Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos
Profil Penulis
Mari bergabung dalam dunia facebook dan jadilah teman saya dengan mengklik nama saya yang merupakan pranala berikut.
Ricardo Parulian Sibagariang
Toga Sipoholon merupakan sebuah nama yang acap kali disebut-sebut sebagai nama salah satu putera Raja Naipospos yang menurunkan 4 (empat) marga, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Padahal Sipoholon bukanlah salah satu putera Raja Naipospos melainkan nama salah satu kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara sekarang.
Arti Toga Sipoholon secara harfiah
Dlam bahasa Batak, toga dapat diartikan sebagai kumpulan (punguan). Toga digunakan oleh Suku bangsa Batak (Silindung-Samosir-Humbang-Toba) ke dalam persatuan (parsadaan) marga. Seperti halnya Toga Sihombing sebagai persatuan kumpulan marga Sihombing (Silaban-Lumban Toruan-Nababan-Huta Soit).
Dengan memakai istilah toga pada Sipoholon, mengibaratkan Sipoholon sebagai manusia yang menurunkan marga Sipoholon beserta keturunannya. Padahal hingga saat ini marga Sipoholon tidak ada dan tidak akan pernah ada dijadikan marga oleh keturunan Raja Naipospos. Karena Sipoholon bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos.
Asal mula nama Sipoholon
Sipoholon adalah sebuah nama daerah dan bukan nama salah satu putera Raja Naipospos. Sebagai nama daerah, tentu mempunyai sejarah asal mula nama Sipoholon tersebut.
Menurut pengakuan masyarakat Sipoholon, Sipoholon berasal dari kata Sipohulon. Kata Sipoholon ini bermula ketika zaman pembuatan periuk dari tanah liat atau hudon tano. Bahan baku pembuatan adalah tanah dari Sipoholon sekarang. Oleh karena tanah tersebut diremas (dipohuli), maka Sipoholon sekarang sekarang disebut sebagai tano Sipohulon. Seiring waktu, pengucapan Sipohulon menjadi Sipoholon.
Jika direnungkan dan dipikirkan secara masak-masak, tampak tak ada hubungan sama sekali antara asal mula nama Sipoholon dengan Raja Naipospos pada masa itu. Karena perlu ditambahkan pada masa Raja Naipospos, Dolok Imun Hutaraja tidak disebut sebagai Sipoholon pada masa itu. Seluruh kisah antara putera Naipospos (Sibagariang_Hutauruk_Simanungkalit_Situmeang_Marbun) pun tidak terjadi di Sipoholon melainkan di Huta Raja dan tak ada seorang pun yang dapat mengungkap kisah Toga Sipoholon secara jelas jika dia memang benar-benar salah satu putera Raja Naipospos.
Sipoholon pada zaman sekarang
Sipoholon pada Desember 2008 ini adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, Indonesia.
Sejarah terbentuknya Toga Sipoholon
Menurut pengakuan Torang Hutauruk seorang yang dituakan di Sipoholon yang dikutip oleh saudara Maridup Hutauruk bahwa terbentuknya Toga Sipoholon bermula dengan persoalan antara Sibagariang dengan Marbun pada masa itu. Adik-adik Sibagariang dari kelompok Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang mengambil inisiatif untuk melerai persoalan dengan mengungsikan kelompok Marbun dari tiga kampung itu ke kampung marga Sihombing arah Humbang maka muncullah ‘padan (sumpah janji)’ sebagai awal adanya Toga Sipoholon dan Toga Marbun dengan inti padan bahwa Hutauruk dan Marbun Lumban Batu menjadi abang adik yang keturunannya tidak boleh ‘masiolian’, kemudian Simanungkalit dengan Marbun Banjar Nahor menjadi kakak beradik yang keturunannya tidak boleh ‘marsiolian’, dan Situmeang menjadi abang adik dengan Marbun Lumban Gaol yang keturunannya tidak boleh ‘marsiolian’. Padan ini sampai sekarang memang dipegang teguh dan dihormati oleh masing-masing pasangan marga yang ‘marpadan’, dan itulah kekuatan suatu padan kepada Mulajadi Nabolon yang sampai generasi selanjutnya harus dituturkan oleh orang-tua kepada anak-anaknya. Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang sudah jelas merupakan marga-marga yang menjunjung kemuliaannya dan oleh karena adanya padan yang dikelompokkan dalam suatu parsadaan yang disebut Toga Sipoholon. Sebagai Toga Marbun, maka resmilah Lumban Batu, Banjar Nahor, Lumban Gaol menjadi marga-marga yang juga menjunjung kemuliaannya berdasarkan padan-padan antar Toga Sipoholon dan Toga Marbun. Di antara padan ini tentu saja Sibagariang tidak ikut serta akan tetapi bukan berarti bahwa Sibagariang bukan keturunan Naipospos, malah Sibagariang adalah kakak yang bersoal dengan adiknya. Dari penguraian ini maka jelaslah bahwa Naipospos menurunkan 5 orang penerus generasi yang disebut Donda Hopol (Sibagariang), Donda Ujung (Hutauruk), Ujung Tinumpak (Simanungkalit), Jamita Mangaraja (Situmeang), dan Marbun. Dengan penjelasan ini sudah sah bahwa Naipospos tidak menurunkan generasinya antara dua toga yaitu Toga Sipoholon dan Toga Marbun karena masih ada Sibagariang yang tidak termasuk dalam dua toga tersebut. Kemudian bahwa adanya tujuh marga-marga pinompar Naipospos adalah karena adanya persekongkolan antara dua toga-toga tersebut sehingga terbentuk 7 marga yaitu 6 marga pada dua toga yang marpadan dan ditambah satu marga Sibagariang. Maka Naipospos menurunkan 5 orang penerus generasinya sebagai kebenaran yang dapat dijelaskan. Oleh karena padan inipula maka dua toga-toga ini memanggil haha kepada Sibagariang dan Sibagariang pun masuk dalam kelompok yang empat marga dilahirkan oleh ibu marga Pasaribu yang pertama dikawini oleh Raja Naipospos.
Bagi perintis, pernyataan di atas cukup masuk akal. Dikemudian hari, kiranya Toga Sipoholon tidak diidentikkan lagi sebagai nama kumpulan marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Karena akan menimbulkan salah paham (mengerti) bagi kalangan muda sebagai generasi penerus marga Naipospos di kemudian hari. Dikhawatirkan apabila Toga Sipoholon masih digunakan maka akan dianggap sebagai salah satu putera Raja Naipospos padahal tidak.
Hingga saat ini telah banyak terbentuk di beberapa daerah Toga Sipoholon. Usaha pembentukan Toga Sipoholon di Hutaraja Sipoholon pernah terjadi. Tetapi oleh pertidaksetujuan para tetua marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang yang tentunya lebih banyak tahu lagi tarombo, maka Toga Sipoholon tidak dapat dibentuk di Hutaraja Sipoholon. Karena memang demikianlah seharusnya.
Memang diakui, sebenarnya antara keturunan Raja Naipospos dari isteri pertama (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) dengan isteri kedua (Marbun) tidak boleh dipisahkan dalam 2 (dua) parsadaan toga atau persatuan kumpulan. Tetapi apa boleh buat, marga Marbun (Lumban Batu-Banjar Nahor-Lumban Gaol) telah terlebih dahulu membentuk persatuan kumpulan yaitu Parsadaan Toga Marbun. Tetapi hal tersebut bisa dimaklumi karena Marbun jauh lebih banyak bilangannya dibanding keturunan isteri pertama Naipospos. Oleh karena itu, persatuan kumpulan marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, dikemudian hari adalah lebih baik dengan nama Parsadaan Pomparan Raja Naipospos Tubu ni Ina Naparjolo. Akan tetapi, di atas semuanya itu adalah lebih baik keturunan Raja Naipospos disatukan dalam satu toga yaitu Parsadaan Pomparan Raja Naipospos Silima Saama Pitu Marga.
Pro dan kontra terhadap Toga Sipoholon
Pro dan kontra saat ini mungkin adalah suatu hal yang lumrah terjadi. Tetapi apabila dilihat secara saksama, alangkah jarang terjadi kontra pada marga di Suku bangsa Batak dalam membicarakan tarombo (silsilah). Berikut ini pro dan kontra yang langsung dialami sendiri oleh Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang (alm) sebagai mantan Kepala Negeri Huta Raja. Kisah ini ini diterjemahkan oleh perintis artikel ini ke dalam bahasa Indonesia dari buku sederhana yang disusun oleh Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang sendiri dalam bahasa Batak.
Tahun 1921 ketika umur saya masih 27 tahun, Assistent Demang dan Demang datang ke Huta Raja meminta agar membuat tarombo (silsilah) Raja Naipospos sekaligus untuk memilih atau membuat Verkessing Kepala Negeri di Huta Raja. Pada masa itu, dapat dikatakan bahwa orang tua dari marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun, yang berumur 70-90 tahun banyak untuk mengikuti kumpulan tersebut. Kerajinan para orang tua tersebut disebabkan oleh belum pernahnya pemerintah menyinggung tentang tarombo (silsilah) marga sebelumnya. Para orang tua dari lima marga Naipospos tersebut secara menyeluruh mengatakan bahwa putera Raja Naipospos adalah sebanyak 5 (lima) orang yang secara berurutan, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun. Kemudian Assistent Demang mengatakan bahwa sesuai tarombo (silsilah) di Sipoholon bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun.
Seluruh para orang tua dari lima marga Naipospos pada kumpulan tersebut kontra (tidak setuju) dengan tarombo (silsilah) yang ditulis di Sipoholon. Demang pun menjawab bahwa dikemudian hari tarombo (silsilah) keturunan Raja Naipospo tersebut akan diperbaiki. Namun tarombo (silsilah) keturunan Raja Naipospos yang akan dicatat adalah sesuai yang ada di Sipoholon. Dengan demikian tarombo (silsilah) yang dicatat oleh Demang pada tahun 1921 tersebut adalah bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 (dua) orang putera, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun.
Pada tahun 1923 setelah selesainya penulisan tarombo (silsilah) tersebut, pemerintah kemudian meminta agar semua Kepala Negeri R.II yang masuk dalam wilayah Sipoholon dari marga Naipospos agar berkumpul. Controleur dan Demang yang hadir pada saat itu pun bertanya kembali tentang tarombo (silsilah) keturunan Raja Naipospos yang benar. Apakah yang tertulis di Sipoholon atau yang disebutkan di Huta Raja. Saya pun menjelaskan kisah Raja Naipospos dan keturunannya. Saya pun menambahkan bahwa apabila benar Toga Sipoholon yang menurunkan marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang, merupakan salah satu putera Raja Naipospos, tentu Sipoholon akan dijadikan sebagai marga terlebih dahulu. Tetapi karena hal tersebut adalah tidak benar, maka marga Sipoholon tidak ada.
Saya juga mengatakan bahwa oleh karena Marbun sebagai keturunan Naipospos dari isteri kedua kurang merasa cocok dengan keturunan Naipospos dari isteri pertama (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) maka Marbun bersama dengan ibundanya dan seorang saudara perempuan seibunya pergi ke daerah Humbang. Kebetulan hanya Marbun dan seorang saudara perempuanlah (ito) keturunan Naipospos dari isteri kedua boru Pasaribu. Dan mungkin hal tersebut bisa menjadi suatu pelajaran bahwa seorang laki-laki yang mempunyai dua orang isteri atau lebih akan menimbulkan rasa kurang cocok antar anak masing-masing isteri.
Mengenai penjelasan tersebut, mereka yang pro atau mendukung Toga Sipoholon tidak dapat memberikan penjelasan banyak selain berpendapat bahwa daerah Sipoholon berasal dari nama sang nenek moyang Toga Sipoholon. Menjawab hal tersebut, saya pun menjawab bahwa seandainya hal tersebut benar maka daerah Huta Raja akan masuk daerah Sipoholon dengan penyebutan nama Sipoholon Huta Raja. Karena seluruh kisah antara keturunan Raja Naipospos dari isteri pertama (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) dengan isteri kedua (Marbun) terjadi di Huta Raja dan bukan di Sipoholon. Mereka pun menyebut bahwa Huta Raja pun termasuk Sipoholon. Saya pun mengatakan, saat inilah bagi pemerintah bahwa Huta Raja termasuk Sipoholon. Bukan hanya itu, Pagar Batu, Rurajulu dan sebagainya termasuk Sipoholon saat ini. Karena yang sebenarnya Sipoholon hanyalah yang termasuk daerah Rura Silindung ini.
Mengenai hal tersebut, Demang mengaku bahwa penjelasan yang diberikan oleh Kepala Negeri Huta Raja (Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang) adalah lebih jelas. Namun dikarenakan hanyalah saya seorang melawan lima tau tujuh orang yang pro, maka tarombo (silsilah) keturunan Raja Naipospos masih tetap sesuai dengan yang terdapat di Sipoholon (Toga Sipoholon dan Toga Marbun).
Apakah benar atau tidak, perintis berprasangka bahwa pencatatan tarombo (silsilah) tersebut bertujuan untuk penyusunan PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung. Karena pada kata pengantar (Hata patujolo) tercantum Pangururan, Januari 1926. Tetapi itu adalah sebuah prasangka saja.
Apabila mengikuti prasangka perintis di atas, PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung yang banyak terdapat di masyarakat sudah cetakan tahun 1991. Tentu dalam jangka waktu 65 tahun hingga Desember 2008 sekarang, maka tidak bisa dipungkiri bahwa sudah tentu pasti mempunyai perubahan disana-sini. Karena pada cetakan tahun 1991, disebutkan bahwa Raja Naipospos mempunyai dua orang putera yang secara berurutan, yaitu: Toga Marbun dan Toga Sipoholon. Hal ini tentu sudah berlawan (kontra) dengan tarombo (silsilah) yang dicatat di Sipoholon pada tahun 1921 dan 1923 yang menyebutkan bahwa Raja Naipospos mempunyai dua orang putera yang secara berurutan, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun.
Memang untuk menemukan PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung cetakan pertama tahun 1926 mungkin tidak akan dapat ditemukan lagi karena apabila mengikuti prasangka perintis, dikhawatirkan ada yang telah mengubah tarombo (silsilah) tersebut menjadi Toga Marbun dan Toga Sipoholon tanpa alasan yang jelas. Sehingga saat ini pun, antar marga Marbun sendiri ada yang menyebut bahwa Sibagariang sebagai putera sulung, ada pula berpendapat bahwa Sipoholon sebagai putera sulung, dan ada pula berpendapat bahwa Marbun sebagai putera sulung atau bungsu. Pendapat yang menyebutkan bahwa putera Raja Naipospos adalah sebanyak 2 (dua) orang, baik Toga Sipoholon dan Toga Marbun atau Toga Marbun dan Toga Sipoholon adalah salah.
Kesimpulan
Kesatuan dan persatuan adalah hal yang hal terpenting. Berbicara mengenai silsilah (tarombo) tidak boleh hanya sekedar berargumen tetapi harus dibuktikan dengan fakta dan penjelasan sebaik mungkin. Amat sulit memang mengubah suatu ideologi (paham) yang dianut oleh seseorang. Hal tersebut hanya mungkin dapat terjadi dengan adanya sikap terbuka dan tanpa egoisme.
Merendahkan hati adalah jalan keluar dalam mengatasi perbedaan pendapat. Mengalah belum tentu kalah. Namun perlu diingat dalam kerendahan hati , tidak berarti mengiyakan apa saja pendapat orang yang belum tentu benar. Melainkan mengingatkan sesama yang kurang benar dan menjelaskan apa yang benar. Terima atau tidak itu terserah pada tiap individu. Namun terutama harus dengan rendah hati dan kasih seperti teladan dari Tuhan.
Tak selamanya apa yang diutarakan seseorang, kita baca, dengar, atau lihat adalah benar. Demikian pula halnya, tentang segala pendapat tentang keturunan Raja Naipospos. Dikhawatirkan pendapat-pendapat lain akan mungkin tambah lagi. Semuanya itu hanya dapat diatasi dengan menguji segala sesuatu dan memegang yang benar melaui merenungkan dan memikirkannya secara masak-masak dan semuanya itu ditujukan demi persatuan dan kesatuan terlebih memuliakan Tuhan.
Taingot jala taulahon ma hata ni Tuhanta
- Ai nasa na patimbohon dirina, sipaoruon do; jala na paoru dirina, i do sipatimboon! Lukas 14:11
- Alai molo mardosa donganmi, topot jala ajari ibana, holan hamu padua. Molo ditangihon ho, dapot ho do ibana gabe donganmu muse.Mateus 18:15
- Laos songon i ma hamu, angka na umposo, unduk ma hamu di angka na tumunggane! Alai saluhutna ma hamu manolukkon haserepon sama hamu, ai dialo Debata do angka na ginjang roha, alai dilehon do asiasi tu angka na serep marroha. I Petrus 5:5
- Tangkasi hamu ma saluhutna; na denggan i ma tiop hamu! I Tesalonika 5:21
Catatan kaki (referensi dan sumber)
Mansai harop do nian roha asa unang tapauba naung tarsurat di panorangion sisaotik on. Alai tapadimpudimpu jala tatambai ma natarsurat on molo tung adong nataboto taringot turiturian pinompar ni Raja Naipospos. Alai tong ma taingot unang tapauba naung tarsurat di panorangion sisaotik napinatupa on. Jala unang lupa hamu manurat goarmuna songon sipanambai dohot mual panorangionmuna di toru on. Porlu taboto molo adong turiturian taringot pangalaho naso patut sitiruon sian ompunta, unang pola tapabotohon tu situan natorop. Sae ma holan hita naumbotosa.
- Ricardo Parulian Sibagariang (Naipospos Sibagariang), penulis artikel “Toga Sipoholon”.
- Haran Ompu Basar Solonggaron Sibagariang (Alm), mantan Kepala Negeri Hutaraja sebagai sumber tertulis dalam buku sederhana susunannyasendiri tentang Raja Naipospos dan Keturunannya.
- Laris Kaladius Sibagariang, seorang yang dituakan dan kepala adat di Hutaraja Sipoholon sebagai sumber lisan.
- Maridup Hutauruk, sebagai sumber tertulis dalam artikelnya yang berjudul Apa Benar Naipospos Menurunkan 7 Marga? pada http://www.naipospos.net/
- W. M. Hutagalung, sebagai sumber pembanding dalam bukunya yang bejudul PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni Bangso Batak
- D. J. Gultom Raja Marpodang, sebagai sumber pembanding dalam bukunya yang berjudul Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak tentang marga keturunan Raja Batak
>>>>> Ricardo Parulian Sibagariang (Naipospos Sibagariang)
Diposting oleh Ricardo Parulian Sibagariang : rajanaipospos@yahoo.co.id
Referensi / Tulisan yang sama terdapat di wikipedia
Tulisan dirintis oleh Ricardo Parulian Sibagariang
Anda dapat mengirimkan komentar Anda pada naipospos.sibagariang@gmail.com dan pada rajanaipospos@yahoo.co.id jika komentar Anda tidak ingin dipublikasikan.
Info dari admin
Penyusunan Silsilah Naipospos Versi 1.0
Kami mengundang partisipasi Bapak/Ibu dalam menyediakan data silsilah dari generasi awal hingga generasi kita sekarang ini. Kirimkan data silsilah anda melalui email ke admin@naipospos.net

Maridup Hutauruk,
Artikel ini sudah semakin memperkaya sumber sejarah Naipospos dan keturunannya. Menurut hemat saya perlulah masukan-masukan yang bersifat lebih melengkapi dari marga-marga keturunan Naipospos agar semakin dekat saatnya tiba untuk dinyatakan sebagai sejarah yang resmi dan seragam bagi marga-marga keturunan Naipospos.
Mauliate jala horas ma di ampara ni iba. SELAMAT TAHUN BARU. GBU
January 3rd, 2009 at 7:56 pmNaipospos Sibagariang,
Horas di Amparaniba Maridup Hutauruk.
Terimakasih atas masukannya, Ampara. Masukan yang bersifat membangun memang sangatlah diperlukan sambil untuk saling menyapa bagi kita keturunan Raja Naipospos. Kesatuan dan persatuan bagi kita keturunan Naipospos adalah yang pantas kita pinta kepada Tuhan terutama dalam hal tarombo.
Horas dan SELAMAT TAHUN BARU
dari KEL.RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)
TUHAN memberkati
January 5th, 2009 at 11:36 amjonathan hutauruk,
saya ada punya tarombo naipospos dan hutauruk yang dibuat oleh bapak saya M.Hutauruk.
March 18th, 2009 at 12:14 amingin saya membagi apa yang di ketahui dan di turunkan bapak saya, kepada kita smua.
apa moderator mengijinkan dan dapatkah dibuat suatu aplikasi sehingga dapat di download
Trima kasih
Naipospos Sibagariang,
@ Jonathan Hutauruk
Salam,
Horas dan salam damai sejahtera saya ucapkan kepada Ampara sekeluarga Jonathan Hutauruk. Salam kenal dan salam hangat persaudaraan dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang. Terima kasih atas kesediaan Ampara Jonathan Hutauruk berkunjung di NAIPOSPOS ONLINE khususnya pada artikel tulisan saya Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos.
Terima kasih atas pemberitahuan Ampara.
Kiranya niat baik Ampara tersebut terpenuhi tepat pada waktunya, Amin
Horas.
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)
April 1st, 2009 at 5:39 pmAdmin,
@ jonathan hutauruk
Pengelolaan database silsilah naipospos sepenuhnya dikendalikan oleh admin. Hal ini untuk menghindarkan kesalahan entry data serta mengantisipasi usaha tidak beretika dari orang yang tidak bertanggung-jawab.
Silahkan mengirimkan data silsilah, tentu saja mulai dari generasi tertua (naipospos / marga) hingga generasi kita saat ini, dengan data awal tersebut maka akan kami susun di database mySQL dan dapat dilihat di http://silsilah.naipospos.net (versi 2) atau http://silsilah.naipospos.net/dtv (versi 1).
Dokumen data silsilah bisa dibuat dalam dokumen word, excel, powerpoint dan dikirim via email ke admin@naipospos.net
Mauliate
April 3rd, 2009 at 2:13 amFernando Hutauruk,
Horas !!
Mauliate tu sude hita na tong-tong mangalehon rohana di na masi patutur-tuturan dison.
Membaca topik utamanya saya cukup dibingungkan,Apakah Toga Sipoholon adalah Keturunan naipospos ?? Menjadi menarik karena fakta bahwa Naipospos menikahi dua istri, dan istri pertama “menurut penjelasan topik ini” melahirkan 4 orang anak yaitu Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit. Adapun isteri ke 2 lahirkan 1 orang anak yaitu Marbun.
Terlepas dari permasalahan bahwa istri kedua lah yg melahirkan anak terlebih dahulu sehingga timbul polemik mengenai siapa yg sulung dan siapa yg bungsu.
Andaikan urut2annya adalah Sibagariang, Hutauruk, Situmeang, Simanungkalit dan Marbun ( atau Marbun, Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit)
Lantas kenapa Lumbanbatu di sepadankan dengan Hutauruk, Lumban gaol dengan situmeang dan banjarnahor dengan simanungkalit ??
Jika opsi pertama dimana urut2annya adalah Sibagariang, Hutauruk, Situmeang, Simanungkalit dan Marbun, maka Lumban batu,Lumban Gaol dan Banjar nahor semestinya dan seharusnya memanggil abang kepada Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit tanpa dipadan-padankan.
Atau jika opsi kedua adalah urut2an Marbun, Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit, maka Lumban batu, Lumban gaol dan banjar nahor semestinyalah memanggil adik kepada Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit juga tanpa dipadan-padankan.
Lantas atas dasar ini kah kita harus “mempertanyakan” kesepakatan dimana terjadi perpadan-padanan tersebut ???
Jika seandainya memang benar ada Toga Sipoholon seperti adanya toga Marbun, maka putra Naipospos adalah 2 orang, yaitu
1. Marbun yg memperanakkan Lumban Batu, Lumban Gaol dan Banjar nahor
2. Sipoholon yg memperanakkan Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit.
Mengenai “bantahan” bahwa Toga itu adalah kumpulan marga2 sedangkan Sipholon itu bukanlah marga adanya, melainkan hanya nama sebuah wilayah. Maka bisa saja ini terjadi sebagai kebijakan diwaktu berbeda, karena kita sering menemui bahwa dulu dulu seorang anak justru jauh lebih sakti, dihargai dari orang tuanya. Artinya sepeninggalnya Naipospos, maka dengan bertahannya Sipoholon didaerah asalnya, maka kebijakan ditetapkan untuk menamai wilayah itu berdasarkan namanya. (ini hanya pemikiran semata)
Kita sering menemui nama desa dengan sebutan marga, contoh Pea Parapat ( disana dihuni oleh marga parapat) Sosor Limbong (Dihuni oleh Limbong)
Lumban Samosir (dihuni oleh samosir)
Apakah hal ini juga tidak menjadi satu kemungkinan kenapa daerah itu sekarang bernama Sipoholon ? karena dihuni oleh (marga) Sipoholon ???Bisa saja dulu Sipoholon itu adalah Lumban Sipoholon ( sebagai mana didaerah itu banyak desa2 dimulai dengan Lumban) lantas karena terlalu panjang untuk menyebutkan dalam pembicaraan sehari hari, maka disingkat dengan menyebutkan Sipoholonnya saja ?
Masalah nama Sipoholon itu diambil dari kata Sipohulon (proses pembuatan hudon tano) juga susah untuk dibuktikan, walau saya sendiri tidak bermaksud untuk membantahnya.
>>>> RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)
Salam damai sejahtera,
Komentar ini saya jawab dalam 4 (empat) bagian utama.
Bagian ke-1 (pertama)
Membaca topik utamanya saya cukup dibingungkan,Apakah Toga Sipoholon adalah Keturunan naipospos ?? Menjadi menarik karena fakta bahwa Naipospos menikahi dua istri, dan istri pertama “menurut penjelasan topik ini” melahirkan 4 orang anak yaitu Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit. Adapun isteri ke 2 lahirkan 1 orang anak yaitu Marbun.
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang
Mengapa Ampara Fernando Hutauruk bingung? Baca dan renungkan tulisan-tulisan saya dengan hati tenang.
Bagian ke-2 (kedua)
Terlepas dari permasalahan bahwa istri kedua lah yg melahirkan anak terlebih dahulu sehingga timbul polemik mengenai siapa yg sulung dan siapa yg bungsu. Andaikan urut2annya adalah Sibagariang, Hutauruk, Situmeang, Simanungkalit dan Marbun ( atau Marbun, Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit) Lantas kenapa Lumbanbatu di sepadankan dengan Hutauruk, Lumban gaol dengan situmeang dan banjarnahor dengan simanungkalit ?? Jika opsi pertama dimana urut2annya adalah Sibagariang, Hutauruk, Situmeang, Simanungkalit dan Marbun, maka Lumban batu,Lumban Gaol dan Banjar nahor semestinya dan seharusnya memanggil abang kepada Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit tanpa dipadan-padankan. Atau jika opsi kedua adalah urut2an Marbun, Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit, maka Lumban batu, Lumban gaol dan banjar nahor semestinyalah memanggil adik kepada Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit juga tanpa dipadan-padankan. Lantas atas dasar ini kah kita harus “mempertanyakan” kesepakatan dimana terjadi perpadan-padanan tersebut ???
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang
Yang lebih dahulu lahir adalah Sibagariang dan bukan Marbun. Dalam artikel-artikel yang telah saya tulis hal tersebut sudah cukup jelas saya terangkan.
Ampara membicarakan hal-hal besar sedangkan Ampara tidak setia dalam hal-hal kecil.
Berangkat dari firman Allah dalam Lukas 16:10
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.
Apakah Ampara dapat dikatakan silap dengan menyebutkan urutan Simanungkalit setelah Situmeang yaitu menjadi Sibagariang, Hutauruk, Situmeang, dan Simanungkalit. Padahal yang benar adalah Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Sekali-kali ini bukan kesilapan. Berulang kali Ampara Fernando Hutauruk menyebutkan urutan yang salah.
Batu-batu besar Ampara sisihkan dari jalan tetapi batu-batu kecil Ampara abaikan. Sehingga Ampara terjatuh oleh batu-batu kecil itu.
Bagian ke-3 (ketiga)
Andaikan urut2annya adalah Sibagariang, Hutauruk, Situmeang, Simanungkalit dan Marbun ( atau Marbun, Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit) Lantas kenapa Lumbanbatu di sepadankan dengan Hutauruk, Lumban gaol dengan situmeang dan banjarnahor dengan simanungkalit ?? Jika opsi pertama dimana urut2annya adalah Sibagariang, Hutauruk, Situmeang, Simanungkalit dan Marbun, maka Lumban batu,Lumban Gaol dan Banjar nahor semestinya dan seharusnya memanggil abang kepada Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit tanpa dipadan-padankan. Atau jika opsi kedua adalah urut2an Marbun, Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit, maka Lumban batu, Lumban gaol dan banjar nahor semestinyalah memanggil adik kepada Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan simanungkalit juga tanpa dipadan-padankan. Lantas atas dasar ini kah kita harus “mempertanyakan” kesepakatan dimana terjadi perpadan-padanan tersebut ???
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang
Sebenarnya mengenai mengapa marga-marga tersebut dipadankan kecuali Sibagariang, saya sudah menjelaskan pada artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos. Mari kita membaca artikel tersebut dengan saksama, teliti, dan dengan hati yang tenang.
Bagian ke-4 (keempat)
Mengenai “bantahan” bahwa Toga itu adalah kumpulan marga2 sedangkan Sipholon itu bukanlah marga adanya, melainkan hanya nama sebuah wilayah. Maka bisa saja ini terjadi sebagai kebijakan diwaktu berbeda, karena kita sering menemui bahwa dulu dulu seorang anak justru jauh lebih sakti, dihargai dari orang tuanya. Artinya sepeninggalnya Naipospos, maka dengan bertahannya Sipoholon didaerah asalnya, maka kebijakan ditetapkan untuk menamai wilayah itu berdasarkan namanya. (ini hanya pemikiran semata) Kita sering menemui nama desa dengan sebutan marga, contoh Pea Parapat ( disana dihuni oleh marga parapat) Sosor Limbong (Dihuni oleh Limbong) Lumban Samosir (dihuni oleh samosir) Apakah hal ini juga tidak menjadi satu kemungkinan kenapa daerah itu sekarang bernama Sipoholon ? karena dihuni oleh (marga) Sipoholon ???Bisa saja dulu Sipoholon itu adalah Lumban Sipoholon ( sebagai mana didaerah itu banyak desa2 dimulai dengan Lumban) lantas karena terlalu panjang untuk menyebutkan dalam pembicaraan sehari hari, maka disingkat dengan menyebutkan Sipoholonnya saja ? Masalah nama Sipoholon itu diambil dari kata Sipohulon (proses pembuatan hudon tano) juga susah untuk dibuktikan, walau saya sendiri tidak bermaksud untuk membantahnya.
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang
Tarombo bukan hal main-main. Sekali-kali tidak boleh menggunakan firasat atau dengan kata lain bisa saja yang tidak berlandasan sesuai dengan fakta. Apalagi ini adalah hal penting mengenai benar atau tidaknya keberadaan salah satu ompu.
Saya akan menyanggah pernyataan Ampara tersebut. Ampara Fernando Hutauruk mengatakan anaknya lebih dihormati (dalam hal ini Sipoholon) dibanding orangtuanya (dalam hal ini Raja Naipospos). Mengikuti pernyataan Ampara Fernando Hutauruk bahwa hal tersebut tidak benar terjadi di lapangan.
Karena seandainya Sipoholon benar adanya sebagai putera Raja Naipospos dan lebih dihormati daripada Raja Naipospos sendiri, maka yang ada marga Sipoholon dan bukan marga Naipospos.
Hingga saat ini dan sampai kapan pun Sipoholon tidak akan pernah dijadikan marga oleh keturunan Raja Naipospos. Karena Raja Naipospos mempunyai lima orang putera dan bukan dua. Mengenai Sipoholon adalah benar adanya dan dapat dipertanggungjawabkan berasal dari kata sipohulon . Jika Ampara Fernando Hutauruk tidak percaya, silahkan Ampara datang ke Sipoholon dan bertanya kepada orang tua kita yang tahu benar tentang tarombo Naipospos dan wilayah Sipoholon.
Terimakasih.
April 4th, 2009 at 12:43 amFernando Hutauruk,
(sambungan) Melihat adanya pembanding seperti Hutapea, si 8 ompu, Hutabarat, Panggabean dan Hutagalung yg menjadi nama desa sesuai dengan marga yg menempatinya.
Perkiraan saja bahwa Pasaribu ( sebagai pemilik tanah awal) memberikan nama nama wilayah yg diserah terimakan sesuai dengan nama penerima sebagai legitimasi terhadap sesama pihak penerima untuk saling mengetahui bahwa wilayah itu telah beralih tuan (sesuai dengan namanya) agar tidak terjadi kekisruhan dikemudian hari. Walau kita tau bahwa Toga Sipoholon ( Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit) mengalami pertikaian panjang dengan Hutabarat dan kerabatnya adalah mengenai perbatasan, bukan mengenai keabsahan wilayah kepunyaan.
Justru fakta2 ini lebih meyakinkan bahwa Naipospos hanya beranakkan 2 orang yaitu Sipoholon dan Marbun.
Jadi jika di Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit tidak pernah menemukan berkas atau apapun yg menjadi dasar bahwa pernah ada Nenenk Moyang bernama Sipoholon kemungkinan adalah missing link ??
Horas !
>>>>> RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG (Naipospos Sibagariang)
Salam damai sejahtera,
Komentar ini saya jawab dalam 3 (tiga) bagian utama.
Bagian ke-1(pertama)
Perkiraan saja bahwa Pasaribu ( sebagai pemilik tanah awal) memberikan nama nama wilayah yg diserah terimakan sesuai dengan nama penerima sebagai legitimasi terhadap sesama pihak penerima untuk saling mengetahui bahwa wilayah itu telah beralih tuan (sesuai dengan namanya) agar tidak terjadi kekisruhan dikemudian hari.
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang
Perkiraan apa itu, Ampara? Jangan sembarangan membuat perkiraan.
Apakah begitu kejamnya Raja Naipospos mengingini dan menguasai (mangkalahala) tanah hulahulana? Atau begitu lemahkah marga Pasaribu sehingga memberikan tanahnya kepada parboruonna?
Tolong Ampara sikapi hal itu dengan baik-baik dan teliti. Saya akui memang bahwa marga Pasaribu yang dimaksud adalah Pasaribu yang ada di Silindung. Tetapi bukan berarti tanah Naipospos adalah pemberian Pasaribu. Silindung itu luas. Sipoholon, Tarutung, Pahae, dan sekitarnya termasuk Silindung. Mari kita perhatikan kalimat ini dengan baik.
Dolok Imun huta parjolo pinungka ni ompunta Raja Naipospos
Bagian ke-2 (kedua)
Walau kita tau bahwa Toga Sipoholon ( Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit) mengalami pertikaian panjang dengan Hutabarat dan kerabatnya adalah mengenai perbatasan, bukan mengenai keabsahan wilayah kepunyaan.
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang
Kisah itu perlu dikaji ulang dan tak dapat dibuktikan kebenarannya.Seperti yang telah saya singgung pada artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos bahwa apabila ada persoalan yang mencapai pertikaian baik itu dalam perbatasan, maka pihak yang menang akan menguasai pihak yang kalah. Perlu saya tambahkan bahwa pada zaman dahulu tak ada istilah damai-damai dalam hal tanah. Harus nyata siapa yang menang dan kalah. Apalagi peristiwa yang Ampara sebutkan sudah mencapai tahap puncak yaitu pertikaian. Mungkin hingga saat ini hal itu masih tertanam dalam individu sebagian orang tua. Karena kepemilikan tanah menggambarkan harga diri kepribadian seseorang. Fakta yang tak bisa dipungkiri oleh siapa pun bahwa keturunan Raja Naipospos hidup damai berdampingan dengan Siopat Pisoran hingga saat ini di bona pasogit.
Bagian ke-3 (ketiga)
Jadi jika di Sibagariang, Hutauruk, Situmeang dan Simanungkalit tidak pernah menemukan berkas atau apapun yg menjadi dasar bahwa pernah ada Nenenk Moyang bernama Sipoholon kemungkinan adalah missing link ??
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang
Pintar sekali Ampara Fernando Hutauruk mengatakan missing link. Tidak ada yang missing link. Masak hal begitu saja ada istilah missing link?
Sedangkan siapa ayahanda, ibunda, saudara-saudara, bahkan sampai ompung doli, dan sebagainya dari Raja Naipospos diketahui dengan jelas. Apalagi hal seperti ini.
Saya sangat setuju dengan tulang saya Marjan Tua Simanungkalit. Ya memang, jika Toga Sipoholon itu benar adanya sebagai putera Raja Naipospos, siapakah isteri Toga Sipoholon tersebut. Jelas tidak ada karena Sipoholon adalah nama daerah atau salah satu nama kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara saat ini.
Kisah hidup Toga Sipoholon tak seorang pun yang dapat mengungkapnya dan menjadi bukti nyata bahwa Sipoholon adalah nama daerah dan bukan salah satu putera Raja Naipospos.
Terimakasih.
April 4th, 2009 at 1:15 amRobinson Banjarnahor,
Horas..!
May 5th, 2009 at 10:15 pmSalam Kenal untuk Saudara se-keturunan ompunta Raja Naipospos.
Menyimak tulisan “Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos”…seperti menguak misteri yang tambah melebar cenderung menambah keruwetan. selama ini saya belum pernah mendengar/membaca kisah yang ampara tulis. yang menjadi pertanyaan adalah apakah :
1. tulisan ini merupakan analisa semetara ataukah dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan ( tentunya tidak boleh dari satu orang sumber saja)
2. kutipan “sibagariang lahir lebih dahulu” pernah saya dengar, tetapi frasa ini tidak berdiri sendiri
3. tuntutan kebenaran yang coba ampara ungkap melalui nama tempat( sipoholon)tidak cukup kuat karena :
a. Nama tempat dapat diberikan kepada populasi homogen di tempat /wilayah itu
b. Nama tempat dapat diberikan kepada yang diperkenankan menempati tempat/wilayah itu
c. Nama tempat dapat diberikan kepada penemu tempat/wilayah itu
4. Saya pernah membaoa bahwa TOGA tidak otomatis menjadi MARGA
Ricardo Parulian Sibagariang,
@ Robinson Banjarnahor
Horas, Ampara.
Tulisan saya pada artikel-artikel di NAIPOSPOS ONLINE ini adalah yang saya dapat dari orang tua kita di Huta Raja Sipoholon. Jadi, tarombo yang saya jelaskan bukan tarombo dari perantauan melainkan dari bona pasogit.
Referensi bagi kita bersama adalah artikel tulisan Ampara saya Maridup Hutauruk yang berjudul Apa Benar Naipospos Menurunkan Tujuh Marga. Pada artikel tersebut sangat jelas pengakuan seorang yang dituakan di Sipoholon yang bernama Torang Hutauruk bahwa Raja Naipospos memperanakkan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.
Perlu kita ketahui bersama bukan hanya marga Sibagariang yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai lima orang putera.
Memang benar bahwa SIBAGARIANG adalah yang lebih dahulu lahir. Hal ini telah saya singgung pada artikel tulisan saya yang berjudul Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos. Inilah pula lah yang perlu kita tanamkan dalam hati sanubari kita bersama bahwa bukan hanya saya saja yang menyatakan bahwa Sibagariang adalah yang pertama lahir dalam keturunan Raja Naipospos.
MengenaI asal-mula nama Sipoholon dan makna dari kata toga adalah langsung saya tanyakan pada orang tua yang tahu benar tarombo Naipospos di Sipoholon.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Horas.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
May 6th, 2009 at 3:51 pmjd marbun bn,
salam kenal buat semua .
June 3rd, 2009 at 1:41 pmsemua artikel2 tadi cukup menarik
semoga generasi2 muda kita bisa meneruskan & mempelajari semua ini
Ricardo Parulian Sibagariang,
@JD Marbun BN
Salam,
Horas dan salam damai sejahtera saya ucapkan kepada Ampara sekeluarga JD Marbun BN. Salam kenal juga dan salam hangat dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang. Terimakasih atas kesediaan Ampara JD Marbun BN berkunjung di NAIPOSPOS ONLINE khususnya artikel tulisan saya Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos.
Terimakasih atas pernyataannya, Ampara.
Memang saya akui bahwa akhir-akhir ini sebagian para generasi muda bangso Batak khususnya generasi muda keturunan Raja Naipospos kurang memperhatikan tarombonya. Namun, itu bukanlah hal yang baik.
Suatu hal yang perlu diperhatikan bagi para orang tua keturunan Raja Naipospos untuk mengenalkan dan menanamkan sejak dini bagi para generasi muda keturunan Raja Naipospos tentang tarombo Naipospos dan keturunannya.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
June 5th, 2009 at 6:06 pmRamli Hutauruk,
Torang Hutauruk siapa yang menjadi nara sumber di Tarutung yang dimaksud,mohon dijelaskan
August 29th, 2009 at 7:48 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@Ramli Hutauruk
Salam,
Horas dan salam damai sejahtera saya ucapkan kepada Ampara sekeluarga Ramli Hutauruk. Salam kenal dan salam hangat dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang. Terimakasih atas kesediaan Ampara Ramli Hutauruk berkunjung di NAIPOSPOS ONLINE khususnya artikel tulisan saya Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos.
Nama Torang Hutauruk di atas adalah sesuai penjelasan yang saya dapat dari ampara kita Maridup Hutauruk dalam artikelnya yang berjudul Apa Benar Naipospos Menurunkan 7 Marga?
Kalau saya sebagai penulis artikel ini ditanyakan tentu tidak kenal wajah dengan ompung kita Torang Hutauruk. Tapi kalau ampara kita Maridup Hutauruk ditanyakan pasti kenal.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
August 30th, 2009 at 5:40 pmMaridup Hutauruk,
@Ramli Hutauruk,
August 30th, 2009 at 11:22 pmSementara saya panggil ampara dulu kepada Ramli Hutauruk. Yang dimaksud nara sumber bernama Torang Hutauruk adalah tetua Hutauruk yang tinggal di Hutaraja Sipoholon. Beliau adalah Hutauruk No.13 berumur 70 tahunan, pinompar Raja Simodommodom dari Ompu Batulana. Rumahnya masuk dari jalan disamping gereja Katolik yang ada di Hutaraja Sipoholon kira2 100 m dari jalan Raya. HORAS
Eliezer Situmeang,
Horas lae Ricardo
September 13th, 2009 at 7:20 amkalau saya lihat anda sebetulnya tidaklah begitu menguasai tentang masalah tarombo, melainkan anda hanya mengikuti suatu pendapat saja yang anda yakini kebenarannya. Pendapat tersebut juga belum tentu benar adanya. Apalagi terkesan baru disosialisasikan pada abad kemarin oleh beberapa orang tokoh saja.
Kami-kami ini juga punya tarombo dan itu sudah diturunkan dari generasi kita terdahulu, hingga yang kami pegang saat ini adalah hanya sekedar meneruskan. Artinya sudah belasan generasi tertulis seperti itu. Yang pasti kami tidak punya keinginan untuk mengubah apalagi mencoba mengutak-atik catatan generasi awal hingga generasi terdahulu sebelum kita. Kita menghormati mereka generasi terdahulu yang kita tidak pernah bertemu Bapak moyang kita tercinta. Tentu saja jika kita meyakini bahwa pada awlanya martarombo dimulai oleh generasi I atau setidaknya pada awal generasi III sehingga data yang mereka punya masih kuat dengan adanya beberapa saksi hidup dan lingkungan yang mendukung pada masa itu.
Jadi menurut kami Tarombo itu bukanlah suatu catatan imaginatif atau rekayasa nenek moyang kita masa lalu. Akan tetapi jelas merupakan catatan sejarah silsilah langsung dari yang bersangkutan yang cukup akurat. Tentu saja bila kita meyakininya.
Dalam setiap urutan generasi tinggal melanjutkan saja, tidak perlu bahkan tidak boleh mengubah posisi di atasnya. Ingat bro, selain kita masih banyak keturunan lain yang sejaman dgn kita yang juga sama-sama meneruskan berdasarkan garis yang jatuh pada mereka. Mereka pun melakukan hal yg sama dengan kita, cuma berkewajiban meneruskan saja.
Tidak selamaya nama seorang Nenek Moyang akan dianggap sebagai marga, karena bisa saja nama marga baru resmi digunakan oleh nama seorang keturunannya setelah beberapa generasi. Bila nda lihat dalam skema pihon atau lingkaran marga Batak banyak koq seperti itu. Hal seperti itu lumrah koq, bukan hal yang aneh. Apalagi argumentasi anda dengan hanya berkaca pada nama daerah, hal itu malah membuat semakin terlihat kurangnya dasar pengetahuan anda tentang sejarah. Banyak koq nama daerah di Tapanuli yang mengacu pada nama marga yang dulu mendirikan tempat tersebut. Bahkan ada nama daerah yang justru marga yang bersangkutan faktanya kini hanya menjadi minoritas atau bahkan telah ditinggalkan sama sekali oleh mereka. Saya tidak perlu sebutkan nama-nama daerah tersebut, karena anda tentu sudah lebih tahu, bila anda juga kelahiran daerah Tapanuli.
Jadi saran saya kalau mau lebih akurat menyajikan data, anda kumpulkan dulu semua garis tarombo yang ada pada generasi sejaman dengan anda baik di daerah Sipoholon maupun yang sudah beredar di semua generasi di luar. Lalu anda bandingkan dan lihat dimana adanya perbedaan mendasar pada masa awal dimulainya tarombo garis dari Raja Sipoholon. Dari situ baru bicarakan usul anda untuk mengubahnya bila memang ada temuan fakta yang benar-benar bisa dipertanggungjawabkan. Kita-kita pun setuju aja nya mengubah bila memang fakta yang ditemukan benar dan didukung catatan sejarah yang bisa dijadikan referensi ilmiah.
Jadi bukan berdasarkan pendapat pribadi semata, lalu coba untuk mengubah pandangan umum yang sudah lazim diketahui sekian generasi hingga saat ini. Ingat bro, tarombo yang ada sekarang ini sudah beredar dan berkembang lebih dari 6 abad. Perubahan yang ada hanya sebatas penambahan generasi ke bawah, bukan pengubahan generasi masa awal. Dan satu lagi bukan hal yang mudah utk melacak data pada masa lalu tanpa mengadakan penelitian khusus ke Bona Pasogit dengan menggunakan pengetahuan membaca tulisan aksara Batak kuno dan riset metode ilmiah. Bila anda sudah melakukan hal tersebut dan telah mendapatkan datanya, silakan dipublikasikan lengkap dengan sumber data primer yang anda pelajari dan jadikan referensi. Bila perlu nanti adakan simposium keluarga besar keturunan Toga Naipospos dengan mengundang para pakar adat dan perwakilan keturunannya agar bisa diubah secara massal dari hasil temuan anda tersebut.
Kami tunggu hasil dari penelitian anda dengan penuh harapan agar kebenaran masa lalu dapat diluruskan bila memang ada kesalahan yang mungkin saja terjadi pada masa lalu. Selamat meneliti lae…
Kami senantiasa mendukung anda….
Horas ..mauliate Godang…
Ricardo Parulian Sibagariang,
@Eliezer Situmeang
Horas.
Sebelum kita panjang lebar, saya ingin tahu kenapa, Saudara Eliezer Situmeang memanggil saya dengan sebutan “LAE”. Karena kalau ditarik dari garis keturunan Raja Naipospos, kita adalah yang mardongantubu. Jadi setidaknya sapaan antara kita adalah dengan sebutan “AMPARA (baca: appara)” sebelum saya mengetahui seluk-beluk sapaan “LAE” tersebut.
Baiklah saya akan mulai menjawab pertanyaan dari Ampara Eliezer Situmeang.
Ampara, terlebih dahulu saya mengucapkan terimakasih atas penilaian dari Ampara. Tapi ada hal yang perlu saya tambahkan yaitu kepintaran adalah bersifat relatif.
Betul memang bahwa berbagai kisah ini adalah dari beberapa tokoh yang bukan hanya dari marga Sibagariang saja. Tentu pula kita tak perlu menyangkal hal itu karena siapa pun tahu bahwa tarombo itu bersifat turun-temurun. Siapakah saya manusia biasa ini, sehingga hal mengenai tarombo mungkin dapat saya ketahui sendiri?
Benar Amparaku, saya dongantubumu ini lahir dan dibesarkan dan hingga saat ini masih di daerah Tapanuli.
Amparaku saya perlu meralat apa yang dikatakan Ampara yaitu saya bermaksud untuk mengubah tarombo Naipospos.
Saya dengan tegas mengatakan bahwa saya mengutarakan tarombo Naipospos pada awalnya dan yang benar itu bahwa Raja Naipospos mempunyai lima orang putera yaitu Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.
Perhatikan dengan saksama penggalan artikel di atas yang merupakan pengalaman pribadi Haran Sibagariang (Kepala Negeri Huta Raja) sebagai berikut ini.
Sekarang saya kembali bertanya kepada Ampara. Berikan bukti bahwa Toga Sipoholon itu adalah manusia dan merupakan salah satu putera Raja Naipospos!
Saya tidak dapat membuktikan bahwa Toga Sipoholon itu benar adanya sebagai salah satu putera Raja Naipospos tetapi saya dapat membuktikan bahwa Toga Sipoholon itu bukanlah salah satu putera Raja Naipospos melalui berbagai fakta yang ada di tengah-tengah kita. Fakta-fakta itu sudah saya jelaskan pada artikel-artikel tulisan saya pada NAIPOSPOS ONLINE ini. Jadi bukan hanya pada satu artikel ini saja. Saya pun merasa tak perlu mengulang-ulangnya.
Sekarang, silahkan Ampara membaca semua artikel-artikel, tanggapan, dan jawaban saya pada NAIPOSPOS ONLINE ini dengan hati dan pikiran yang tenang. Karena apa pun yang kita lakukan tanpa hati yang terbuka (roha naungkap), apa pun yang kita dapat dari orang lain tidak akan masuk akal. Meskipun itu semuanya benar seratus persen.
Sekarang coba Ampara baca tanggapan yang saya salin berikut mengenai tarombo Naipospos. Mungkin, Ampara belum pernah membaca tanggapan berikut yang datang pada saya ini. Kebetulan pula berasal dari marga Situmeang. Semoga dapat menjadi bahan pertimbangan.
Tanggapan I dari Sugeng Situmeang dari pranala http://www.naipospos.net/?p=82#comment-1102
Tanggapan II dari Julianto Situmeang dari pranala http://www.facebook.com/topic.php?uid=70180594496&topic=9213
Kesimpulan
Untuk mengetahui kebenaran dan keasliannya, silahkan diklik pranala yang saya cantumkan di atas.
Yang perlu kita ingat pula, sebagai umat Kristiani yaitu mari kita pegang dan amalkan perkataan yang terdapat dalam Kitab Suci, yakni.
I Tesalonika 5:21
Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik.
Belum tentu segala sesuatu yang kita baca, dengar, atau pun lihat selama ini adalah benar. Bahkan yang kita dapat dari orangtua kita sendiri pun. Oleh karena itu, ada baiknya kita menguji semuanya itu dan memegang yang benar.
Amparaku, mari kita menguji tarombo Naipospos yang Ampara ketahui selama ini dengan yang Ampara dapat ketahui dari saya.
Contohnya. Apakah Ampara pernah mendengarkan marga Sipoholon? Tentu tidak bukan. Jadi, seandainya Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera, mengapa marga Sipoholon tidak ada sedangkan marga Marbun ada? Malah yang ada adalah marga Naipospos.
Itulah salah satu contoh pengujian, Ampara. Dan masih banyak lagi.
Semoga penjelasan saya di atas dapat menjawab pertanyaan dari Ampara Eliezer Situmeang.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
September 15th, 2009 at 5:27 pmhardi hutauruk,
Horas.
Molo Ompunta Naipospos boi taboto/tarboto mangalap boru ni raja i Raja Pasaribu, ra tarjalo roha do da ingkon botoon ta ma nian boru ni ise diririt Toga Sipoholon suang songoni nang Toga Marbun ?
Lapatanna hatorangan namangkatahon Tg. Sipoholon nang Tg.Marbun anak ni Naipospos hurang gogo do molo mangihuthon pasal i.
Alani niharingkothon do di angka dongan/ampara/amang namanghatahon dua ank ni Naipospos asa olo mangalului hatorangan namardomu tusi, asa gabe diskusi na manghorhon hadengganon on lumobi di hita angka pinompar ni Naipospos.
Botima.Mauliate
September 17th, 2009 at 8:28 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@Hardi Hutauruk
Horas.
Mansai toho do na ni dokmuna i, Amparangku Hardi Hutauruk.
Ya memang, kalau kita bertahan dengan pendapat yang mengatakan Raja Naipospos mempunyai 2 putera, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun; atau pun Toga Marbun dan Toga Sipoholon, haruslah disertai bukti nyata. Bukti yang dimaksud bukanlah harus dalam bentuk benda berupa tulisan-tulisan kuno tetapi bisa saja realita atau fakta yang terjadi di tengah-tengah kita.
Saya beri contoh untuk menambahi yang dikatakan Ampara Hardi Hutauruk.
Bagi mereka yang bertahan dengan pendapat yang mengatakan Raja Naipospos mempunyai 2 putera, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun; atau pun Toga Marbun dan Toga Sipoholon, haruslah disertai bukti nyata, yaitu:
Selam hal-hal tersebut tidak dapat terjawab maka marilah untuk tidak selalu bersih-keras dengan pendapat yang salah (manjogal) bagi kita yang masih manjogal.
Jujur, saya sendiri pun pernah menganggap bahwa Raja Naipospos itu mempunyai 2 putera. Setelah saya uji, ternyata anggapan saya itu salah. Sehingga timbul keheranan saya dengan beberapa keturunan Naipospos yang selalu bertahan dengan kesalahannya meskipun tak ada bukti penguat yang dapat diberikannya. Apakah karena ketidaktahuannya atau bodoh atau malu mengaku kesalahannya atau malu mundur dari pendapatnya yang salah atau memang dasar yang tinggi hati alias egois alias siginjang roha. Saya jadi bingung.
Oleh karena itu, marilah kita untuk selalu menguji apa yang kita ketahui selama ini dengan apa yang kita dapat dari orang lain. Siapa tahu, melalui orang tersebut kita diberikan TUHAN kesempatan untuk memperbaiki yang kita ketahui selama ini.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
September 21st, 2009 at 2:59 pmhh,
@Amara Ricardo Parulian Sibagariang
Horas ampara, apa kabar?
…Belum tentu segala sesuatu yang kita baca, dengar, atau pun lihat selama ini adalah benar. Bahkan yang kita dapat dari orangtua kita sendiri pun. Oleh karena itu, ada baiknya kita menguji semuanya itu dan memegang yang benar.
Ampara, kalimatmu ini berlaku juga untuk pendapatmu itu ampara. Belum tantu apa yang ampara baca, dengar, ataupun lihat belakangan ini adalah benar. Bahkan yang kita dapat dari orangtua kita sendiripun.
Sesuai dengan saran ampara yang sampai mengutip ayat Alkitab itu, agar menguji semuanya dan memegang yang benar (kalau di Alkitab, yang baik), kami2pun yang menganggap bahwa putra dari Naipospos adalah Marbun dan Sipoholon atau sebaliknya sedang manguji dan terus menguji akan hal mana yang benar.
Karena itu, terlalu dini ampara mengatakan bahwa kami kami yang belum menerima pendapatmu itu bahwa anak2 Naipospos adalah empat ditambah satu, adalah manusia manusia yang manjogal atau siginjang roha yang malu mengakui kesalahannya.
Sedikit tanggapan atas pertanyaan ampara:
1. Bagaimana kisah hidupnya?
=>Tidak semua orang tertulis kisah hidupnya ampara.
2. Siapakah isteri Toga Sipoholon (boru aha na nialap ni Toga Sipoholon)?
=>Sabar donk ampara, mungkin belum ketemu. Hehehe.
Kalau hal ini tidak diketahui, memang sedikit menguatkan pendapat ampara itu. Tetapi, kalaupun tidak ditemukan, masih ada data yang lain yang boleh kita pertimbangkan. Misalnya data tentang daerah yang bernama Sipoholon.
3. Dimana perkampungannya dan dapatkah memberi bukti bahwa adanya bukti-bukti fisik (contoh: sumur pemandian atau mual) yang dapat memberikan bukti bahwa daerah tersebut adalah perkampungannya?
=>Bukankah daerah Sipoholon ada dan ada sampai sekarang? Sekalipun tidak rinci dengan sumur pemandian, mungkin karena beliau tidak memilikinya.
Tolong dijelaskan sedikit ampara, mengapa ada daerah yang bernama Sipoholon itu. Mungkin ampara sudah pernah menuliskannya, tetapi saya belum sempat mencarinya. Sudilah kiranya menuliskannya disini kembali.
4. Mengapa marga Sipoholon tidak ada sedangkan marga Marbun ada dan bahkan marga Naipospos lah yang ada?
=>Marga Marbun itu tidak ada ampara. Yang ada adalah Lumbangatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol. Kalau ada yang memakai marga Marbun, itu adalah kemauannya sendiri. Dan yang berhak memakai Marbun tidak terbatas satu marga saja, tetapi dari ketiga marga itu ada yang memakainya, walau umumnya yang memakai adalah Banjarnahor.
5. Mengapa sampai saat ini tak ada punguan Toga Sipoholon di bona pasogit atau pun tugu Toga Sipoholon atau pun pesta yang berhubungan dengan Toga Sipoholon di bona pasogit?
=>Tergantung kepentingan ampara. Kalau kita runutpun ke atas, mengapa tidak ada punguan Siraja Tunggul orangtua dari Si Raja Sobu, Si Raja Sumba, dan Si Raja Naipospos.
Karena memang hal pada point ke-5 ini pernah ingin dilaksanakan di bona pasogit oleh partarombo na pamalomalohon (sok tahu-menahu tarombo yang benar), tetapi ditentang keras oleh orangtua di Sipoholon.
=>Unang manigor menghakimi ho ampara mandokkon halakan na pamalomalohon. Kalau memang tidak diterima usul itu, adalah hal yang wajar.
Horas
September 30th, 2009 at 12:01 pmHendry Lbn Gaol,
Seperti sebelum-sebelumnya….
Unang sai tapakke HATA ni BIBEL i, tu urusan sisongoni, ai adong pe BIBEL i dataung naeng tu tarombo i. Bibel ya bibel, tarombo ya tarombo.
Unang songon tetangga an, dibaen HATA NABADIA patigorhon parniulaanna….mardosai hita!!
Sahali nai appara sidoli, hahapartubu Rikardo Sibagariang, unang sai enet hata ni bibel i menguhumi dongantubum!!. Ai au pe huboto do godang hata ni BIBEL alai mulai sian na hboto MANJAHA sahat tu saonari on, dang hea hupakke hata ni Tuhan i. Boi bereng appara ise au sian sude tulisan-tulisanhu di BLOG ni dongan, di milis nang di BLOGhu sandiri. Datung naso huboto i sude
Hendry Lbn Gaol
September 30th, 2009 at 5:45 pmKoor AMA HKBP Cikarang
http://www.latteung.wordpress.com
http://www.latteung.multiply.com
Ricardo Parulian Sibagariang,
@hh
Horas juga, Ampara.
Syukur pada TUHAN, kabar saya baik-baik selalu dalam lindungan Tuhan Yang Mahakuasa.
Kembali nongol lagi ya, Ampara. Tetapi tetap dengan nama samaran “hh”. Tak tahu apa sebabnya. Jadi penasaran nih.
Betul Amparaku, “menguji” yang saya maksud berlaku untuk seluruhnya. Termasuk yang saya ketahui. Oh ya Ampara, Paulus menekankan hal itu adalah kepada Timoteus pada waktu itu dalam menghadapi berbagai ajaran sesat masa itu. Menguji yang diketahuinya dan yang juga yang berasal dari orang lain. Agar setiap orang mampu mempertanggungjawabkan imannya sedangkan orang lain mulai menebarkan teori-teori lain yang bila diuji ternyata adalah tidak benar karena tidak mempunyai fakta.
Mis: Para rasul menyakini dan saksi hidup penyaliban dan kebangkitan dan kenaikan Yesus Kristus, tetapi yang “pamalomalohon” dan mendengarkan roh kesesatan itu mulai menyesatkan dengan melikukan kisah yang benar dan pada awalnya dengan menyangkal bahwa Yesus itu tidak pernah disalib dan tidak mengakui ke-Allahan Yesus.
Kita beralih ke tarombo Naipospos, terimakasih jika Ampara mau mengujinya.
Amparaku, tarombo Naipospos yang saya tuliskan ini semua bukanlah pendapat. Semua yang saya tuliskan ini adalah pernyataan secara umum dari tetua marga di bona pasogit Naipospos. Pernyataan yang bukan hanya holan hata tapi ada bukti nyata (fakta) yang dapat lagsung kita lihat semua.
Bona pasogit Naipospos adalah DOLOK IMUN, Huta Raja.
Laho jo antong hamu sahalisahali tu Huta Raja, Ampara. Molo porlu mangkatai jo hamu dohot angka hita na mardongantubu disi. Unang ma jo tu Sibagariang, tu Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, manang tu Marbun. Adong do di hutanta marga Marbun. Asa diboto hamu jo Ampara, na roharohangku sandiri do manurat on manang ndang. Ndung i rimangrimangi hamu ma tangkas.
Toho do i, Ampara. Saya ada menyinggung perkataan “sijogal baut”. Kalau Ampara merasa, ya silahkan saja. Perlu saya tekankan, siapa pun yang membaca seluruh isi NAIPOSPOS ONLINE ini dengan sikap netral akan mengatakan yang bertahan mengatakan Raja Naipospos itu mempunyai dua putera adalah sijogal baut atau pun sijogal rungkung. Beberapa penulis telah menguraikan secara lengkap bukti-bukti yang mengatakan Raja Naipospos mempunyai lima putera, datang yang hanya baru-baru belajar tarombo menyanggah tanpa bukti. Tetapi tetap bertahan, ya apalagi namanya kalau bukan sijogal baut?
I ma jo tusi.
Sekarang saya akan kembali menyanggah jawaban Ampara dan saya tunggu sampai mana kata terakhir jawaban Ampara. Maaf terlebih dahulu.
Berikut sanggahan saya yang bercetak tebal.
1. Bagaimana kisah hidupnya?
=>Tidak semua orang tertulis kisah hidupnya ampara.
Tulisan saya ini pun Ampara, pada awalnya adalah secara lisan. Belum pernah saya mendapat tulisan kunonya dalam bentuk pustaha laklak menggunakan Surat Batak. Kepala Negeri Huta Raja pun menulisnya dalam tulisan sederhana dan sekarang saya tulis pada situs ini. Sekarang apa kisah secara lisan yang didapat Ampara, coba dituliskan. Supaya saya tahu menyanggahnya. Unang holan sitau jala unang holan hata.
2. Siapakah isteri Toga Sipoholon (boru aha na nialap ni Toga Sipoholon)?
=>Sabar donk ampara, mungkin belum ketemu. Hehehe.
Kalau hal ini tidak diketahui, memang sedikit menguatkan pendapat ampara itu. Tetapi, kalaupun tidak ditemukan, masih ada data yang lain yang boleh kita pertimbangkan. Misalnya data tentang daerah yang bernama Sipoholon.
Coba Ampara tanya orang tua keturunan Naipospos di Sipoholon tentang asal-mula nama Sipoholon. Pasti mereka kan katakan berasal dari kata “sipohulon” pada masa pembuatan hudon tano. Mereka yang paham betul tentang Sipoholon tak akan pernah mengatakan berasal dari nama ompu i.
3. Dimana perkampungannya dan dapatkah memberi bukti bahwa adanya bukti-bukti fisik (contoh: sumur pemandian atau mual) yang dapat memberikan bukti bahwa daerah tersebut adalah perkampungannya?
=>Bukankah daerah Sipoholon ada dan ada sampai sekarang? Sekalipun tidak rinci dengan sumur pemandian, mungkin karena beliau tidak memilikinya.
Tolong dijelaskan sedikit ampara, mengapa ada daerah yang bernama Sipoholon itu. Mungkin ampara sudah pernah menuliskannya, tetapi saya belum sempat mencarinya. Sudilah kiranya menuliskannya disini kembali.
Sudah saya tulis pada artikel di atas Ampara, tentang asal-mula nama Sipoholon. Kok belum sempat mencarinya? Menna Amparangku, unang pintor pajagojagohoniba mandok hata ni halak ndang toho hape luhutna na nidokna pe ndang haru tinangihon (jinaha) sude.
4. Mengapa marga Sipoholon tidak ada sedangkan marga Marbun ada dan bahkan marga Naipospos lah yang ada?
=>Marga Marbun itu tidak ada ampara. Yang ada adalah Lumbangatu, Banjarnahor, dan Lumbangaol. Kalau ada yang memakai marga Marbun, itu adalah kemauannya sendiri. Dan yang berhak memakai Marbun tidak terbatas satu marga saja, tetapi dari ketiga marga itu ada yang memakainya, walau umumnya yang memakai adalah Banjarnahor.
Eits, berdosa Ampara mengatakan marga Marbun itu tidak ada. Jangan sekali-kali membodoh-bodohkan diri. Sepanjang salah satu nama nenek moyang suku bangsa Batak terletak atau ada atau digunakan pada nama belakangnya, itu adalah marganya. Ya, kalau kemauannya sendiri dan tak ada melarang, berarti benarlah marga Marbun itu benar adanya. Sekarang, apa pernah Ampara dengar orang memakai Sipoholon pada namanya sekaligus menjadi marganya? Tolonglah diberitahu kalau ada. Soalnya saya belum pernah dengar tuh, Ampara. Tapi saya yakin itu tak kan pernah ada. Sekarang muncul pertanyaan: Masakkah saya melangkahi bapak saya dan menjadikan marga saya nama kakek saya. Karena yang kita lihat yang ada adalah marga Naipospos dan bukan Sipoholon. Berarti bapaknya Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang dan Marbun adalah Naipospos.
5. Mengapa sampai saat ini tak ada punguan Toga Sipoholon di bona pasogit atau pun tugu Toga Sipoholon atau pun pesta yang berhubungan dengan Toga Sipoholon di bona pasogit?
=>Tergantung kepentingan ampara. Kalau kita runutpun ke atas, mengapa tidak ada punguan Siraja Tunggul orangtua dari Si Raja Sobu, Si Raja Sumba, dan Si Raja Naipospos.
Hei, Ampara. Sotung dibege halak alusmuna on, maila hita. Ai dohonon ni halak do annong: Ai naloahon do huroha ho. Ampara, bukankah keturunan si Raja Sumba, Raja Sobu, dan Raja Naipospos itu sudah banyak. Jadi kalau keturunan tiga ompu ini disatukan di bona pasogit dalam satu pesta, ndang na laho hasiatan be i da. Molo adong pe partangiangan di jabu ndang na laho hasiatan be di jabu i. Jolo sitalapan ma jabuniba ra ate. Tapi kalau kita katakan di luar negeri hal-hal seperti ini dibentuk sah-sah saja. Orang Batak di luar negeri bukan sebanyak di bona pasogit, toh. Saya ambil contoh. Di Eropa itu ada perkumpulan atau pun persatuan antar keturunan Raja Batak atau pun yang termasuk bangso Batak. Ba molo holan Naipospos sajo do dibahen punguanna di Eropa, ai ndang nanung palobilobihon hita disi? Jadi unang tarungrangi na so dung, tapareahi na so ada. Punguan ni Naipospos adong. Punguan ni Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, nang Marbun pe adong. Boasa punguan ni Sipoholon ndang adong di bona pasogit. Berarti dari jawaban Ampara ini, seolah-olah Ampara menyalahkan atau pun membodohkan orang tua marga Naipospos yang ada di Sipoholon yang menolak adanya punguan Toga Sipoholon.
Karena memang hal pada point ke-5 ini pernah ingin dilaksanakan di bona pasogit oleh partarombo na pamalomalohon (sok tahu-menahu tarombo yang benar), tetapi ditentang keras oleh orangtua di Sipoholon.
=>Unang manigor menghakimi ho ampara mandokkon halakan na pamalomalohon. Kalau memang tidak diterima usul itu, adalah hal yang wajar.
Saya tegaskan. Saya bukan menghakimi tetapi mengingatkan agar kita tidak termasuk diantaranya yang pamalomalohon itu padahal sebenarnya adalah masih pemula dalam mempelajari tarombo Naipospos dan lebih baik mananginangi.
Semoga penjelasan saya ini dapat menjawab pertanyaan Ampara. Saya dengan setia akan menunggu jawaban dari Ampara sekaligus menyanggahnya. Perlu pula saya tambahkan karena pada waktu-waktu sebelumnya pun kita pernah berdiskusi akan akan hal ini tetapi jika Ampara tidak mau percaya, ndang marutang hosa be ahu tu hamu.
Ai nunga hupaingot, molo hamu do na so olo, hamu ma na sari disi. Mardabudabu tu dirimuna ma hamu. Ndang adong be sidalianmuna sogot di ari paruhuman i na sai mampartahanhon pandapot muna na sala i.
Ingat ini tidak menyangkut satu dua orang saja. Tetapi menyangkut beribu-ribu keturunan Raja Naipospos.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
September 30th, 2009 at 6:06 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@Hendry Lbn.Gaol
Horas, Ampara.
Salam damai sejahtera,
Terimakasih atas pernyataan Ampara Hendry Lbn.Gaol.
Nunga ningku sai lalap:
Saya rasa tak perlu dipersoalkan mengenai penggunaan ayat-ayat suci dari Alkitab pada artikel-artikel tulisan saya. Terserah Ampara mau katakan kepentingan atau apalah karena saya menggunakan ayat-ayat Kitab Suci agama Kristen.
Saya agama Kristen tentu saya menggunakan ayat kitab suci agama saya. Tujuan saya hanya satu dengan menggunakan ayat-ayat Kitab Suci adalah semoga dapat mengetuk hati dan pikiran kita dan terutama menghancurkan kedegilan hati kita.
Lagi pula, TUHAN tidak melarang perkataan-Nya kita gunakan asal demi tujuan yang baik dan demi memuliakan nama-Nya.
Hea do dijaha Ampara na diunjuni Tuhanta Jesus di parhorsian (padang gurun)? Yesus mengalahkan iblis dengan firman yang ada pada Kitab Suci.
Saya beritahu sedikit bocoran ya Ampara, biasanya dan secara umum, iblis amat tidak suka diberi ceramah, nasihat, apalagi yang berbau firman Allah.
Ok, Ampara?
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Mauliate.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
September 30th, 2009 at 6:27 pmhh,
Ida ma nei,,,nunga mamintor haruar muse hata pajago jagohon,,,,,,,,,ndang niantusan be i. Denggan do mangido iba asa surathonon ni ampara di kolom komentar on, aut tung dia nunga hea i di surathon ampara. Molo so boi surathonon ni ampara dison, ba luluan do.
Mauliate.
October 1st, 2009 at 4:20 amRicardo Parulian Sibagariang,
@hh
Horas.
Mauliate ma Ampara, di saluhutna hatamuna i.
Ndang na so ra nian ahu manurat panorangionku taringot tu mula ni goar Sipoholon pada bagian komentar ini. Tetapi alangkah baiknya Amparaku langsung membaca pada isi artikel di atas. Karena takutnya, bahwa nantinya apabila itu dipilah-pilah menjadikan isinya tidak berkesinambungan. Pada artikel di atas hal tersebut sudah dijelaskan.
Ampara ma na sari disi, naeng manjaha manang ndang. Jala mauliate hudok molo adong sangkapsangakap ni roha ni Ampara mangalului turiturian na hombar tu tarombonta Naipospos.
Sai saut ma na taanganangan, dapot na jinalahan, hombar tu lomo ni roha ni Tuhanta.
Horas jala gabe.
Mauliate.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
October 2nd, 2009 at 1:15 pmhh,
Molo so ra, unang manigor haruar hata na “pajago-jagohon” i appara. Mardomu tu kutipan ni ampara sian na tarsurat i, “Nadenggan i ma tiop hamu”, molo dung tiniop nadenggan, nadenggan i do tontong haruarhononton. Ua tung manat hita marsipatingkosan, boha huroa?
October 2nd, 2009 at 5:31 pmHoras.
Ricardo Parulian Sibagariang,
@hh
Benar Ampara, saya ada mengatakan pajagojagohon. Tetapi bukan tanpa sebab lho Ampara, saya berkata demikian.
Berikut penggalan jawaban saya yang mengandung kata pajagojagohon tersebut yang saya copy-paste pada jawaban saya sebelumnya yang Ampara persoalkan.
Nah Ampara, sudah jelaskan siapa yang saya katakan pajagojagohon itu dan apa sebabnya. Lagi-lagi saya ulangi:
Kalau Ampara merasa, ya silahkan saja. Perlu saya tekankan, siapa pun yang membaca seluruh isi NAIPOSPOS ONLINE ini dengan sikap netral akan mengatakan yang bertahan mengatakan Raja Naipospos itu mempunyai dua putera adalah pajagojagohon. Beberapa penulis telah menguraikan secara lengkap bukti-bukti yang mengatakan Raja Naipospos mempunyai lima putera, datang yang hanya baru-baru belajar tarombo menyanggah tanpa bukti yang seharusnya masih harus sitau mananginangi. Tetapi tetap bertahan, ya apalagi namanya kalau bukan pajagojagohon? Asal-mula nama Sipoholon suda saya jelaskan pada artikel di atas, ngotot mau minta ditulis ulang. Bukan berlebihan namanya itu?
Terimakasih atas saran dari Ampara. Semoga dapat selalu saya terapkan.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Mauliate.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
October 6th, 2009 at 3:52 pmhh,
@ Ampara Rikardo
Kalau Ampara merasa, ya silahkan saja.
=> Ndang na merasa au appara, na hupangido holan ondo, unang sai manigor haruar hata na hurang tabo begeon. Molo tungpe na pajago jagohon angka hami na mansuba mandok nahuantusi hami taringot tu tarombo i, unang sai patullom hu mandok napajago jagohon. Ido maksudhu.
__________________
Perlu saya tekankan, siapa pun yang membaca seluruh isi NAIPOSPOS ONLINE ini dengan sikap netral akan mengatakan yang bertahan mengatakan Raja Naipospos itu mempunyai dua putera adalah pajagojagohon.
=> Pajolohu do ampara mandok sisongon on.
Angka Hatorangan-hatorangan naung nisurathon ni ampara di situs on, jala di klaim ampara i na gabe sada bukti, au mandok ndang sada bukti dope i, alai sibuktihononhon dope.
Alai molo dung satolop do hita saluhutna pomparan ni Naipospos di pandapot mi ampara, jala di “sahkan” mardongan sipanganon, alai sai tong dope dipansonsothon pandapotna holan laho manggugai, ba, terserah ampara ma, molo naeng dohononmu pajago jagohon, ba dok. Alai tong do hurang tepat i.
___________
Beberapa penulis telah menguraikan secara lengkap bukti-bukti yang mengatakan Raja Naipospos mempunyai lima putera,
=> Ondo na hudok ampara, na nidok ni ampara sada bukti na lengkap, hurang tepat dope i, alana tong dope sibuktihononhon i, alana holan pandapot dope i.
__________
datang yang hanya baru-baru belajar tarombo menyanggah tanpa bukti yang seharusnya masih harus sitau mananginangi. Tetapi tetap bertahan, ya apalagi namanya kalau bukan pajagojagohon?
=>Sian dia huroa taboto na baru marsiajar dope sasahalak jolma i di tarombona?
____________________
Asal-mula nama Sipoholon suda saya jelaskan pada artikel di atas, ngotot mau minta ditulis ulang. Bukan berlebihan namanya itu?
=>Patuduhon ma jo ampara, didia do na nidokmu ngotot manang marjugul asa surathonon ni ampara muse?
Mauliate.
October 11th, 2009 at 11:28 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@hh
Terimakasih atas masukannya, Ampara. Semoga Yang Mahakuasa menguatkan kita untuk dapat melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Baiklah kalau begitu Amparaku, mari kita saling menguji atau pun membuktikan yang kita ketahui tanpa ada sikap egoisme.
Semoga seluruh rencana kita dikabulkan Yang Mahakuasa kelak tepat pada waktunya dan sesuai dengan kehendaknya.
Terimakasih.
TUHAN memberkati, Amin
October 12th, 2009 at 7:26 pmhardi hutauruk,
Horas.
Salam Naipospos.
@admin
Taringot Silsilah ni Hutauruk :
Adong pandapot sian hami taringot di pasal on :
Ia di silsilah naung tarsurat anak ni O.Raja Nasumurung di Silsilah naung adong,1.O.Sohajoloan 2.Dt Jarangar 3.Op Sotagamon.
Ia mangihuthon naung huboto hami, no.2:O.Sotagamon jala no.3 : Dt.Jarangar.
Husurat hami pe on,datung namandok pandapot nami na sintong,alai manang na beha adong sala manurathon,jala ala dg haru huantusi hami sasintong na silsilah on,namarlapatan mai asa dipatingkos hamu angka natua-tua nami pangantusion nami on,
Mauliate
October 18th, 2009 at 11:16 pmMaridup Hutauruk,
@Hardi Hutauruk:
October 21st, 2009 at 7:03 pmKhusus Tarombo Hutauruk Ompu Nasumurung dipetik dari Buku “Barita Ni Dt. Jarangar & Pomparanna” Pinature Ni Drs. Muara Hutauruk, tertanggal 31 Maret 1997, dan juga telah dikonsultasikan dengan Saidi Hutauruk HP: 081380807241.
hardi hutauruk,
@ Maridup Hutauruk
Horas,
Mauliate hatorangan ni halak amang (songoni majolo partuturanta ,paima tapatangkas be),jadi saleleng so adong sanggahan sian naasing,lumobi molo martutur/martarombo di website on natupa di silsilah Naipospos Online on ma taihuthon molo pandapot nami.
NB: Lumban Baringin no 14.
Mauliate Godang
October 22nd, 2009 at 10:20 amhardi hutauruk,
@ Maridup Hutauruk
Horas,
Mauliate hatorangan ni halak amang (songoni majolo partuturanta ,paima tapatangkas be),jadi saleleng so adong sanggahan sian naasing,lumobi molo martutur/martarombo di website on natupa di silsilah Naipospos Online on ma taihuthon molo pandapot nami.
NB: Ahu Lumban Baringin no 14.
Mauliate Godang
October 22nd, 2009 at 10:21 amMaridup Hutauruk,
@Hardi Hutauruk
Mauliate ma di anak niba. Boi do hamu berkomunikasi tu Saidi Hutauruk / Lumban Baringin-14, HP: 081380807241 Ketua Punguan Rayon-509 Jakarta Timur.
Ahu, Lumban Soit 13
October 23rd, 2009 at 12:34 pmDrs Parasian Simanungkalit SH,MH,
Salam Naipospos. Mengenai Tulisan munai diatas, nunga dibahas Punguan Pusat Toga Naipospos & Boruna di Jakarta tgl 8 Nop 09. Pertimbangan na songonon:
November 18th, 2009 at 9:55 am1. Sipoholon. Didok hamu ndang marga alai huta/luat. Di buku referensi tahun 1812, dibahas do disi di Tanah Batak, sai dibahen do goar ni namamukka huta ima goar ni namamukka huta i, misalna: Nainggolan, Panggagean, Hutauruk, Hutabarat, Simanungkalit, Malau, dll. Jadi analisa mandok Sipoholon huta, ndang toho i, ala Ompunta Toga Sipoholon do mamukka huta i, umbahen di bahen goar ni huta i Sipoholon.
2. Nunga dibahen angka ompunta partangiangan di taon 1933, di Sipoholon, disi dapot do dokumen na mandok: ia anak ni Toga Naipospos ima 1. Toga Sipoholon, dohot 2. Toga Marbun. Anak ni Toga Sipoholon ima: 1.Sibagariang, 2.Hutauruk. 3.Simanungkalit. 4.Situmeang. Anak ni Toga Marbun ima 1. Lumbanbatu, 2.Banjarnahor, 3.Lumban Gaol.
3. Ditaon 1983 tong do dibahen partangiangan di Pollung dohot Sipoholon, jala nunga dibahen Prasasti disi.
4. Ditaon 2008 nabaru salpu, tabahen do Partangiangan di Dolok Imun, huta ni ompunta Toga Naipospos, jala disi di pajongjong do Prasasti, jala digurathon do disi Anak ni Toga Naipospos.
5. Jadi ala ni i, ndang porlu be pembahasan Pinompar ni Toga Naipospos, songon nan ditulis hamu 5 anak ni Toga Naipospos, alai songon na surat diginjang i ma ta jalo.
6. Persatuan dan Kesatuan pinompar ni Toga Naipospos ingkon do ta pajolo, asa unang be mulak hita tu angka ninna situa tua, alai naung tarsurat di Referensi angka buku, dohot catatan ni ompunta di taon 1933 dohot Prasasti nadi Dolok Imun, ima pasadahon hita sude pinompar ni Toga Naipospos.
Horas ma di sude pinompar ni Toga Naipospos, na porlu beha do hita menyikapi tu Program Umum Punguan Pusat Toga Naipospos & Boruna ima :
1. Meningkatkan Sumber Daya Manusia.
2. Meningkatkan Pembangunan Bona ni Pasogit.
Mengenai Program on di inganan na lain pe di jelashon.
Mauliate ma. Ahu Brigjen Polisi (Pur) Drs Parasian Simanungkalit SH,MH. Ketua Umum Punguan Pusat Parsadaan Toga Naipospos & Boruna, di Jakarta. Alamat: Jln Iskandar Muda 31, arteri Pondok Indah, Kebayoran lama, Jakarta Selatan.
Leopold P. Sibagariang,
Salam sejahtera,
Salam persaudaraan dalam Naipospos!
Syukur kepada Allah, Sang Khalik, yang memberi berkat dan ridho kepada pomparan Raja Naipospos. Berkat-Nya menyuburkan sehingga banyak pomparan Naipospos menjadi terpelajar: sarjana, master bahkan doktor pada bidang masing-masing. Untuk itu, pomparan Naipospos yang sudah sangat terpelajar itu diharapkan memiliki insight (horizon) pemahaman yang lebih luas, tidak jatuh pada hitam putih atas padangan yang memeliki alasan-alasan yang mendasar dan masuk akal tentang tarombo. Orang terpelajar tidak terjebak pada pemikiran dogmatis belaka, mencampuradukkan perbedaan pemahaman dengan tujuan sehingga merusak persaudaraan namun melihat perbedaan dalam proses dialektika menuju kebenaran. Orang-orang terpelajar berani menguji fakta-fakta dalam mencari kebenaran. “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan!” (Mat. 5: 6).
Dalam proses mencari kebenaran tarombo Naipospos, ijinkan saya bertanya:
1. Apakah otomatis nama marga menjadi nama huta dalam parhutaan semua orang Batak masa lalu? Kalau demikian, mengapa tidak ada pomparan Naipospos memakai marga Sipoholon sedangkan marga Marbun memakainya? Adakah bukti peristiwa yang dialami oleh semua (yang katanya) keturunannya: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang?
2. Katanya, anak Naipospos dalam dokumen partangiangan mulai tahun 1933, termasuk prasasti partangiangan tahun 2008 yakni Toga Sipoholon dan Toga Marbun; atau Toga Marbun dan Toga Sipoholon. Apakah dalam tarombo Batak asli kedua hal itu bisa dipertukarkan, tanpa dilatarbelakangi oleh sesuatu, misalnya janji atau padan? Apakah itu disetujui oleh semua pomparan Naipospos, atau itu hanya dibuat oleh panitia karena pernah saya dengar bahwa partangian tak pernah menyangkut tarombo?
3. Apakah kita tidak sering mengatasnamakan keseluruhan padahal maksud kita sebagian?
Sebagai pomparan Naipospos, apa pun pandangan Saudara, bukan hanya tentang tarombo yang sangat menjungjung ikatan diantara kita, bahkan bisa menyangkut pandangan hidup, keyakinan dan bahkan pemahaman kultural yang beda tetapi yang paling fundamental. kita adalah bersaudara. Itu tidak bisa terbantahkan. Disitulah letak SDM yang handal. Pengembangan SDM bukan hanya pada materialisme: harta, jabatan, pangkat, titel, dll.(walaupun itu penting) tetapi terutama menyangkut spirit (roh) kemanusiaan yang holistik, menyeluruh. Martabat kemanusiaan kita tinggi, terhormat, dalam darah Batak kita satu, dalam pomparan Naipospos kita sama, apa pun pandangan kita. Karena itu, tak layak kita menapikan pandangan/warisan saudara lain padahal pandangan kita pun perlu uji!
Salam,
November 19th, 2009 at 6:00 pmHoras,
Damai sejahtera! Pace e bene!
Drs Parasian Simanungkalit SH,MH,
Salam Naipospos.
Mungkin saya berikan penjelasan tentang Toga Sipoholon. Pada waktu Toga Naipospos berada di Dolok Imun, Martuasame anaknya, datanglah membuka ladang di satu desa kecil yang kemudian diberi nama desa itu Sipoholon karena ceritra Ompu Martua same dan laporan ke ayah dan ibunya serta saudaranya Toga Marbun bahwa dia membuka ladang dan kampung di tempat yang tanahnya liat dan disebutnyalah desa itu Sipoholon. Sehingga nama Martuasame itu disebutlah Sipoholon. Karena anaknya 4 yaitu Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit dan Situmeang, yang kemudian membuka ladang dan desa di masing2 daerahnya, maka kalau akan bertemu sama ayahnya maka mereka katakan Marikita ke amang kita Sipoholon. Lama kelamaan maka nama Martuasame menjadi Toga Sipoholon. Demikian juga mengapa Martuasame bukan disebut salah satu marga, karena anak dari Toga Naipospos adalah Martuasame yang menjadi Toga Sipoholon karena mamukka huta didaerah tanah liat yang disebut Sipoholon. Ini juga yang bisa diterima, Jadi ini sebagai penjelasan. Dan semoga bermanfaat, serta terima kasih bila berkenan menerima. Dan saya tidak akan menanggapi lagi apa komentarnya mengenai ini. Horas ma,,,,
November 24th, 2009 at 3:16 pmhendry Lumban Gaol,
Sedikit mengomentari, merepon jawaban dari abangan da Leopold P. Sibagariang, berikut:
Ai marasing be do partuturan di manang piga luat di hitaan, di luat silindung, humbang dll. Molo di humbang, sandiri pe marasing do. Asing di marga A asing di Merga B. Adong do partuturon, na mandok ISE NA JUMOLO TUBU molo sada BAPA ima siHAHAAN, alai di luat na asing mandok INONG NISE do SIHAHAAN, ima gabe SIHAHAAN.
Adong dope na partuturon na humebat di luat nami, di tano Rambe. Ise na JUMOLO TUBU ido SIHAHAAN agia pe SADA MARGA, jadi dang marlaku NOMOR TAROMBO disi.
Taringot tu ise do sihahaan di TOGA NAIPOSPOS, dang haru rikkot be saonari disi abang, ala nunga mangingani luat na marasing hita, tontu sahali marasing ma partuturon. Alai bohama asa sada hita saluhutna.
Pengalaman di au sandiri, molo huida do attar poso, dope natuatua on, tor hujou do AMANGUDA, molo tu marga HTURUK, Situmeang, simanungkalit. ( Molo di marbun sandiri nunga pasti ise sihahaan).
Heado sappe sukkun-sukkun dongan ala sai DIJOU GURU HOTMA SIMANUNGKALIT, sahalak GURU HURIA NAPOSO di HKBP di JAKARTA, sai dijou iba ABANG,….Alai nialusan ma muse, dohot JOU-JOU ABANG!!….(mungkin godang do mananda abang Gr. Hotma Simanungkalit on, nang pe poso ala artis muse….hehehe)
Alai, ( adong CATATAN), alai dang hea dope IKLAS manjalo, molo hujou AMANGUDA tu marga SIBAGARIANG.
Na mangihut, boasa MARBUN dipakke marga, hape SIPOHOLON dang hea.
1. Molo di huta hatubuanhu di ONANGANJANG, dantung hea di pakke hami marga MARBUN, molo IBANA LBN GAOL, jala Inantai BANJARNAHOR. Lapatanna, ala nunga MARSIOLIAN na tolu marga on, gabe dang be di pakke MARBUN. Alai tutu, ditano PARSERAHAN, sai MARBUN do dibaen, asa SOLHOT partondongon.
2. Hal na sarupa do huhilala tu marga turunan ni opputta TOGA SIPOHOLON. Ai adong do namborukku, BORU SITUMEANG, OMAKNA boru SIMANUNGKALIT. Ra, di EBSITE on pe adong do tarjaha au, ia ibana HUTAURUK, alai namanubuhon BORU SIBAGARIANG,….mananng sebalikna. Sukkun, sukkun…TOPEK DOPE Baeon marga niba NAIPOSPOS manang SIPOHOLON?. Hal na sarupa. Alani aha do gabe sai marga Lumban GAOL hubaen?. Ala di surat-surathu ido dipakke, jala dung hutelusuri, alana OPPUNGHU boru Banjarnahor.
3. Mulai sian nandigan do MARSIOLIAN pomparan ni OPPUTTA TOGA SIPOHOLON ima marga na opat i??, mulai sian i ma ( RA ) dang dipakke amrga SIPOHOLON, manang NAIPOSPOS…
horas ma
Hendry Marbun Lumban Gaol
November 25th, 2009 at 6:19 pmhttp://www.latteung.wordpress.com...
Benny H Marbun,
Ndang umaloan hita dohot umbotoan hita sian angka ompunta naung mambahen partangiangan tahun 1933..HORAS..
November 25th, 2009 at 11:09 pmMaridup Hutauruk,
@Hendri Lumbangaol.
Molo di Naipospos maranggi ma jolo jouon hamu ake! ala a adong padanta i nang pe naung marsiolian margata.
Saotik naeng pahothon na nidok muna di point-2 na adong Hutauruk namanubuhon boru Sibagariang. Songon na so hea do pe hubege hami na masa songon i, alana sai dimemehon natuatua niba dohot natuatua Hutauruk do na apala tangkas do Sibagariang-Hutauruk marhaha-anggi na so boi marsiolian.
Molo tung pe adong songon na nidok muna i, ba na sala di adat ma i ate.
November 26th, 2009 at 6:36 amhendry Lumban Gaol,
Bah, ipe taho kakanda, dang haru du parsoalhon molo tung didok ho anggi tu au, ai ido partuturon i. Taringot tu alusmu molo adong marsibuatan na martinodohon, didok ho na SALA DI ADAT, dang tarjalo au i bah. Ai ikkon positip do i tapaikkiri, alani aha songoni….
Alai on ma kenyataan na ikkon jaloon, marsibuatan do pomparan ni opputta toga sipoholon, pomparan ni opputta toga marbun. Jadi dang tarbahen mamakke marga naipopos molo nunga masa songoni….
horas ma dihita saluhut
November 26th, 2009 at 9:13 amRicardo Parulian Sibagariang,
@Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H
Horas.
Yang terkasih Saudaraku Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H,
Salam kenal dan parhorasan dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang kepada Saudaraku sekeluarga Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H.
Selamat datang dan berkunjung di situs NAIPOSPOS ONLINE terkhusus pada artikel tulisan saya ini. Sungguh suatu kehormatan bagi saya menerima tanggapan dari Ketua Umum Punguan Raja Naipospos – Pusat. Sungguh suatu hal yang telah lama saya nantikan.
Mohon maaf Saudaraku, melihat tanggapan Saudaraku dalam situs ini; ada saran saya kepada Saudara yaitu hendaknya kita tampak orang yang berpendidikan dan sudah banyak pengalaman dalam hidup. Hal ini dapat terwujud dengan wawasan yang luas dan tidak picik dalam berpikir, berkata, dan berbuat.
Baiklah Saudaraku. Pada artikel SEMINAR RAJA NAIPOSPOS terdapat tanggapan Saudara Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera yang secara berurutan, yaitu: Marbun dan Sipoholon. Berikut ini petikannya.
Sedangkan pada artikel Benarkah Toga Sipoholon adalah putera Naipospos terdapat tanggapan Saudara Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sipoholon dan Marbun. Berikut ini petikannya.
Jelas pada pernyataan Ketua Umum Punguan Raja Naipospos – Pusat sendiri terjadi kontra.
Sekarang saya mengajak kita membaca kata sambutan Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H (Ketua Umum Punguan Raja Naipospos – Pusat) dalam tertib acara Jubileum 75 Taon Partangiangan Pomparan ni Raja Naipospos pada halaman 18 yang menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sipoholon dan Marbun. Berikut ini petikannya tanpa perubahan sedikit pun.
Saudaraku Ketua Pengurus Pusat Punguan Raja Naipospos, hendaknya kita janganlah plin-plan (bagai air di daun talas) alias tidak mempunyai pendirian yang tetap. Saya lepaslah dulu dengan persoalan berapa dan siapa putera Raja Naipospos sendiri. Saya berkata bahwa tarombo terkhusus mengenai hak sulung (sahala sihahaan) tidak bisa seenaknya digonta-ganti. Tahun lalu Saudara Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sipoholon dan Marbun. Selasa, 10 November 2009 Saudara Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera yang secara berurutan, yaitu: Marbun dan Sipoholon. Kemudian Rabu, 18 November 2009 Saudara Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sipoholon dan Marbun.
Emangnya, tarombo itu suka-suka kita????????????
Perlu pula saya tambahkan bahwa tak cukup hanya mengatakan bahwa si-anu merupakan sisulung (siangkangan). Tetapi harus ada bukti atau fakta yang dapat masuk akal.
Sesuai dengan pertanyaan dan pernyataan Saudara Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H yang telah dipertanyakan dan dinyatakankan maka saya pun akan menjawab dan menyanggahnya.
POINT KE-1
Saudara menyatakan bahwa:
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang:
POINT KE-2
Saudara menyatakan bahwa:
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang:
POINT KE-3
Saudara menyatakan bahwa:
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang:
POINT KE-4
Saudara menyatakan bahwa:
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang:
POINT KE-5
Saudara menyatakan bahwa:
Jawaban Ricardo Parulian Sibagariang:
Sekarang saya ada pertanyaan. Sudilah kiranya Saudara menjawabnya.
Saudara Brigadir Jenderal Polisi (Purn). Drs. Parasian Simanungkalit, S.H, M.H selaku Ketua Umum Punguan Raja Naipospos – Pusat dan yang mendukung bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 putera (Sipoholon dan Marbun), sudilah kiranya menjelaskan lebih rinci lagi mengenai kisah hidup Toga Sipoholon (kelahiran, perjalanannya, sifat dan sikapnya, kehidupan keluarganya, kematiannya) dan tolong dijelaskan mengapa Parsadaan Toga Sipoholon tidak terbentuk. Padahal punguan Naipospos ada dan Saudara sebagai Ketua Umum Pusat saat ini; punguan Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun pun ada.
Perlu pula saya tekankan sabda dalam Kitab Suci yang berkata
Ujilah segala sesuatu dan peganglah yang baik. (I Tesalonika 5:21)
dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. (Efesus 5:10)
Belum tentu segala sesuatu yang kita baca, dengar, atau pun lihat selama ini adalah benar. Bahkan yang kita dapat dari orangtua kita sendiri pun. Oleh karena itu, ada baiknya kita menguji semuanya itu dan memegang yang benar.
Saudaraku, mari kita menguji tarombo Naipospos yang Saudara ketahui selama ini dengan yang Saudara dapat ketahui dari saya.
Contohnya. Apakah Saudara pernah mendengarkan marga Sipoholon? Tentu tidak bukan. Jadi, seandainya Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera, mengapa marga Sipoholon tidak ada sedangkan marga Marbun ada? Malah yang ada adalah marga Naipospos.
Itulah salah satu contoh pengujian, Saudara. Dan masih banyak lagi.
Sungguh hal-hal inilah yang perlu kita lakukan dalam menyatukan persepsi mengenai tarombo Naipospos. Jikalau tidak, maka tak perlulah bermimpi apalagi mewujudkan penyatuan persepsi mengenai tarombo Naipospos dengan keputusan yang tergesa-gesa. Kecuali mujizat dari TUHAN terjadi.
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
November 27th, 2009 at 4:00 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@Benny H. Marbun
Horas.
Salam kenal dan parhorasan dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang kepada Saudaraku sekeluarga Benny H. Marbun.
Selamat datang dan berkunjung di situs NAIPOSPOS ONLINE terkhusus pada artikel tulisan saya ini.
Betul itu Ampara, ndang ummaloan hita atau kita tidak lebih pintar dari orang tua kita zaman dahulu mengenai tarombo. Tapi perlu kita camkan dan tanamkan dalam hati bahwa sebelum dokumen tahun 1933 yang disebut Ampara itu ada, telah ada pertentangan antara tetua kita mengenai berapa dan siapakah putera Raja Naipospos. Hal ini jelas saya uraikan pada artikel di tas dan Ampara pasti akan tahu hal itu jika membaca artikel saya di atas dengan saksama dan hati yang tenang.
Benar dokumen yang ada di Sipoholon menyatakan bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sipoholon dan Marbun (Ingat! Bukan Marbun dan Sipoholon). Inilah yang dipersoalkan, diperdebatkan, dan didiskusikan oleh para tetua kita yang terdahulu termasuk diantaranya Kepala Negeri Huta Raja pada tahun 1921 dan 1923. Tapi amat disayangkan tanpa alasan yang tidak masuk akal, tarombo Naipospos yang ditulis adalah sesuai yang ada di Sipoholon (Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sipoholon dan Marbun) . Jikalau ampara membaca artikel tulisan saya di atas dengan saksama dan hati yang tenang maka Ampara akan mengetahui dan memahami dan mengerti akan hal ini. Berikut ini saya salin sedikit petikan pernyataan langsung Kepala Negeri Huta Raja dari tulisan saya di atas.
Maka tak mengherankan dan tidak boleh menjadi patokan dokumen tarombo Naipospos yang ada di Sipoholon (Raja Naipospos mempunyai 2 orang putera, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun).
Sudah paham kan, Ampara?
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
November 27th, 2009 at 4:29 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@Hendry Lumban Gaol
Horas, Ampara.
Parjolo hualusi ma jo pandokmuna na adong marsibuatan Sibagariang dohot Hutauruk, jala aluskon, songon manambai na nidok ni amparanta Maridup Hutauruk.
Husalin ma jo saotik pandohanmuna i ate, Ampara. Berikut petikannya.
Diboto hamu do Ampara, ise na sala di adat na nidok ni amparanta Maridup Hutauruk i molo masiolian? Sibagariang dohot Hutauruk do, Ampara. Jadi, nga sae be i Ampara, dipangkatindangkononmuna di tarombo ni Naipospos nasala na adong na di hamu i.
Tapi kalau saya katakan ini, Ampara keberatan. Memang benarlah Ampara Hendry Lumban Gaol na pamalomalohon di tarombo jala sijogal baut. Jelas itu.
Mengapa saya katakan demikian? Tentu ada alasan.
Kami marga Sibagariang dan Hutauruk dan juga marga-marga lainnya mengakui akan hal ini bahwa Sibagariang dan Hutauruk tidak boleh saling kawin, tapi Ampara tidak berterima. Kejam sekali ya. Pantas Ampara pernah menyangkal bahwa Lumban Gaol marpadan atau katakan saja pernah marpadan untuk tidak masiolian dengan Simamora Debataraja. Berikut petikannya.
Sebenarnya ya, saya tidak mau sampai ke ompung seperti yang lain yang menghina-hina nenek moyang saya. Maaf beribu kali maaf, tapi karena Ampara yang memulai, saya pun katakan: Meme na sala do hape naung dimemehon tu hamu taringot tarombo. Jala i do na durus di mudarmu jala na mian di roham nang pingkiranmu. Ingot! Sai na manginona do dosa ni ompuna tu pinomparna molo ditolopi pinomparna i.
Jadi, meskipun apa yang Ampara dengar dan tahu dari orang lain mengenai tarombo Naipospos, Ampara akan terus merasa bahwa yang ditahu Amparalah yang paling benar dan orang lain adalah salah. Jawaban Amparan pun akan selalu mengatakan: Ndang marterima ahu disi.
Saonari hualusi ma jo pandohanmuna i taringot sahala sihahaan (hak sulung) dohot boasa ndang dipangke marga Sipoholon.
POINT KE-1
Didok hamu do:
Alus ni Ricardo Parulian Sibagariang:
POINT KE-2
Didok hamu do:
Alus ni Ricardo Parulian Sibagariang:
POINT KE-3
Didok hamu do:
Alus ni Ricardo Parulian Sibagariang:
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
November 27th, 2009 at 4:34 pmBenny H Marbun,
@RPS Ada beberapa pertanyaan yg muncul pra..:
November 30th, 2009 at 10:11 pm1.Apa kepentingan Demang untuk memilih mana tarombo yang
akan dipakai.
2.Dari segi umur sampai tahun 1945 ke atas,sepertinya
para tetua2 yang tidak setuju masih punya waktu untuk
bermusyawarah merubah tarombo agar sesuai dgn yg benar
tanpa tekanan dari siapapun.(Tahun 1921 ketika umur saya masih 27 tahun, Assistent Demang dan Demang datang ke Huta Raja meminta agar membuat tarombo (silsilah) Raja Naipospos sekaligus untuk memilih atau membuat Verkessing Kepala Negeri di Huta Raja.)
3.Mengenai perubahan nama yang mungkin terjadi,bgmn dgn
Donda Hopol yang menjadi Sibagariang?
HORAS…GBU
februando Simanungkalit,
Hami Februando Simanungkalit, No.12 Sian Lumbanrang Sipoholon, nuaeng tinggal di Palembang.
Horas ma di hita sude pomparan ni ompunta Siraja Naipospos. Molo pinaihut-ihut, nunga tung ganjang angka pangkataion sian hita namardongan tubu taringot tu tarombotaon, alai dang adong kesimpulan naboi tabuat secara mayoritas. Dahahang Ricardo Parulian Sibagariang terkesan mempertahankan argumenna na dapot nasida sian panuturion ninatua-tua nasian huta hutaraja. Hape dongan tubu naasing, asing do pandapotna, nang pe tong nanidok nasida tong do sian angka panuturion ni angka natua-tua, jala nunga berlakui secara umum.
Asa adong songon bahan pertimbangan dihita saluhutna, adong do sada lagu Ciptaan ni Gr.D.Simanungkalit, taringot tu Siraja Naipospos.
(Tu hamu pomparan ni amang natua-tuai Gr.D.Simanungkalit, mangido maaf ibaparjolo, molo tanpa izinmu nisurathon ende ciptaanni Amang guru on di son). Songononma hatana:
Siraja Naipospos
Nionjar ni namasa, ditingki nagalia
Marlangka simanjojak, si Raja Naipospos dohot hahanai
Dos ma rohana tu hahana, masitodo luat hahotanna
Gabe dipungka huta hundulanna, mangunsadehon Dolok Imuni
Borhat muse si Toga Marbun, mangaririt tano tu juluan
Borhat muse si Toga Sipoholon, mangihut ihut Aek Sigeaon
Jolo togu dibahen padan, ingot tongtong masijouan
Dung dapot be naung jinalahan, dung jumpang be naung niluluan, nangpe padao dao muse tujoloon.
Nasada gabe dua, nadua gabe pitu, pinompar ni ompunta
Siraja Naipospos sipitu margai
Tolumai si Toga Marbun,Lumbanbatu ma sihahaanna, Banjarnahor mai sipaitonga, ba Lumbangaol siampudani.
Opat sitoga Sipoholon, ba jempek amang hata dohonon
Sibagariang dohot Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang i.
Ima sude sipitu marga, namangarerak pomparanna
Torop dangkana rugun bulungna, torop anakna riris boruna
Siraja Naipospos sipitu marga i.
Songon na hudok nangkin, nunga berlakui secara umum di Sipoholon (songon hata ni endei). Mungkin panuturion taringot tu taromboon tu sundut naumposo, marasing do di Hutaraja dohot di Sipoholon. Memang tarombo dang boi i dipahusor-husor,mis. saonari sihahaan haduan gabe sianggian, jala napasti sude hita sundut sinuaengon dang adong namamboto dohot pasti tarombo ni si Raja Naipospos natikkos. Molo sude do hita selalu mempertahankan na binegena, hape ipe dang gabe songon sada kebenaran mutlak, dang marujung be annon diskusi on, malah olo do tanpa tasadari haruar akka hata napalobi hu, melenceng sian etika, gabe mambahen hansit roha ni namanjaha.
December 1st, 2009 at 4:48 pmMolo usul sian ahu, aha nanaung berlaku secara umum(mayoritas) ima jo tapakke, molo tung adong sian pomparan ni ompunta namambahen penelitian secara ilmiah gabe dapot nasida hasil naboi dipertanggungjawabkan kebenaranna, asing sian naberlaku secara umum nuaeng, sude pomparan ni Rajai Siraja Naipospos marsada ni roha mandiskusihoni muse, jala mambahen sada keputusan bersama na berlaku secara umum disude pomparan ni si Raja Naipospos.
Horas ma dihita sude.
Hendry Lbn Gaol,
Horas….
pasti ada alasan kenapa Eliezer memanggilmu LAE…jala unang haluar hata naso di boto nasida adat, ima namarsibuatan situmeang tu sibagariang.
Alai, ido jamanna tikki i, jama porang, jaman penjajahan. Jala songoni do nang di toga marbun, marsibuatan do na tolu marga on, najolo. Alai dung jaman sisaonari on, dang masa be i.
Menurut au, on ma dasarna dang dipakke MARGA SIPOHOLON ala nunga marsibuatan akka pinomparna.
2. Didokkon ho p[e au sijogal baut, i tusi …. monang ho!!.
3. Saya dibesarkan dalam keluarga yang demokratis, berbeda pendapat boleh saja.
4. Ai dakdanak dope hita on martimbagkon umur ni na adong marga naipospos. Molo adong do SAKSI MATA, PUSTAHA, boi pe porsea au.
5. Ai ise ulaning DEMANG i?.
6. Au sura adong tulisan di taon 1700 na mandok dua do anak ni naipospos, haporseanta do i?? Boi iya boi daong.
7. Mari kita meneriuma pendapat orang lain tanpa memaksakan pendapat pribadi….
maulaite ma
December 1st, 2009 at 7:39 pmhendry Lumban Gaol,
Horas Anggia Ricardo Sibagariang…
Huponggol-pogol ateh…
1. [ Ampara mengatakan bahwa di Marbun sendiri jelas siapa sihahaan. Jadi di keturunan Raja Naipospos, memangnya tidak jelas. Orang-orang siginjang roha jala na pamalomalohon di tarombo ma na mambahen sude gabe ndang tangkas dengan cara berusaha mengaburkan atau bahkan mengubur sejarah yang benar itu. ] emang saya bilang tarombo keturunan naipospos lainya TIDAK JELAS, baca ulang dong, simak baek-baek…unang tor emosi. Saya hanya bilang, di MARBUN itu jelas siapa siHAHAAN. Kalo di NAIPOSPOS, hingga kini masih belum ( buktinya masih diperdebatkan, hingga di milis ini)
2. [Tapi kalau saya katakan ini, Ampara keberatan. Memang benarlah Ampara Hendry Lumban Gaol na pamalomalohon di tarombo jala sijogal baut. Jelas itu.]
nion ma STATEMENmu na jelas mambaen hassit doha ni dongan TUBUM!, dai so dipiikiri ho sipata hata, asal dipandok!. Dari dulu saya selalu bilang, MENGHARGAI, MENERIMA, pendapat yang mengatakan anak ni NAIPOSPOS adalah LIMA. Tapi, yang KUPERCAYAI sesuai dengan ajaran TURUN TEMURUN di keluarga kami, HANYA 2 Anak NAIPOSPOS.
Ho do si jogal baut anggia. Itu Jelas.
Sai dipaksahon ho, asa HUTERIMA hami pandapot mi nang pandapot ni DEMANG mi. Ai ise huroa DEMANG i?, di BERENG jaa DISAKSIHON do na 5 anak ni NAIPOSPOS? manang adong BUKKU asli na nisurathon ni NAIPOSPOS jolma si PARJOLO?? da hata NINNA tu NINNA do? Da, Suhutan sian akka natua-tuana be do?.
Ta paserep be ma rohatta, ta jalo pandapot ni dongan, asa sonang mardame hita. molo adong mandok 5, ima i, molo dua do, ima tong i. asa gabe kekayaan budaya on dihita. HEPPOT hian…
3. Kenapa saya memaparkkan MARBUN, hanya sebuah contoh, dimana para keturunanya enggan memakai MARGA MARBUN, alasanya tak lain adalah karena sesama Marbun sudah marsubuatan. Asa boto anggia mangalapatani hata i.
Dan banyak marga seperti itu. Misal sihombing, simatupang, dll. disitu kita lihat, kenapa nggak semua pakai marga diatas.
4. [Masakkah saya melangkahi bapak saya dan menjadikan marga saya nama kakek saya. Karena yang kita lihat yang ada adalah marga Naipospos dan bukan Sipoholon. Berarti bapaknya Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang dan Marbun adalah Naipospos.]
dang sai sude halak mamakke marga ni amongna, jahai akka bukku na taringot tu si, dang pola sai ni paboa manang marga dia i, lului jala sulikkiti.
5. [Dihamu ma ndang ringkot sahala sihahaan i, anggo di ahu mansai ringkot do i. Kita tak perlu munafik. Jangan-jangan jika ada amang uda atau anggi ni Ampara mandok ibana sihahaan, pasti Ampara akan keberatan. Kalau memang bagi Ampara yang mendukung tarombo yang mengatakan bahwa Naipospos mempunyai 2 putera, mengapa Ampara hampir selalu mengatakan: Marbun dan Sipoholon. Berarti: Tong do ringkot di hamu hape sahala sihahaan i. Ingat! Allah sangat membenci kemunafikan.]
Taringot tu ise sihahaan di antara MARBUN dengan SIPOHOLON, sahali nai hudok, dang HARU RIKKOT di AU i, Sahali nai, DANG HARU RIKKOT di au i, alana on ma mambaen pargolatan di hita. Ala adong dope na pro dan kontra. Alai, molo di hami MARBUN, manang LUMBANG GAOL, bah, RIKKOT do dah.
6. Molo sai diopaksahon ho do asa rikkot. JALO ma pandohan hi, manjou ANGGIA ma au tu ho, ate dang i kedan?. Ikkon oloan do AJAR ni natua-tua niba, jadi didok natua-tua i, MARBUN do SIHAHAAN, bah, anggia ma nikku tuho… ( bukan kah kau juga menyebutku si JOGAL BAUT?), jadi mulai sadarion, asa terbukti pandohan mi ANGGIA MA NIKKU TU HO.
7. Menurut na niajarhon ni oppung nami, turun temurun, na lobi ma i sian bukku ni DEMANG MI, bah MARBUN do na JUMOLO tubu, sian nioli ni RJ NAIPOSPOS na paduahon. Jadi, molo di luat nami, ANAK najumolo tubu ima sihahan.
8. Ai dang hea binege, NGA TUBU ABANGMU ninna, alai molo nga tubu anggim, somal do i.
9. Horas ma anggia, selamat beraktifitasma
December 3rd, 2009 at 8:03 amhh,
@ Ampara Leopold P. Sibagariang,
pada komentar no.35
1. Apakah otomatis nama marga menjadi nama huta dalam parhutaan semua orang Batak masa lalu?
==>Jawbannya tentu: Tidak otomatis, tetapi ada yang seperti itu.
_______________
2. mengapa tidak ada pomparan Naipospos memakai marga Marbun?
Hal itu terjadi karena suka suka, ampara. Karena dia suka memakai marga itu, ya dipakailah. Tetapi itu tidak berakhir disitu, masih bisa ditanya lagi: marbun apa kau puang? Pasti akan dijawab dengan salah satu dari tiga marga itu, yaitu L Stone, B Nahor, atau L Jeol. Belum pernah ada jawaban seperti ini: Marbun ya Marbunlah…..emangnya Marbun terbagi bagi?
Batu jurguk,
December 3rd, 2009 at 9:27 amHoras hita luhut.
hh,
Ralat
December 3rd, 2009 at 9:30 amPertanyaan nomor 2: Mengapa tidak ada……., seharusnya: mengapa ada………?
Ricardo Parulian Sibagariang,
@Benny H. Marbun
Horas.
Hualusi ma jo sungkunsungkunmuna i ate, Ampara.
POINT KE-1
Sungkunsungkun ni Ampara:
Alus ni Ricardo Parulian Sibagariang:
Jujur saja ya Ampara, saya tidak ingin sok pintar atau pamalomalohon. Kalau saya tahu pasti akan saya katakan dengan benar dan kalau kurang pasti kebenarannya saya tidak mau langsung mempublikasikannya. Mengenai hal ini, saya masih perlu pengujian lebih lagi. Tapi mungkin hal ini dapat menjadi pertimbangan atau bahan pengujian kita sembari ada hal yang lebih pasti, yakni:
Apakah benar atau tidak, saya berprasangka bahwa pencatatan tarombo (silsilah) tersebut bertujuan untuk penyusunan PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung. Karena pada kata pengantar (Hata patujolo) tercantum Pangururan, Januari 1926. Tetapi itu adalah sebuah prasangka saja.
Apabila mengikuti prasangka saya tersebut, PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung yang banyak terdapat di masyarakat sudah cetakan tahun 1991. Tentu dalam jangka waktu 83 tahun hingga sekarang, maka tidak bisa dipungkiri bahwa sudah tentu pasti mempunyai perubahan disana-sini. Karena pada cetakan tahun 1991, disebutkan bahwa Raja Naipospos mempunyai dua orang putera yang secara berurutan, yaitu: Toga Marbun dan Toga Sipoholon. Hal ini tentu sudah berlawan (kontra) dengan tarombo (silsilah) yang dicatat di Sipoholon pada tahun 1921 dan 1923 yang menyebutkan bahwa Raja Naipospos mempunyai dua orang putera yang secara berurutan, yaitu: Toga Sipoholon dan Toga Marbun.
Memang untuk menemukan PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung cetakan pertama tahun 1926 mungkin tidak akan dapat ditemukan lagi karena apabila mengikuti prasangka penulis, dikhawatirkan ada yang telah mengubah tarombo (silsilah) tersebut menjadi Toga Marbun dan Toga Sipoholon tanpa alasan yang jelas.
Perkataan ampara kita Maridup Hutauruk berikut ini pun dapat menjadi sebagai bahan renungan mengenai siapa dan apa kepentingan Demang itu. Berikut petikannya.
POINT KE-2
Sungkunsungkun ni Ampara:
Alus ni Ricardo Parulian Sibagariang:
Memang kalau melihat dari segi waktu, hal tersebut masih bisa sebenarnya diperbaiki oleh tetua kita yang terdahulu. Tetapi melihat sekarang ini, ndang tarsolsolan be i sude. Namun tak apalah, kita harus tetap optimis. TUHAN pasti akan menunjukkan dan memberikan jalan yang terbaik bagi kita keturunan Raja Naipospos, Amin.
Membaca pertanyaan Ampara, saya teringat dengan sebuah kata bijak yang lebih-kurang berkata demikian: Sekali perkataan terucap dari mulut maka seluruh dunia akan mengetahuinya. Terucaplah sudah pada tahun 1921 dan 1923 bahwa Raja Naipospos mempunyai 2 putera (Sipoholon dan Marbun) maka hingga sekarang hal tersebut masih dipegang teguh oleh sebagian keturunan Raja Naipospos. Saya yakin pendapat mengenai tarombo Naipospos (Sipoholon dan Marbun) yang salah ini semakin cepat tersebar, berkat penulisan buku PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung. Keturunan Naipospos yang pada masa mudanya dan ketika orangtua dan ompungnya masih hidup tidak memperhatikan dan tidak peduli dengan tarombo; eh………., tiba-tiba setelah umurnya hampir setengah abad dan orangtua termasuk ompungnya sudah meninggal, cari tahu (diordior) tarombo sana-sini. Dapat buku PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung, itu dibuat jadi pedomannya. Jadi tambah runyamlah tarombo Naipospos ini jadinya. Lumayan mau belajar dari orang lain, ini selalu mempertahankan pendapatnya mengenai tarombo Naipospos yang salah lagi.
Hal inilah yang amat sulit dibendung para tetua kita yang paham betul mengenai tarombo Naipospos di Huta Raja, Sipoholon. Suara mereka hanya terngiang di Sipoholon oleh karena berbagai keterbatasan disana-sini. Mereka masih hanya bisa menyuarakan tarombo Naipospos yang benar di Sipoholon dengan salah satu cara yang diantaranya: Mencegah dan tidak menyetujui pembentukan Toga Sipoholon di Sipoholon beberapa tahun yang lalu. Inilah pula yang pernah disayangkan ompung doli suhut saya sendiri – Laris Kaladius Sibagariang – semasa hidupnya yakni keturunan Raja Naipospos yang telah banyak dilimpahakan Yang Mahakuasa berkat dan secara langsung turut dalam kepengurusan Punguan Raja Naipospos (Jakarta) kurang berdiskusi, bertukar-pikiran, dan bertanya-jawab dengan para tetua marga Naipospos yang ada di Sipoholon atau dengan kata lain langsung mengaku (mangkaindangkon) tarombo Naipospos yang dia ketahui sendiri.
Maka untuk sebagai bahan pertimbangan atau katakan saja sumber sejarah bagi keturunan Raja Naipospos, Kepala Negeri Huta Raja – Haran Sibagariang – menulis kisah tentang Raja Naipospos dan keturunannya, Tulisan daompung inilah yang saya jadikan sebagai salah satu sumber utama saya dalam penulisan berbagai artikel di NAIPOSPOS ONLINE ini. Berikut sedikit petikan tulisan Kepala Negeri Huta Raja megenai pandangannya melihat persoalan tarombo Naipospos ini.
POINT KE-3
Sungkunsungkun ni Ampara:
Alus ni Ricardo Parulian Sibagariang:
Ada kesan bagi kita masyarakat Batak dan ini masih terpelihara hingga sekarang yakni kurang sopan menyebut langsung nama seseorang. Maka, sesuai dengan hal inilah Donda Hopol disebut Sibagariang. Nama aslinya ialah Donda Hopol dan julukannya adalah Sibagariang. Mengenai sejarah hal ini dapat dibaca dalam http://tarombo-sibagariang.blogspot.com
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
December 3rd, 2009 at 1:38 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@Februando Simanungkalit
Tangkas ma tarimangi on.
Unang ia ahu mangkatindangkon jala mangkajongjongkon lima do ianggo anak ni Raja Naipospos (Donda Hopol, Donda Ujung, Ujung Tinumpak, Jamita Mangaraja, Marbun), didok ahu terkesan mempertahankan argumen. Hape na huhatindangkon jala na huhajongjongkon indada pandapot (argumen) alai pandohan (pernyataan) natutu situtu do sian huta parjolo pinungka ni Raja Naipospos i ma Huta Raja. Fakta-fakta yang saya utarakan dapat kita saksikan langsung dalam kehidupan kita sehari-hari. Misalkan: Tak ada dan tak akan pernah ada marga Sipoholon. Alai ro ma halahan mangkatindangkon jala mangkajongjongkon na so tangkas binotona; jala molo tinangkasan, ndang haru tangkas hape; ndang didok i na terkesan mempertahankan argumen, ate. Tapi memang betulah dunia ini.
Sedikit ada tanggapan saya mengenai lagu karangan Gr. D. Simanungkalit. Setelah saya amati kisah yang diterangkan pada lagu tersebut, persis sama dengan kisah Raja Naipospos yang tertulis pada buku PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung. Hal ini perlu saya tekankan bahwa PUSTAHA BATAK Tarombo dohot Turiturian ni bangso Batak oleh W. M. Hutagalung tidak boleh kita jadikan sebagai sumber utama mengetahui kisah Raja Naipospos yang benar. Pengujian akan hal ini telah diuraikan Maridup Hutauruk dalam artikel Kearifan Menapaki Sejarah Seorang Naipospos dan Keturunannya .
Mengenai pernyataan umum tentang tarombo Naipospos, jika di Palembang atau beberapa daerah perantauan, tarombo Naipospos yang umum adalah Sipoholon dan Marbun atau Marbun dan Sipoholon, maka janganlah kita katakan itu yang umum dan harus kita terima sementara waktu. Karena tarombo Naipospos yang umum di Huta Raja adalah Raja Naipospos mempunyai lima putera (Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, Marbun).
Apakah kita lebih percaya dan menerima tarombo yang ada di perantauan dibanding dengan bona pasogit?????
Saya telah menyatakan bukti-bukti Raja Naipospos mempunyai lima putera, sekarang berikan bukti bahwa Raja Naipospos mempunyai dua putera!
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Mauliate.
Horas jala gabe,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
December 3rd, 2009 at 1:39 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@Hendry Lumban Gaol
Amparangku, na hudok sala di adat i ma: Molo masiolian Sibagariang dohot Hutauruk. Bukan Sibagariang dan Situmeang. Karena Sibagariang dan Situmeang boleh saling kawin. Sudah tahu titik persoalannya kan, Ampara?
Ok. Saya tahu bahwa berbeda pendapat itu biasa. Tetapi sudah hal yang amat luar biasa jika seseorang selalu mempertahankan pendapatnya yang meskipun telah diuji, ternyata tidak benar. Nunga tinangkasan, hape ndang tangkas hape. Luar biasa namanya.
Amparangku Hendry Lumban Gaol, molo intap ni i do pamotoanmuna taringot tarombo Naipospos, hamu ma na sari disi. Ai nunga hupaingot, molo hamu do na so olo, hamu ma na sari disi. Mardabudabu tu dirimuna ma hamu. Ndang adong be sidalianmuna sogot di ari paruhuman i na sai mampartahanhon pandapotmuna na sala i.
Ingat ini tidak menyangkut satu dua orang saja. Tetapi menyangkut beribu-ribu keturunan Raja Naipospos.
Amparangku Hendry, gari ahu ndang hea haruar hatangku mandok anggia manang tu ise pe di situs NAIPOSPOS ONLINE on, alai hamu didok hamu ahu “anggimuna” ate.
Ingot hata ni TUHAN-ta.
• Ai nasa na patimbohon dirina, sipaoruon do; jala na paoru dirina, i do sipatimboon! (Lukas 14:11)
• Laos songon i ma hamu, angka na umposo, unduk ma hamu di angka na tumunggane! Alai saluhutna ma hamu manolukkon haserepon sama hamu, ai dialo Debata do angka na ginjang roha, alai dilehon do asiasi tu angka na serep marroha. (I Petrus 5:5)
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
December 3rd, 2009 at 1:41 pmBenny H Marbun,
@RPH
December 3rd, 2009 at 7:11 pmKalau boleh langsung aja pra dituliskan harapan dan keinginan untuk ditindaklanjuti dari tulisannya ini,daripada berdebat terus tanpa akhir,jadi muncul sakit hati akibat pernyataan2 yg justru ga berhubungan lagi dengan yang dibahas..Thanx.HORAS.GBU
hendry Lumban Gaol,
demang juga manusia….
bang hh…
December 4th, 2009 at 7:23 amai ho pe attong, tor baen jo margam naipospos…
hendry Lumban Gaol,
” ai dialo Debata do angka na ginjang roha, alai dilehon do asiasi tu angka na serep marroha. (I Petrus 5:5)”
mauliate ma anggia…tanda do hamu na burju bah!!!
December 4th, 2009 at 7:25 amhendry Lumban Gaol,
Salam….
Inilah catatan yang dibuat ANGGINIBA RICARDO SIBAGARIANG tentang sejarang NAIPOSPOS.
Ricardo Sibagariang telah menghina seluruh keturunan marga Marbun dengan tulisanya. Dia ini sudah MENHINA seluruh KETURUNAN marbun.
berikut saya kopikan.
\\"Martuasame sebagai julukan Naipospos
Raja Naipospos mempunyai julukan MARTUASAME. Gelar Martuasame ini didapat Raja Naipospos karena dia mengambil isteri yang kakak-beradik boru Pasaribu.
Umbahen namambuat boru namarpariban (saama) Raja Naipospos jala alani namasa di tingki marsame Raja Naipospos marbunibuni mambuat tuanboruna napaduahon, gabe digoari ma ibana Martuasame. Jadi Martuasame, goargoar ni Raja Naipospos do i. Ndada goar ni anakna, songon pandok ni nadeba. (bahasa Batak)
Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.
Hal itu dapat kita lihat bahwa terdapat hubungan kata marsame dengan kata martuasame. Sehingga Martuasame bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos dan bukan juga nama asli Toga Sipoholon. Karena Sipoholon hanyalah nama daerah yang berasal dari kata sipohulon.\\"
Dia bilang bahwa ibunya MARBUN ( istri kedua, boru pasaribu) diambil secara sembunyi-sembunyi.
Denggan-denggan hita makkatai bah, maksudmu na marselingkuh do NAIPOSPOS?. aha do maksudmu puang, didok ho ( Raja Naipospos marbunibuni mambuat tuanboruna napaduahon —lihat di tulisan KISAH RAJA NAIPOSPOS dan keturunanya) jadi hami pinompar ni marbun on, anak na so resmi do?. Patorang jo aha maksudna MARBUNI-BUNI, maksudmu hami MARBUN on hasil selingkuhan do.
Ini pelecehan namanya….
Dang hea huboto hami songoni Sejarahna.
Ai molo suhutan na binoto sian akka natua-tua, RESMI jala Denggan do DIOLI Naipospos inantana paduahon. Jala ISTRI I lah yang membujuk Adeknya supaya mau menjadi ISTRI NAIPOSPOS yang pada saat itu belum punya keturunan.
Ah,…..ngeri ma memang PENGHINAAN ni angginiba on tu sude pomparan ni MARBUN.
Sekali lagi, saya bukan pomparan ni anak haram!!!…ubah itu tulisanmu.
Kenapa SEBAHAGIAN marga MARBUN, merasa dirinya SIHAHAAN?. Konon menurut cerita, NAIPOSPOS memperistri Paribanna, adik istrinya, karena belum dikaruniai anak. Dan dari istri kedualah lahir MARBUN!. Artinya, Marbun lah panggoari ni NAIPOSPOS. ( mungkin bahasa sekarang, AMANI MARBUN ).
Dan atas kuasa yang punya jagatraya ini, diberkatilah istripertama, dan lahirlah di kemudia hari pomparan naipospos dari istri pertama.
Itu alasan, kenapa marga marbun menganggap dirinya siHAHAAN.
horas ma
December 4th, 2009 at 7:44 amRicardo Parulian Sibagariang,
@ Benny H. Marbun
Horas.
Harapan saya adalah sebagai berikut.
Hendaknya kita menguji tarombo Naipospos yang kita ketahui selama ini dengan yang kita dapat dari orang lain. Kemudian, apabila ternyata yang kita ketahui selama ini mudah digugurkan oleh berbagai pengujian laksana teori para ahli yang digugurkan oleh ahli lain melalui eksperimen (pengujian), hendaknya kita dengan berlapangdada menerima dan mengakui yang dinyatakan orang lain. Pengujian yang saya maksud bukanlah harus mengadakan percobaan ilmiah tapi cukup saja melihat dan mengamati fakta-fakta yang ada di sekeliling kita. Atau kalau perlu, mengadakan diskusi dan tanya-jawab mengenai hal tarombo dengan tetua keturunan Raja Naipospos yang ada di Huta Raja. Siapa tahu, bagi sebagian orang menganggap kisah yang saya tulis ini mengada-ada, padahal tidak sama sekali. Sehingga kelak, jikalau TUHAN izinkan, kita bukan hanya satu hati, satu kata, satu perbuatan, tetapi juga satu tarombo sebagai keturunan Raja Naipospos yang selalu dilimpahi berkat Tuhan, Amin
December 4th, 2009 at 7:22 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@ Hendry Lumban Gaol
Horas.
O tahe, Amparangku Hendry on.
Saya perlu tekankan ini: Tak pernah saya menghina apalagi merendahkan martabat dan harga diri siapa pun di NAIPOSPOS ONLINE ini. Karena kita adalah se-Citra dengan Allah (Imago Dei).
Amparangku Hendry, taringot na nialap ni Raja Naipospos muse pariban ni inanta parjolo gabe inantana paduahon, nunga mansai tangkas hutaringoti di artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap pendapat Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos. Maka karena itu, saya rasa hendaknya Ampara bacalah dulu semua tulisan dan tanggapan dan jawaban saya di NAIPOSPOS ONLINE ini. Nunga songon na lari hita on, huida ba.
Atau, mungkin Ampara malas mencarinya. Ya sudah, saya salin saja.
Raja Naipospos tidak diberangkatkan dan tidak sepengetahuan isteri I (pertama) boru Pasaribu ketika Raja Naipospos mengambil pariban sendiri sebagai isteri II (kedua) boru Pasaribu. Sehingga karena tidak mau merasa dimadu dan perempuan mana yang mau dimadu maka timbul rasa kurang cocok antara isteri I (pertama) dan isteri II (kedua) yang meskipun sebenarnya kakak-baradik dari satu bapak atau na marpariban. Rasa kurang cocok ini pun sampai kepada antar keturunan masing-masing isteri.
Marbun sebagai satu-satunya putera dari isteri II (kedua) boru Pasaribu merasa tidak tahan lagi akan perlakuan dari empat orang putera Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) maka Marbun bersama ibundanya dan satu orang saudara perempuan (ito) seibunya pergi ke daerah Humbang sambil membawa jerek sebagai jenis ogung warisan yang telah dibagikan Raja Naipospos sebelumnya. Kebetulan hanya Marbun dan satu orang anak perempuan (boru) keturunan Raja Naipospos dari isteri II (kedua) boru Pasaribu.
Saya tambahi.
Ini pulalah jawaban mengapa Marbun tidak menetap di Huta Raja. Nyata bukan, alasan saya?
Sekarang mengenai hak sulung.
Beberapa waktu lalu, Ampara mengatakan bahwa bagi Ampara Hendry, hak sulung itu tidak penting. Sekarang, ngotot bilang Marbun adalah sihahaan. Itu namanya munafik, Ampara. Allah sangat membenci kemunafikan.
Ampara Hendry mengatakan bahwa Marbun-lah yang pertama lahir. Apa bukti nyata yang bisa kita lihat dan amati dan rasakan saat ini? Ndang boi holan hata da, Amparangku Hendry.
Hudok ma tu hamu Ampara, ia na jumolo tubu i ma Donda Hopol (Sibagariang), dung i pe asa Marbun.
Apa buktinya? Kan begitu, Ampara.
Ini buktinya.
BUKTI PERTAMA
Hingga saat ini Sibagariang tidak diikat padan parhahamaranggion.
Tetapi mari kita berpikir logis.
Apakah selama itu atau bahkan hingga saat ini kah terjadi perselisihan dengan 6 (enam) marga lainnya khususnya Sibagariang dengan Marbun?
Memang jika dilihat dari segi urutan waktu lahir , Marbun lebih dahulu lahir daripada Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Namun karena Sibagariang lahir dari isteri I (pertama) boru Pasaribu dan yang pertama lahir daripada Marbun, maka Marbun sebagai yang satu-satunya putera Raja Naipospos dari isteri II (kedua) menjadi yang bungsu (siampudan).
Inilah yang menjadi bukti nyata hak sulung yang dimiliki Sibagariang dan bukan Marbun. Karena seandainya Sibagariang pada waktu itu atau pun di kemudian hari atau bahkan saat ini membentuk padan parhahamaranggion dengan keturunan Marbun, maka hak sulung Sibagariang tidak akan nyata lagi. Tetapi dengan tidak turut serta dalam padan parhahamaranggion, maka hak sulung Sibagariang nyata dan tidak bisa dipungkiri oleh siapa pun sebagai putera sulung Raja Naipospos baik dari segi urutan waktu lahir maupun dari parinaon (ibunda yang melahirkan).
Sibagariang adalah putera Raja Naipospos yang lahir dari isteri I (pertama) boru Pasaribu dan yang lahir pertama sekali di antara 5 (lima) orang putera Raja Naipospos.
BUKTI KEDUA
Donda Hopol mengandung makna sahala hadumaon dengan harapan agar roh (tondi) Donda Hopol masihopolan saling pegang teguh dengan roh (tondi) saudara-saudaranya.
Menurut J. Warnek (ibid), “Donda” mengandung arti dan makna lembut namun penuh wibawa. “Tali donda” berarti perekat. “Hopol” mengandung arti membungkus, merangkul dan melindungi. “Marhopolhopol” berarti berkumpul, berhimpun dan menyatu. Sedangkan arti dari “raja nipanhopoli” adalah raja, kepala pesta horja. Raja itu adalah kepala dari raja-raja suatu keturunan dalam beberapa perkampungan (“huta”) sekitar.
Jadi dalam pengertian tersebut di atas, nama Donda Hopol berarti orang yang penuh wibawa yang diharapkan merangkul, melindungi, dan menyatukan orang-orang lain di sekitarnya. Donda Hopol mengandung arti anak sulung sebab dalam kebiasaan bangso Batak, anak sulung diharapkan melindungi, mempersatukan dan memimpin adik-adiknya.
“Alana molo tung monding pe natorasna, holan sihahaan do na matean ama alai molo anggina i ndang na matean ama i, ala adong hahana songon ama tu anggina i”.
BUKTI KETIGA
Mungkin tak banyak orang yang mengetahui pesta apakah sebenarnya yang membawa persoalan antar keturunan Raja Naipospos khususnya masalah bagi marga Sibagariang sendiri. Pesta tersebut tak lain adalah mansantihon (baca:massattihon) Raja Naipospos menjadi sesembahan atau pun sombaon.
Pada zaman dahulu seseorang yang dianggap penting atau pun memiliki kesaktian harus dipestakan (dihorjahon) sebanyak tujuh kali agar dapat menjadi sesembahan. Pesta ke-7 tersebut hanya diadakan oleh pihak keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) tanpa menunggu kehadiran pihak keturunan Raja Naipospos dari isteri II (Marbun) dari Humbang. Meskipun seluruh keturunan Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) turut serta dalam pesta tersebut tetapi masalah lebih besar dilami marga Sibagariang karena hanya oleh perintah Sibagariang-lah maka pesta ke-7 diadakan sebelum hari yang telah ditentukan.
Hal ini pun dapat menjadi sebagai bukti nyata hak sulung yang dimiliki Sibagariang. Seandainya Sibagariang bukanlah putera I (sulung) Raja Naipospos maka perintahnya tidak akan didengarkan oleh saudara-saudaranya. Karena dalam adat Batak bahwa apabila orangtua dalam keluarga sudah tiada lagi maka pengganti orangtua dalam keluarga tersebut adalah putera sulung. Namun dalam hal ini, kedudukan tidaklah boleh menjadi alasan untuk bersikap semaunya. Naingkon satahi saoloan do namarhahamaranggi.
Dalam tradisi Batak, horja dilaksanakan oleh raja horja dengan mengundang raja-raja serumpun (seketurunan) di kampung-kampung sekitar. Rupanya waktu yang disampaikan oleh Sibagariang kepada marga Marbun tidak sesuai dengan waktu yang sebenarnya sehingga marga Marbun hadir setelah pesta selesai.
Dalam tradisi Batak tentang “harajaon” dekat dengan pemahaman anak sulung. Hal itu bukan berarti bahwa selain anak sulung tidak boleh menjadi raja tetapi adik harus lebih dulu membuktikan kesaktiannya (kemampuannya) supaya boleh menduduki posisi harajaon. Prioritas anak sulung ditonjolkan dalam kebiasaan orang Batak sebagaimana diceritakan dalam pewarisan “sahala” raja dalam diri Patuan Bosar, Ompu Pulo Batu yang memangku harajaon Sisingamangaraja XII.
Tidak ada data yang terekam bahwa Sibagariang memegang harajaon sebagai raja horja karena suatu kelebihan (kemampuan) yang luar biasa tetapi itu diwariskan berdasarkan kebiasaan orang Batak yang cenderung mewariskan posisi “harajaon” kepada anak “sihahaan”. Kebiasaan itu adalah bahwa anak sulung menjadi raja horja mempersatukan dan memimpin raja-raja huta yang seketurunan di kampung-kampung sekitarnya.
BUKTI KEEMPAT
Dolok Imun adalah pusat interaksi dan penyebaran keturunan (pomparan) Naipospos.
Adalah kebiasaan Batak Toba membuka huta pertama disamping sentrum (pusat) tanah nenek moyang adalah sihahaan, marga penguasa atau marga partano, kemudian mengikut pertambahan huta-huta lain, berserak, sesuai dengan pertambahan keturunan (marga) lain. (Cunningham)
Dalam konteks pengertian Cunningham menjadi logis bahwa Huta Raja yakni huta ni Donda Hopol (Sibagariang) adalah huta pertama, huta anak sulung, huta partano, dan huta penguasa pada zamannya. Sebab paling dekat dengan sentrum tanah nenek moyang Raja Naipospos dan sesuai kebiasaan penyebaran bangso Batak. Donda Hopol yang tinggal di Huta Raja memiliki tanah yang luas, harta, dan sebagai penguasa di sekitarnya adalah merupakan implikasi dari posisi sihahaan yang dimilikinya.
Mungkin ada yang mengatakan bahwa Marbun berada di Bakara sehingga tidak mungkin membuka huta di sekitar Dolok Imun. Tetapi pada kenyataaanya bahwa Marbun pun ada di Dolok Imun sebagaimana Donda Hopol, Donda Ujung, Ujung Tinumpak dan Jamita Mangaraja. Sulit dibuktikan bahwa lebih dahulu marga Marbun di Bakara, baru kemudian datang ke Dolok Imun.
Jadi kalau Marbun anak sulung, mengapa tidak Marbun yang membuka huta pertama di sekitar Dolok Imun sesuai kebiasaan Batak tetapi justru Donda Hopol (Sibagariang)?
Lebih jauh, kalau seandainya Marbun adalah anak sulung dari istri kedua yang semula sembunyi-sembunyi maka cermin huta Marbun sebagai anak sulung tidak mungkin tidak tampil. Sebab dalam kebiasaan bangso Batak, beristri dua atau lebih adalah sesuatu yang biasa pada zaman itu sebagaimana dikatakan.
“. . . boru ni tulang jadi parjabu bona, imbang parjabu suhat, na hinabia parjabu sitaupar piring, na hinampi parjabu soding, . . . jala sonang be di angka hakna be”.
Posisi “imbang” adalah sah dalam kebiasaan Batak Toba pada masa lalu karena itu apabila jika Marbun adalah anak sulung Raja Naipospos maka huta Marbun akan menjukkan ciri-ciri huta Batak sebagai anak sulung. Tetapi ciri-ciri huta anak sulung justru ada pada huta Donda Hopol, bukan pada Marbun sesuai kebiasaan orang Batak yang membangun “parhutaan” pada zaman dahulu.
KESIMPULAN
Jadi, i ma jo tusi Amparangku Hendry. Tolonglah berikan bukti bahwa Marbun-lah yang pertama lahir sekaligus anak sulung. Unang holan hata da.
Saya juga perlu tambahakan bahwa meskipun saya ada menyatakan kisah bahwa Raja Naipospos marbunibuni (sembunyi-sembunyi) mengambil isteri kedua, tak ada sedikit pun maksud saya yang kurang baik. Karena itulah Amparaku Hendry, pemahaman umum di bona pasogit Naipospos (Dolok Imun, Huta Raja) mengenai kelahiran Marbun. Kalau tidak percaya, silahkan ditanyakan langsung kepada tetua keturunan Raja Naipospos yang ada di Huta Raja. Tapi mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kisah yang saya tulis tersebut menimbulkan pemahaman yang keliru bagi Ampara.
Perlu pula adanya pemahaman bahwa mempunyai istri lebih dari satu pada masanya Naipospos dahulu kala bukan suatu kenistaan melainkan sesuatu hal yang lumrah sesuai alasannya, apalagi seperti Naipospos yang memang beralasan kuat untuk melakukan hal itu karena justru akan menjadi kenistaan bagi Naipospos apabila memang tidak mempunyai keturunan hanya karena mempertahankan satu istri. Sejarahnya bahwa ayahanda Naipospos beristri lebih dari satu, ompungnya pun beristri lebih dari satu, Sisingamangaraja-XII beristri lima, dan bahkan Raja Sulaiman (Raja Salomo) yang dipuja-puja oleh banyak orang adalah beristri 1000 (seribu) orang, mengalahkan rekor istri-istri bapaknya si David (Raja Daud) yang berjumlah 200 orang. (> Kearifan Menapaki Sejarah Seorang Naipospos dan Keturunannya )
Sekarang sudah paham kan, Ampara Hendry Lumban Gaol?
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
December 4th, 2009 at 7:24 pmBenny H Marbun,
Untuk sebagian pomparan Ompunta yang tidak meyakini tarombo yang telah ada cukup wajar untuk mengujinya namun untuk yang telah meyakini tarombo yang telah ada sepertinya tidak cukup alasan yang luat untuk menguji ataupun mengutak-atiknya…
December 4th, 2009 at 9:18 pmJadi menurut saya marilah kita meyakini yang menurut kita benar tanpa mengeluarkan komentar2 yang mengarahkan orang harus yakin dan percaya juga,apalagi kemudian mengarah ke perdebatan yang tak ada ujungnya..dan bukan tidak mungkin menjadi bibit perpecahan..!Nga sae be i
Bagaimana jika kita mulai mengganti topik..??
Cocok do pra?Luv u Full..GBU.Buat tulisan baru ya..
Ricardo Parulian Sibagariang,
@ Benny H. Marbun
Horas.
Yang Ampara Benny katakan itu sebenarnya seumpama kepasrahan dan pesimistis dalam mengamati persolan tarombo Naipospos. Apalagi sikap tidak mau menguji yang kita ketahui, termasuk sikap egoisme.
Bisa juga hal tersebut ditafsirkan dalam rangka menguburkan kebenaran sejarah.
Izinkan saya mengambil pengandaian dari segi orang Kristiani.
Seandainya para nenek moyang kita berpegang teguh bahwa apa yang dipercayai mereka secara turun-temurun adalah yang paling benar maka mereka dan mungkin hingga kita saat ini tidak memeluk agama Kristen. Tetapi oleh terang kuasa Tuhan maka kita tertebus dalam darah Anak Allah yang kudus. Sehingga kita menjadi orang yang percaya kepada Bapa dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Mari menguji segala sesuatu dan memegang yang benar.
Tapi tak apalah, itu adalah hak tiap individu.
Di dalam dunia, ada dua jalan: lebar dan sempit. Mana kau pilih?
Yang lebar api, jiwamu mati. Tapi yang yang sempit, jiwa mulia.
Begitulah lebih-kurangnya teks nyanyian anak Sekolah Minggu yang patut pula menjadi bahan renungan kita bersama.
Bagi saya pribadi, apakah diterima atau tidak penjelasan saya, itu kembali pada masing-masing individu. Yang penting saya telah mengingatkan Saudara-Saudara. Atau saya ambil istilah dalam agama: Ndang marutang hosa be ahu.
Matius 18:15-17
18:15 “Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali.
December 6th, 2009 at 11:49 am18:16 Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan.
18:17 Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.
Benny H Marbun,
@RPS
December 6th, 2009 at 4:12 pmTerlalu jauh pengandaiannya..GBU
hendry Lumban Gaol,
Horas anggia,….
unang pa abbal-abbal hata, hodo mandok i. Asal kata ni MARBUN, kau bilang MAARBUNI, atau pernikahan secara SEMBUNYI-SEMBUNYI…
Pertanggung jawabhon tulisna mi, manang na sanggahan pe i manang na beguattuk, nunga didok ho ia MARBUN adalah hasil pernikahan dai naipospos secara marbuni.
December 7th, 2009 at 9:13 amRicardo Parulian Sibagariang,
@Benny H. Marbun
Horas.
Not problem.
TUHAN sertamu juga, Amin
December 7th, 2009 at 11:22 amRicardo Parulian Sibagariang,
@Hendry Lumban Gaol
Horas, Ampara.
Unang jo intor dok na mambal, Amparangku. Parrohahon jo bagakbagak aluski. Jangan terbawa emosi.
Pernyataan Marbun yang dalam tulisan saya berasal dari kata “marbuni” telah saya pertanggungjawabkan. Saya juga mencantumkan bukti kesulungan Donda Hopol (Sibagariang). Sekaligus saya pula meminta Ampara Hendry untuk memberi bukti kesulungan Marbun sesuai dengan pernyataan Ampara terdahulu.
Atau kita tidak usah jauh-jauh. Coba Ampara Hendry, kunjungi situs berikut.
http://silsilah.naipospos.net
Pada situs itu tercantum nama anak ke-5 Raja Naipospos yakni Marbun (Marbuni).
Ampara Hendry tahu, siapa pembuat situs itu? Dia adalah Holong Friendus Lumban Gaol.
Bagaimana responnya, Ampara? Paham kan maksud saya?
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
December 7th, 2009 at 11:33 amhh,
@Ampara Richardo Parulian Sibagariang,
Marbinda ma jo hita di Ari Pesta on bah, asa songon na mantap jo. Hoda ma jo tabinda? Asa songon na istimewa.
Hahaha.
December 8th, 2009 at 12:08 pmLeopold P. Sibagariang,
SALAM DAMAI SEJAHTERA!
Kita sedang memasuki masa Advent. Dalam bahasa Batak disebut masa panagamnagamon. Kita mempersiapkan diri untuk menanti hari kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus yang kita rayakan dalam Hari Raya Natal, 25 Des. 2009. Advent berarti menanti dan menunggu dengan penuh kreasi dan usaha untuk membersihkan diri sehingga layak menyambut Sang Emmanuel, Allah beserta kita!
Proses pembersihan diri adalah keberanian menatap diri, keluarga, dan bahkan asal-usul dan lingkungan sendiri. Dalam konteks kita di sini, adakah kita tidak membawa pemikiran yang amburadul, tidak konsisten, dan tidak logis dalam menatap dan menuturkan silsilah Raja Naipospos dan keturunannya?
Beberapa ketidaklogisan, keamburadulan, ketidakkonsistenan pemikiran terbentang dalam silsilah yang diutarakan beberapa saudara adalah:
1. Menjungkirbalikkan antara Sipoholon dan Marbun pada satu pihak dengan Marbun dan Sipoholon di pihak lain.
2. Memporakporandakan tarombo lazim Batak dimana pada satu kesempatan kita memanggil abang tetapi pada kesempatan lain kita memanggil adik pada marga/orang yang sama.
3. Memperlihatkan mis-logis pemikiran. Contoh: mengatasnamakan keseluruhan padahal maksudnya sebagian. Inilah contoh yang dikatakan oleh Muchtar Lubis sebagai “menerabas”!
Advent menjadi relevan jika kita berani menatap kerapuhan diri kita, keberdosaan kita, ketidaklayakan kita, dan melangkah menuju pembersihan (vurgatif) menyongsong Sang Juru Selamat.
Syaloom,Damai Sejahtera!
Bapak Mario Stefan
December 8th, 2009 at 9:12 pmhendry Lumban Gaol,
Siapakah PENULIS Kutipan saya berikut ini??
” SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA
Profil Penulis
Mari bergabung dalam dunia facebook dan jadilah teman saya dengan mengklik nama saya yang merupakan pranala berikut.
Ricardo Parulian Sibagariang
Martuasame merupakan julukan Raja Naipospos yang memperanakkan 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.
Martuasame sebagai julukan Naipospos
Raja Naipospos mempunyai julukan MARTUASAME. Gelar Martuasame ini didapat Raja Naipospos karena dia mengambil isteri yang kakak-beradik boru Pasaribu.
Umbahen namambuat boru namarpariban (saama) Raja Naipospos jala alani namasa di tingki marsame Raja Naipospos marbunibuni mambuat tuanboruna napaduahon, gabe digoari ma ibana Martuasame. Jadi Martuasame, goargoar ni Raja Naipospos do i. Ndada goar ni anakna, songon pandok ni nadeba. (bahasa Batak)
Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.
Hal itu dapat kita lihat bahwa terdapat hubungan kata marsame dengan kata martuasame. Sehingga Martuasame bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos dan bukan juga nama asli Toga Sipoholon. Karena Sipoholon hanyalah nama daerah yang berasal dari kata sipohulon.”……
Molo dang adong mangakku, lapatanna BEGU ma na manurat i….
2. Berikutnya…..
”
Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.”
Pernyataan ini harus dipertanggung jawabkan.
Bahwa MARBUN bukanlah anak hasil SELINGKUHAN!!! titik sabalga ni uluni hoda
December 9th, 2009 at 8:27 amhh,
Ai dungi muse,,,,boasa dohonon na martua (martuasame) tu na marbuni buni di panamean?
December 9th, 2009 at 8:38 amhendry Lumban Gaol,
@ bang HH: nga jelas-jelas tukkang selingkuh, menyelingkuhi paribanna, molo jaman saonari on, nungnga di massahon on si naipospos on bah. Lak barani puang marbuni-buni??….ikkon di gebrek polisi manang pemuda setempat nimmu ma….dasar tukang selingkuh!!
December 9th, 2009 at 8:41 amLeopold P. Sibagariang,
Horas!
Memang memandang orang lain lebih mudah daripada memandang diri sendiri. Membicarakan orang lain juga lebih mudah mendengar orang lain bicara tentang diri. Mendengar orang lain bicara tentang diri kita membutuhkan kedewasaan sebab bisa saja pandangan kita berbeda dengan penilaian orang lain.
Untuk sebagian marga Sibagariang tidak mudah menerima kesalahan Ompungnya yang menyampaikan salah undangan horja kepada marga Marbun sehingga mengakibatkan sumpah, kutuk. Itu diceritakan, diwariskan dan dikembangkan oleh sebagian keturunan Naipospos. Itu adalah trauma untuk sebagian keturunan Sibagariang lebih merasa aman memakai marga Naipospos atau beralih menjadi marga Hutauruk atau bahkan juga menyebut diri marga Marbun.
Bagi saya sebagai marga Sibagariang, cerita kesalahan itu bukan suatu “cacad” yang luar biasa. Itu dipengaruhi oleh banyak background. Malahan ada kebanggaan kepada Ompung saya: Donda Hopol, yang tidak menutup-nutupi, atau merekayasa kesalahan menjadi kebenaran. Secara sejatinya, Ompung kami mengakuinya dan mengingatkan supaya hal demikian tidak terulang kemudian hari!
Manusia kini dan juga masa lampau tidak sedikit merobah ketidakbenaran menjadi kebenaran. Bukan hanya kebenaran, yang beda dengan pendapatnya sendiri pun disampaikan sudah menjadi runtuh harga dirinya. Memang jauh lebih mudah melihat selumbar di mata sesama kita tetapi ……. di mata kita tidak kita lihat.
Maka bersekolah itu bukan untuk gengsi, jabatan, dan harta (hamoraon, hagabeon, dan hasangapon) belaka tetapi terutama untuk kehidupan. Non scolae sed vitae discimus!
Syalom
December 9th, 2009 at 4:50 pmRicardo Parulian Sibagariang,
@Hendry Lumban Gaol
Horas, Amparangku.
Bagakbagak jo hita mangakatai, Amparangku Hendry. Maol do diantusi hamu hata ba, Amparangku Hendry. Loja ahu patorangkon tu hamu. Ala gabe sai marulahulak angka pandohanki annong. Hualusi sungkunsungkunmuna; ndung i ro ma sungkunsungkunku, alai ndang dialusi hamu; intor ro muse ma sungkunsungkunmuna. Huhilala ndang bagak songon i, Amparangku Hendry. Ndang na so ra ahu nian mangalusi sungkunsungkunmuna, alai alusi hamu ma jo sungkunsungkunku.
Ingot! Ndang boi holan hata tarombo. Berikan bukti!
Jala, huhilala ndang pola hita on patubutubu parsoalan. Anggo lomo rohangku mambahen parsoalan, nunga haru tibu hian, marningot angka hata ni dongantubuniba sandiri di NAIPOSPOS ONLINE on yang secara langsung atau pun tidak langsung paleahon hami marga Sibagariang. Termasuk perkataan Ampara Hendry sendiri. Alai ninna rohangku, rohana ma disi. Sitaon dosana be do. Lagi pula saya lebih condong bepikir ke arah positif. Alai ro ma hamu Ampara Hendry, huida hamu: Pajolo di hata papudi di uhum do hamu. Manang boi dohononku: Asal ma monang hamu di hata alai talu di uhum.
Boasa huroha hudok songon i?
So nanggo di patorang hamu dope: Apa bukti bahwa Marbun-lah siempunya hak sulung, Ampara Hendry sudah langsung membuat persoalan yang tidak-tidak. Bahkan mengenai Marbun yang berasal dari kata “marbuni” telah saya pertanggungjawabkan pada tanggapan no.58 dan no.64.
Ai na dirimpu hamu do dakdanak naimbaru tubu donganmuna na mangkatai on?
December 9th, 2009 at 8:19 pmhendry Lumban Gaol,
Horas anggia…
ai dison pe dang na imbaru tubu be, nunga akka namarhasohotan.
Saya pribadi, nggak bisa memberikan bukti yang anggia minta, karena sumber yang saya dapatkan hanyalah ‘poda’ dan ‘ajaran’ keluarga saya.
OK?….ho monang.
Alai naporlu sipartanggungjawabhononmu, ima naditoru on. Asa unang sai didok ho adong na mangelai tu marga sibagariang.
saonari, diloloan na torop on, pertanggungjawabhon tulisan mon.
Siapakah PENULIS Kutipan saya berikut ini??
” SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA
Profil Penulis
Mari bergabung dalam dunia facebook dan jadilah teman saya dengan mengklik nama saya yang merupakan pranala berikut.
Ricardo Parulian Sibagariang
Martuasame merupakan julukan Raja Naipospos yang memperanakkan 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.
Martuasame sebagai julukan Naipospos
Raja Naipospos mempunyai julukan MARTUASAME. Gelar Martuasame ini didapat Raja Naipospos karena dia mengambil isteri yang kakak-beradik boru Pasaribu.
Umbahen namambuat boru namarpariban (saama) Raja Naipospos jala alani namasa di tingki marsame Raja Naipospos marbunibuni mambuat tuanboruna napaduahon, gabe digoari ma ibana Martuasame. Jadi Martuasame, goargoar ni Raja Naipospos do i. Ndada goar ni anakna, songon pandok ni nadeba. (bahasa Batak)
Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.
Hal itu dapat kita lihat bahwa terdapat hubungan kata marsame dengan kata martuasame. Sehingga Martuasame bukanlah nama salah satu putera Raja Naipospos dan bukan juga nama asli Toga Sipoholon. Karena Sipoholon hanyalah nama daerah yang berasal dari kata sipohulon.”……
Molo dang adong mangakku, lapatanna BEGU ma na manurat i….
2. Berikutnya…..
”
Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.”
Pernyataan ini harus dipertanggung jawabkan.
sahali nai. KAMI MARGA MARBUN, BUKANLAH TURUNAN HASIL SELINGKUHAN ALIAS NA MARBUNI-BUNI.
December 10th, 2009 at 7:50 amLeopold P. Sibagariang,
Horas…..!
Perbincangan kita dalam pokok ini adalah perbicangan yang bersumber dari fakta dan analisa bukan menyankut pribadi dan persona!
Menyangkut fakta berarti membentangkan muatan kultural Batak pada umumnya dan khazanah kita masing-masing pada khususnya. Misalnya bahwa Marbun berasal dari marbuni-buni, hal itu bukan pertama kali saya dengar dari web ini. Tetapi untuk sebagaian dari keturunan Naipospos hal itu sudah ada. Itu adalah fakta. Tidak perlu dipersoalkan. Menyangkut analisa dan argumentasi pro atau kontra maka mari kita bentangkan pendapat kita masing-masing dengan kepala dingin. Itu tandanya kita bukan lagi eksklusif tetapi inklusif. Kita menjadi eksklusif apabila menutup diri terhadap pandangan orang lain tetapi seenaknya membangun pandangan terhadap orang lain juga. Kita menjadi inklusif apabila kita menerima pandangan orang lain dengan memberi argumentasi yang masuk akal untuk menerima atau menyangkalnya.
Jadi perbincangan kita dalam web ini adalah perbincangan yang berbobot karena vocus terhadap yang diperbincangkan, bukan bukan melantur karena emosi ke masalah personal. Mari memberi argumentasi dengan kepala dingin. Biarlah pendapat kita masing-masing dinilai baik atau buruk oleh yang berkenan membaca web ini.
OC, saudara?
December 10th, 2009 at 7:39 pmSalam hangat dari saya!
Bapak Mario Stefan Sibagariang
Ricardo Parulian Sibagariang,
@Hendry Lumban Gaol
Horas, Amparangku.
Mauliate ma tutu molo dihilala rohamuna do na so dakdanak naimbaru tubu donganmuna na mangkatai on. Jala porlu do botoonmuna: Naung ubanon do donganmuna na mangkatai on. Hudok pe songon i, asa lam tu sangapna do hita sama hita na mangkatai on, tung naumposo tu namatua, namatua tu naposo, namatua sama namatua, nang naposo sama naposo pe. Na ingkon do hita manolukkon serep ni roha i. Ai dialo Debata do angka na ginjang roha. Allah menentang orang yang congkak hatinya.
Taringot tu hata ni angka dongantubuniba na paleahon marganiba di NAIPOSPOS ONLINE on, ndang haru porlu sai taringotanku angka hata aha i. Ai ndang lomo rohangku patubutubu parsoalan na mangkorhon bada, molo liat boi nian. On pe, ba ibana sandiri ma na mangarimangi pangalahona jala na mamilangi ariarina. Ndang dakdanak na so sirang panarusan be hita on huhilala. Nunga angka siantusi lapatan ni hata, ra hita on. Sitaon dosana be do hita on.
Ampara Hendry, kalau pertanggungjawaban saya mengenai asal kata Marbun dari “marbuni” ini telah saya pertanggungjawabkan pada tanggapan no.58 dan no.64. Tanggapan no.66, no.70 dan no.73 oleh dahahang Leopold P. Sibagariang pun sebenarnya sudah dapat menjadi renungan dan penjelasan ini itu. Maka saya rasa, kurang pantas Ampara Hendry mengulang-ulang meminta pertanggungjawaban dari saya mengenai asal kata Marbun yang saya nyatakan dari “marbuni”. Karena semua itu telah terjawab pada tanggapan terdahulu dan juga pada artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap pendapat Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos.
LUKAS 8:10
Lalu Ia menjawab: “Kepadamu diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Allah, tetapi kepada orang-orang lain hal itu diberitakan dalam perumpamaan, supaya sekalipun memandang, mereka tidak melihat dan sekalipun mendengar, mereka tidak mengerti.
Tapi tak apalah. Memang nalar pemahaman terhadap bahasa dan sastra pada tiap orang berbeda. Maka saya akan perjelas lagi.
Saya perlu tekankan ini: Tak pernah saya menghina apalagi merendahkan martabat dan harga diri siapa pun di NAIPOSPOS ONLINE ini. Karena kita adalah se-Citra dengan Allah (Imago Dei).
Amparangku Hendry, taringot na nialap ni Raja Naipospos muse pariban ni inanta parjolo gabe inantana paduahon, nunga mansai tangkas hutaringoti di artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap pendapat Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos. Maka karena itu, saya rasa hendaknya Ampara bacalah dulu semua tuisan dan tanggapan dan jawaban saya di NAIPOSPOS ONLINE ini. Nunga songon na lari hita on huida ba.
Atau, mungkin Ampara malas mencarinya. Ya sudah, saya salin saja.
Raja Naipospos tidak diberangkatkan dan tidak sepengetahuan isteri I (pertama) boru Pasaribu ketika Raja Naipospos mengambil pariban sendiri sebagai isteri II (kedua) boru Pasaribu. Sehingga karena tidak mau merasa dimadu dan perempuan mana yang mau dimadu maka timbul rasa kurang cocok antara isteri I (pertama) dan ister II (kedua) yang meskipun sebenarnya kakak-baradik dari satu bapak atau na marpariban. Rasa kurang cocok ini pun sampai kepada antar keturunan masing-masing isteri.
Marbun sebagai satu-satunya putera dari isteri II (kedua) boru Pasaribu merasa tidak tahan lagi akan perlakuan dari empat orang putera Raja Naipospos dari isteri I (Sibagariang-Hutauruk-Simanungkalit-Situmeang) maka Marbun bersama ibundanya dan satu orang saudara perempuan (ito) seibunya pergi ke daerah Humbang sambil membawa jerek sebagai jenis ogung warisan yang telah dibagikan Raja Naipospos sebelumnya. Kebetulan hanya Marbun dan satu orang anak perempuan (boru) keturunan Raja Naipospos dari isteri II (kedua) boru Pasaribu.
Saya tambahi.
Ini pula lah jawaban mengapa Marbun tidak menetap di Huta Raja. Nyata bukan, alasan saya?
Atau kita tidak usah jauh-jauh. Coba Ampara Hendry, kunjungi situs berikut.
http://silsilah.naipospos.net
Pada situs itu tercantum nama anak ke-5 Raja Naipospos yakni Marbun (Marbuni).
Ampara Hendry tahu, siapa pembuat situs itu? Dia adalah Holong Friendus Lumban Gaol.
Bagaimana responnya, Ampara? Paham kan maksud saya?
Ampara, sebenarnya hal di atas pun telah saya uji. Memang ada yang mengatakan – saya tidak tahu apakah Ampara Hendry termasuk – bahwa Marbun berasal dari kata “marubun” atau “marbuun”. tetapi setelah saya uji dan teliti, hal tersebut kuranglah benar.
Karena setahu saya bahwa belum pernah saya jumpai kata “marubun” dan “marbuun” dalam bahasa Batak. Makna kata “marubun” dan “marbuun” pun tidak saya ketahui. Seandainya pun ada, “mungkin” tidak berhubungan dengan kisah Raja Naipospos dan keturunannya. Padahal kita tahu bahwa nama putera Raja Naipospos mempunyai makna yang saling berhubungan. Namun, siapa tahu Ampara Hendry pernah dengar dan tahu makna kata “marubun” dan “marbuun”, tolonglah dijelaskan. Atau Ampara tahu kisah lain mengenai asal kata Marbun, tolonglah dijelaskan disertai bukti. Karena pernyataan Ampara Hendry yang menyatakan bahwa Raja Naipospos diberangkatkan untuk mengambil isteri kedua telah saya sanggah dengan bukti di atas.
Ingot! Ndang boi holan hata.
Oh iya, Ampara Hendry, ternyata tidak ada bukti pernyataan Ampara yang mengatakan bahwa Marbun-lah putera sulung. Sedangkan saya punya bukti yang masuk akal (nyata) dan telah saya sebut pada tanggapan terdahulu bahwa Donda Hopol (Sibagariang) adalah yang pertama kali lahir (putera sulung) dan bukan Marbun. Jadi saran saya, hendaknya Ampara berpikir lagilah untuk menyebut anggi (amanguda) kepada marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Atau Ampara Hendry enggan menerima kenyataan bahwa Lumban Gaol bukan hanya marga siampudan Naipospos tetapi juga dalam bangso Batak?
Ingat Ampara, dalam dunia ini, bukan semua ajaran itu sehat adanya. Tetapi ada pula ajaran tidak sehat (sesat). Maka daripada itu, saya selalu menekankan untuk menguji semuanya. Karena itulah doa kita agar kita tidak termasuk dalam yang sesat. Suatu dosa bagi kita melakukan tindakan secara sadar, padahal kita tahu bahwa itu adalah salah.
Berhubung Ampara Hendry akhir-akhir ini Ampara Hendry menyebut saya “anggia”, padahal Ampara Hendry tak dapat memberi bukti kesulungan Marbun, maka saya meminta pertanggungjawaban Ampara yang akhir-akhir ini Ampara Hendry menyebut saya “anggia”. Unang holan sitau da.
Berikut ada fakta-fakta yang dapat menjadi renungan dan cermin bagi kita bersama.
FAKTA PERTAMA
Pada artikel Partangiangan Situmeang se-Dunia 2009, Ampara Hendry menyebut seorang bernama Duliman H. Situmeang dengan sapaan “abang” (tanggapan no.9). Berikut pertikannya.
Sekarang, saya lepas dulu dengan padan yang berpasang-pasangan. Bagaimana mungkin, Ampara Hendry Lumban Gaol memanggil “abang” kepada Situmeang dan “anggi” kepada Sibagariang; sedangkan Situmeang saja adalah anggi doli ni Sibagariang?
FAKTA KEDUA
Saya juga banyak kenal marga Marbun Banjar Nahor, dan sebagian dari mereka memanggil saya “abang”.
Bagaimana mungkin, Ampara Hendry Lumban Gaol memanggil “anggi” kepada Sibagariang; sedangkan Banjar Nahor sebagai hahadoli ni Lumban Gaol memanggil “abang” kepada Sibagariang?
FAKTA KETIGA
Ini lagi kisah nyata yang dialami oleh ompung doli suhut saya sendiri Laris Kaladius Sibagariang.
Mungkinkah orang tua zaman dahulu tersebut salah? Apakah kita lebih pintar mengenai tarombo daripada orang tua marga Marbun tadi?
FAKTA KEEMPAT
Atau kita tak perlu jauh-jauh. Di NAIPOSPOS ONLINE ini saja ada marga Marbun yang mengaku bahwa Sibagariang adalah siangkangan. Pada artikel Sanggahan Ricardo Parulian Sibagariang terhadap pendapat Ama Natalia Lumban Gaol mengenai tarombo Naipospos, tanggapan no.1. Berikut petikannya.
FAKTA KELIMA
Generasi ketiga marga Sibagariang, Raja Unggun, diperkirakan sudah lebih-kurang 450 tahun lalu, telah berdiam di Humbang Hasundutan, tepatnya di sekitar Aek Godang sekarang, Kecamatan Onan Ganjang. Perkampungan yang dibuka keturunan marga Sibagariang di daerah tersebut, yakni: Aek Godang, Lumban Dolokdolok, Pagarsinondi dan Arbaan. Tetangga perkampungan Sibagariang tersebut adalah Batusandiri, Parbotihan, yang merupakan perkampungan Marbun Banjar Nahor. Dalam suatu buku, yang berbahasa Belanda di Perpustakan STFT St. Yohanes Pematangsiantar, tentang Batak, disebutkan bahwa Batusandiri adalah salah satu perkampungan marga Marbun yang tua, sebagaimana Aek Godang merupakan perkampungan tua marga Sibagariang.
Dari generasi ke generasi, di antara perkampungan marga Sibagariang dan marga Marbun di atas, tidak pernah marga Marbun memanggil marga Sibagariang sebagai adik tetapi selalu memanggil Sibagariang sebagai abang dalam seluruh tata kekerabatan, baik dalam hidup sehari-hari maupun “ulaon adat”. Demikian pun marga Sibagariang selalu memanggil adik kepada marga Marbun. Walaupun pembelokan terhadap tarombo tersebut telah mulai masuk tetapi mayoritas marga Marbun di sana masih memanggil Sibagariang sebagai abang sampai sekarang dan tak satu pun marga Sibagariang di sana pernah memanggil marga Marbun sebagai abang tetapi memanggilnya sebagai adik.
Bagaimana responnya Ampara Hendry?
KESIMPULAN
Saya juga perlu tambahkan bahwa meskipun saya ada menyatakan kisah bahwa Raja Naipospos marbunibuni (sembunyi-sembunyi) mengambil isteri kedua, tak ada sedikit pun maksud saya yang kurang baik. Karena itulah Amparaku Hendry, pemahaman umum di bona pasogit Naipospos (Dolok Imun, Huta Raja) mengenai kelahiran Marbun. Kalau tidak percaya, silahkan ditanyakan langsung kepada tetua keturunan Raja Naipospos yang ada di Huta Raja. Tapi mohon maaf yang sebesar-besarnya jika kisah yang saya tulis tersebut menimbulkan pemahaman yang keliru bagi Ampara.
Perlu pula adanya pemahaman bahwa mempunyai istri lebih dari satu pada masanya Naipospos dahulu kala bukan suatu kenistaan melainkan sesuatu hal yang lumrah sesuai alasannya, apalagi seperti Naipospos yang memang beralasan kuat untuk melakukan hal itu karena justru akan menjadi kenistaan bagi Naipospos apabila memang tidak mempunyai keturunan hanya karena mempertahankan satu istri. Sejarahnya bahwa ayahanda Naipospos beristri lebih dari satu, ompungnya pun beristri lebih dari satu, Sisingamangaraja-XII beristri lima, dan bahkan Raja Sulaiman (Raja Salomo) yang dipuja-puja oleh banyak orang adalah beristri 1000 (seribu) orang, mengalahkan rekor istri-istri bapaknya si David (Raja Daud) yang berjumlah 200 orang. (> Kearifan Menapaki Sejarah Seorang Naipospos dan Keturunannya )
Sekarang sudah paham kan, Ampara Hendry Lumban Gaol?
Mohon maaf jika ada kata-kata yang kurang berkenan di hati.
Terimakasih.
Salam hangat persaudaraan,
RICARDO PARULIAN SIBAGARIANG
December 11th, 2009 at 11:00 amhendry Lumban Gaol,
Horas ma anggia….
1. Huponggol ma jo, surat mon, ima 17 Sanggahan nanidok mi
Manat mardongan tubu. Ndang namangalangkai jala ndang namangorui sangap ni Amparaniba Maridup Hutauruk ahu. Santabi jala ondihon (maafkan) ahu ate, Ampara. Tu hadengganon jala hasadaonta do on.
Ampara Ama Natalia Lumban Gaol, kalau saya mengatakan bahwa Raja Naipospos lah yang memberikan nama pada lima orang puteranya itu (Donda Hopol-Donda Ujung-Ujung Tinumpak-Jamita Mangaraja-Marbun). Lima nama yang mempunyai makna saling berhubungan dan menjadi doa kepada Sang Pencipta.
Mengenai makna nama-nama dari lima putera Raja Naipospos telah saya tambahkan pada artikel KISAH RAJA NAIPOSPOS DAN KETURUNANNYA dan juga pada wikipedia. Nama-nama yang mempunyai makna saling berkaitan dan menjadi salah satu bukti bahwa Raja Naipospos adalah sosok yang gabe mempunyai lima orang putera.
Demikian pula halnya Marbun yang disamping mempunyai makna sahala hagabeon juga ternyata berasal dari kata marbuni.
Raja Naipospos tidak diberangkatkan dan tidak sepengetahuan isteri I (pertama) boru Pasaribu ketika Raja Naipospos mengambil pariban sendiri sebagai isteri II (kedua) boru Pasaribu. Sehingga karena tidak mau merasa dimadu dan perempuan mana yang mau dimadu maka timbul rasa kurang cocok antara isteri I (pertama) dan ister II (kedua) yang meskipun sebenarnya kakak-baradik dari satu bapak atau namarpariban. Rasa kurang cocok ini pun sampai kepada antar keturunan masing-masing isteri.
Nda, hamu do mandok jala mangondolhon hata MARBUN, pe marbossir ma sian hata MARBUNI. ( lihat warna merah )..( maaf beribu kali maaf, STYLE HURUF ini, hanya untuk membedakan mana pendapat RPS dengan saya, tanpa ada unsur MARAH dsb ),
HLG: On do na hualo sian parjolo perdebatanta, sian dia do dasarna barani hamu mandok hata MARBUN berasal dari kata MARBUNI?.
RPS:
Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame.
HLG : Saya sebagai keturunan MARBUN merasa tersinggung dan terlecehkan sama kalimat RPS diatas. Ini adalah saya. Kalau ada marga MARBUN yang berbeda pendapat dengan saya, itu sah-sah saja. Yang jelas ini sudah keterlaluan.
HLG: Apakah RPS juga sudah MENGUJI hal ini? bahwa Marbun lahir akibat perbuatan Raja Naiposps yang \’MAIN\’ secara sembunyi-sembunyi waktu dia marsame?. Bisakah perbuatan ini dinamakan dengan SELINGKUH?. Lalu, akibat perselingkuhan ada \’kelahiran\’ seorang bayi yang kemudian menjadi asal usul marga MARBUN?.
Lalu siapa bisa menjelaskan arti harafiah dari MARBUNI?, menurut saya, sembunyi-sembunyi, biar nggak dilihat orang dll.
Sattabi di badia ni da oppung, dang adong dope sian HAMI nahuboto, ima pomparanmu di sandok desa na ualu on, ia ho tubu ala na MARBUNI, do Raja Naipospos. AI sai dipodahon natua-tua do tuhami, ia na di RIRIT AKKANG na do ANGGINA ala so GABE, so Mardakdanak. Diparaja dohot denggan do boru Pasaribu, inang ni marbun. Dang marbuni-buni.
Inilah kepercayaan kami yang kami yakini, dan apakah kami juga di CAP si JOGAL BAUT bila mempercayai asal usul kami? allahualam!.
RPS : Ingot! Ndang boi holan hata.
Oh iya, Ampara Hendry, ternyata tidak ada bukti pernyataan Ampara yang mengatakan bahwa Marbun-lah putera sulung. Sedangkan saya punya bukti yang masuk akal (nyata) dan telah saya sebut pada tanggapan terdahulu bahwa Donda Hopol (Sibagariang) adalah yang pertama kali lahir (putera sulung) dan bukan Marbun. Jadi saran saya, hendaknya Ampara berpikir lagilah untuk menyebut anggi (amanguda) kepada marga Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, dan Situmeang. Atau Ampara Hendry enggan menerima kenyataan bahwa Lumban Gaol bukan hanya marga siampudan Naipospos tetapi juga dalam bangso Batak?
Ingat Ampara, dalam dunia ini, bukan semua ajaran itu sehat adanya. Tetapi ada pula ajaran tidak sehat (sesat). Maka daripada itu, saya selalu menekankan untuk menguji semuanya. Karena itulah doa kita agar kita tidak termasuk dalam yang sesat. Suatu dosa bagi kita melakukan tindakan secara sadar, padahal kita tahu bahwa itu adalah salah.
Berhubung Ampara Hendry akhir-akhir ini Ampara Hendry menyebut saya “anggia”, padahal Ampara Hendry tak dapat memberi bukti kesulungan Marbun, maka saya meminta pertanggungjawaban Ampara yang akhir-akhir ini Ampara Hendry menyebut saya “anggia”. Unang holan sitau da.
HLG: dari awal masuk website ini, saya selalu memanggil siapa saja disini dengan sebutan ABANG.
Kenapa saya memanggil RPS akhir-akhir ini dengan sebutan ANGGIA? ( nga muruk tong abang HH tu ahu ala hujou RPS ANGGIA…lok disi…dang hu tergei…haru boan bang HH sordak ni pittu mi dang hian mabiar au)
Tak lain, karena RPS selalu MENGHAKIMI kita-kita ini, yang tidk menerima PENDAPATnya yang mengatakan bahwa keturunan raja naipospos adalah 5.
Berbeda pendapat boleh. Saya meyakini 2, itu hak saya.
Didunia pergaulan sehari-hari, saya selalu memanggil abang keapda TOGA SIPOHOLON. Kecuali AMANG MONANG NAIPOSPOS ( sori kumandan, namamu kusebut tanpa ijin…..), itu pun setelah kami berdiskusi, kubilang BAPAKKU sudah mendekati 60th, dan amang MN bilang dia lebih muda. Lalu terjadi TAWARMENAWAR, harus panggil apakah saya?. BELIAU bilang terserah, jadilah aku panggil AMANGUDA.
Alai ro ma RPS, sai disossothon tu iba pandapotna, ala dan tarjalo au, bah didok au SIJOGAL BAUT. Untuk membuktikan UCAPANYA, bahwa saya SIJOGAL BAUT, maka terimalah UPAHmu RPS, kupanggillah kau ANGGIA.!
Alasan, ajaran orangtua kami, marbun adalah sihahaan. Ingot, molo hulaosi poda ni damang, dang anak na hasea au.
mauliate ma.
December 11th, 2009 at 6:53 pmRicardo Parulian Sibagariang,
Horas ma di hita saluhutna.
Saya rasa sudah lebih dari cukup penjelasan atau pun perbincangan kita mengenai tarombo Naipospos, Amparangku Hendry.
Tapi ada sedikit informasi penting yang perlu kita ketahui bersama bahwa beberapa hari lalu, saya menerima pesan dari seseorang yang pastinya adalah keturunan Raja Naipospos tapi tidak bermarga Sibagariang. Pesannya adalah sebagai berikut.
Jadi Amparangku Hendry, biarlah publik yang menilai dan menyimpulkan semua perbincangan kita ini mengenai tarombo Naipospos.
Satu hal yang perlu saya tekankan bahwa tak satu pun yang saya hakimi. Tapi saya hanya mengingatkan, menasihati, dan membangun saja; molo liat olo ibana.
Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. (I Tesalonika 5:11)
Doaku besertamu Amparangku Hendry: Anggiat muba rohami.
TUHAN sertamu, Amin.
Kasih karunia, rahmat dan damai sejahtera dari Allah Bapa, dan dari Yesus Kristus, Anak Bapa, akan menyertai kita dalam kebenaran dan kasih. (II Yohanes 1:3)
December 14th, 2009 at 12:24 pmHendry Lbn Gaol,
Horas….
Songon ma molo mabiar jala dang olo mandok hata ’sala’. RPS telah menghina semua keturunan marga marbun. Dengan menyebut kami ini adalah keturunan dari seorang istri yang ‘marbuni-buni’ dengan suami orang.
Bertobatlah RPS….
Ada saatnya nanti RPS mendapatkan apa yang telah dia tanam. Saya hanya menginginkan RPS mengubah tulisan-tulisanya yang dengan SOK tahu menyebutkan ASAL kata MARBUN.
Oke,…
daripada di web ini kita diskusi, mari, kita ktemua dan kopi darat. Saya tinggal di bekasi, dimana saya harus datang??.
Takkan ku maafkan kalian yang telah menghina daoppung, raja marbun.!!
Saya juga banyak bertemu dengan orang seperti RPS, tapi saya selalu berlapan dada, ai holan 3 do naso sialoon di portibi on….
December 15th, 2009 at 8:53 amHendry Lbn Gaol,
Adong na hurang…..
Minggu kemaren, saya dengan abang saya St. J Situmeang sedang bercakap-cakap. Lalu seeseorang dari teman, ikut nimbrung. Dan bilang, “Sai na adong do marga na jugul disada-sada tarobbo ni oppu, songon hamuna ma, ai tarbarita do hajugulon ni marga sibagariang, sian hamu na pitu marga di naipospos” ninna. Lalu cepat-cepat saya protes. “Daong dah, akka na burju do dongan tubu nami marga sibagariang, molo tung pe adong sasahalak, bah disude marga do i, ateh dang i abang?”
Abang saya ini cuman senyum cengengesan,….
horas ma
December 15th, 2009 at 9:00 amRicardo Parulian Sibagariang,
@Hendry Lumban Gaol
Up to you, Amparangku Hendry.
Terimakasih banyak.
TUHAN sertamu, Amin
December 15th, 2009 at 11:59 amHendry Lbn Gaol,
ini nih, jawaban yang tak sebenarnya saya harapkan, ingat…..RPS telah melecehkan marga marbun, so minta maaflah, dan ubah tulisan-tulisanmu. Kami dari turunan marga marbun, parlambas roha kok, mungkin RPS lagi kurang teliti atau bangaimana. Mungkin dari sekian marga marbun yang membaca tulisanmu telah terlukai hatinya. Ingat, saya juga mem-print out makalahmu dan memberikannya kepada beberapa orang dongan tubu saya marga marbun. mereka kaget bukan kepalang.
kami bukan keturunan dari hasil perselingkuhan RPS, ingat itu….so, berikap bijaklah. Selingkuh adalah AIB RPS, atau RPS berpikiran lain??…
horas ma
December 17th, 2009 at 8:27 amhh,
@ Ampara Richardo
@ Ampara Komentator na so barani markomentar secara langsung di forum on.
…Suang songoni na berinitial hh,dang porlu antoan jolma nasobarani patuduhon identitas na laho pajongjonghon sadaq hasintongan.
Songonima ninna rohangku amang,alai anggo di hami hatorangan muna i mansai godang do lapatanna,nata pe nahuboto hami saleleng on dang songon nasinurat muna i.
Horasma.GBU
=>Ninna roha da, unang ma manginsahi binoto, hape diri niba pe si insahan do. Boasama pola ingkon japri tu ampara Richardo? Boasa dang langsung di forum on?
Alai nangpe songon i, ndada pola boha i, alana holan tu loloan di situs on do hamu nanggo apala patuduhon initial pe ndang olo kan? Ianggo tu ampara Richardo tangkas do ise hamu kan? Suang songon i do nang au, holan di situs on do au pakke initial hh i, ianggo tu dongan na asing singkop do. Lapatanna, na boi gantion do ianggo ID i.
Horasma.
NB.
December 18th, 2009 at 1:23 pmala manjou amang do komentator i tu ampara, na helanta do nasida?
hh,
@ Saluhutna hita na ro marsituriak di Naipospos.net on, na marningot/mamestahon hatutubu ni Tuhanta Yesus, Sipalua i, marhite biluk komentar on ro ahu pasahatho tu hita saluhutna: Salamat Ari Pesta 25 Desember 2009. Molo adong angka na humurang di tingki naung salpu, tabolushon ma i, unang tajujurhon i. Tuhanta ma na mamasu masu hita saluhutna tujuloan on.
Songon hata panimpuli, dohononhu do hata ni umpasa:
Batu jurguk
Horas hita luhut.
Pakkat do Hotang,
Tusi hita mangalangka, tusima dapotan.
Botima
December 25th, 2009 at 5:50 amLeopold P. Sibagariang,
SELAMAT HARI RAYA NATAL 25 DES. 2009
untuk semua dongan tubu pomparan Raja Naipospos.
Tepat yang dikatakan oleh Saudaraku hh, di atas bahwa Natal adalah saat yang tepat untuk refleksi. Saat ini kita berefleksi tentang diri kita di hadapan Tuhan dan sesama.
Tuhan Allah kita luar biasa. Dia hadir, turun dan mengalami kemanusiaan kita. Emmanuel, Allah beserta kita. Cinta Allah tidak bisa diurai tuntas dengan kata tetapi nyata dalam hidup kita. Nyata bahwa badan, akal, budi dan jiwa kita terangkat di hadapan Allah dan sesama. Dia membuat kita layak dan selamat.
Untuk-Nya kita pantas menggelorakan semangat cinta di antara kita. Kasih itulah meneguhkan dan mempererat persaudaraan kita, saudara-saudaraku. Salam hangatku kepada semua dongan tubu, saya dan semua keluarga mencinta dan mengasihi semua pomparan Raja Naipospos dalam Tuhan yang menyelamatkan. Luar bisa cinta itu meretas batas pemisah. Kita sama dan dikasihi Allah.
Pujian dan syukur kepada Tuhan
December 25th, 2009 at 8:25 pmdan damai dan cinta kepada sesama
Syalom
Ricardo Parulian Sibagariang,
SELAMAT HARI RAYA NATAL bagi kita seluruhnya pengunjung NAIPOSPOS ONLINE terkhusus keturunan Raja Naipospos dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang.
Tak terlambat untuk ucapkan: Mohon maaf atas segala hal yang kurang-lebih dari saya.
SALAM DAMAI
December 29th, 2009 at 12:49 pmMaridup Hutauruk,
@Leopold P. Sibagariang
January 2nd, 2010 at 8:58 pmThank you for the Greeting Seasons, GBU
Leopold P. Sibagariang,
My brother Maridup Hutauruk
Thank you. Happy New Year, 2010.This cronos time becomes chairos. We love and serve integral human being. Here we are!
January 3rd, 2010 at 7:21 pmlionly situmeang,
Syaloom,
January 23rd, 2010 at 9:24 pmMakasih ito atas informasinya,jujur aja selama ini aku kurang tau,tentang asal usul secara detail mengenai naipospos,tapi setelah membaca naipospos online ni aku jadi lumayan dapat gambaran,dan aku sangat antusias tuk dapat lebih banyak info mengenai pomparan naipospos ini
Terimakasih
Horas
Ricardo Parulian Sibagariang,
Sdr. Lionly Situmeang
Syaloom, Ito.
Horas.
Salam kenal dan parhorasan dari kami sekeluarga Ricardo Parulian Sibagariang kepada Itoku sekeluarga Lionly Situmeang.
Selamat datang dan berkunjung di situs NAIPOSPOS ONLINE terkhusus pada artikel tulisan saya ini.
Ito, ada sebuah kata bijak yang kurang lebih berbunyi demikian: Semakin banyak yang engkau tahu maka semakin banyak pula yang tidak engkau tahu.
Syukur pada TUHAN karena telah menyediakan NAIPOSPOS ONLINE ini sebagai salah satu wadah pengungkapan dan pencerahan kebenaran tarombo Naipospos. TUHAN kiranya memberkati mereka yang dipakai TUHAN untuk membangun NAIPOSPOS ONLINE ini, Amin.
Tetap semangat selalu, Ito.
TUHAN sertamu, Amin
January 24th, 2010 at 5:35 pmhotmaria lumbangaol,
makasih nya ito cardo
selama ini aku kurang paham dengan detail Raja naipospos
tapi dengan membaca naipospos online aku semakin tahu partuturan raja naipospos ito Cardo.
makasihlah atas informasinya
horas ma di hita saluhutna sai Tuhan ma na mandongani hita sasude na
March 18th, 2010 at 1:44 pmTony situmeang,
Mari kita bercermin saudara/i ku, masalah ini dan itu jangan di besar2kan ,holan hata do dihita pambaenan soadong.Unang gabe dihata jolma hita sandok mardame sonang ma pomporan ni ompui ima Raja Toga Nai Pos-pos.
May 9th, 2010 at 4:36 pmKakanda Ricardo,yang terbaiklah kita tulis dan keturunan pomparan Toga Nai Pos-pos dapat mencerna sebaik mungkin.
marluga lumban gaol,
Salam buat kita semua TOGA NAIPOSPOS……..Saya sudah paham apa arti tulisan dr awal .yg pasti setiap manusia tidak akan mau menerima kesalahan dan mengakui.tdk ada orang yg tau pasti yg masih hidup sekarang ini mengenai Toga naipospos dan keturunannya.menurut saya itu kok di putar balikkan ha ha ha.kampung itu bisa aja jadi nama contoh ;lumban gaol = luat pisang=huta pisang=lumban pisang kok bisa ya jadi marga atau jadi nama kalo kita mikirin itu,sampai runtuh bulan ke bumi tidak akan selesai.KESIMPULANNYA TERIMA AJALAH APA YG ADA SEKARANG
May 11th, 2010 at 5:41 am