Partangiangan Situmeang, Boru, Bere se-Dunia di Sipoholon dan Sibolga, 2-4 Juli

Disalin dari http://www.hariansib.com oleh Ricardo Parulian Sibagariang
Posted in Marsipature Hutanabe by Redaksi on Juni 26th, 2009

Jakarta (SIB)

Partangiangan Pomparan Jamita Mangaraja Situmeang, Boru, Bere se-dunia akan digelar pada 2-3 Juli 2009 di Pea Nariburan, Sipoholon, Kabupaten Tapanuli Utara dan 4 Juli di Sibolga. Acara tersebut akan dihadiri sekitar 10 ribu warga Situmeang dari penjuru tanah air.

Para tamu yang akan hadir antara lain : Prof Dr Robinson Situmeang MSc (pakar Matematika dan Komputer yang telah menjadi warga negara Amerika Serikat), Irjenad Mayjen (TNI) Robert Situmeang, Bupati Darmas Raya, Sumatera Barat, Datuk H Marlon Situmeang, mantan Wakasad Letjen (Purn) FX Sujasmin (Boru), dan lainnya.

Ketua Umum Partangiangan Situmeang, Boru, Bere se- Dunia 2009 St Patar Pandapotan Situmeang mengatakan bahwa panitia penyelenggara (Bolahan Amak di Bona Pasogit dan Sibolga) saat ini telah merampungkan berbagai persiapan demi suksesnya acara tersebut. Bahkan jalan menuju Pea Nariburan, lokasi partangiangan, telah dibenahi, termasuk tempat parkir dan akomodasi.

Dikemukakannya, partangiangan tersebut merupakan sejarah baru bagi Situmeang, Boru, Bere dalam rangka menggalang kebersamaan sekaligus untuk berdoa bersama, agar semua pomparan ( turunan) diberikan berkat yang yang berlipat ganda. Dengan adanya kebersamaan itu, diharapkan pada masa mendatang Situmeang dohot Boru dapat bersinergi dan bertalenta sesuai dengan bidang profesi yang digelutinya.

Dalam rangka suksesnya acara, Patar Situmeang bersama panitia nasional dan Panitia Bolahan Amak Bona Pasogit telah melakukan berbagai kegiatan dan pertemuan dengan tokoh masyarakat Situmeang di Sipoholon dan Sibolga. Panitia juga telah melakukan audensi dengan Ephorus/Sekjen HKBP di Pearaja Tarutung dan Bupati Tapanuli Utara Torang Lumbantobing (Toluto) untuk mengundang mereka agar hadir pada acara tersebut.

Sementara itu Koordinator Humas dan Publikasi Partangiangan Situmeang se-Dunia Drs Ampuan Situmeang, SS mengemukakan, sedikitnya ada dua tujuan partangiangan.

Pertama, mempersatukan Pomparan Jamita Mangaraja Situmeang dohot Boru agar saling mengasihi, tolong-menolong, dan saling mendoakan. Doa bersama tersebut adalah dalam rangka mengucap syukur kepada Tuhan atas segala berkat dan talenta yang diterima oleh seluruh pomparan Jamita Mangaraja selama ini, baik berupa hasangapon, hamoraon, hagabeon, pangkat, pendidikan, dan umur yang panjang.

Kedua, berdoa bersama untuk memohon kepada Tuhan, kiranya tetap memberkati Situmeang dohot Boru pada masa mendatang agar semakin banyak warga Situmeang dohot Boru yang diberikan talenta, baik berupa pendidikan tinggi, pangkat, jabatan, pengusaha sukses, dan kaum profesionalisme.

Saat ini Pomparan Situmeang dohot Boru sudah berjumlah puluhan ribu orang, tersebar di seantero nusantara dan luar negeri. Warga Situmeang banyak berdiam di Sipoholon, Tapanuli Utara, Sibolga, Tapanuli Tengah, Tanah Jawa Simalungun, Jakarta, Bogor, Tangerang, (Jabodetabek), Jawa timur, Riau, dan lainnya.
Di antara mereka, lima orang telah meraih pangkat jenderal, satu orang kepala daerah, banyak pejabat sipil, militer/ polisi, jaksa, di pemerintahan RI, banyak pengusaha/ pedagang, kaum profesionalisme, anggota DPRD, dan lainnya. Warga Situmeang telah banyak yang meraih jenjang pendidikan doktor (strata tiga/ S-3), magister (strata dua/ S-2), dan sarjana (strata satu/ S-1). Tetapi, masih banyak juga yang belum berhasil menggapai cita-citanya.

“Inilah semua yang akan didoakan, termasuk bila ada putra-putri terbaik Situmeang dohot Boru yang memiliki talenta dan berhasrat untuk membangun Bona Pasogit,” ujarnya.(Jl/g)

Satukan Tekad Membangun Pemuda Naipospos

MARI SATUKAN TEKAD
UNTUK MEMBANGUN PEMUDA NAIPOSPOS
* DIMANAPUN BERADA, KHUSUSNYA DI TAPANULI UTARA *

Sejarah Tapanuli Utara telah berjalan puluhan tahun. Berbagai
pembangunan fisik non fisik cukup banyak telah diwujudkan. Walau
pembangunan di Kabupaten Tapanuli Utara yang terkesan lambat, namun
kita sebagai keturunan Naipospos dimanapun berada, agar refleksi diri,
`Sudah sejauh mana kita membangun bonapasogit kita?`

Beberapa putra Naipospos, sukses di berbagai daerah dan berbagai
bidang. Namun di samping itu putra naipospos masih sangat banyak
tertinggal, baik material, pemikiran serta mentalitas. Ada rasa puas
di beberapa orang Naipospos, namun banyak rasa tidak puas dari
kalangan naipospos khususnya para pemudanya akan pembangunan
Naipospos yang ada di Kabupaten Tapanuli Utara.

Kemajuan Naipospos adalah bagian dari suimbangsih terhadap kemajuan
Kabuapetn tapanuli utara. Maka untuk sebuah Kabupaten Tapanuli Utara
yang makin maju, layaklah sekali lagi kita bertanya dalam diri kita
masing ? masing khususnya buat Para Pemuda Naipospos dimanapun berada
khususnya yang berada di Tapanuli utara:

`Sudah sejauh mana keikutsertaan Pemuda Naipospos yang merupakan salah
satu penduduk asli Kabupaten Tapanuli utara berperan serta dalam
pembangunan Kabupaten Tapanuli Utara selama Kabupaten ini lahir ?`

Pembangunan di Kecamatan Sipoholon yang merupakan basis Naipospos
hingga kini seperti berjalan ditempat. Bisa dikatakan tidak ada
pembangunan yang yang dapat memberikan dampak positif kepada
pembangunan pemuda Naipospos. `Kemana para keturunan Naipospos kita
yang telah sukses?

banyaknya potensi SDM dan SDA Naipospos yang bisa dikembangkan hingga
meraih prestasi, maka perlu suatu gebrakan yang nyata dengan
menciptakan sebuah kendaraan/ wadah perjuangan untuk menggali potensi
? potensi para pemuda naipospos yang dapat mengantarkan para pemuda
naipospos meraih cita cita. Maka sangat tepatlah pembangunan para
pemuda Naipospos diwadahi ataupun difasilitasi oleh Gerakan Pemuda
Naipospos (GERMUNA) Tapanuli Utara.

Untuk itu saya serukan kepada para pemuda Naipospos khususnya dan
keseluruhan Pemuda Naipospos di Indonesia agar menyediakan waktu
memberikan pemikiran dan material untuk pengembangan pemuda Naipospos.

Mari kita renungkan!
? Apakah kita pernah memperhatikan para anak kita, adek kita, saudara
kita yang tertinggal disekolahnya?
? Apakah kita pernah memperhatikan para adek kita, anak kita yang
sakit hingga kini tanpa mendapatkan pertolongan?
? Apakah kita pernah memperhatikan para adek kita, anak kita yang
sulit untuk mendapatkan sekali makan?
? DLL

Suatu saat Saya tersentuh sekali adanya berita anak di Kecamatan
Sipoholon keturunan Naipospos yang sangat kritis karena penyakit AIDS
yang dialaminya tidak diindahkan oleh masyarakat setempat bahkan
pemerintahpun tidak mengindahkannya dalam waktu yang lama. Setelah
Anak tersebut di usir dari kampung karena masyarakat takut tertular
Aids, maka pemerintah mencoba memberi perhatian. Apakah anak itu harus
terancam dulu maka berhak mendapat perhatian??? `Untuk hal ini, dimana
para keturunan Naipospos yang telah sukses???

“ Aku melihat sebuah sekolah bahwa ada seorang anak yang sulit
belajar yang prestasinya sering tinggal kelas dan orang tuanya tidak
mengarahkannnya untuk belajar secara baik, bahkan orang tuanya
me-nomor 2 sekolah anaknya“ .

“ Aku melihat begitu banyak Pemuda Naipospos menghabiskan waktunya di
tempat minum tuak, main billiard/ perjudian, dll yang padahal dia
mempunyai potensi yang terpendam“ .

“ Aku melihat begitu banyaknya Naipospos kehilangan jati diri bahkan
dia tidak tau sejarahnya bagaimana“

“Dan masih banyak lagi“.

“Apakah kita naipospos sibuk dengan adat istiadat saja tanpa mampu
melihat kehidupan nyata mau kemana Pemuda Naipospos yang sesungguhnya
???“

Baiklah, kita Naipospos di mana pun berada, khususnya yang berada di
Tapanuli Utara agar menyadari potensi ? potensi dan
kekurang-kekurangan kita. Semoga kita tetap bersama dan saling
memperhatikan, Hidup Naipospos???, Horas!!!

Oleh:
Miduk Lumban Gaol. SE
081370000997

Kearifan Menapaki Sejarah Seorang Naipospos dan Keturunannya

Oleh: Maridup Hutauruk

Kearifan menapaki sejarah seorang Naipospos dan keturunannya tentu harus arif pula mencari jatidiri dari mulai seorang Naipospos dan para keturunan yang sudah memuliakan marga-marganya. Jatidiri adalah identitas seseorang yang berisi segala informasi yang dapat dipertanggungjawabkannya untuk dikemukakan kepada siapapun. Tersematnya identitas yang menjadi jatidiri dapat terjadi dari upaya yang disengaja maupun yang akan datang dengan sendirinya. Tercantumnya suatu identitas yang menjadi jatidiri pada intinya adalah nilai-nilai kebaikan yang terutama akan berguna pada dirinya dan mungkin pula akan berguna pada orang lain, yang artinya sudah pasti bermanfaat pada dirinya dan sesuai dengan nilai-nilainya akan dimanfaatkan pula oleh orang lain. Jatidiri tentu berawal dari sesuatu yang terkecil sampai kepada sesuatu yang lebih besar yang masih dapat didefinisikan. Apabila kita mengambil contoh yang terkecil pada seseorang yang kadang disebut sebagai pribadi, jiwa, insan, atau istilah lain yang terwakili oleh bahasa. Kemudian adapula identitas sebagai kelompok marga, suku, bahkan bangsa.

Seseorang anak yang baru terlahir di dunia ini akan langsung tersemat jatidirinya berdasarkan pengakuan orang diluar dirinya. Seseorang yang baru terlahir tersebut akan mendapatkan jatidirinya sebagai jenis kelamin, laki-laki atau perempuan dengan berat badan tertentu sesuai timbangannya dan dilakukan cap telapak kaki, yang kemudian akan dicatatkan menjadi identitasnya, lalu akan tergantunglah sebuah tag (sej. kartu pengenal) pada ibu jarinya atau pada tempat tidurnya yang bertuliskan semisal “putra atau putri Tn./Ny. X”. Continue Reading »

Demi jaga adik yang HIV, Abang berhenti Kelas V SD

Demi rasa sayangnya terhadap adik bungsunya yang dalam proses perawatan medis karena HIV/AIDS (Human Immunodeficiency Virus/Aquired Immuno Deficiency Syndrome), Afles Hutauruk (11) terpaksa berhenti dari bangku sekolah. Padahal dia sudah kelas V SD di Sipaholon, Toba Samosir.

Sebagai anak yang selalu berada di rangking lima besar di sekolahnya, dia ternyata mampu menahan rasa pedih di hati kecil-nya. Bahkan, saat diberi uang, dia berusaha menolak seakan menggambarkan biarlah derita itu ditanggungnya sendiri dan dia mampu untuk itu.

Bagaimana tidak, walau masih kecil tapi statusnya sebagai anak tertua yang ditinggal mati ayah dan bunda berusaha bertanggungjawab terhadap adik-adiknya.

Dimana harus mengadu. Dikampung, jangankan untuk membantu kehidupan mereka sebagai anak yatim piatu. Malah mereka sudah tidak diterima warga lagi karena penyakit HIV/AIDS yang diderita adiknya itu.

“Saya sudah tiga bulan keluar dari sekolah. Tak ada yang mau menjaga adik. Saya harap dia bisa sembuh. Kalau dia sembuh, saya ingin sekolah lagi,” sebutnya.

Afles Hutauruk sendiri setelah di tes ternyata sama sekali negatif mengidap HIV. Hal ini diakui Direktur Rumah Sakit Umum dr Pirngadi Medan Dr dr Umar Zein DTM&H SpPDKPTI. “Hasil penelitian tim voluntary counseling and testing (VCT) RS Pirngadi, abangnya negatif. Memang almarhum ibunya dulu merupakan klien VCT Pirngadi karena positif HIV,” sebut Umar Zein.

Sebagai seorang dokter yang memahami benar tentang HIV/AIDS, Umar melihat langsung kondisi adik Afles. Dia optimis, kondisi kesehatan pasien akan berangsur pulih.

Tahap awal, katanya, petugas akan memberikan asupan gizi. Setelah itu, akan diobati infeksi opportunitiknya seperti infeksi kulit dan jamur. “Baru nanti akan diperiksa CD-4 pasien untuk melihat seberapa besar kemungkinan dia harus mengonsumsi obat anti retroviral (ARV),” jelas Umar.

Mantan Kadis Kesehatan Medan itu menambahkan, ruang perawatan pasien pun tidak dibedakan dengan pasien lainnya. “Artinya, kalau pasien penyakit paru maka akan dirawat di ruang paru. Jadi, tergantung jenis penyakitnya. Sebab, HIV ini tidak menular lewat udara atau kontak fisik,” jelas Umar lagi. (nai)

Sumber : Harian Analisa, Kamis 23 April 2009 Hal.6

NB: Mohon doa nya biar cepat sembuh
Mudah2an artikel ini terbaca organisasi, perkumpulan sosial, pribadi, pejabat, pengusaha atau LSM, dan mau membantu meringankan biaya pengobatan adik Afles Hutauruk

Info Admin
Tulisan ini adalah email kiriman dari Junita Samosir
(namanya mirip temanku zaman naposo dulu, he he he)

CALIMA

( Pintarnya Orang Bodoh dan Bodohnya Orang Pintar )

Membaca tulisan di naipospos online ini cukup asik juga karena ada topik seru yang pantas mendapat perhatian dari para pengunjung. Tulisan ini tidak berkaitan dengan pertentangan seru pada banyak halaman.

CALIMA merupakan singkatan dari kata Caution Life Animals pada sebuah film dengan judul CALIMA yang pada intinya menceritakan tentang usaha dari seekor kera untuk mengangkat harkat dan martabat keturunan kera agar lebih tinggi daripada manusia meski harus dilakukan dengan cara membengkokkan sejarahnya.

Tertulis dalam buku suci bahwa kita ini generasi penerus dari Adam dan Hawa yang dibentuk secara langsung oleh Yang Maha Kuasa, regenerasi keturunan berjalan seiring dengan waktu dan serta merta perihal tentang Tuhan Yang Maha Kuasa juga ikut serta terbawa oleh para generasi penerus lalu pada akhirnya muncul berbagai versi sehingga kini terdapat bermacam-macam aliran agama dan kepercayaan.

Seseorang yang (merasa lebih) pintar akan cenderung menunjukkan eksistensinya dengan cara berusaha mempertahankan dominasinya dan menutup ruang bagi orang, seseorang yang (menyadari dirinya) bodoh akan cenderung mencari penyeimbang sehingga bodohnya tidak terlihat, dalam membaca tulisan ini harap dipahami makna kata merasa dan kata cenderung.

Pintarnya orang bodoh
- Cenderung menciptakan kesan bahwa dia orang yang diperlukan
- Berusaha menciptakan keseimbangan sehingga terlihat lebih pintar
- Menciptakan kesan “sitau eneng” atau serba tau

Bodohnya orang pintar
Oorang pintar itu lebih cenderung konsentrasi pada suatu bidang maka dibidang lain dia menjadi sasaran empuk bagi orang lain

Pintarnya orang bodoh dan Bodohnya orang pintar nyusul ya tulisannya……… (dah ngantuk)

SIAPAKAH MARTUASAME ITU SEBENARNYA

Lencana Facebook

Profil
Profil Facebook Ricardo Parulian Sibagariang
Buat Lencana Anda

Martuasame merupakan julukan Raja Naipospos yang memperanakkan 5 (lima) orang putera yang secara berurutan, yaitu: Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang, dan Marbun.

Martuasame sebagai julukan Naipospos

Raja Naipospos mempunyai julukan MARTUASAME. Gelar Martuasame ini didapat Raja Naipospos karena dia mengambil isteri yang kakak-beradik boru Pasaribu.

Umbahen namambuat boru namarpariban (saama) Raja Naipospos jala alani namasa di tingki marsame Raja Naipospos marbunibuni mambuat tuanboruna napaduahon, gabe digoari ma ibana Martuasame. Jadi Martuasame, goargoar ni Raja Naipospos do i. Ndada goar ni anakna, songon pandok ni nadeba. (bahasa Batak)

Konon, adik (pariban) isteri I (pertama) boru Pasaribu rajin membantu Raja Naipospos ketika marsame (membuat bibit padi). Oleh karena Raja Naipospos belum mempunyai keturunan, Raja Naipospos pun marbuni (secara sembunyi) berhubungan dengan isteri II (kedua) boru Pasaribu tersebut. Oleh karena telah mengambil dua isteri kakak-beradik boru Pasaribu dan karena kegiatan marsame pada waktu itu, maka Raja Naipospos diberi julukan Martuasame. Continue Reading »

Designed by Ganar dinero | Sponsored by Zealot Advertising Supplier Pekanbaru