NAIPOSPOS

Oleh: Doangsa PL Situmeang

Doangsa PL Situmeang adalah penulis buku saku berjudul “Buku Saku Marga Batak“. Buku ini sempat mendapat reaksi diantara marga-marga keturunan Naipospos di Jakarta dan sekitarnya sehingga Punguan Naipospos mengadakan rapat pada Minggu 8 Nopember 2009 di Ruang Rapat Gedung Purnawirawan Polri di Jalan Darmawangsa-II Jakarta Selatan. Boleh baca artikel mengenai rapat itu di sini>>>

Pengantar 

    Beberapa waktu yang lalu, pertemuan diselenggarakan membicarakan dan membahas silsilah Naipospos yang dipicu oleh pelurusan yang dimuat  dalam “Buku Saku Marga Batak” yang saya tulis dan terbitkan. Masalah pokok yang diperdebatkan ialah; (1) Jumlah anak Naipospos dan (2) Siapa siabangan dan siadikan. Isi buku yang saya tulis memang berbeda dari buku  yang dirujuk atau penuturan yang didengar. Pertemuan disponsori Punguan Naipospos yang diketuai Sdr. Parasian Simanungkalit. Saya sendiri tidak ikut diundang dan itu sah-sah saja,  meski pun perilaku demikian aneh bin ajaib, bagaikan pengadilan tanpa menghadirkan yang “tergugat”. Sebagai orang Batak, saya  hanya akan hadir bilamana diundang, sesuai makna dan hakekat Gokhon dohot Jou-jou. 

Baca selengkapnya…..!!! »

Ikan Batak

Oleh: Maridup Hutauruk

Nama Yang Dikomersilkan

jurung 1,4 kg = 170 rb-001-752021

Ikan Batak (Ikan Jurung) seberat 1,4 kg dijual Rp 170.000 di perbatasan Aceh-Sumut; sumber: hampala.multiply.com

Baca selengkapnya…..!!! »

Bahan Bakar Tuak

Masyarakat Batak Tak Usah Geger Bila Tuak Jadi Bahan Bakar 

Posting ini dipetik dan ditampilkan juga di Maridup’s Blog

Pada saat artikel ini turun tulis maka Yahoo Search Engine memunculkan 1570 temuan, sementara Google Search Engine dengan kata kunci ‘bahan bakar tuak’ akan ada sejumlah 8130 temuan yang membahas mengenai ‘tuak sebagai bahan bakar’. Berbagai media online termasuk Metro TV menurunkan beritanya sebagai sebuah temuan yang disambut baik oleh masyarakat. 

Tak kurang, Mudji Slamet – Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Pemerintah Kabupaten Tuban banyak menerima kedatangan Tokoh Masyarakat, Kepala Desa, dan anggota masyarakat dari berbagai kecamatan di Kabupaten Tuban seperti Kecamatan Plumpang, Palang, Tambakboyo dan lainnya untuk mencari tau proses pembuatan bahan bakar (BB) dari tuak yang selama ini hanya dikenal sebagai minuman rakyat terutama masyarakat Batak dan sebagai bahan pembuat gula-merah. Bahkan Bupati Tuban – Haeny Relawati – merekomendasi proses uji coba tuak menjadi etanol masuk dalam kurikulum pendidikan. 

Baca selengkapnya…..!!! »

Jual makanan orang batak…!!!

Tulisan ini datang dari kisah sedih sebagai orang batak yang dihukum oleh lingkungan sosial di negara yang sudah merdeka sejak Tahun 1945 ini.

Sudah menjadi rahasia umumnya bahwa tamu dari seberang yang datang ke rumah kita cenderung menghindarkan sajian makanan orang batak, mereka lebih cenderung menyantap makanan siap saji atau makanan kemasan yang kita sajikan.

Mungkin mereka beranggapan bahwa apa yang kita sajikan itu haram dan kotor, padahal tidak semua orang batak makan daging babi dan tidak semua orang batak itu beragama kristen, orang batak yang tidak beragama pun ada, maksudnya penganut aliran kepercayaan.

Kenapa masakan dan makanan di rumah orang batak cenderung diidentifikasi sebagai makanan haram? bukankah kita menyajikannya tidak bersamaan dengan daging babi!, atau segala yang kita sajikan menjadi haram karena kita memakan daging babi. Hal ini kontroversial bila kita bandingkan dengan persepsi yang melekat terhadap warga dari manado maupun warga keturunan tionghoa serta india.

Baca selengkapnya…..!!! »

Tanggapan Punguan Naipospos Tentang Tarombonya

Artikel ini disusun setelah menghadiri Rapat Punguan Naipospos di Jakarta menanggapi terbitnya “Buku Saku Marga Batak” oleh Doangsa PL. Situmeang yang diterbitkan tertanggal Desember 2008. 

Rapat diadakan di Ruang Rapat Gedung Purnawirawan Polri di Jalan Darmawangsa-II Jakarta Selatan pada Minggu, 8 Nopember 2009 yang dimulai pukul 16:00 WIB s/d selesai sekitar pukul 20:00 WIB. Undangan yang hadir dijatahkan untuk 5 orang dari masing-masing perwakilan marga keturunan Naipospsos. 

Mengapa Punguan Naipospos harus menanggapi terbitnya buku saku ini dikarenakan khususnya Tarombo Naipospos dipaparkan dengan menyebutkan bahwa Naipospos menurunkan 5 orang anak dari 2 orang istri, sementara yang dianut secara tradisional selama ini diakui hanya 2 orang anak yaitu Toga Sipoholon dan Toga Marbun atau sebaliknya. 

Baca selengkapnya…..!!! »

Powered by WordPress | Designed by Ganar dinero | Sponsored by Zealot Advertising Pekanbaru