINE ini sudah dapat dikatakan cukup. Sekarang kembali tergantung pada masing-masing individu.

    Saran saya hanya satu, mari kita untuk tidak mewariskan persolan tarombo Naipospos ini kepada generasi muda.

    Salam hangat persaudaraan dari saya,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  7. 7



     Marjan Tua Simanungkalit,

    molo hujaha hatorangan ni abang niba/BapaTua F Hutauruk Dohot Abang Niba/Bapa Tua RP Sibagariang sarupa do na ingin mambahen hadengganon di Pinompar ni Rajai Naipospos alai berbeda Cara :
    1.Abang/Bapa Tua Hutauruk : Pinamsombu ma naung parjolo i dang porlu dikutak katik annon Sega tu Parpudi
    2 Abang/Bapa Tua Hutauruk : Porlu Digali jala dipatingkos naparjoloi asa Jelas jala unang gabe sega tu Parpudi
    jadi molo au berpendapat bahen hamu ma jolo gabe sada bingkai nagabe boi sorminan ( hampir sesuai aslina dohot copyna ) Mauliate ma di Abang/Bapa Tua Nadua Horas..Horas.. dohot Mauliate Godang
    Sian Anggi doli muna Marjan Tua Simanungkalit

  8. 8



     Naipospos Sibagariang,

    @Marjan Tua Simanungkalit

    Horas, Tulang!

    Mauliate di pandok ni Tulang i. Nauli jala nadenggan pamerenganmuna di ahu beremuna Ricardo Parulian Sibagariang nang di amparaniba Fernando Hutauruk.

    Alai santabi da Tulang. Ndang namangorui sangap ni da Tulang. Mansai denggan ma nian molo ditangkas Tulang taringot tu pandapot ni Tulang nadiginjang an. Ala dua hali didok Tulang goar ni amparaniba Fernando Hutauruk. Gabe ndang haru binoto nadia goar ni beremuna on taringot tu pandapot ni Tulang tu iba.

    Botima.

    Horas sian ahu beremuna,

    RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG

  9. 9



     Hojot Marluga,

    Maulitema tu udaniba J Lumban Gaol (A Natalia), sian ahu Hojot Marluga (HOtman JOnaThan MARbun LUmban GAol).

    Rawa Lumbu, Bekasi

  10. 10



     Maridup Hutauruk,

    Saya sangat senang adanya komunikasi dua arah yang difasilitasi oleh situs yang dibentuk oleh Mr. Holong Fernandus Lumbangaol ini. Apapun ceritanya, pandangannya, tanggapannya, kalau saya mencermatinya hanya dari sisi positifnya saja. Kalau saya lihat situs-situs atau blog-blog yang dikelola oleh orang Batak maka banyak sekali bahasa-bahasa ragunan yang muncul, tetapi situs kita ini dan beberapa dari situs Batak yang ada memang terkelola dengan baik dan santun dalam bahasa, seperti situs kita sekarang ini. Dari diskusi yang dipaparkan antara Ricardo Parulian Sibagariang dan Fernando Hutauruk, ada satu poin yang bagus yang selama ini tidak pernah terlintas dan terpikirkan sebelumnya, oleh karena itu ada sedikit keterangan yang perlu saya sampaikan pada penggal terakhir dari tanggapan saya ini. Mohon maaf kalau tanggapan ini menjadi panjang dan jadi mirip artikel, tetapi intinya adalah agar semuanya dapat saling memahami.

    Menjelaskan tanggapan pertama poin-1:
    Awalnyapun penulis tidak memberi perhatian pada cerita bahwa Naipospos beristrikan yang kedua adalah boru Sihotang oleh karena padan yang dimaksud. Tetapi setelah menelusuri cerita padan tersebut bahwa padan yang dimaksud terjadi setelah marga-marga Marbun sudah beranak pinak di Marbundolok Parlilitan. Penulis ada memaparkan mengenai cerita padan ini dalam tulisan berjudul ‘Kearifan Menapaki Sejarah
    Seorang Naipospos dan Keturunannya” yang baru di-upload ke situs kita ini.

    Menjelaskan tanggapan pertama poin-2:
    Memang betul tanggapan ampara Ama Natalia Lumbangaol bahwa memang bukan hula2 yang menentukan partuturan namarhahamaranggi. Yang saya maksudkan disitu bahwa dalam praktek keseharian pada saat ini, apabila memang harus ada saat-saat bertemu dua pihak, dan bila memang ini yang dipersoalkan, kan jadi ada alternative ceritanya. Akan tetapi yang paling penting pemahaman saya bahwa Sibagariang memang layak menjadi sihahaan di partuturon walaupun Marbun terlahir lebih dulu oleh karena adanya padan Toga Marbun dan Toga Sipoholon yang sederajat, sementara Sibagariang adalah abang dari Toga Sipoholon dan dengan sendirinya Toga Marbun akan memanggil haha kepada Sibagariang, sementara Toga Marbun (3 marga) dan Toga Sipoholon (3 marga) kan sudah ada kesepahaman bersama dan memang sudah syah setelah pertemuan pinompar Naipospos di tahun 1933.

    Menjelaskan tanggapan pertama point-3
    Untuk pertanyaan 1) memang logis yang dipertanyakan oleh ampara itu, akan tetapi kita harus pula membawakan pikiran kita bahwa kehidupan mereka dulu bukan seperti kita sekarang ini. Misalnya perjalanan dari Dolok Imun ke Bakkara tidaklah dapat ditempuh dalam 2-3 jam seperti sekarang ini dengan kendaraan mobil, akan tetapi berjalan kaki menerobos hutan jalan setapak naik turun bukit dal lembah yang mungkin dilakukan berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Pemahaman lain bahwa lelaki dan perempuan mempunyai hierarchi yang sangat jauh dan bukan seperti sekarang ini jaman emansipasi yang gampang saja seorang istri mangaroro suaminya dimana suaminya berada.
    Saya merasa yakin bahwa Marbun lebih dahulu lahir. Mengenai ‘delivery period’ yang saya jelaskan untuk menanggapi pertanyaan 2) adalah berdasarkan ilmu kebidanan yang kebetulan saya pelajari untuk sebuah tulisan yang sedang saya persiapkan dan mungkin perlu juga untuk membuka wawasan berpikir mengenai istilah polemik yang ampara sebutkan. Pembuahan benih manusia akan berlangsung selama 40 minggu di dalam kandungan, atau dalam hari sekitar 280 hari yang setara dengan 9 bulan 10 hari. Pada saat persenggamaan suami dan istri yang sedang matang sel telur, dapat dibuahi oleh sel sperma dan pada saat terjadi pembuahan itu maka bila lancer-lancar saja akan terlahirlah seorang anak sesuai teorinya sekitar 9 bulah 10 hari kemudian. Tidak perlu bersenggama berulang-ulang untuk terjadina suatu pembuahan. Misalnya saya hari ini bersenggama dengan istri yang sedang matang sel telur dimana pada hari ini pula saya harus pergi merantau selama katakana 10 bulan maka sewaktu saya pulang sudah mendapatkan anak yang baru lahir, lantas saya tidak usah curiga kepada istri anak siapa yang lahir itu. Dalam konteks Naipospos, tentu yang lahir itu adalah Sibagariang yang dulunya disebut bernama Donda Hopol. Jadi nggak usah ada anggapan itu anak selingkuhan istilah sekarang ini, ntar tambah lagi polemiknya…..

    Untuk pertanyaan 3) Satu versi cerita menyebutkan istilah Marbunii, ada juga yang mengatakan Marbuun, dan adapula mengatakan Marubun. Tentu menjadi tugas kita untuk mengungkap nama Marbun dan cerita yang ada dibalik nama itu. Perlu juga ada pemahaman kita bahwa pada jamannya masa itu, mempunyai istri dua atau tiga bukanlah gambaran kenistaan bahkan menjadi sesuatu yang dibanggakan? Orang tua Naipospos juga memiliki dua istri, ompungnya bahkan memiliki tiga istri, Sisingamangaraja-XII yang menjadi pahlawan Nasional juga mempunyai 5 istri dan bahkan Raja Salomo memiliki 1000 (seribu) istri mengalahkan bapaknya Raja Daud yang memiliki 200 istri. Terkadang kita memang sudah terpengaruh dengan jaman emansipasi ini seolah kurang enak mendengar sejarah yang demikian. Jadi jauhkanlah dari pikiran amparaniba bahwa cerita ini sesungguhnya bukanlah untuk menunjukkan kenistaan kita dan justru kemuliaannya.

    Menjelaskan Tanggapan kedua:

    Mungkin juga yang amparaniba paparkan ada benarnya karena memang ada cerita peperangan antara Marga Hutabarat dengan marga-marga Naipospos di Sipoholon. Menurut penelusuran saya bahwa kawasan yang dihuni oleh marga Hutabarat Partali memang dulunya milik marga-marga turunan Naipospos di Sipoholon, terbukti bahwa ibu Naipospos Siboru Basopaet dikuburkan di Lobu Tonga di daerah Hutabarat Partali sekarang dan dulunya menjadi kawasan yang disebut Sombaon Sibasopaet, dan menurut ceritanya memang dulu Siboru Basopaet dan anaknya Raja Sobu dan Naipospos membuka kampung di Lobu Tangga atau Tangga Lobu dimana Tangga Lobu ini sudah menjadi perladangan marga Hutauruk dan perkampungan Hutauruk yang ada di Hutagurgur Sipoholon agak turun sedikit dari Tangga Lobu yang dimaksudkan dan ini tidak jauh dari tempat dimana Siboru Basopaet dikuburkan.

    Tetapi menurut penelusuran saya bahwa cerita yang amparaniba paparkan adalah pada saat terbentuknya Toga Marbun dan Toga Sipoholon yang 6 marga.Ada indikasi bahwa marga keturunan Naipospos yang dikepalai oleh Sibagariang mengadakan pesta dan mengundang Marbun mungkin untuk menggalang kekuatan melawan kelompok Hutabarat yang menyerang, namun sayang peristiwa munculnya perseteruan dengan Sibagariang dan timbulnya dua toga sehingga kelompok marga Toga Marbun tidak ikut berperang melawan Hutabarat dan kawasan itupun dicaplok oleh Hutabarat sampai sekarang.

    Kalau memang kejadiannya seperti yang amparaniba Ama Natalia Lumbangaol katakan tentu sudah akan ada perkampungan kelompok Marbun di Sipoholon, sebagaimana banyak cerita yang sama terjadi. Tetapi keyakinan saya bahwa yang diceritakan oleh amparaniba sebagai versi Humbang, itulah awal terjadinya perseteruan dengan Sibagarian.

    Untuk Tanggapan Ketiga unang pola hualusi i ate ampara, alai molo giot do rohamuna adong pendapat sian ahu, ba nauli na denggan do i haduan.

    Khusus saya menanggapi diskusi antara Ricardo Parulian Hutauruk dan Fernando Hutauruk terutama masalah tanah yang disebutkan bahwa luat yang menjadi bonapasogit keturunan Naipospos ada ribuan hektar yang terbengkalai begitu saja dan bahkan sudah ada ditempati oleh marga-marga diluar keturunan Naipospos. Tendensi yang ada bahkan untuk waktu yang lama kedepan mungkin tidak ada yang memperdulikannya, seolah-olah akan muncul kata-kata seperti apa yang semua kita pahami seperti “ndang di ho, ndang di ahu, tumagon ma di begu”. Kalau lah boleh janganlah ada tersirat sedikitpun dibenak akan hal ini.

    Ada juga cerita lain bahwa keturunan Naipospos keluar dari Dolok Imun untuk mencari lahan yang lebih bagus. Diceritakan bahwa Martuasame dan keturunannya serta Marbun dan keturunannya sama-sama keluar dari Dolok Imun dengan maksud mencari tempat yang lebih baik. Maka mereka saling membuat janji bahwa barang siapa yang mendapatkan lebih dahulu tanah yang lebih baik maka harus saling memberitahukan. Marbun dan keturunannya pergi kearah Bakkara dan menetap disana, kemudian Martuasame dan keturunannya pergi kearah Silindung dan membuka kampung di dekat Sombaon Same. Ketika Martuasame merasa mendapat tanah yang baik maka diberitahukannya kepada Marbun agar ada paling tidak satu keluarga ikut menempati tanah yang baru itu, akan tetapi mereka tidak bersedia karena tanah yang mereka temukan sama-sama baik dan subur. Demikianlah sejarahnya.

    Kalau memang demikian sejarahnya tentu Martuasame dan Marbun sudah saling menentukan Tanah Pusaka masing-masing yaitu di Sipoholon dan di Bakkara. Akan tetapi bahwa kita tahu juga bahwa Dolok Imun Masuk dalam peta Sipoholon, sementara mereka berdua dan keturunannya hengkang dari Dolok Imun. Jadi menurut hemat saya bahwa Dolok Imun sebagai Bonapasogit pinompar Naipospos adalah sah menjadi milik semua keturunannya. Songon I ma jolo keterangan sian ahu. HORAS

  11. 11



     Adios Sibagariang,

    Horas ma di hita saluhutna

    Pertama sekali ada baiknya saya perkenalkan diri saya;
    Ahu Adios Sibagariang Pomparan ni Op. Raja Joab No. 15, jala naung berkeluarga, na hualap boru Napitupulu 2 dakdanak (sapasang) jala tinggal di Batam.

    Saya mencoba garis tengah dan simpel saja:
    Apabila ada keturunan Marbun yang berani mengatakan bahwa merekalah anak sulung dari Raja Naipospos, maka saya akan menjabat tangannya sekaligus mengatakan ” Sahat tu ho ma Sumpah ni Marbun tu pinomparni Sibagariang”. Apabila itu diterima maka saya rela melepas hak sulung saya kepada Marbun.

    Any question!!!!
    Adios Sibagariang
    0816 360 3276
    Batam

  12. 12



     Leopold P. Sibagariang,

    Salam sejahtera,

    Terimaksih kepada saudara-saudaraku yang telah memberi pendapat tentang tarombo Naipospos. Sudah beberapa kali saya ikuti tukar pendapat ini. Pada satu sisi, hal ini adalah kekayaan sebab memberi umpan balik yang membuka wawasan dan latar belakang yang berbeda. Tetapi di sisi lain, kalau tidak hati-hati, bisa menjurus ke arah apologia yang mengaburkan fakta dan logika.

    Selain beberapa fakta yang sudah diungkapkan bahwa Sibagariang adalah Putra Sulung Raja Naipospos, saya menambahkan fakta berikut:

    Generasi ketiga Sibagariang, Raja Unggun, diperkirakan sudah lebih-kurang 450 tahun lalu, telah berdiam di Humbang Hasundutan, tepatnya di sekitar Aek Godang sekarang, Kecamatan Onan Ganjang. Keturunan Sibagariang membuka perkampungan di daerah tersebut yakni Aek Godang, Lumban Dolokdolok, Pagarsinondi dan Arbaan. Tetangga perkampungan Sibagariang tersebut adalah Batusandiri, Parbotihan, yang adalah perkampungan Marbun Banjarnahor. Dalam suatu buku, yang berbahasa Belanda di Perpustakan STFT St. Yohanes Pematangsiantar, tentang Batak, saya membaca bahwa Batasandiri adalah salah satu perkampungan marga Marbun yang tua, sebagaimana Aek Godang merupakan perkamungan tua marga Sibagariang.

    Dari generasi ke generasi, di antara perkampungan marga Sibagariang dan marga Marbun di atas, tidak pernah marga Marbun memanggil marga Sibagariang sebagai adik tetapi selalu memanggilnya sebagai abang dalam seluruh tata kekerabatan, baik dalam hidup sehari-hari maupun “ulaon adat”. Demikian pun marga Sibagariang selalu memanggil adik kepada marga Marbun. Walaupun pembelokan terhadap tarombo tsb. telah mulai masuk tetapi mayoritas marga Marbun di sana masih memanggil Sibagariang sebagai abang sampai sekarang dan tak satu pun marga Sibagariang di sana pernah memanggil marga Marbun sebagai abang tetapi memanggilnya sebagai adik.

    Syaloom
    Salam hangat

  13. 13



     Hendry Lbn Gaol,

    Horas ma dihita…

    nian nunga lelleng niengger-enggger web o, alai dang haru pinatandahon diri niba. Jadi porlu do ra saotik masitandaan. Ia hami hendry klbn gaol, nomor 17. sian Tunggalnabolon

    Dongan tubukkun Amani natalia lbn gaol ( nomor piga thae, jala sian oppu nadia??…)

    Biarlah tulisan dan opini-opini ini menjadi bahan penambah wawsan bagi kita, bagi-anak-anak nantinya. tak usah dipermasalahkan lagi, alana dang marhaujungan. Ai akka namalo do hita on sude.
    Jadi sepakat ma hita, lokma dimasing-masing TOGA hita boi martutur tarombo dohot denggan, anggo tu opputta naipospos, hurasa dang hapadenggan be i.

    Ai ikkon mangalahat horbo namajala ikkon marpungu ma sude mambaen konferensi seluruh dunia on…hebat nai ra i.

    Saotik sian topik nadigijjang….Boasa dalam perjanjian antara enam marga, marbun tiga dan sipoholon tiga minus sibagariang??.

    Menurut cerita yang pernah saya dengar, ini marga sibagariang nunga hea ditor-tori, digondangi, di tonggohon teni horbo on, dibaen handangna lili, dibaen batas-batas ni teni horbona i. Ai mamujjung do pangalahona najolo, ala na mamamora nasida najolo, ima jo saotik. …..

    alai, dang be tusi laona,…
    sada ma hita sude pomparan ni opputta naipospos..

    mauliate ma

  14. 14



     Leopold P. Sibagariang,

    Salam Sejahtera,

    Saya adalah Leopold Parulian Sibagariang, tinggal di Pematangsiantar. Istri: Magdalena MN Samosir. Tuhan mengaruniakan 4 orang anak (3 putra dan 1 putri) kepada keluarga kami.

    Puji syukur kepada Tuhan, Allah yang kuasa dan penuh cinta, bahwa Toga Naipospos memiliki sejarah dan tarombo yang diwariskan kepada kita melalui orangtua kita masing-masing dan lingkungan yang mengitarinya. Namun tak pantas kita membungkam semua aspek sejarah kehidupan pomparan Naipospos dan termasuk tarombo-nya berangkat dari sudut pandang perlakuan negatif pada masa lalu (point of view) yang dilakukan oleh marga Sibagariang.

    Yang saya khawatirkan selama ini, bahwa ada pengembangan stigma yang berlebihan di antara kita, khususnya menyangkut Sibagariang, nampak terus-menerus digulirkan. Seolah-olah suatu peristiwa masa lalu, (dimana ulaon adat yang dilaksanakan Sibagariang, tidak bisa dihadiri marga Marbun karena kesalahan waktu yang disampaikan kepada mereka, dan marga Marbun hadir setelah selesai pesta tsb. sesuai yang disampaikan, sehingga marga Marbun martonggo). Karena kesalahan itu, secara tulus dan rendah hati, bahwa marga Sibagaring menyelenggarakan beberapa kali doa untuk mohon ampu dan berkat dari Tuhan langit dan bumi, dan minta maaf kepada saudaranya marga Marbun. Kami yakin, Tuhan telah hadir di tengah kita, Emmanuel, bahwa orang yang tulus dan rendah hati mohon maaf, termasuk kesalahan nenek moyang maka akan dimaafkan sebagaimana Yahwe berkata bahwa walaupun dosamu merah laksana kesumba akan menjadi putih seperti kapas. Terutama kami yakin bahwa Sang Juru Selamat datang ke dunia bukan untuk orang-orang benar tetapi bagi orang-orang berdosa sehingga selamat dan penuh berkat.

    Mengapa saya katakan pengembangan stigma yang berlebihan? Nuansa-nuansa kesalahan Sibagariang tersebut terus dipupuk dari waktu ke waktu. Ada suatu anagoli tentang pengembangan stigma yang berlebih, yang meluluhlantakkan harga diri. Penjahan Belanda, merontokkan mentalitas suku-suku di tanah air, Indonesia sehingga Belanda bisa bercokol di Indonesia selama 350 tahun. Penjajah mencap orang-orang Indonesia sebagai inlanders. Cap itu dibangun dan disosialisasikan secara kontiniu oleh Belanda untuk menghabis orang-orang Indonesia sehingga tidak punya harga diri dan martabat. Itu adalah suatu terminologi yang sangat jitu, yang terus-menerus didengungkan, sehingga orang-orang Indonesia merasa rendah diri, tak layak, tak sanggup dan minor imperiority di hadapan orang-orang Belanda dan di tengah bangsa-bangsa lain.

    Konteks pembicaraan kita dalam file ini adalah polemik tentang Tarombo Naipospos namun Saudara mengetengahkan kesalahan Sibagariang tsb. di atas. Apakah itu sesuatu yang relevan? Atau ada maksud implisit yang menganggap bahwa Sibagariang tidak pantas mengutarakan pandangan dan khazanah Naipospos termasuk tarombonya, karena kesalahan nenek moyang Sibagariang tsb.? Kalau itu yang Saudara maksud, paradigma sejajar dengan penjajah diusahakan tetap dihidupkan di tengah kita. Lebih jauh, paradigma yang Saudara hidupkan jauh lebih lama dari paradigma penjajah Belanda, 350 tahun.

    Hangatnya suasana perpolitikan di tengah masyarakat kita masa kini memunculkan istilah-istilah yang perlu diwaspadai yakni black campaign dan negative campaign. Namun, perbincangan tentang tarombo bukan perbincangan hiruk-pikuk kampanye, yang bisa diarahkan pada black campaign atau negative campaign. Perbincangan tentang tarombo seyogianya berdasarkan analisa pengalaman kultural dan terutama warisan kita masing-masing.

    Menurut hemat kami, kesalahan Sibagariang tsb. telah diselesaikan dengan yang saya utarakan tsb. di atas. Namun dikhawatirkan bahwa pertentangan di tengah kekeluargaan Naipospos pada masa lalu terus dipupuk. Saya tahu, bahkan di antara marga sendiri pun, ada beban sejarah yang nampaknya belum sungguh diusahakan untuk direkonsiliasi walaupun kita-kita ini sudah sungguh beragama.

    Adikara penjajahan Belanda menerapkan devide et impera di tengah bangsa Indonesia. Jangan-jangan warisan psikologis itu tetap kita pertahankan, kita pupuk dan kita sosialisasikan sehingga tak pernah rekonsiliasi benar-benar ada pada satu pihak diantara kita.

    Syaloom…….Bene Fratello………! Salam hangat dariku untuk semua saudaraku!

  15. 15



     Hendry Lbn Gaol,

    Yang saya khawatirkan selama ini, bahwa ada pengembangan stigma yang berlebihan di antara kita, khususnya menyangkut Sibagariang, nampak terus-menerus digulirkan. Seolah-olah suatu peristiwa masa lalu, (dimana ulaon adat yang dilaksanakan Sibagariang, tidak bisa dihadiri marga Marbun karena kesalahan waktu yang disampaikan kepada mereka, dan marga Marbun hadir setelah selesai pesta tsb. sesuai yang disampaikan, sehingga marga Marbun martonggo). Karena kesalahan itu, secara tulus dan rendah hati, bahwa marga Sibagaring menyelenggarakan beberapa kali doa untuk mohon ampu dan berkat dari Tuhan langit dan bumi, dan minta maaf kepada saudaranya marga Marbun. Kami yakin, Tuhan telah hadir di tengah kita, Emmanuel, bahwa orang yang tulus dan rendah hati mohon maaf, termasuk kesalahan nenek moyang maka akan dimaafkan sebagaimana Yahwe berkata bahwa walaupun dosamu merah laksana kesumba akan menjadi putih seperti kapas. Terutama kami yakin bahwa Sang Juru Selamat datang ke dunia bukan untuk orang-orang benar tetapi bagi orang-orang berdosa sehingga selamat dan penuh berkat.

    Mauliate ma di hamu dongantubu nami, akka masa lalu naso porlu be siparsoalhonnonhon i. Jala opputta sijolo-jolo tubu pe najolo nunga dibaen be partangiangan ( menurut na hea hubege), jadi lam hita ma??.

    Molo songon di au pribadi, ala nunga jaman internet on, molo tung pajuppa au tu dongan tubukku sian Toga sipoholon, molo uttua sian ahu, hujou ma ABANG, alai molo POSO dope, ANGGIA nikku do. Dang marterima bah i tusi,…..

  16. 16



     subur banjarnahor,

    horas…………..!
    salam sejahtra tu hita sudena.
    mauliate ma tu dongan tubu saluhutna.
    songon patandahon diriku ia au parsikkola dope jala adong saotik naeng sipatakkasonhu.
    bahen akka dongan tubu majo silsilahni raja batak sahat tu raja naipospos.
    sian dia do dalan ni marbun marpadan tusihotang dohot marhula2 tupasaribu.mauliate
    horas…………!

  17. 17



     Marthin Marbun,

    salam kepada natuatua semua…
    saya Marthin Marbun Banjarnahor,
    baru lulus SMA,
    berasal dari Dumai,Riau.
    sekarang saya sedang berada di Medan karna urusan pendaftaran kuliah dan di Medan ini baru saya tertarik untuk mengetahui silsilah marga saya.
    Saya mencari-cari di internet tentang naipospos sehingga menemukan situs ini.

    setelah membaca berbagai penjelasan di atas saya sudah sedikit mengerti tentang silsilah marga saya.
    Terimakasih sebesar-besarnya kepada natuatua semua atas semua keterangan di atas meskipun terdapat sedikit perbedaan pendapat tapi saya kira itu perlu karna perbedaan itu indah bukan?!.

    Salah satu alasan saya mencari tahu tentang silsilah marga saya adalah karna saya sudah begitu sering kebingunan saat di tanyai oleh orang-orang tua tentang indentitas marga saya dan juga silsilah marga saya,
    oleh karena itu saya harap ada dari natuatua sekalian yang bisa memeberikan alamat situs yang berisi pohon silisilah marga batak yang lengkap.

    saya tunggu jawaban dari natuatua sekalian.
    terimakasih.
    Horas!


Form Penulisan Komentar

Powered by WordPress | Designed by Ganar dinero | Sponsored by Zealot Advertising Pekanbaru