Filosofi Dalihan Natolu
Oleh: Hotman Jonathan Lumbangaol, Upload 19 Desember 2007
Nilai-nilai yang berkembang dalam budaya Batak, adalah tentang hamoraon (kekayaan), hagabeon (keturunan), dan hasangapon (kehormatan), telah mengalami pergeseran makna seiring dengan perkembangan ekonomi dan pengaruh migrasi.
Zaman dahulu hagabeon dikaitkan dengan banyak anak, hamoraon dikaitkan dengan luasnya tanah, dan hasangapon banyak relasi yang dibangun. Namun, sekarang filosofi itu berubah seiring perubahaan sosial dengan migrasi. Setelah zending datang ke tanah Batak, pendidikan tinggi dianggap menjadi Hamoraon. Semua orang menyekolahkan anaknya. Dan lambat laun satu gaya eropa dikuti anak laki-laki dan satu anak perempuan dianggap sebagai hagabeon. Sedangkan hasangapon adalah panutan bagi orang lain.
Keturuan Batak
Ada asumsi lain asal-usul Batak selain dari Pusuk Buhit. Asal muasal orang Batak dari Pusuk Buhit tak lepas dari mitologi, dan dominan dipercayai agamo Parmalim. Menurut prasasti yang dibaca K.A Nikanta Sasti seorang arkeologi (tahun 1088 M). Bahwa keturunan Batak berasal berasal dari Tamil. Penafsiran Sasti tersebut berasal dari sebuah serikat dongeng Tamil’ (merchant gold)-diceritakan nenek moyang Batak datang berdagang ke wilayah Barus pada abad XI. Kemudian hari Batak berkembang. Sosio-antropologi membagi bahwa suku Batak terdiri dari Batak Toba, Batak Mandailing, Batak Angkola, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Pakpak (Dairi), ditambah Batak pesisir Melayu dan Nias. Toba Holbung mencakup Kabupaten Tobasa, Kabupaten Samosir. Toba Humbang melikupi wilayah Siborong-borong dan Kabupaten Humbahas, Dolok Sanggul. Dan, Toba Habinsaran melikupi wilayah Tarutung dan Sibolga.
Marga
Asal marga berasal dari nama kakek-moyang dalam arti satu garis keturunan, sabutuha, yang berarti satu perut. Masyarakat Batak sebagai penganut patrilineal, dengan mengusung garis marga turun-temurun dari laki-laki atau ayah. Marga diambil dari nama asli nenek moyangnya. Kemudian, marga itu makin berkembang hingga akhirnya saat ini marga Batak secara keseluruhan lebih kurang 400-an marga (Sitor Situmorang, 2007). Mula-nya di antara marga tersebut, marga-marga Batak terbagai dalam struktur Toga. Toga adalah induk marga, semacam persatuan marga. Kedua, marga baru pecahaan dari marga besar (Toga). Kemudian, marga raja adalah marga pertama pembuka huta atau hubak (hubak dalam budaya Bali adalah sawah dengan sistim pengairan bertingkat). Selajutnya, marga boru adalah marga lain yang hidup beranak pihak di hubak pihak hula-hula.
Dalihan Na Tolu
Arti harafiah-nya tungku nan tiga. Yang menjadi lambang persaudaraan orang Batak. Bahwa stuktur sosial itu terlihat dengan simbol tersebut. Posisi antara dongan sabutuha dan boru, dan hula-hula sama pungsinya-namum berbeda dalam penetapan adat-nya. Dongan sabutuha harus saling menghargai, “manat mardongan tubu,” artinya bersaudara harus saling menghormati. Elek marboru artinya saudara perempuan atau putri harus dikasihi agar ia sama hula-hulanya hormat. Somba marhula- hula artinya selalu hormat ke pihak perempuan. Malah sampai hula-hula dianggap sabola-lagi hula-hula. Namun adat Batak kadang kala paradoks. Di sisi lain ia mengajarkan tapulon aek do namarsabutuha-artinya saudara bagaimana-pun tidak bisa dipisahkan. Namun disisi yang lain ia mengajarkan ” jonok partubu jonok an do parhundul” artinya dekat saudara kandung lebih dekat saudara tetangga.
Termilogi Dalihan Na Tolu mulai terkenal sejak 1960 sampai hari ini. Beberapa penulis orang Batak mulai menulis istilah di dalam tulisan istilah itu buku mereka, antara lain N. Siahaan dan H. Pardede pada tahun 1957, Wasinton Hutagalung, 1961, W. Hutagalung, 1963,. Seminar adat di HKBP 1968 diselenggarakan oleh HKBP di Pematang Siantar, 1968, Seminar, simposium. Dibarengi dengan orang Batak Toba memiliki pola pikir dengan lambang dan angka. Misalnya, Suhi ni ampang na opat, sudut yang empat sebagai pola kwartade.
Perkawinan
Pernikahan dalam budaya Batak adalah menikah harus diluar marganya. Yang kawin dengan sesama marganya disebut orang yang tidak menghargai adat dan dibal (diusir dari kampungnya). Uksorilokal. Perkawinan semarga sangat terlarang. Kalau terjadi sumbang (incet) di dalam satu marga, kalau perlakuan itu dilakukan oleh mereka yang sangat menghargai adat. Namun ada saja yang mecoba-coba dengan manompang bongbong (melanggar).
Maka, sistim perkawinan yang benar adalah dengan marboru ni tulang atau yang disebut menikahi pariban. Pariban dari keturunan paman saudara ibu laki-laki. Namun dari saudara bapak perempuan dianggap sesuatu yang berdosa menikah dengan anak perempuan namboru. Demikian juga orang yang mariboto terikat dengan parpatangon yang sangat kuat di kalangan orang Batak. Tidak boleh satu rumah jika tidak ada orang lain.
Dahulu kala perkawinan dengan putri saudara laki-laki ibu adalah adat yang harus dijalankan tetapi sekarang jarang. Sejak kecil boru ni tulang sudah sering disuruh ibunya untuk membantu namborunya. Bekerja di sawah atau di ladang. Pariban sangan bebas ke namborunya. Namun tetap dalam norma dan tata krama yang berlaku pada orang Batak. Dulu, kalau dua orang pemuda dan pemuda sudah seiya-sekata untuk menempuh pernikahan. Maka masing-masing harus memberitahukan orang-tuanya.maka setelah itu dilakukan lah namanya marhusip (berbisik untuk membicaraka sinamot) atau tuhor yang hendak digunakan pengantin perempuan untuk membeli baju dan pihak boru membeli ulos. Hal ini dilakukan dengan sisoli-soli, artinya yang kita terima hari ini besok kita akan kembalikan (utang-budi dibayar dengan utang budi, utang adat dibayar dengan utang adat)..
Jenis Perkawinan
Orang Batak mengenal beberapa jenis perkawinan. Melihat cara pelaksanaan pengambilan isteri dari rumah orang tuanya, ada jenis maradat-dengan langsung membayar adat pada pihak hula-hula. Jenis-jenis perkawinan yang tergolong poligami adalah mangabia, magabing, mahuape, sonduk hela, pagodanggodanghon, maninghati sikkat ni rere, marsidua-dua, barimbang dan magalua. Misalnya, maiturun atau manihurun, sedikit mirip dengan marampe.
Ada juga yang lebih ekstrem perkawinan juga disebut merebahkan diri. Artinya pasti menurunkan derajat keluarganya. Maka ada bahasa untuk meledek hal demikian ” tua anak I mago horbona, tuit boru I mago ibotona’ artinya semua orang yang melakukan kesalahan, misalnya, jika perempuan menyerahkan dirinya maka yang malu adalah saudara laki-lakinya. Horas.
Info dari admin
Penyusunan Silsilah Naipospos Versi 1.0
Kami mengundang partisipasi Bapak/Ibu dalam menyediakan data silsilah dari generasi awal hingga generasi kita sekarang ini. Kirimkan data silsilah anda melalui email ke admin@naipospos.net

junar Bagariang,
Terlebih dahulu saya ucapkan terima kasih kepada naipospos karena telah berusaha menyediakan pojok naipospos di layar maya ini.
Saya bernama Junar Bagariang. saya juga nai pospos. Memang kekhasan suku Batak terletak pada tiga prinsip yaitu hagabeon, hamoraon dan hasangapon. seperti Max Weber mengatakan bahwa perkembangan suatu bangsa atau seseorang sangat erat ditentukan oleh paham yang dimilikinya salah satunya adalah paham yang telah ditanamkan oleh budaya itu sendiri. Saya yakin bahwa orang-orang Batak memiliki daya juang yang tinggi sangat besar dipengaruhi oleh prinsip hasangapon itu sendiri.
Memang pada dasarnya telah tertanam dalam diri setiap individu suatu kesadaran bahwa kehidupan ini merupakan perjuangan untuk berusaha menciptakan kehidupan atau diri sebaik-baiknya ataupun setinggi-tingginya. Tetapi saya yakin daya juang orang Batak selain dipengaruhi oleh hukum kodrat yang ada dalam dirinya yaitu setiap individu ditantang untuk mengembangkan seluruh potensinya karena Allah telah memberikan kemampuan dalam diri masing-masing individu, juga dipengaruhi prinsip hasangapon tersebut.
>>>>>
September 21st, 2008 at 10:41 pmby Admin
Selamat bergabung di Naipospos Online
dHeanita kalit,
hasangapon : sangap yang bagaimana sih yang selalu diidamkan oleh orang batak sebenarnya,… sangap dari segi paradaton, dan hamoraon tentunya… karena orang batak butuh nominal yang tidak sedikit untuk sangap disegi paradaton, karena kalau ada tetangga maradat harus hepeng kaan kesitu… karena adat harus dibayar agar orang lainpun bisa pasangappon hita diulaotta… dang i naeng…hagabeon, sekarang dinilai dari apa dia punya anak laki – laki… atau mungkin apa dia bisa sekolahkan anaknya setinggi – tingginya… disinilah tampak nilai ketidakpuasan manusia itu… kalau kita bicara soal hamoraon, anak itu merupakan hamoraon untuk orang batak, karena anak diharapkan dapat mengangkat derajat orangtuanya… dimana dengan sendirinya hamoraon itu akan datang dengan sendirinya jikalau anak mereka kelak jadi orang sukses…
disini saya lihat orang opung kita dulu pintar dan sangatlah pintar untuk mengarang makna dari kata hagabeon, hasangapon, hamoraon, terlalu betul walaupun msasa telah berganti dan jaman telah berubah,… sekian terimakasih…
May 9th, 2009 at 5:25 pm