Opera Batak dari masa ke masa
Oleh: Hotman Jonathan Lumbangaol, Upload 28 April 2008
Opera Serindo Pelestari Turiturian Batak
Turi-turian adalah cerita rakyat dari tanah Batak. Pada era Group Serindo, dipelopori Tilhang Oberlin Gultom (1928), turiturian dipertontonkan dalam bentuk drama (opera). Pementasannya menjadi hiburan menarik bagi semua kalangan dewasa muda usia. Selain membawa pesan moral, sering kali menyelipkan lawakan setiap pertunjukkan, Di samping itu, serindo menjadi panggung meniatur memperkenalkan budaya orang Batak ke setiap penjuru.
Turiturian yang dipentaskan Serindo paling terkenal adalah lakon drama para tokoh-tokoh yang menjadi simbol perlawanan Batak. Khusus pementasan semangat juang Sisinggamangaraja, Serindo lebih dahulu menggadakan ritual. Ritual-nya sesuai acara agama Parmalim. Selain dianggap sakral juga sebagai penghormatan terhadap Sisinggamangaraja.
Walau hanya cerita masa lalu, kisah Sisinggamangaraja harus benar-benar tulus dilakonkan. Tahapan ritual didahului mempersembahkan kambing warna putih ke Ompu Mula Jadi Nabolon. Ompu Mula Jadi Nabolon adalah dewata yang diyakini agama Parmalim sebagai tuhan. Lalu, pemeran utama terlebih dahulu dimandikan jeruk purut. Kemudian darah kambing tersebut dan sisa jeruk purut disirami ke setiap sudut pentas. Selain dianggap sakral, ritual ini dipercayai menjaga semua personil terhindar dari malapetaka.
Serindo menjadi group seni kebanggaan pada masa lalu, terbukti dari Surat Kabar Perjatoeran, edisi 15 Agustus 1928 menyebutkan, opera Serindo mulai melanglang-buana dari Balige, Siborong-borong, Humbang, Tapanuli dan semua kota-kota di Sumatera Timur.
Selain opera Sisinggamangaraja, opera yang selalu menarik dan ditunggu-tunggu banyak orang adalah lakon AWK Samosir memerankan tokoh wanita Yohannis Situmorang. Lucunya, penggemar malah mengira AWK Samosir benar-benar seorang perempuan. Kemampuan AWK memerankan tokoh Yohannis Situmorang menari, sama seperti keahlian penari Didiek Tawok (53) menarikan semua tarian tradisional, walau ia seorang laki-laki namun mendedikasikan hidupnya pada tari tradisional.
Pada masanya, Serindo bisa bertahan dengan menjual tiket. Dari menjual tiket itulah membiayai operasional Serindo. Itu sebabnya sebelum pertunjukkan, penonton harus terlebih dahulu memiliki tiket. Membelinya di stand pembelian, lalu kemudian, distempel penjaga opera. Pengunjung pun tidak bisa sembarangan keluar masuk wilayah pementasan. Opera-nya persis menonton teater. Serindo menjadi pementasan drama satu-satunya di Tapanuli, Sumatera, walau personilnya hanya limapuluh orang.
Persiapan sebelum Acara
Kemudian, yang menarik lagi. Proses sebelum acara, harus lewat izin dari kepala lorong, desa, dan kecamatan. Tahapan mengurus sebelumnya dikerjakan devisi khusus bagian pengurusan. Tiga hari sebelum selesai acara disatu tempat tim pengurus izin terlebih dahulu mengurus tempat pertunjukkan. Baru kemudian group akan menyusul sehingga tidak membuang waktu percuma menunggu hanya persiapan tempat.
Group Serindo makin terkenal ketika pertama bermigrasi ke Jakarta tahun 50-an. Di periode kepemimpinan Jakarta Letjen KKO (purn) Ali Sadikin, program Gubernur DKI terobsesi Jakarta ingin dikenal dunia, salah satu lewat pameran budaya. Maka tahun 1966 pada pembukaan pameran Jakarta Fair pertama, Serindo diundang menjadi salah satu peserta.
Masa kepemimpinan Ali Sadikin memang terkenal getol mempercayakan tugas-tugas oembangunan kepada putra-putri Batak. Salah satu contohnya, proyek angkutan umum Perusahaan Perhubungan Djakarta (PPD) menunjuk Mangaradja Halomoan Hutagalung menyediakan armada angkutan itu. Sang pelopor PT Arion Paramitha Group menyediakan bus Arion, dan kemudian hari makin berkembang. Tentu tidak lepas dari peran Bang Ali. Demikian juga group Serindo terkenal diboceng Jakarta Fair Pertama ke seluruh Penjuru Indonesia. Walau Serindo terlebih dahulu dikenal di Sibolga, Samosir, Porsea, Balige, Siborong-borong, Dolok Sanggul.
Sepeninggalan Tilhang Gultom, opera Serindo pun makin surut. Kemudian AWK Samosir murid sekaligus dianggap anak Tilhang, mendirikan Group Serbudi (Seni Budaya Indonesia). Sukses Serindo di masa lalu tidak lepas dari peran Tilhang Gultom, ia adalah mantan camat di Tiga Dolok sebelum terjun menjadi pengarang turi-turian drama. Ending sebenarnya ditulis dari kejadian dibuat-buat atau rekaan. Demikianlah turi-turian melegenda dari satra lisan kemudian menjadi sastra tulisan?sebelum dijadikan lakon drama pada opera Serindo. (Hotman Jonathan Lumbangaol)
Mengenang AWK Samosir
Semasa hidupnya AWK Samosir (1928-2007) gundah melihat khazanah budaya Batak makin tersisihkan. Misalnya; cerita-cerita rakyat tidak dipertontonkan lagi mengantar anak-anak tidur. Hal lain yang menjadi kegusara adalah tata ritual adat yang banyak menghilangkan makna. Contohnya, mangulosi (memberikan kain ulos) tidak lagi dengan tortor Batak, tetapi sudah menjadi lagu suku lain.
Ia adalah seniman, yang mendedikasikan hidupnya terhadap budaya Batak. Lewat pengabdian totalitas terhadap adat Batak. Buktinya, rumahnya di Jalan Manunggal, Kelurahan Lubang Buaya, Jakarta Timur, dijadikan sebagai posko Group Pardolok Nauli memelihara khasanah budaya Batak. Semasa hidupnya sebelum meninggal pada 23 Januari 2007, pondoknya dijadikan tempat mengajar penari dan latihan Group Serbudi; sekaligus tempat ritual agamo Parmalim.
Ia mengarang sepuluh lagu Batak yang telah dipakai oleh artis-artis Batak di album mereka. Misalnya; Goar Ni Hutanami Hutanamora (Nama Kampung Kami), Nasundat Sikkola (Sekolah Tertunda), Anak Sasada (Anak Tunggal), Sirang So Sirang (Cerai tapi tidak berpisah), Tuginjang Ni Porda (Keatas Ku Melihat), Sianjur Mula-mula (Sianjur Asal Usul), Margurilla (bergerillya), O Inang Pangitubu (O Ibu Yang Melahirkan), O Amang Didia Peak Nihatingkoran, (O Ayah dimana tempat memandang), Tarombo Ni Siraja Oloan( Sisilah Siraja Oloan). Dulunya lagu tersebut salah dicantumkan perusahaan rekaman sebagai karangannya. Kemudian pada tanggal 9 Mei 2004 dilakukan perbaikan oleh ank-anaknya.
Dua dari istrinya memberikan ia tujuh anak. Dari Istrinya boru Hasibuan adalah Makmur Samosir (57), Welkom Samosir (55) Sumarni br Samosir Menikah dengan Lumban Gaol (53), Sairun Samosir (48) German Samosir (40). Sedangkan dari Istrinya kedua dua anak. Dedikasinya terhadap budaya-lah sehingga group gondang Pardolok Nauli dirintisnya. Seluruh hidupnya menjadi dipersembahkan bagi adat Batak. Sebagai seniman, penari, pemain teater Batak, dan memainkan alat musik tradisional. Demikian kenangan dengan sang penari legendaris dan pemilik rambut selalu dikuncir ke belakang. (Hotman Jonathan Lumbangaol)
Catatan dari berbagai sumber
- Tilhang Oberlin Gultom lahir di Sitamiang, Pulau Samosir. Tahun 1925 Tilhang menjadi pengarang turi-turian dan membentuk trio yang diberi Tilhang
Parhusip (Group trio orang Batak pertama). Tilhang memetik kecapi, Pipin Butarbutar, Adat Raja Gultom kecapi Python. Tilhang sebelumnya adalah
camat di Tiga Dolok.
- Tahun 1928 Opera Serindo berdiri dan memulai debutnya dari Balige, Siborong-borong dan kota-kota di Tapanuli. Dan didukung 50 personil.
(AWK Samosir adalah murid langsung Tilhang Gultom sejak kecil sudah dilibatkan )
- Tahun 1929 menganti nama Serindo menjadi Batak Sitamiang, tidak berapa lama menganti nama Tilhang Opera Batak (TOB)
- Tahun 1933 TOB mulai kesohor dari Semenanjung Malaka, Penang (Malasya), hingga Singapura.
- Tahun yang sama TOB berganti menjadi RIA TOB.
- Pendudukan Jepang di tanah Batak Tilhang mengubah nama menjadi Tilhang Toeel Gezalcap (TTG)
- Akhir tahun 40-an TTG menjadi Sandiwara Asia Timur Raya, namun karena intervensi Gun Seikanbu dari pemerintah Jepang,
opera distop daripada menjadi propaganda Jepang. Sejak saat itulah opera Tilhang mati suri.
- Tahun 1950 Group Serindo datang ke Garut untuk pentas menghibur tentara.
- Diawal Tahun 1970 sisa-sisa personil Serindo dipimpin Abdul Wahab Kasmin Samosir (1928-2007) bersama tim Universitas Sumatera Utara dalam rangka
memeriahkan Jakarta Fair Pertama. Dan mendirikan opera ?Serbudi ?Seni Ragam Budaya Indonesia.
- Tahun 1973 AWK Samosir mendirikan Pardolok Nauli (Group Gondang).
- AWK Samosir wafat 23 Januari 2007, jenazahnya dikebumikan di Samosir.
Info dari admin
Penyusunan Silsilah Naipospos Versi 1.0
Kami mengundang partisipasi Bapak/Ibu dalam menyediakan data silsilah dari generasi awal hingga generasi kita sekarang ini. Kirimkan data silsilah anda melalui email ke admin@naipospos.net

maridup,
Di tahun 70-an saya masih sempat menyaksikan beberapa kali pementasan Serindo dan sangat terkesan. Saya masih ingat lagu pembukaannya kira-kira begini syairnya:
Oh ibu, bapa, selamat datanglah
Janganlah jemu, datang pada kita
mempersaksikan Serindo kita
Marilah bersama membangunnya
Marilah, bersama…
membangun budaya
untuk Bangsa Indonesia
Hanya itu yang kuingat disamping lagu top serindo masa itu yang berjudul “Supir Motor”. Sunguh artikel ini mengenang kisah-kisah kenangan masa lalu. Thanks
August 3rd, 2008 at 7:39 pm