Jual makanan orang batak…!!!

Tulisan ini datang dari kisah sedih sebagai orang batak yang dihukum oleh lingkungan sosial di negara yang sudah merdeka sejak Tahun 1945 ini.

Sudah menjadi rahasia umumnya bahwa tamu dari seberang yang datang ke rumah kita cenderung menghindarkan sajian makanan orang batak, mereka lebih cenderung menyantap makanan siap saji atau makanan kemasan yang kita sajikan.

Mungkin mereka beranggapan bahwa apa yang kita sajikan itu haram dan kotor, padahal tidak semua orang batak makan daging babi dan tidak semua orang batak itu beragama kristen, orang batak yang tidak beragama pun ada, maksudnya penganut aliran kepercayaan.

Kenapa masakan dan makanan di rumah orang batak cenderung diidentifikasi sebagai makanan haram? bukankah kita menyajikannya tidak bersamaan dengan daging babi!, atau segala yang kita sajikan menjadi haram karena kita memakan daging babi. Hal ini kontroversial bila kita bandingkan dengan persepsi yang melekat terhadap warga dari manado maupun warga keturunan tionghoa serta india.

Apakah mereka yang begitu kejam memberikan kita hukuman sosial ataukah kita yang tidak mampu memberikan edukasi terhadap mereka, bukankan citra kristen juga melekat terhadap warga menado dan china namun mereka tidak mendapat hukuman sosial yang begitu keras.

Sesuai dengan profesi keseharian dan tentu saja selalu berkaitan dengan traveling di sekitar provinsi riau hingga ke provinsi tetangga saya menemukan beraneka ragam makanan yang menampilkan citra kedaerahan, misalnya lontong medan, soto medan, mie aceh, nasi padang, empek-empek palembang, ayam penyek lamongan, nasi uduk jawa timur.

Semua jenis makanan itu mencitrakan kedaerahan namum mempunyai konsumen lintas daerah asalnya, dan menurut saya semua kategori masakan itu sudah ada sejak lama sehingga cenderung membosankan, dengan demikian saya melihat adanya suatu potensi terhadap jenis makanan baru, ya minimal menciptakan sensasi baru.

Secara pribadi saya merasa berkecil hati terhadap hukuman sosial ini, saya semakin berkecil hati ketika semua daerah mempunyai citra dengan sajian makanan mereka yang sering saya jumpai diluar rumah.

Orang batak jual makanan itu hal yang biasa tapi itu hanya untuk kalangan sendiri sesama orang batak, orang china, india dan indonesia timur. Orang batak tidak mampu menebus pangsa pasar muslim yang menempati porsi 90% dari penghuni negeri ini.

Cita rasa yang ada masakan orang batak dapat dijual dengan identitas kedaerahan orang batak, tentu saja diperlukan banyak perubahan dan penyempurnaan cara penyajian, perilaku dan tata pelayanan yang mampu menenggelamkan identitas haram dan kotor menjadi bersih dan enak.

Jual makanan orang batak dengan mencitrakan identitas kita sebagai orang batak pantasnya kita mulai dari sekarang. Mungkin banyak orang batak yang mampu menjual makanan dan menembus pasar muslim tetapi tidak menampilkan identitas sebagai masakan orang batak.

Menjual makanan orang batak dengan menembus pasar muslim merupakan suatu usaha potensial dan tentu saja membutuhkan biaya yang mahal, waktu yang panjang dan tentu saja pertarungan resiko yang besar. Jika salah satu diantara kita mampu melakukan hal ini maka kita perlu belajar darinya dan jika diantara kita belum ada yang mampu melakukannya maka baiknya kita saling mengajari.



Info dari admin
Penyusunan Silsilah Naipospos Versi 1.0

Kami mengundang partisipasi Bapak/Ibu dalam menyediakan data silsilah dari generasi awal hingga generasi kita sekarang ini. Kirimkan data silsilah anda melalui email ke admin@naipospos.net
 

5 Komentar mengenai “Jual makanan orang batak…!!!”

  1. 1



     Maridup Hutauruk,

    Memang perlu improvisasi yg mendalam bila orang Batak (Toba) membuka bisnis makanan siap saji seperti restoran. Kalau orang Batak Selatan sudah banyak yang bisnis makanan siap saji ini di Kota Medan. Mereka biasanya membuat merek RM PADANG SIDEMPUAN dan penyajiannya mirip dgn RM PADANG. Menunya ya sama dengan menu sehari2 orang batak kebanyakan, misl: daun ubi tumbuk, iakan asap, ikan teri sambal, pote (palia), dll tentunya minus babi. Kelihatannya cukup berhasil.

    Batak Toba masih boleh sukses utk setingkat Lapo, kalau naik ke tingkat restoran kayaknya tak bakal sukses. Pernah di Bandung di thn 1990-an ada restoran batak moderen dengan pelayanan ala Hotel Bintang lima termasuk peralatan makan seperti piring, sendok, gelas dan bahkan penyuguhannya diantar pakai trolley. Tak sampai 1 tahun, mereka tumpur.

    Mungkin kalau ada pengalaman rekan org batak Toba pengelola bisnis makanan siap saji, boleh juga berbagi…

    Ehhh… kalau dijakarta, bisnis Catering utk pesta-pesta banyak juga yg suskes…

  2. 2



     karya darma marbun,

    memang benar, org2 biasanya mengidentikan Batak dgn Nasrani, dan sy sering keberatan dgn hal ini. Batak adalah Suku Bangsa, sedangkan Islam dan Nasrani adalah agama.
    Saya adalah seorg Muslim, tp keluarga dr Bapak saya mayoritas Nasrani.
    Mengenai makanan, menurut pendapat saya, sering saudara2 yg non Muslim kurang memahami apa arti Halal bagi kami saudara yg Muslim. Bisanya Halal selalu didefinisikan asal bukan B1 dan B2.

  3. 3



     hh,

    Berikanlah pemahaman yang sesungguhnya, ampara Karya Dharma, biar mantap.

    salam

  4. 4



     Holong Friendus LG,

    Di Baganbatu saya ada temukan Lapotuak yang tentu saja menjual tuak dan tambul (sebutan untuk makanan pengisi sela waktu saat minum tuak) dari jenis daging dan ikan, tapi minus daging babi sehingga pelanggannya dari semua suku.

    Di Baganbatu juga saya temukan warung tuak merangkap kedai makan milik orang batak kristen marga pasaribu dengan citarasa masakan kas batak dan sajian makanan minus babi, pelangganya justru orang aceh, karo, jawa dan batak, tetapi pelanggannya masih sebatas kalangan supir truk lintas Sumatera – Jawa

  5. 5



     Alfred,

    kenapa menado dan china masih bisa sukses dgn masakan etnis mereka? Karena mereka bisa berkompromi, ditengah2 restoran menado dan cina yg mengandung babi, ada cukup banyak (dalam arti bukan satu-dua) yang berani mengklaim halal (ada yg sebatas klaim, tapi ada juga yg betul2 halal).

    sementara orang batak menurut saya sangat eksklusif, cenderung tidak mau berbaur, berkompromi. Seumur2 baru sekali saya lihat lapo yg ada tulisan halal (entah klaim doang atau benar2 halal) di daerah jl. pramuka, jakarta timur, dan sekarang sepertinya itu lapo udah hilang tulisan halalnya, coba nanti saya cek lagi.

    istri saya sendiri orang batak, dan dari mengenal keluarganya, memang itulah kelemahan orang batak: cenderung eksklusif.


Form Penulisan Komentar

Powered by WordPress | Designed by Ganar dinero | Sponsored by Zealot Advertising Pekanbaru