<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Kristen Hauhau</title>
	<atom:link href="http://www.naipospos.net/?feed=rss2&#038;p=13" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.naipospos.net/?p=13</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Fri, 03 Sep 2010 09:04:15 +0700</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Maridup Hutauruk</title>
		<link>http://www.naipospos.net/?p=13&#038;cpage=1#comment-8</link>
		<dc:creator>Maridup Hutauruk</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jun 2008 15:11:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://www.blog.naipospos.net/?p=13#comment-8</guid>
		<description>Memang benar perlu dikritisi pendapat Karl Marx bahwa &#039;agama menjadi candu&#039;, karena kenyataannya agama itu tidak benar menjadi &#039;candu&#039;. Kalau benar agama itu menjadi &#039;candu&#039; dalam mengamalkannya dimasyarakat tentu sudah tercapai tujuan agama itu untuk membawakan umatnya menuju cita-cita kehidupan surgawi di dunia &#039;portibi&#039;. Sayang belum ada oknum yang dapat bersaksi bahwa kehidupan surgawi yang dijanjikan itu dapat diaplikasikan di dunia &#039;portibi&#039; sehingga definisi kehidupan surgawi itu hanya berupa harapan yang pada dasarnya tak dapat dipaparkan kebenarannya (indefinated). Timbul pemikiran apabila memang tak bisa didefinisikan bagaimana sebenarnya kehidupan surgawi itu bagaimanapula para pemeluk agama membuat gladiresiknya di &#039;portibi&#039; agar dapat mengira-ngira bahwa kehidupan surgawi itu &#039;lebih dari&#039; yang dibuatnya dalam praktek keimanannya di &#039;portibi&#039;. Selayaknya parameter keimanan dapat di perbandingkan perilakunya dengan norma-norma sosial yang berlaku, namun yang terjadi bahwa rencana &#039;The Supreme God&#039; penganut agama katanya tak ada yang tau.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Memang benar perlu dikritisi pendapat Karl Marx bahwa &#8216;agama menjadi candu&#8217;, karena kenyataannya agama itu tidak benar menjadi &#8216;candu&#8217;. Kalau benar agama itu menjadi &#8216;candu&#8217; dalam mengamalkannya dimasyarakat tentu sudah tercapai tujuan agama itu untuk membawakan umatnya menuju cita-cita kehidupan surgawi di dunia &#8216;portibi&#8217;. Sayang belum ada oknum yang dapat bersaksi bahwa kehidupan surgawi yang dijanjikan itu dapat diaplikasikan di dunia &#8216;portibi&#8217; sehingga definisi kehidupan surgawi itu hanya berupa harapan yang pada dasarnya tak dapat dipaparkan kebenarannya (indefinated). Timbul pemikiran apabila memang tak bisa didefinisikan bagaimana sebenarnya kehidupan surgawi itu bagaimanapula para pemeluk agama membuat gladiresiknya di &#8216;portibi&#8217; agar dapat mengira-ngira bahwa kehidupan surgawi itu &#8216;lebih dari&#8217; yang dibuatnya dalam praktek keimanannya di &#8216;portibi&#8217;. Selayaknya parameter keimanan dapat di perbandingkan perilakunya dengan norma-norma sosial yang berlaku, namun yang terjadi bahwa rencana &#8216;The Supreme God&#8217; penganut agama katanya tak ada yang tau.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
